Tag Archives: agama

6 Alasan Bulan Rajab itu memiliki keutamaan dan fadhilah

Bismillah. Hadits atau As-sunnah adalah apa yang disandarkan kepada Muhammad SAW, apakah berupa ucapan (Qaul), perbuatan (fi’il), persetujuannya (taqrir) dan sebagainya dengan jalan periwayatan.

Sesuatu yang disandarkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dianggap benar jika landasan yang digunakan tidak terdapat cacat atau celaan menurut kaidah-kaidah ilmu Hadits yang mu’tamad (yang kuat). Seperti tidak adanya para perawi pendusta, lemah, dan berbagai cacat lainnya dimana hal itu bisa dibuktikan dengan kaidah ilmu hadits tersebut. Dengan kata lain berbagai alasan yang disandarkan kepada Nabi Muhammad tetapi bisa dibuktikan bahwa sandaran tersebut mengandung cacat dan cela maka hal tersebut adalah bukan sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sedangkan orang yang berbuat hal tersebut termasuk para pendusta atas nama beliau.

Berbagai alasan yang sering dijadikan sandaran mengenai keutamaan puasa Rajab adalah sebagai berikut:

Alasan Pertama

Konon Nabi SAW pernah bersabda: Rajab itu bulan Allah dan Sya’ban itu bulanku sedangkan Ramadhan itu bulan umatku. Maka barang siapa puasa Rajab dengan iman Dan ikhlash ia berhak mendapat keridhaan Allah yang amat besar dan Ia akan tempatkan dia di surga Firdaus yang paling tinggi. Dan siapa yang puasa Rajab dua hari maka ia akan dapat pahala dua kali dan tiap-tiap pahala beratnya seberat gunung didunia. Dan siapa yang puasa Rajab tiga hari maka Allah akan menjadikan antara dia dan neraka satu parit sepanjang perjalanannya satu tahun. Dan siapa yang puasa Rajab empat hari maka ia akan diselamatkan daripada kecelakaan, penyakit gila, kusta, supak, fitnah Masiihud Dajjal, dan siksa kubur. Dan siapa yang puasa Rajab enam hari maka ia akan keluar dari kuburnya sedang mukanya lebih bercahaya dari bulan purnama. Dan siapa yang puasa Rajab tujuh hari maka sesungguhnya bagi neraka jahannam itu ada tujuh pintu yang tertutup untuknya dengan puasa tiap-tiap hari satu pintu dari beberapa pintunya. Dan siapa yang puasa Rajab delapan hari maka sesungguhnya surga itu memiliki delapan pintu yang dibuka Allah untuknya dengan puasa pada tiap-tiap hari satu pintu dari beberapa pintunya. Dan siapa yang puasa Rajab sembilan hari maka ia akan keluar dari kuburnya sambil menyeru La ilaaha illallah  dan tidak akan dipalingkan mukanya dari surga. Dan siapa yang puasa Rajab sepuluh hari Allah mengadakan baginya pada tiap-tiap satu mil dari jembatan shirathal mustaqim permadani yang dibuat istirahat olehnya. Dan siapa yang puasa Rajab sebelas hari maka tidak ada orang yang lebih utama dari padanya dihari kiamat selain orang-orang yang puasa seperti dirinya atau melebihinya. Dan siapa yang puasa Rajab dua belas hari maka Allah akan pakaikan padanya dihari kiamat dua pakaian yang tiap-tiap pakaian lebih banyak dari dunia dan seisinya. Dan siapa yang puasa Rajab tiga belas hari maka ia mendapatkan hidangan dibawah Arsy lalu ia makan sedangkan orang-orang lain dalam kesusahan yang sangat. Dan siapa yang puasa Rajab empat belas hari maka Allah akan memberikan ganjaran yang belum pernah dilihat mata, didengar telinga dan ganjaran yang  belum pernah terlintas dihati manusia. Dan siapa yang puasa Rajab lima belas hari maka Allah akan menghubungkannya dengan orang-orang yang selamat Dan tak seorangpun malaikat atau nabi yang melewatinya kecuali berkata berbahagialah engkau, engkau termasuk golongan orang-orang yang selamat (HR. Ibnu’Adie).

Ketahuilah, HADITS INI TERMASUK HADITS PALSU.

Dalam rangkaian sanad hadits ini terdapat: -1. AlKasa’i yang menurut Imam Suyuthi seorang yang tidak terkenal dikalangan ahli Hadits. -2. Abu Bakar Muhammad bin Hasan an-Naqas yang dikenal oleh Imam Thalhah bin Muhammad Asy-syahid sebagai tukan dusta dalam urusan hadits, dan dikenal oleh Imam al-Barqani sebagai Munkarul Hadits (Pembawa hadits yang diingkari/ditolak riwayatnya), sedangkan Imam Suyuthi memasukkannya sebagai rawi (pembawa hadits) pemalsu hadits.

Alasan kedua

Konon ada hadits; “Dari Ali bin Husain ia berkata: “Saya telah mendengar bapakku mengatakan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Bersabda: “Barangsiapa shalat satu malam pada bulan Rajab dan puasa disiangnya maka Allah akan memberi makanan kepadanya dari buah-buahan surga dan akan memakaikannya dengan pakaian surga dan akan diberi minuman dari minuman surga kecuali bagi yang berbuat tiga perkara: yaitu membunuh orang atau mendengar orang yang minta tolong pada waktu malam atau siang tetapi ia tidak menolongnya atau saudaranya mengadu kepadanya tetapi ia tidak mau melepaskan kesusahannya (H.R. Ishaaq bin Ibraahiim al- Khatalie).

Ketahuilah, HADITS INI TERMASUK HADITS PALSU. Dalam hadits ini terdapat dua orang yang menjadi pembicaraan sebagai berikut: Husain bin Mukhariq dikenal oleh Imam Daraquthnie sebagai pemalsu hadits begitu pula Ishaq bin Muhammad bin Marwan yang menurut Imam Daraquthnie pula tidak boleh menjadikan hadits yang diriwayatkannya sebagai alasan untuk beramal.

Alasan ketiga

Ada hadits, konon Nabi SAW pernah bersabda: Barang siapa yang puasa Rajab tiga hari maka Allah mencatatnya seperti puasa satu bulan. Barang siapa yang puasa Rajab tujuh hari maka Allah akan menutup tujuh pintu neraka baginya. Barang siapa yang puasa Rajab delapan hari maka Allah akan membukakan untuknya delapan pintu surga. Barang siapa yang berpuasa setengah bulan Rajab maka Allah menetapkan baginya keridhalan-Nya dan siapa yang diridhai-Nya maka Allah tidak akan menyiksanya. Barang siapa berpuasa Rajab sebulan maka Allah akan menghisabnya dengan hisab yang mudah. (HR. Ibnu Adie)

Ketahuilah, HADITS INI PALSU.

Dalam hadits ini terdapat rawi-rawi sebagai berikut: –

  1. Aban yang menurut Imam Suyuthi riwayatnya tidak diterima oleh Ahli Hadits
  2. Mar bin Azhar  yang dikenal oleh  Imam Ibnu Ma’in sebagai orang yang tidak boleh dipercaya, Imam Bukhari mengatakannya sebagai orang yang dituduh tukang dusta, Imam Nasaa-I dan lainnya mengatakan bahwa ia tidak diterima periwayatannya. Adapun Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan bahwa Umar bin Azhar merupakan salah satu pemalsu hadits. Selain Ibnu Adie, hadits semakna diriwayatkan pula oleh Imam Abu Syaikh di bab Atstsawab, tetapi dalam sanadnya terdapat cacat yaitu: adanya  rawi yang bernama Husain bin Alwan yang menurut Imam Yahya bin Ma’in sebagai seorang tukang dusta. Imam Alie mengatakan dia itu lemah sekali. Imam Abu Hatim, Nasaa-i dan Daraquthnie mengatakan bahwa riwayatnya tidak diterima oleh Ahli Hadits. Sedangkan Imam Ibnu Hiban menyebutnya sebagai tukang memalsu hadits.

Alasan keempat

Ada hadits, konon Nabi SAW pernah bersabda: Dari Ali bin Abu Thalib ia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: Sesungguhnya bulan Rajab itu adalah bulan yang agung. Barang siapa yang puasa Rajab sehari niscaya Allah menulis baginya pahala sebagai puasa seribu tahun. Barang siapa yang puasa Rajab dua hari niscaya ditulis baginya pahala puasa dua ribu tahun. Barang siapa yang puasa Rajab tiga hari niscaya ditulis baginya pahala puasa tiga ribu tahun. Barang siapa yang puasa Rajab tujuh hari maka tujuh pintu Jahannam ditutup bagi dirinya. Barang siapa puasa Rajab delapan hari maka delapan pintu surga dibukakan bagi dirinya yang dia memasuki dari pintu yang dikehendaki. Dan siapa yang berpuasa Raja selama lima belas hari maka kesalahan-kesalahannya diganti dengan kebaikan dan dipanggil dari langit: “Allah telah mengampuni dosamu oleh karena itu mulailah lagi kamu beramal. Barang siapa yang menambah amalnya niscaya Allah yang Maha Mulia dan Maha Tinggi akan menambah pahala baginya” (HR.bin Ibraahiim al-Khatalie).

Ketahuilah, HADITS INI BATIL sebagaimana keterangan Imam Adz-Dzahabie, karena dalam sanad hadits ini terdapat seorang rawi bernama: Ali bin Yazid Ash-Shada-I dimana Imam Abu Hatim menganggapnya sebagai rawi yang ditolak riwayatnya.

Alasan ke-lima

Ada hadits, konon Nabi SAW pernah bersabda: Barang siapa yang puasa satu hari di bulan Rajab sama dengan ia berpuasa selama satu bulan. Dan siapa yang puasa Rajab tujuh hari maka tujuh pintu neraka ditutup untuknya. Dan siapa yang puasa Rajab delapan hari maka delapan pintu surga dibuka untuknya yang dia memasukinya melalui pintu yang dikehendaki. Dan siapa yang puasa Rajab sepuluh hari niscaya Allah Subhanahu Wa ta’ala menggantikan kesalahannya dengan kebaikan. Dan siapa yang puasa Rajab selama delapan belas hari niscaya seorang pemanggil menyerukan dengan perkataan bahwa Allah telah mengampuni dosamu yang telah lalu maka perbaharuilah amalmu. (HR. al-Khathiib).

Ketahuilah, HADITS INI TIDAK SHAHIH (TIDAK SAH).

Dalam sanad hadits ini terdapat beberapa kelemahan:  -1. Maimun bin Mahran tidak pernah berjumpa dan mendengar riwayat hadits dari Abu Dzarr sebagaimana ditegaskan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar -2. Al-Farat bin Sa’ab, rawi hadits ini dilemahkan oleh Imam Ibnu Ma’in dan Daraquthnie. Imam Bukhari mengatakan bahwa riwayatnya itu mungkar sedangkan Imam Ahmad bin Hanbal memasukkan kedalam rawi yang tertuduh sebagai Pemalsu Hadits. -3. Rasyidin bin Sa’ad, rawi hadits ini pun termasuk rawi lemah

Alasan ke-enam

Ada hadits, konon Nabi SAW pernah bersabda: “Barang siapa puasa Rajab satu hari maka ia seperti berpuasa satu tahun. Dan barang siapa puasa Rajab tujuh hari maka tujuh pintu neraka ditutup untuknya. Dan barang siapa puasa Rajab delapan hari maka delapan pintu surga dibuka untuknya. Dan barang siapa puasa Rajab selama sepuluh hari maka tidaklah ia meminta sesuatu kepada Allah melainkan akan diberikan apa yang dimintanya. Dan barang siapa puasa Rajab lima belas hari maka ia dipanggil dari langit dengan perkataan Aku telah mengampuni dosamu yang lalu karena itu perbaharuilah amalmu dan sesungguhnya Aku telah mengganti kesalahanmu dengan kebaikan. Dan barang siapa yang menambah, niscaya Allah menambah pahala baginya. Dan pada bulan Rajab Nuh naik diatas kapal lalu ia berpuasa dan hal itu ia perintahkan kepada orang-orang yang bersamanya untuk berpuasa sampai enam bulan hingga akhir yang demikian itu pada sepuluh hari pada bulan Muharram (HR. Baihaqie).

Ketahuilah, HADITS INI TIDAK SAH.Dalam hadits ini terdapat Rawi yang dianggap lemah sebagai berikut: –

  1. Abdul Ghafur Abu Shabah al- Wasith dikenal oleh Ibnu Adie sebagai orang yang lemah dalam urusan hadits dan Munkarul Hadits (Pembawa hadits yang diingkari/ditolak riwayatnya), begitu juga Imam Ibnu Ma’in menganggap rawi hadits ini sebagai orang yang lemah. Imam Bukhari berkata bahwa Ulama-ulama hadits tidak suka mengambil riwayatnya sedangkan Imam Ibnu Hibban memasukkan rawi hadits ini sebagai kelompok pemalsu hadits.
  2. Utsman bin Mathar, rawi hadits ini dilemahkan oleh Imam Abu Daud dan Imam Nasaa-I, sedangkan Imam Bukhari menganggap riwayatnya mungkar (wajib diingkari/ditolak)
  3. Abdul ‘Aziz bin Sa’id, rawi hadits ini tidak pernah mendengar hadits dari Anas sebagaimana kata Imam Dzahabie. Selain Baihaqie, hadits ini diriwayatkan pula oleh Ibnu ‘Asakir. Akan tetapi dalam riwayat ini terdapat seorang rawi bernama Abdul Mun’im bin Idris al-Yamanie sedang dia dilemahkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam Bukhari. Imam Ibnu Hibban berkata bahwa rawi hadits ini adalah pemalsu hadits. Adapun Imam adz-Dzahabie mengatakan bahwa rawi ini tidak boleh dipercaya.

KESIMPULAN

Demikianlah hadits-hadits tentang keutamaan puasa Rajab yang  sementara dapat penulis kumpulkan. Berdasarkan  kaidah-kaidah ilmu hadits ternyata hadits-hadits yang dijadikan pegangan oleh kebanyakan orang tentang keutamaan puasa  dibulan Rajab ternyata TIDAK ADA YANG SAH bahkan derajatnya termasuk HADITS-HADITS PALSU (yaitu ucapan, perbuatan, keutamaan  sesuatu dan sebagainya yang disandarkan kepada Rasulullah yang dibawakan oleh orang-orang yang telah dikenal dikalangan ahli  ilmu hadits sebagai tukang dusta, tukang memalsu hadits dan tidak boleh dipercaya  periwayatannya). Dengan kata lain, seseorang atau sekelompok orang yang melakukan peribadatan dengan tidak didasari keterangan dan pemahaman  yang benar maka dia telah berbuat sesuatu yang tidak ada contohnya.

Rasulullah SAW pernah bersabda, “Barang siapa yang mengadakan sesuatu dalam urusan agama yang tidak kami perintahkan maka  perbuatan itu tertolak (tidak diberi pahala bahkan diancam siksa) (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam kaidah hukum Islam, aktifitas apapun apakah urusan akidah atau ibadah jika tidak dikerjakan atau dibenarkan Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam maka aktifitas itu dinamakan Bid’ah.

Rasulullah SAW bersabda:  “Maka siapa saja yang hidup sepeninggalku niscaya ia akan menemukan banyak perselisihan. Oleh  karena itu ikutlah sunnahku dan sunnah  para penerusku yang mendapat petunjuk (al-Khulafaur Raasyidun)…gigitlah (peganglah)  sunnah tersebut kuat-kuat dan jauhilah olehmu perkara-perkara baru yang diadakan orang karena apa yang diada-adakan tersebut  adalah  bid’ah”.

——————
penyesuaian dari: http://forum.dudung.net/index.php?topic=6553.0;wap2

http://masbadar.com

 

Zina, Penyebab Utama Gempa

Percaya atau tidak, dalam Al Qur’an atau mungkin kitab-kitab agama lain, banyak kaum yang dibinasakan, diazab dan disengsarakan dengan bencana terutama gempa bumi adalah terkait perilaku penyimpangan mereka terhadap seks.

Zina adalah penyimpangan perilaku seks, seks yg seharusnya dilakukan secara halal sesuai perintah Tuhan, disimpangkan dengan cara haram alias zina.

Lebih parah lagi adalah bencana akibat penyimpangan seks berupa hubungan sesama jenis. Kaum-kaum terdahulu, kaum Luth kaum Nabi Nuh dan sebagainya diluluh-lantakkan dengan gempa bumi super dashyat;  tempat tinggal mereka dijungkir-balikan sedemikian rupa.

Hanya kaum penyimpang seks penyembah zina yang Allah azab sedemikian kerasnya. Oleh karena itu marilah kita menghindarkan diri, keluarga dan masyarakat kita dari zina yang baru saja -dan mungkin akan masih terus- terazab bencana gempa ini?

Dulu, Nabi Luth dan Nabi Nuh tidak bisa menghentikan kebejatan kaumnya hingga Allah-lah yang menhentikan mereka. Maukah Allah jua yang menghentikan perilaku, syiar, fenomena, trend zina di negeri ini? Mau?

 

Koleksi gambar foto orang-orang yang sedang menunaikan sholat di berbagai tempat dan kondisi

3456589308_5331ffa773
3456589690_f851823b15
3455770559_147bf081ef

 

 

Download Mudah dan Cepat mp3 40 Hadits Arba’ien Nawawiyah kualitas tinggi 128 kbps

Tidak ada sebaik-sebaik ucapan yang patut disimpan dalam ingatan kita setelah Kitabullah selain sabda beliau SAW. Berikut adalah 42 file-file mp3 bacaan hadits Arba’ien Nawawiyah. Silahkan mengunduhnya. Untuk membaca teks dan penjelasan dari hadits-hadits ini silahkan klik: naskah hadits

STREAMING DOWNLOAD
Hadits 1 Hadits 1
Hadits 2 Hadits 2
Hadits 3 Hadits 3
Hadits 4 Hadits 4
Hadits 5 Hadits 5
Hadits 6 Hadits 6
Hadits 7 Hadits 7
Hadits 8 Hadits 8
Hadits 9 Hadits 9
Hadits 10 Hadits 10
  1. >>HADITS KE 01 – 10
  2. >>HADITS KE 11 -20
  3. >> HADITS KE 21 – 30
  4. >>HADITS KE 31 – 42

re-edited by: masbadar@2007 using adobe audition. Update: 15 Nopember 2009, pindah file hosting ke archive.org

Akhlaq, Adab, dan Sopan Santun terhadap Orang Tua

Jika  ingin berhasil di dunia dan di akhirat, maka kerjakanlah beberapa pesan sebagai berikut:

Berbicaralah kepada kedua orangtuamu dengan sopan santun, jangan mengucapkan “ah” kepada mereka, jangan hardik mereka dan berkatalah kepada mereka dengan ucapan yang baik.

Ta’atilah selalu kedua orangtuamu selama tidak dalam maksiat, karena tidak ada ketaatan pada makhluk yang bermaksiat kepada Allah.

Berlemah lembutlah kepada kedua orangtuamu, jangan bermuka masam di depannya, dan janganlah memelototi mereka dengan marah.

Jaga nama baik, kehormatan dan harta benda kedua orangtua. Dan janganlah mengambil sesuatu pun tanpa seizin keduanya.

Lakukanlah hal-hal yang meringankan meski tanpa perintah mereka. Seperti membantu pekerjaan mereka, membelikan beberapa keperluan mereka dan bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu.

Musyawarahkan segala pekerjaanmu dengan orangtua dan mintalah maaf kepada mereka jika terpaksa kamu berselisih pendapat.

Bersegeralah memenuhi panggilan mereka dengan wajah berseri-seri sambil berkata, “Ada apa, Ibu!” atau “Ada apa, Ayah!”

Hormatilah kawan dan sanak kerabat mereka ketika mereka masih hidup dan sesudah mati.

Jangan membantah mereka dan jangan pula menyalahkan mereka, tapi usahakan dengan sopan kamu dapat menjelaskan yang benar.

Jangan membantah perintah mereka, jangan mengeraskan suaramu kepada mereka. Dengarkanlah pembicaraan mereka, bersopan santunlah terhadap mereka, dan jangan mengganggu saudaramu untuk menghormati kedua orangtuamu.

Bangunlah jika kedua orangtuamu masuk ke tempatmu dan ciumlah kepala mereka.

Bantulah ibumu di rumah dan jangan terlambat membantu ayahmu di dalam pekerjaannya.

Jangan pergi jika mereka belum memberi izin, meski untuk urusan penting, jika terpaksa harus pergi maka mintalah maaf kepada keduanya dan jangan sampai memutuskan surat menyurat dengan mereka.

Jangan masuk ke tempat mereka kecuali setelah mendapat izin terutama pada waktu tidur dan istirahat mere-ka.

Apabila tergoda untuk merokok, maka jangan merokok di depan mereka.

Jangan makan sebelum mereka dan jangan mencela mereka jika berbuat sesuatu yang tidak kamu sukai.

Jangan utamakan isterimu atau anakmu atas mereka. Mintalah restu dan ridha mereka sebelum melakukan sesuatu, karena ridha Allah terletak pada ridha kedua orangtua dan kemurkaan Allah terletak pada kemurkaan mereka.

Jangan duduk di tempat yang lebih tinggi dari mereka dan jangan menyelonjorkan kedua kakimu dengan congkak di depan mereka.

Jangan congkak terhadap nasib ayahmu, meski engkau seorang pejabat tinggi, dan usahakan tidak pernah meng-ingkari kebaikan mereka atau menyakiti mereka, meski hanya satu kata.

Jangan kikir menginfakkan harta benda kepada mereka sampai mereka mengadu padamu, itu merupakan kehinaan bagimu. Dan itu akan kamu dapatkan balasannya dari anak-anakmu. Apa yang kamu perbuat akan menda-pat balasannya.

Perbanyaklah melakukan kunjungan kepada kedua orangtua dan memberi hadiah, sampaikan terima kasih atas pendidikan dan jerih payah keduanya, dan ambillah pelajaran dari anak-anakmu yaitu engkau merasakan be-ratnya mendidik mereka. Orang yang paling berhak mendapat penghormatan adalah ibumu, kemudian ayahmu. Ketahuilah bahwa Surga berada di bawah telapak kaki ibu.

Usahakan untuk tidak menyakiti kedua orangtua dan menjadikan mereka marah sehingga kamu merana di dunia dan akhirat, kelak anak-anakmu akan memperlakukan kamu sebagaimana kamu memperlakukan kedua orang-tuamu.

Jika meminta sesuatu dari kedua orangtuamu maka berlemah lembutlah, berterima kasihlah atas pemberian mereka, maafkanlah mereka jika menolak permintaanmu, dan jangan terlalu banyak meminta agar tidak menggang-gu mereka.

Jika kamu mampu mencari rizki maka bekerjalah dan bantulah kedua orangtuamu.

Kedua orangtuamu mempunyai hak atas kamu, dan isterimu mempunyai hak atas kamu, maka berilah hak mereka. Jika keduanya berselisih usahakan kamu mem-pertemukan mereka dan berilah masing-masing hadiah secara diam-diam.

Jika kedua orangtuamu bertengkar dengan isterimu, maka bertindaklah bijaksana, dan berilah pengertian kepada isterimu bahwa kamu berpihak padanya jika ia benar, hanya kamu terpaksa harus mendapatkan ridha kedua orangtua.

Jika kamu berselisih dengan kedua orangtua tentang perkawinan dan thalak maka kembalikan pada hukum Islam, karena hal itu merupakan penolong yang paling baik.
Do’a orangtua untuk kebaikan dan kejelekan diterima Allah, maka hati-hatilah terhadap do’a mereka untuk kejelekan.

Bersopan santunlah dengan orang lain, karena barang-siapa mencela orang lain maka orang itu akan mencaci-nya. Rasulullah Shallallaahu Alaihi Wa Sallam bersabda: (( مِنَ الْكَبَائِرِ شَتْمُ الرَّجُلِ وَالِدَيْهِ يَسُبُّ أَبَا الرَّجُلِ فَيَسُبُّ أَبَاهُ وَيَسُبُّ أُمَّهُ وَيَسُبُّ أُمَّهُ ))

Di antara dosa-dosa besar adalah cacian seseorang terhadap kedua orangtuanya; ia mencaci orang lain maka orang itu akan mencaci ayahnya, ia mencaci ibu orang lain maka orang itu akan mencaci ibunya.”

Kunjungilah kedua orangtuamu ketika masih hidup dan sesudah matinya, bersedekahlah atas nama mereka dan perbanyaklah berdo’a untuk mereka, misalnya dengan do’a: (( رَبِّ اغْفِرْلِى وَلِوَالِدَيَّ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِى صَغِيْرًا ))