Tag Archives: artikel tentang kejujuran dan amanah

Amanah itu langka

“Apabila amanat telah disia-siakan,

maka tunggulah kedatangan hari kiamat.’

Abu Hurairah bertanya,
Bagaimana menyia-nyiakannya itu, wahai Rasulullah?
Beliau menjawab,
“Apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya,
maka tunggulah datangnya hari kiamat”.
(Riwayat Bukhari, kitab Ar-Riqaq, Bab Raf’il Amanah 11: 333)

Amanat merupakan suatu hal yang komprehensif yang di bebankan kepada seseorang atau dipercayakan kepadanya. Amanat ini mencakup hak-hak Allah SWT, seperti berbagai macam kewajiban. Juga mencakup hak-hak hamba, seperti barang-barang yang dititipkan. Oleh karena itu seseorang berkewajiban untuk menunaikannya dengan sebaik-baiknya. Dia harus menunaikannya kepada pemiliknya, dan tidak menyembunyikan, mengingkari, atau membelanjakannya tanpa adanya ijin yang dibenarkan syari’at. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya,…” (An Nisaa’ :58)

Allah SWT memerintahkan agar hambanya menunaikan amanat kepada yang berhak menerimanya. Hal itu mencakup seluruh macam amanat yang wajib bagi manusia, baik yang berupa hak-hak Allah SWT atas hamba-hambanya, yang terdiri dari, Shalat, zakat, puasa, haji, berbagai macam nadzar, kafarat, dan lain-lain, yang telah diamanahakan kepadanya, dan tidak diperlihatkan kepada semua hamba. Dan juga berupa hak-hak hamba atas hamba lainnya, misalnya titipan dan lain-lain yang dipercayakan kepadanya tanpa adanya tanda bukti. Allah SWT, memerintahkan untuk menunaikan amanat itu, barangsiapa yang tidak menunaikannya didunia, maka dia akan diberikan hukuman kelak pada hari kiamat, sebagaimana Sabda Rasulullah SAW:  “Kalian benar-benar akan tunaikan hak-hak itu kepada pemiliknya yag berhak, sehingga kambing yang tidak bertanduk diberi hak untuk membalas (menanduk) kepada kambing yang bertanduk” (Riwayat Muslim)

Allah SWT berfirman  “Sesungguhnya Kami telah mengembankan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, namun semuanya tidak bersedia, karena takut mengkhianatinya, lalu amanat itu diterima oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zhalim lagi sangat bodoh”. (Al-Ahzab: 72)

Allah SWT memberitahukan bahwa Dia sudah pernah menawarkan kepada langit, bumi dan gunung-gunung untuk menjalankan amanat agama, dan Dia akan menjadikan bagi mereka balasan, berupa balasan pahala dan siksaan, serta mengamanati agama ini kepada mereka. Maka semuanya mengatakan; “Tidak, kami akan tunduk mengikuti perintah-Mu, kami tidak menginginkan pahala dan tidak pula hukuman”. Kemudian Allah SWT menawarkan taklif, perintah dan larangan dengan semua persyaratannya kepada manusia. Jika mereka menunaikannya, maka mereka akan diberi pahala, dan jika mengabaikannya, maka mereka akan disiksa. Maka merekapun menerimanya dengan segala kelemahan, kebodohan, dan kedzalimannya, kecuali yang diberi taufiq Allah SWT. Hanya Allah tempat meminta pertolongan.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda:
“Apabila amanat telah disia-siakan, maka tunggulah kedatangan hari kiamat.’ Abu Hurairah bertanya, Bagaimana menyia-nyiakannya itu, wahai Rasulullah? Beliau menjawab. Apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah datangnya hari kiamat”. (Riwayat Bukhari)

Nabi SAW menjelaskan bagaimana amanat itu dihilangkan dari hati manusia, hingga tinggal bekas-bekasnya saja. Sebagaimana hadits berikut:  “Dari Hudzaifah RA meriwayatkan, katanya: “Rasulullah SAW menyampaikan kepadaku dua buah hadits, yang satu telah saya ketahui dan yang satu masih saya tunggu. Beliau bersabda kepada kami bahwa amanat itu diturunkan di lubuk hati manusia, lalu mereka mengetahuinya dari Al-Qur’an, kemudian mereka ketahui dari As-Sunnah. Dan beliau juga menyampaikan kepada kami tentang akan hilangnya amanat itu, sabdanya : “Seseorang tidur, lantas amanat dicabut dari hatinya hingga tinggal bekasnya seperti bekas titik-titik yang berwarna. Lalu ia tidur lagi, kemudian amanat itu dicabut lagi hingga tinggal bekasnya seperti bekas yang terdapat pada telapak tangan karena digunakan bekerja, seperti bara api yang engkau gelincirkan di kakimu, lantas melepuh tetapi tidak berisi apa-apa. Kemudian mereka melakukan jual beli atau transaksi-transaksi, tetapi hampir tidak ada lagi orang yang menunaikan amanat. Maka orang-orangpun berkata. ‘Sesungguhnya di kalangan Bani Fulan terdapat orang kepercayaan (yang dapat dipercaya)’. Dan ada pula yang mengatakan kepada seseorang. ‘Alangkah pandainya, alangkah cerdasnya, alangkah tabahnya’, padahal dalam hatinya tidak ada iman sama sekali meskipun hanya seberat biji sawi. Sungguh akan datang padaku suatu zaman dan aku tidak memperdulikan lagi siapa diantara kamu yang aku bai’at. Jika ia seorang muslim, hendaklah dikembalikan pada Islam yang sebenarnya; dan jika ia seorang Nasrani atau Yahudi maka ia akan dikembalikan kepadaku oleh orang-orang yang mengusahakannya. Adapun pada hari ini maka aku tidak membai’at kecuali kepada si Fulan dan si Fulan (yang masih memegang amanat)”. (Riwayat Bukhari-Muslim)

Dalam hadits ini dijelaskan bahwa amanat akan dihapuskan dari hati sehingga manusia menjadi pengkhianat setelah sebelumnya menjadi orang yang dapat dipercaya. Hal ini terjadi pada orang yang telah hilang perasaan takutnya kepada Allah, lemah imannya, dan biasa bergaul dengan orang-orang yang suka berbuat khianat sehingga ia sendiri menjadi pengkhianat, seorang teman itu akan mengikuti yang ditemani.

MELIMPAHKAN TANGGUNG JAWAB KEPADA ORANG YANG SALAH.
Di antara gambaran hilangnya amanat itu ialah diserahkannya urusan orang banyak seperti urusan kepemimpinan, ke khalifahan, jabatan, peradilan, dan sebagainya kepada orang-orang yang bukan ahlinya yang tidak mampu melaksanakan dan memeliharanya dengan baik. Sebab menyerahkan urusan tersebut kepada yang bukan ahlinya berarti menyia-nyiakan hak orang banyak, mengabaikan kemaslahatan mereka, menimbulkan sakit hati, dan dapat menyulut fitnah di antara mereka. (Qabasat Min hadyi Ar-Rasul Al-A’zham SAW  Fi Al-Aqa’id, halaman 66 karya Ali Asy-Syarbaji. cetakan pertama 1398H, terbitan Darul Qalam, Damsyiq)

Apabila orang yang memegang urusan orang banyak ini menyia-nyiakan amanat, maka orang lain akan mengikuti saja segala kebijaksanaannya. Dengan demikian mereka akan sama saja dengannya dalam mengabaikan amanat, maka kemaslahatan (kebaikan) pemimpin atau penguasa merupakan kebaikan bagi rakyat, dan keburukannya merupakan keburukan bagi rakyat. Selanjutnya, menyerahkan urusan kepada orang yang bukan ahlinya merupakan bukti nyata yang menunjukkan tidak adanya kepedulian manusia terhadap Din (agama) mereka, sehingga mereka menyerahkan urusan mereka kepada orang yang tidak memperhatikan Din-nya. Hal ini terjadi apabila kejahilan telah merajalela dan ilmu (tentang Ad-Din) sudah hilang. Karena itulah Imam Bukhari menyebutkan hadits Abu Hurairah RA terdahulu itu dalam kitab Al-Ilm sebagai isyarat terhadap hal ini.

Al Hafidz Ibnu Hajar Rahimahullah berkata. “Kesesuaian matan (masalah akan lenyapnya amanat) ini dengan ilmu hingga ditempatkan dalam kitab Al-Ilm ialah bahwa menyandarkan urusan kepada yang bukan ahlinya itu hanya terjadi ketika kebodohan telah merajalela dan ilmu (tentang Ad-Din) telah hilang. Dan ini termasuk salah satu pertanda telah dekatnya hari kiamat”. (Qabasat Min Hadyi Ar-Rasul Al-A’zham SAW  Fi Al-’Aqaid, hal. 66 oleh Ali Asy-Syarbaji, cet. pertama, 1398H, terbitan Darul Qalam, Damsyiq)

Rasulullah SAW telah bersabda: “Akan datang masa-masa yang menipu, dimana para pendusta dibenarkan, dan didustakannya orang-orang jujur. Para pengkhianat diberi amanat dan orang-orang yang amanah dianggap pengkhianat dan berbicara pada masa itu para Ruwaibidhoh. Lalu ada yang bertanya: “Siapa Ruwaibidhoh itu? Beliau menjawab: Orang-orang bodoh yang berbicara tentang permasalahan ummat”. (Riwayat Ibnu Majah 4036, Ahmad 2/291, Hakim 4/465, dari Abu Hurairah RA, dishahihkan oleh Al Albani)

Demikianlah apa yang disabdakan oleh Rasulullah SAW saat ini benar-benar terjadi, yaitu dimuliakannya orang-orang yang rendah dan hina (dari segi Ad-Din dan ahlaknya)”. Ini adalah sebagai pertanda semakin dekatnya hari kiamat.

Kontribusi: Mas Heru Yulias Wibowo – Redaktur Buletin Da’wah An Nashihah Cikarang Baru, – Bekasi.