Category Archives: Tazkiyatunnafs

Ingat Allah, Surga dan Neraka

Siapakah orang-orang yang dikagumi oleh para malaikat? Dan inginkah anda termasuk orang-orang yang dikagumi oleh mereka? Kalau anda menghendakinya, simaklah hadits di bawah ini dengan seksama dan renungkanlah kandungan hikmahnya.

Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits yang bersumber dari seorang shahabat yang bernama Hanzholah Al-Usaiydiradhiyallahu ‘anhu, dia adalah seorang juru tulis Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam, beliau (Hanzholah) berkata, “Abu Bakar datang menemuiku, lalu bertanya, “Bagaimana keadaanmu wahai Hanzholah?” Dia (Hanzholah ) berkata, “Saya mengatakan, “Hanzholah telah “munafik”. Abu Bakar berkata, “Subhanallah! Apa yang engkau ucapkan (wahai Hanzholah)?” Dia (Hanzholah) berkata, “Saya mengatakan, “Ketika kita bersama Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam, beliau mengingatkan kita tentang surga dan neraka, maka seolah-olah kita melihatnya, namun tatkala kita keluar dari majlisnya, berkumpul dengan isteri-isteri dan anak-anak, serta disibukkan dengan hal-hal lainnya, maka kita lupa banyak hal.” (Lupa surga, lupa neraka, lupa mengingat Allah, pentj). Abu Bakar berkata, “Demi Allah kami juga mengalami hal yang sama seperti itu.” Maka saya dan Abu Bakar keluar untuk menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu saya berkata, “Wahai Rasulullah, Hanzholah telah “munafik”! (Mendengar hal itu) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, berkata, “Ada apa?” Saya pun mengatakan, “Wahai Rasulullah, tatkala kami ada bersamamu, engkau mengingatkan kami tentang surga dan neraka, maka seolah-olah kami melihatnya, namun tatkala kami keluar dari majlismu, berkumpul dengan isteri-isteri dan anak-anak serta disibukkan dengan hal-hal lainnya, maka kami lupa banyak hal.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, jika kalian senantiasa dalam kondisi seperti berada di sisiku yaitu selalu berzikir (ingat Allah), maka sungguh para malaikat menyalami kalian, walau kalian berada di atas alas tidur (berada di rumah, pentj.), atau sedang berada di jalan-jalan (berada di luar rumah, pentj.) Akan tetapi wahai Hanzholah, sesaat dan sesaat, beliau mengulangi tiga kali.”

Hikmah yang terkandung dalam hadits yang mulia di atas ada beberapa hal:

1. Penjelasan tentang keutamaan salah seorang shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang bernama: Hanzholah Al-Usaiydi radhiyallahu ‘anhu.

2. Di antara keutamaannya adalah beliau sangat khawatir jatuh pada perbuatan dosa-dosa yang dalam hadits ini dia khawatir terjerumus kepada perbuatan munafik, dan di antara contoh kemunafikan: bicara dusta, tidak tepat janji, tidak amanah, tidak konsisten, tidak sejalan antara ucapan dan perbuatan, dan lain-lainnya.

3. Diperbolehkannya seseorang untuk mencela, memecut, dan meng-hukum dirinya sendiri karena melakukan suatu perbuatan khilaf, agar kekurangan dirinya sendiri bisa segera dia perbaiki, sebagaimana Hanzholah radhiyallahu ‘anhu menyebut dirinya seorang munafik, tatkala dia merasa ada sesuatu yang kurang pada dirinya, sedangkan dia sangatlah jauh dari sifat kemunafikan. Mencela diri sendiri sangat dianjurkan agar diri kita semakin mendekat kepada Allah subhanahu wata’ala.

Celalah diri kita, mengapa tidak bisa khusyu’ dalam sholat, sedangkan Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya, “Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyu’ dalam sholatnya.”

Celalah diri kita, mengapa tidak takut kepada neraka, sedangkan Al-Qur`an menuturkan (arti: takutlah kalian kepada api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang yang kafir)

Celalah diri kita, mengapa tidak tamak kepada akhirat dan surga, sedangkan Al-Qur`an mengingatkan kita, artinya, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepada-mu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagai-mana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguh-nya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”(QS. Al-Qashash: 77)

Celalah diri kita, mengapa justru tamak kepada dunia yang akan menyengsarakan kita.

Celalah diri kita, mengapa tidak bisa menangisi dosa-dosa dan perbuatan maksiat yang kita lakukan. Muadz Bin Jabalradhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Wahai Rasulullah apa itu keselamatan?” Beliau menjawab, “Kesalamatan ada pada tiga hal: Pertama: tahan/jagalah lisanmu; Ke dua: betahlah engkau di rumah; Ke tiga: tangisilah kesalahanmu.”

Celalah diri kita, mengapa tidak punya waktu untuk berzikir kepada Allah, sedangkan Allah subhanahu wata’ala akan mengingat kita, tatkala kita ingat kepada-Nya. Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya, “Ingatlah kalian kepada-Ku maka Aku akan ingat kepada kalian.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallamberpesan, “Jagalah Allah, maka Allah akan menjagamu.”

Celalah diri kita kenapa sedikit dan tidak bisa banyak membaca Al-Qur`an, bukankah Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Bacalah oleh kalian Al-Qur`an karena ia akan datang pada hari Kiamat untuk memberikan syafa’at (kepada pembacanya).”

Celalah diri kita, mengapa tidak gemar berinfak dan bershadaqah, sedangkan infak dan shadaqah banyak sekali keutamaan dan keajaibannya.

Celalah diri kita, mengapa tidak bisa mengoptimalkan pemanfaatan bulan suci Ramadhan kali ini dengan baik dan justru hari-hari bulan Ramadhan ini tiada perbaikan yang berarti pada diri kita.

Celalah diri kita, mengapa tidak terenyuh melihat penderitaan para fakir miskin. Celalah diri kita, mengapa tidak peka terhadap anak yatim yang menjadi tanggung jawab kita bersama.

Celalah diri kita, Celalah diri kita, Celalah diri kita. Dan jangan mencela orang lain, sebab orang yang suka mencari kesalahan orang lain dan kemudian dia mencelanya, maka dia adalah orang yang paling buruk akhlaknya dan orang yang paling busuk hatinya.

4. Anjuran untuk bergaul dengan orang-orang sholeh, agar terhindar dari berabagai macam fitnah dan dosa, dan sekaligus sebagai peringatan untuk menjauhi teman-teman yang tidak baik, karena bisa mempengaruhi agama seseorang, karena Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Seseorang itu (terpengaruh) oleh agama temannya”.

5. Anjuran agar selalu menuntut ilmu dan menghadiri majlis ilmu untuk menghilangkan kebodohan, dan peringatan agar jangan menjauhi majlis ilmu. Dan ketahuilah bahwa kebodohan sumber kehancuran dan kehinaan, Allah subhanahu wata’ala berfirman artinya, “Sesungguhnya binatang (mahluk) yang seburuk-buruknya (makhluk paling hina) pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa pun.” (QS. Al-Anfal: 22)

6. Allah subhanahu wata’ala mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu.

7. Keutamaan orang yang beriman dan berilmu, sebab dia senantiasa takut dan ingat kepada Allah subhanahu wata’alaserta bergaul dengan orang yang sholeh.

8. Teman sejati adalah teman yang mengajak ke jalan Allah, yang menghibur kita tatkala sedih, yang menolong kita tatkala kesulitan dan yang mengingatkan kita tatkala lalai, yang meluruskan jalan kita tatkala menyimpang.

9. Keutamaan mengingat surga dan neraka, karena keduanya itu akan menghantarkan seseorang untuk takut kepada Allahsubhanahu wata’ala.

10. Tiada manusia yang sempurna dan tiada manusia yang maksum kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

11. Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu adalah manusia biasa dan dia tidak maksum karena pada saat-saat tertentu bisa jadi lupa tentang surga dan neraka, layaknya orang selainnya, tapi dia punya keutamaan yang tidak dimiliki oleh orang lain.

12. Anjuran untuk bertanya kepada saudaranya yang seiman tentang keadaan dan kabarnya, agar bisa saling berbagi dan saling mengisi kekurangan.

13. Anjuran untuk selalu melakukan muhasabah terhadap diri sendiri di manapun dan kapan pun.

14. Untuk menyelesaikan suatu per-masalahan yang tidak diketahui, hendaklah bertanya kepada orang-orang yang berilmu (ulama).

15. Isteri dan anak-anak terkadang menjadi sumber fitnah yang menimbulkan dosa, oleh karenanya didiklah mereka agar senantiasa sejalan dengan ajaran Islam, menanamkan dan menumbuhkan sikap muraqobatullah dalam setiap tindakan.

16. Peringatan agar jangan menjauhi masjid dan tempat-tempat yang bisa menentramkan hati dan mem-perbaikinya.

17. Ingatlah kepada Allah subhanahu wata’ala di mana-pun kita berada, di rumah atau di luarnya, di pasar atau di jalanan, di tengah keramaian atau sedang sendirian.

18. Kekaguman para malaikat kepada orang-orang yang senantiasa ingat kepada Allah subhanahu wata’ala, karena itu, ingatlah selalu kepada Allah, maka para malaikat akan kagum kepada anda.

19. Dunia ini adalah permainan, senda gurau dan godaan, oleh karenanya hati-hatilah terhadap dunia yang penuh dengan cobaan ini.

20. Sebaik-baik perbekalan adalah taqwa, karena itu Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam berpesan, “Bertaqwalah kalian di manapun kalian berada, iringilah kesalahan itu dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan meng-hapuskan kesalahan, serta ber-akhlaklah terhadap manusia dengan akhlak yang baik.” (Isnain Azhar, Lc)

Iklan

Hakikat Dunia

Apakah Dunia Itu ?

 

Jawabnya bisa macam-macam. Tapi sebagaimana jika merupakan soal pilihan ganda, jawaban yang benar pasti cuma satu. Apakah itu ? Marilah kita lihat sekeliling kita. Inilah dunia kita. Kita keluar dari rahim ibu kita, tumbuh besar, masuk sekolah, lulus, bekerja, menumpuk harta, membangun rumah dan memperindahnya, menikah, punya anak, dan anak kita pun kita didik agar jadi seperti kita atau lebih sukses daripada kita. Apakah hanya seperti itu dunia ini ?

Tentu Tidak !!!. Setiap  sesuatu pasti  ada kesudahannya. Begitu pula hidup kita di dunia ini. Kita sekolah, kuliah, bekerja, menumpuk harta, toh kita nanti juga akan mati. Alloh subhanahu wa ta’alaberfirman, yang artinya: “Setiap yang berjiwa  akan  merasakan kematian”. (QS: Ali ‘Imraan: 185).
Dan ketika sudah mati, harta dan anak yang kita punyai tak bisa menyertai diri lagi. Mati itu kesudahan hidup. Tapi masalahnya, mati itu bukan kesudahan segala-galanya. Masih ada lagi masalah sesudah mati, yaitu hari kebangkitan, perhitungan amal, dan penentuan akhir nasib kita. Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman, yang artinya: “Kemudian Dia (Allah) mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur, kemudian jika Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali”.(QS: ‘Abasa : 21-22).
Dan Alloh subhanahu wa ta’ala juga berfirman, yang artinya: ” Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam , supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka.” (QS:Az-Zalzalah : 6).
Satu masalah lagi, amal yang akan dihitung dan ditimbang dan menentukan akhir nasib kita itu hanya bisa kita lakukan pada saat kita masih bisa menghembus nafas. Jika sudah tak bisa menghirup udara lagi, tak bisa pula kita mempersiapkan diri untuk hari itu.
Perkataan Ali bin Abi Thalib, ” Sesungguhnya pada hari ini hanya ada amal tanpa perhitungan, dan besok (pada hari kiamat) hanya ada perhitungan tanpa amal.”
Jadi, apakah dunia itu? Dunia adalah tempat persinggahan yang sementara saja, tidak kekal untuk selamanya. Yunus bin Abi Ubaid menjelaskan permisalan dunia, ” Kehidupan dunia hanya bisa disamakan dengan orang yang tidur, dalam mimpinya melihat hal-hal yang ia senangi  sekaligus yang ia benci, tapi ketika sedang menikmatinya, tiba-tiba ia terjaga. ” Suka-duka hidup ini semisal mimpi-mimpi itu. Sedangkan terjaga dari mimpi adalah misal dari kematian.
Rasululloh shallallaahu ‘alaihi wa sallam memaparkan tentang dunia dan diri beliau, “Apalah aku dan dunia ini !, Sesungguhnya permisalan aku dengan dunia adalah seperti seorang pengendara yang tidur di bayangan sebuah pohon. Kemudian pergi dan meninggalkan pohon tersebut.” (HR: Ahmad, At-Tirmidzy dan Ibnu Majah).
Umar bin Abdul-‘Aziz berkata, ” Dunia itu sesungguhnya bukan tempat yang kekal untuk kita. Allah sendiri telah menakdirkannya fana, dan kepada para penghuninya telah digariskannya hanya melewatinya saja.”
Wahai saudaraku, dunia memang aset bagi umat manusia. Di dalamnya terkandung sebuah kekayaan, yakni bumi beserta segala isinya. Bumi sebagai tempat tinggal manusia, menyediakan kebutuhan sandang, pangan, minum dan tempat melangsungkan pernikahan. Semua itu, kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan untuk perjalanan kendaraan yang akan membawa badan anda menuju Allah. Sebab manusia hanya bisa bertahan dengan itu semua, sebagaimana onta yang digunakan sebagai kendaraan haji hanya bisa bertahan dengan memenuhi kebutuhannya. Ada di antara orang yang mengambil dari jatah kebutuhannya itu sebagaimana yang dianjurkan saja, dialah orang yang terpuji. Sementara ada pula orang yang mengambil dari jatah itu lebih dari kebutuhannya karena sifat rakusnya, orang yang demikian adalah tercela.
Dengan begitu, dia mengabaikan tujuan yang sebenarnya, dia tak lebih sebagai orang yang memberi makan onta, mengambilkan air minumnya dan menggantikan warna kelengkapan onta tersebut. Dia tak sadar bahwa rombongan telah berlalu, ditinggalkan seorang diri di gurun sebagai mangsa binatang buas bersama onta piaraannya.
Begitu pula dengan terlalu menahan diri untuk memenuhi kebutuhan, juga tidak beralasan. Sebab onta tidak kan kuat berjalan, kecuali keperluannya terpenuhi. Jalan yang tepat adalah mengambil jalan tengah, yakni mengambil bekal dari kehidupan dunia sekedar yang dibutuhkan untuk perjalanan saja.
Ketika Abu Shafwan Ar-Ru’ainy ditanya, ” Apakah dunia  yang Allah cela dalam Al-Qur’an, dan yang harus dijauhi oleh orang yang berakal?” Dia menjawab, ” Segala yang Anda senangi di dunia, yang dengannya Anda tidak menghendaki kehidupan di akhirat, itulah yang tercela. Dan segala kenikmatan dunia yang Anda senangi, yang dengannya Anda menghendaki kehidupan akhirat, maka yang demikian itu tidak termasuk kehidupan dunia.”
Perjalanan. Begitulah dunia itu hakikatnya. Dan setiap perjalanan ada tempat tujuannya. Dan untuk menuju kepada tujuan itulah kita seharusnya menyiapkan bekal kita.
Di dalam khutbahnya, Umar Ibnul-Khaththab menyatakan, ” Setiap perjalanan mesti ada bekalnya, maka bekalilah perjalanan Anda dari dunia ke akhirat dengan takwa. Jadilah seperti orang yang melihat dengan mata kepalanya adzab yang Allah persiapkan baginya untuk kemudian disadari dan tumbuh perasaan takut. Janganlah Anda terlalu lama membiarkan waktu berlalu sehingga hati Anda terlalu mengeras.”
Dalam khutbahnya, Umar bin Abdul-Aziz berkata,”… Berapa banyak  orang yang membangun dengan kokoh setelah berselang beberapa waktu roboh, dan berapa banyak orang yang hatinya telah tercuri, ingin hidup menetap akhirnya harus meninggalkannya. Maka usahakanlah perjalanan dari dunia itu sebaik-baiknya dengan bekal terbbaik yang Anda miliki. Berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Bila dunia memang bukan tempat menetap bagi orang mukmin, maka dia harus menempatkan dirinya pada salah satu dari sikap-sikap berikut. Harus bersikap seakan-akan orang asing yang menetap di sebuah negeri asing yang tujuannya semata-mata mengumpulkan bekal untuk pulangke tanah airnya, atau bersikap seakan-akan seorang pengembara yang sama sekali tidak menetap tapi sepanjang hari dia terus berjalan menuju sebuah negeri tempatnya menetap kelak.”
Al-Hasan menjelaskan sifat-sifat dunia, ” Alangkah nikmatnya kehidupan alam dunia bagi orang-orang mukmin. Karena mereka senantiasa berbuat dan mengumpulkan bekal untuk kehidupan surga. Dan sungguh keji dunia bagi orang kafir dan munafik, karena mereka membiarkan waktu malamnya berlalu, sementara bekalnya akan membawanya ke neraka.”

Karena mereka senantiasa berbuat dan mengumpulkan bekal untuk kehidupan surga. Dan sungguh keji dunia bagi orang kafir dan munafik, karena mereka membiarkan waktu malamnya berlalu, sementara bekalnya akan membawanya ke neraka.”
Marilah lihat diri sendiri, sudah punya bekalkah kita semua ?, atau kita baru saja sadar bahwa kita ini ternyata hanyalah seorang pengembara yang harus kembali ke tanah airnya dan ternyata kita belum punya bekal secuilpun ! Wahai saudara, harta, istri, dan anak kita bukanlah bekal yang bisa kita bawa jika sudah tiba waktunya, tapi takwa itulah yang bisa menyertai kita.
Hasan bin ‘Ali bercerita bahwa Fudhail bin Iyadl bertanya kepada seorang lelaki, “Berapa umurmu ?”

” Enam puluh tahun,” jawab lelaki itu.

Lalu Fudhail berkata, “Sesungguhnya engkau telah enam puluh tahun menuju Tuhanmu, dan kini kau hampir sampai.”

Lelaki itu berkata, “Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun ( Sesungguhnya kita ini milik Allah dan kepadaNya lah kita akan kembali ).”

“Tahukah engkau bagaimana tafsirnya ?” tanya Fudhail.

“Tafsirkanlah kepada kami, wahai Abu ‘Ali ( panggilan Fudhail) !” pinta si lelaki.

“Jika engakau mengatakan ‘inna lillaahi’ berarti engkau telah mengikrarkan bahwa engkau adalah hamba Alloh subhanahu wa ta’ala, dan kepada Allohlah engaku akan kembali. Dan barangsiapa yang mengetahui bahwa dia adalah hamba Alloh subhanahu wa ta’ala dan kepada Alloh subhanahu wa ta’ala dia akan kembali, maka ketahuilah bahwa ia akan mati. Dan barangsiapa yang mengetahui ia akan mati, maka ketahuilah ia akan ditanya. Dan barangsiapa  yang mengetahui bahwa ia akan ditanya, maka bersiap-siaplah untuk menjawabnya.”

“Lalu bagaimana cara kami mempersiapkannya ?” tanya lelaki itu lagi.

” Penuhilah !” jawab Fudhail.

” Apa yang harus kupenuhi ? ” tanyanya.
Fudhail menjawab, “Perbaikilah amalan-amalanmu yang akan datang, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu di masa lalu dan yang akan datang. Dan jika engkau memperjelek amalan-amalanmu yang akan datang, niscaya Alloh kan menyiksamu lantaran dosa-dosamu yang telah kamu perbuat di masa lalu dan yang akan datang. ”
Takwa yang merupakan bekal perjalanan ini adalah berujud sebagai amalan -amalan sholih. Maka marilah ingati hal ini. Beramallah dengan bagus, dengan niat yang ikhlas dan sesuai syari’at.

 

Seperti seorang pengembara yang akan pulang menuju negerinya, ia harus mengetahui kiat-kiat dan cara-cara mempersiapkan bekal yang tepat agar bekal yang ia bawa dapat memberi manfaat bagi dirinya. Jangan sampai bekal yang ia bawa mengundang perampok – perampok yang akan menghabisi dirinya. Jangan pula bekal yang ia bawa dapat diendus binatang buas yang akan menggerogoti bekalnya. Maka untuk menghindari hal itu, sang pengembara harus tahu bagaimana mempersiapkan bekal yang tepat. Ia harus tahu ilmunya dulu.
Semisal itulah kita, agar amalan – amalan yang kita lakukan benar-benar dapat memberi manfaat bagi diri kita, kita harus tahu kiat-kiat dan cara-cara beramal sholih yang tepat. Jangan sampai kita melakukan amal sholih tapi tidak diniatkan kepada Allah. Jangan pula kita sudah berpayah – payah beramal sholih tapi ternyata tidak pernah dituntunkan oleh Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam sehhingga amalan kita tidak diterima.
Lalu bagaimana untuk tahu cara-cara dan kiat-kiat beramal tersebut ? Reguklah ilmu -ilmu agama, bertamasyalah ke majelis -majelis pengajian, bercengkeramalah dengan ahli -ahli ilmu agama, niscaya kita akan tahu bekal bagaimanakah yang harus kita punyai untuk kembali ke haribaan Ilahi nanti.

Jadi ? Inilah dunia kita. Yang sebenarnya hanyalah tempat persinggahan sementara saja. Walaupun begitu, kita diperbolehkan mengambil perbendaharaan dunia secukupnya saja dan hanya yang halal saja. Namun, ingatlah, setelah itu kita akan kembali pada Yang Maha Pencipta dan kita akan ditanyai, amal akan dihitung, nasib akan ditentukan, ke neraka ataukah ke surga ?.  Supaya kita sukses dalam perjalanan ini, maka bekal terbaik adalah takwa di mana ia adalah amalan – amalan sholih. Dan agar bekal amal sholih tersebut terhindar dari perampok syirik dan serigala bid’ah, maka kita harus tahu cara-cara mempersiapkannya. Sedangkan cara-cara tersebut hanya bisa diketahui lewat regukan-regukan ilmu agama di majelis-majelis taklim.

 

Muhasabah

Oleh: Abdullah Shaleh Hadrami

5

Segala puji hanya bagi Allah, shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah –sallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam, keluarga, para shahabat dan pengikut setia mereka sampai hari kiamat; Amma ba’du,

 

Akhir-akhir ini kita sering menyaksikan terjadinya musibah di berbagai negeri belahan dunia termasuk di negeri kita Indonesia. Mulai dari tsunami, banjir, tanah longsor, gempa, dll. Sebagai muslim kita tentu merasa prihatin atas semua ini dan berusaha untuk membantu mereka semampu kita.

 

Semua kejadian ini bukanlah sekedar bencana alam biasa tanpa makna dan arti karena tidak mungkin Allah –subhanahu wa ta’ala menciptakan sesuatu yang sia-sia. Musibah-musibah ini menjadikan kita introspeksi bahwa kita adalah lemah dalam kekuasaan Allah–subhanahu wa ta’ala. Allah –subhanahu wa ta’ala berfirman: “Dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (QS. An-Nisaa’: 28).

 

 

UJIAN ADALAH SUNNATULLAH

 

Setiap makhluk hidup pasti akan mendapatkan ujian dan cobaan berupa kesenangan dan kesusahan, kebaikan dan keburukan.

 

Allah –subhanahu wa ta’ala berfirman:

 

“Kami akan menguji kamu sekalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu sekalian dikembalikan.” (QS. 21 Al-Anbiyaa’: 35).

 

Allah –subhanahu wa ta’ala berfirman:

 

“Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran).” (QS. 7 Al-A’raaf: 168).

 

Yang dimaksud ujian yang baik-baik adalah: Ketaatan, hidayah, kesehatan, kedamaian, kekayaan, rumah tangga yang harmonis, keamanan dan segala yang menyenangkan kita.

 

Adapun ujian yang buruk-buruk adalah: Kemaksiatan, kesesatan, sakit, menderita, kesusahan, kemelaratan, rumah tangga yang tidak harmonis, ketakutan dan segala yang tidak menyenangkan kita.

 

Umar bin Al-Khaththab –radhiallahu anhu berkata: “Semua yang tidak menyenangkanmu adalah musibah.” (Riwayat Ibnu Abi Syaibah dll, sahih).

 

Tujuan utama dari semua ujian dan cobaan ini adalah agar supaya kita kembali kepada Allah –subhanahu wa ta’ala dengan selalu berbuat taat, bertaubat dari semua maksiat dan tidak melakukannya lagi.

 

 

 

MENGAPA TERJADI GEMPA?

 

Ibnul Qayyim –rahimahullah dalam kitabnya Ad-Da’ Wa Ad-Dawamenyebutkan riwayat-riwayat berikut ini (hlm 72-74): Ibnu Abi Ad-Dunya –rahimahullah meriwayatkan dari Anas bin Malik –radhiallahu anhu, bahwasanya beliau dan seorang lagi masuk menemui ibunda ‘Aisyah –radhiallahu anha, lalu orang tersebut berkata: “Wahai Ummul Mukminin! Beritahukanlah kepada kami tentang gempa.” Ibunda ‘Aisyah –radhiallahu anha  menjawab: “Apabila mereka telah memperbolehkan perzinahan, meminum khamer, memainkan alat musik, maka Allah –subhanahu wa ta’ala marah di langitNya dan berfirman kepada bumi: “Bergoncanglah atas mereka! Jika mereka bertaubat dan meninggalkan perbuatan tersebut (berhentilah), jika tidak, maka hancurkanlah mereka!” Orang tersebut berkata: “Wahai Ummul Mukminin! Apakah itu adzab atas mereka?” Beliau menjawab: “Itu adalah peringatan dan rahmat bagi orang-orang beriman, dan hukuman, adzab serta murka atas orang-orang kafir.”

 

Berkata Anas –radhiallahu anhu: “Aku tidak pernah mendengar hadis sepeninggal Rasulullah –sallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam yang lebih menyenangkanku daripada hadis ini.”

 

Imam Ahmad bin Hanbal –rahimahullah meriwayatkan dari Shafiyyah –radhiallahu anha, beliau berkata: “Bumi bergoncang di Madinah pada masa Umar –radhiallahu anhu, lalu beliau berkata: “Wahai manusia! Ada apa ini? Alangkah cepat penyimpanganmu! Kalau sekiranya bumi telah kembali seperti semula aku tidak akan tinggal bersamamu di sana.”

 

Berkata Ka’ab –rahimahullah: “Sesungguhnya terjadinya gempa bumi adalah apabila dilakukan kemaksiatan di atasnya, lalu bumipun bergetar takut apabila Allah-subhanahu wa ta’ala mengetahuinya.” (Riwayat-riwayat diatas tidak diberi komentar oleh pentahqiq kitab tersebut Syaikh Ali Hasan)

 

 

BAHAYA PERBUATAN DOSA DAN MAKSIAT

api

Perbuatan dosa dan maksiat adalah sangat berbahaya, bahayanya bagi hati adalah ibarat bahaya racun terhadap tubuh. Semua kerusakan, bencana dan penyakit yang terjadi di dunia dan akhirat adalah disebabkan oleh dosa dan maksiat. Perbuatan dosa dan maksiat mendatangkan bencana, merubah karunia, menurunkan bala’ dan menghalangi doa.

 

Apa yang menyebabkan iblis dikeluarkan dari surga, diusir dan dilaknat? Apa yang menyebabkan penduduk bumi di tengelamkan pada masa Nabi Nuh –alaihis salam? Apa yang menyebabkan kaum ‘Ad dihancurkan oleh angin? Apa yang menyebabkan dibinasakannya kaum Luth –alaihis salam? Apa yang menyebabkan tenggelamnya Fir’aun dan kaumnya? Apa yang menjadikan Qorun dibenamkan ke dalam bumi beserta semua harta dan keluarganya?  Dst.

 

Allah –subhanahu wa ta’ala berfirman: “Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” (QS. An-Nahl: 112).

 

Allah –subhanahu wa ta’ala berfirman: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Ruum: 41).

 

Imam Ahmad –rahimahullah meriwayatkan dari Ummu Salamah –radhiallahu anha, beliau berkata, aku telah mendengar Rasulullah –sallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam bersabda: “Apabila terjadi kemaksiatan pada umatku, pasti Allah –subhanahu wa ta’ala mengirimkan adzab dari sisiNya kepada mereka semua” Ummu Salamah –radhiallahu anha bertanya: “Wahai Rasulullah! Apakah tidak ada orang baik pada mereka saat itu?” Beliau –sallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam menjawab: “Ya, ada”. Ummu Salamah –radhiallahu anha bertanya lagi: “Bagaimana dengan mereka?” Beliau menjawab: “Mereka terkena sebagaimana manusia lain, kemudian mereka mendapat ampunan dan keridhaan Allah –subhanahu wa ta’ala.”

 

 

MUHASABAH

muhasabah

Marilah kita semua melakukan muhasabah atau introspeksi atas semua perbuatan yang kita lakukan, apakah perbuatan tersebut telah benar ataukah belum? Apakah kita telah meninggalkan kemaksiatan-kemaksiatan ataukah masih terus menerus melakukannya?

 

Ada empat tingkatan dosa yang harus kita hindari:

 

(1)            Syirik atau menyekutukan Allah –subhanahu wa ta’ala. Ini adalah dosa yang paling besar dan Allah –subhanahu wa ta’ala tidak akan mengampuni apabila pelakunya meninggal dunia dalam keadaan belum bertaubat. Allah –subhanahu wa ta’ala berfirman: Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisaa’: 48).  Alangkah banyak kesyirikan ada masa sekarang?.

 

(2)            Bid’ah atau penyimpangan dalam beragama yang menyelisihi Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah –sallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam, baik penyimpangan dalam aqidah atau amaliah. Allah –subhanahu wa ta’ala berfirman: Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al-Kahfi: 103-104).

 

(3)            Kedhaliman-kedhaliman, yaitu dosa-dosa yang berupa kedhaliman dan ada keterkaitan dengan orang lain, seperti mengambil harta orang lain tanpa hak, memfitnah orang lain dll. Allah –subhanahu wa ta’ala berfirman: Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang dhalim.” (QS. Ali ‘Imran: 57).

 

(4)            Kemaksiatan-kemaksiatan yang berhubungan dengan Allah –subhanahu wa ta’ala selain ketiga di atas. Allah –subhanahu wa ta’ala berfirman tentang ahli surga: Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan- perbuatan keji.” (QS. Asy-Syura: 37)

 

Bagi orang-orang yang membantu dan memberikan sumbangan kepada mereka yang tertimpa musibah hendaklah ikhlas dalam memberikan semua itu dan semata-mata karena Allah –subhanahu wa ta’ala dan mengharap ridhaNya, karena Allah –subhanahu wa ta’ala tidak menerima amal apapun kecuali yang ikhlas dan mengharapkan ridhaNya. Rasulullah –sallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam bersabda: “Allah tidak akan menerima amalan kecuali yang ikhlas dan hanya mengharapkan wajahNya.” (HR. An-Nasa’i dengan sanad hasan).

 

Semoga Allah –subhanahu wa ta’ala memberikan kepada kita semua pahala dan balasan kebaikan, amien ya Robbal ‘alamin.

 

 

Maraji’:

 

 

–         Al-Qur’an dan Tejemahnya.

 

–         Ad-Da’ Wa Ad-Dawa, Ibnul Qayyim. Tahqiq, ta’liq dan takhrij Ali bin Hasan bin Ali bin Abdil Hamid Al-Halabi Al-Atsari. Cetakan ketiga th 1419H / 1998M. Penerbit Dar Ibnil Jauzi KSA.

 

–         Tazkiyatun Nufus, Syaikh Ahmad Farid. Edisi Revisi Hanya Memuat Hadis-Hadis Sahih, Cetakan th 1419 H / 1998M. Penerbit Dar Al-Aqidah Litturats, Iskandariyah.

 

–         Tuhfatul Maridh, Abdullah bin Ali Al-Ju’aitsin. Cetakan pertama th 1415 H / 1994 M. Penerbit Dar Al-Wathan Riyadh KSA. Dll.

Penyakit-penyakit hati

3

Hati itu dapat hidup dan dapat mati, sehat dan sakit. Dalam hal ini, ia lebih penting dari pada tubuh.
Allah berfirman, artinya:
“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya.” (Al-An’am : 122)

Artinya, ia mati karena kekufuran, lalu Kami hidupkan kembali dengan keimanan. Hati yang hidup dan sehat, apabila ditawari kebatilan dan hal-hal yang buruk, dengan tabi’at dasarnya ia pasti menghindar, membenci dan tidak akan menolehnya. Lain halnya dengan hati yang mati. Ia tak dapat membedakan yang baik dan yang buruk.

Dua Bentuk Penyakit Hati:

Penyakit hati itu ada dua macam: Penyakit syahwat dan penyakit syubhat. Keduanya tersebut dalam Al-Qur’an.
Allah berfirman, artinya:
“Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara (melembut-lembutkan bicara) sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya. “ (Al-Ahzab:32)
Ini yang disebut penyakit syahwat.

Allah juga berfirman, artinya:
“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya…” (Al-Baqarah : 10)
Allah juga berfirman, artinya:
“Dan adapun orang yang didalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada).” (At-Taubah : 125)

Penyakit di sini adalah penyakit syubhat. Penyakit ini lebih parah daripada penyakit syahwat. Karena penyakit syahwat masih bisa diharapkan sembuh, bila syahwatnya sudah terlampiaskan. Sedangkan penyakit syubhat, tidak akan dapat sembuh, kalau Allah tidak menanggulanginya dengan limpahan rahmat-Nya.

Seringkali penyakit hati bertambah parah, namun pemiliknya tak juga menyadari. Karena ia tak sempat bahkan enggan mengetahui cara penyembuhan dan sebab-sebab (munculnya) penyakit tersebut. Bahkan terkadang hatinya sudah mati, pemiliknya belum juga sadar kalau sudah mati. Sebagai buktinya, ia sama sekali tidak merasa sakit akibat luka-luka dari berbagai perbuatan buruk. Ia juga tak merasa disusahkan dengan ketidak mengertian dirinya terhadap kebenaran, dan keyakinan-keyakinannya yang batil. Luka, tak akan dapat membuat sakit orang mati.” *). Terkadang ia juga merasakan sakitnya. Namun ia tak sanggup mencicipi dan menahan pahitnya obat. Masih bersarangnya penyakit tersebut di hatinya, berpengaruh semakin sulit dirinya menelan obat. Karena obatnya dengan melawan hawa nafsu. Itu hal yang paling berat bagi jiwanya. Namun baginya, tak ada sesuatu yang lebih bermanfaat dari obat itu. Terkadang, ia memaksa dirinya untuk bersabar. Tapi kemudian tekadnya mengendor dan bisa meneruskannya lagi. Itu karena kelemahan ilmu, keyakinan dan ketabahan. Sebagai halnya orang yang memasuki jalan angker yang akhirnya akan membawa dia ke tempat yang aman. Ia sadar, kalau ia bersabar, rasa takut itu sirna dan berganti dengan rasa aman. Ia membutuhkan kesabaran dan keyakinan yang kuat, yang dengan itu ia mampu berjalan. Kalau kesabaran dan keyakinannya mengendor, ia akan balik mundur dan tidak mampu menahan kesulitan. Apalagi kalau tidak ada teman, dan takut sendirian.

Menyembuhkan Penyakit Dengan Makanan Bergizi dan Obat:

Gejala penyakit hati adalah, ketika ia menghindari makanan-makanan yang bermanfaat bagi hatinya, lalu menggantinya dengan makanan-makanan yang tak sehat bagi hatinya. Berpaling dari obat yang berguna, menggantinya dengan obat yang berbahaya. Sedangkan makanan yang paling berguna bagi hatinya adalah makanan iman. Obat yang paling manjur adalah Al-Qur’an masing-masing memiliki gizi dan obat. Barangsiapa yang mencari kesembuhan (penyakit hati) selain dari Al-kitab dan As-sunnah, maka ia adalah orang yang paling bodoh dan sesat.
Sesungguhnya Allah berfirman:
“Katakanlah: “Al-qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al-qur’an itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) orang-orang yang dipanggil dari tempat jauh.” (Fushshilat : 44)

Al-qur’an adalah obat sempurna untuk segala penyakit tubuh dan hati, segala penyakit dunia dan akherat. Namun tak sembarangan orang mahir menggunakan Al-qur’an sebagai obat. Kalau si sakit mahir menggunakannya sebagai obat, ia letakkan pada bagian yang sakit, dengan penuh pembenaran, keimanan dan penerimaan, disertai dengan keyakinan yang kuat dan memenuhi syarat-syaratnya. Tak akan ada penyakit yang membandel. Bagaimana mungkin penyakit itu akan menentang firman Rabb langit dan bumi; yang apabila turun di atas gunung, gunung itu akan hancur, dan bila turun di bumi, bumi itu akan terbelah? Segala penyakit jasmani dan rohani, pasti terdapat dalam Al-qur’an cara memperoleh obatnya, sebab-sebab timbulnya dan cara penanggulangannya. Tentu bagi orang yang diberi kemampuan mamahami kitab-Nya.

*) [Penggalan akhir bait sya’ir Al-Mutanabbi, yang mana penggalan awalnya adalah: “Orang yang hina, akan mudah mendapat kehinaan”]

Dikutip dari: Abdul Akhir Hammad Alghunaimi, “Tahdzib Syarh Ath-Thahawiyah Dasar-dasar ‘Aqidah Menurut Ulama Salaf“, penerjemah: Abu Umar Basyir Al-Medani, Pustaka At-Tibyan, buku 2, Cetakan I, 2000, hal 264-266.

Akhir hidup para pendengki

Sabtu, 19 Februari 05

www.alsofwah.or.id

Hasad (Dengki, iri hati, hasut) adalah penyakit lama yang telah mencelakakan banyak orang dan menyakiti mereka.

Pendengki akan selalu murka dan menindas orang yang tidak berdosa. Karena itu ada pepatah Arab mengatakan, “Allah telah membunuh Hasad, betapa adilnya Dia. Ia (dengki) memulai dengan tuannya sendiri (pendengki) lalu membunuhnya.”

‘Umar bin al-Khaththab RA berkata, “Cukuplah bagimu bahwa pendengki itu menggunakan kesempatan waktu sukamu.”

Allah Ta’ala berfirman dalam sebagian hadits Qudsi, “Pendengki adalah musuh nikmat-Ku, orang yang selalu jengkel terhadap perbuatan-Ku dan tidak rela terhadap pemberian (anugerah)-Ku.”

Orang-orang Arab sering berkata, “Seorang tuan tidak pernah luput dari seorang pengasih yang selalu memuji dan seorang pendengki yang selalu mencerca.”pendengki

Seorang Ahli fiqih bernama, Abu al-Laits as-Samarqandy RAH., berkata, “Ada lima sanksi yang akan sampai terlebih dahulu kepada si pendengki sebelum hasad (dengki)nya sampai kepada sasaran/targetnya (orang yang didengki); pertama, kegundahan yang tidak kunjung putus. Kedua, musibah yang tidak ada nilai pahalanya. Ketiga, celaan yang tidak ada pujiannya. Keempat, kemurkaan Rabb dan kelima, tertutup baginya pintu mendapatkan taufiq Allah.

Wahai saudara Muslim, bertakwalah kepada Allah pada dirimu dan janganlah suka menyakiti orang terhadap apa yang mereka tidak lakukan dengan cara manipulasi atau pun dusta. Ingatlah hari esok saat engkau berada di hadapan Allah Ta’ala.

Ingatlah bahwa dunia ini tidak berhak untuk menjadi tempat mendengki atau saling bermusuhan. Sedangkan engkau wahai orang yang menjadi sasaran/target (yang didengki), bersabarlah atas penyakit si pendengki sebab kesabaranmu akan membunuhnya. Ibarat api; bila tidak mendapatkan sasaran lain, maka akan melahap sebagian dirinya sendiri.

Ambillah pelajaran dari kisah berikut ini dan simaklah dengan baik:

Menurut suatu riwayat, ada seorang laki-laki, seorang Arab Badui (pedalaman) datang menemui Amirul Mukminin, al-Mu’tashim Billah. Lalu kemudian orang ini mendapat tempat di hati Amirul Mukminin sehingga dijadikan sebagai orang kepercayaannya yang bisa keluar-masuk istana kapan saja tanpa perlu meminta izin.

Di istana, rupanya ada seorang menteri yang suka dengki terhadap orang lain. Sasarannya kali ini adalah si orang Badui tersebut. Ia berkata dalam hatinya, “Jika aku tidak merancang bagaimana cara membunuh si Badui ini, pastilah ia akan semakin mendapat tempat di hati Amirul Mukmin dan menyingkirkanku.”

Lalu dimulailah siasat liciknya dengan mendekati si orang Badui, bermanis-manis dengannya hingga mengajaknya bertandang ke kediamannya. Sesampainya di sana, ia menyediakan untuk tamunya, si orang Badui ini makanan yang dicampurnya dengan banyak sekali bawang putih. Si orang Badui ini tidak menyadari siasat licik sang Menteri sehingga ia memakan saja hidangan tersebut. Tatkala selesai makan, berkatalah sang Menteri kepadanya, “Hati-hati, jangan terlalu dekat jarakmu dengan Amirul Mukminin kalau berbicara sebab nanti ia akan mencium bau bawang putih dari mulutmu sehingga ia merasa terganggu. Ia orang yang sangat anti terhadap bau bawang.”

Dalam waktu yang sama, sang menteri yang pendengki ini kemudian pergi menghadap Amirul Mukminin guna melancarkan hasutannya. Begitu hanya tinggal berdua saja dengan Amirul Mukminin, ia berkata, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya si orang Badui itu berkata tentangmu kepada orang-orang bahwa engkau memiliki bau mulut tak sedap dan ia hampir mati karena bau tersebut.”

Tak berapa lama, si Badui datang menemuinya namun tidak seperti biasanya. Ia menutupi mulutnya dengan lengan bajunya karena takut Amirul Mukminin mencium bau bawang putih dari mulutnya. Akan halnya, Amirul Mukminin –akibat hasutan sang menteri pendengki- melihat gejala yang tidak beres dan membenarkan apa yang dikatakan sang menteri kepadanya mengenai si Badui tersebut.

Lalu Amirul Mukminin menulis surat kepada sebagian pegawainya yang berisi pesan, “Bila suratku ini sampai ke tanganmu, maka penggallah leher pembawanya.!”

Kemudian ia memanggil si orang Badui dan menyerahkan surat yang ditulisnya seraya berkata, “Pergilah menemui si fulan dan bawa kepadaku jawabannya.”

Tanpa rasa curiga sedikitpun, si Badui melaksanakan titah tersebut. Ia lalu mengambil surat itu dan membawanya keluar dari sisi Amirul Mukminin. Baru saja ia muncul di pintu, tiba-tiba sang Menteri pendengki menemuinya seraya bertanya, “Hendak pergi ke mana engkau.?”
“Aku akan membawa surat Amirul Mukminin ini kepada seorang pegawainya, si fulan,” jawab si Badui

Sang menteri diam sejenak seraya berkata di dalam hatinya, “Pastilah dari membawa amanat ini, si Badui akan mendapatkan upah yang besar.” Maka tak berapa lama, ia berkata lagi kepada si Badui,
“Wahai Badui, bagaimana pendapatmu bila ada orang yang mau meringankan bebanmu membawa surat ini yang pasti menempuh perjalanan yang melelahkan bahkan memberimu upah sebesar 2000 dinar.?”
“Engkau seorang pembesar dan pemutus perkara. Apa pun yang engkau pandang baik, maka aku akan melakukannya,” jawab si Badui
“Berikanlah surat itu kepadaku,” kata sang menteri

Si orang Badui pun menyerahkan surat itu kepadanya, lalu sang menteri memberinya imbalan sebesar 2000 dinar. Setelah itu pergilah si pendengki ini membawa surat itu ke tempat tujuan. Sesampainya di sana, si pegawai yang dimaksud membaca surat Amirul Mukminin yang berisi pesan agar memenggal leher pembawanya, lalu memerintahkan agar leher sang menteri tersebut dipenggal.

Setelah beberapa hari, sang khalifah teringat kembali perkara si Badui, lalu bertanya kepada para pegawainya perihal sang menteri namun mereka memberitahukan bahwa sudah beberapa hari sang menteri tidak muncul-muncul sedangkan si Badui masih berada di dalam kota.

Mendengar hal itu, kagetlah sang khalifah lalu memerintahkan agar si Badui segera dihadirkan ke hadapannya. Tak berapa lama, datanglah si Badui, lalu ia menanyainya perihal kondisinya. Si Badui pun menceritakan kejadiannya dari awal soal kesepakatannya dengan sang menteri yang tanpa sepengetahuan khalifah (alias kesepakatan bahwa yang akan membawa surat itu adalah sang menteri sedangkan dirinya diimbali dengan 2000 dinar atas hal itu).

Ternyata, sang menteri melakukan itu secara makar dan karena rasa dengkinya. Si Badui juga memberitahu sang khalifah perihal ajakan sang menteri ke kediamannya dan hidangan yang berisi bawang putih yang banyak, yang dimakannya di sana serta apa yang terjadi bersamanya saat itu.

Maka ketika itu, berkatalah Amirul Mukminin, “Allah telah membunuh Hasad, betapa adilnya Dia. Ia (dengki) memulai dengan tuannya sendiri (pendengki) lalu membunuhnya.”

Kemudian sang khalifah mencabut hukuman terhadap si Badui dan malah mengangkatnya menjadi menteri sedangkan sang menteri sudah beristirahat dengan sifat dengkinya nun di sana…