Category Archives: Akhlak

Akhlaqul Karimah, Definisi Etimologi dan Terminologi

Dalam kamus umum bahasa Indonesia, susunan W.J.S Poerwadarminta, kata akhlak bermakna budi pekerti; watak; tabiat.

Sementara menurut para pakar yang kami nukil dari buku “Etika Islam, Pembinaan Akhlaqul Karimah, Suatu Pengantar” oleh Dr. H. Hamzah Ya’qub, Penerbit CV. Diponegoro Bandung, cet. VII adalah sebagai berikut:

“Perkataan akhlaq berasl dari bahasa ‘Arab jama’ dari (خلق) yang menurut logatnya diartikan budi-pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat.

Kalimat tersebut mengandung segi-segi persesuaian dengan perkataan khuluqun yang berarti: kejadian serta erat hubungannya dengan خالق yang berarti pencipta dan مخلوق yang berarti yang diciptakan.

Perumusan pengertian “Akhlaq” timbul sebagai media yang memungkinkan adanya hubungan baik antara khooliq dengan makhluq dan antara makhluq dengan makhluq.

Perkataan ini bersumber dari kalimat yang tercantum dalam al Qur’an:

وإنك لعلى خلق عظيم.القلم
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”Qs. Al Qolam: 04

Demikian juga dari hadits Nabi SAW: إنما بعست لأتمم مكارم الأخلاق. رواه أحمد
“Sesungguhya aku telah diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlaq” (HR. Ahmad)”.

Akhlak secara etimologi

Masih kami kutip dari buku “Etika Islam, Pembinaan Akhlaqul Karimah, Suatu Pengantar” oleh Dr. H. Hamzah Ya’qub, Penerbit CV.Diponegoro Bandung, cet. VII, pengertian sepanjang terminologi yang dikemukakan oleh ulama akhlaq antara lain sebagai berikut: “Ilmu akhlaq ialah ilmu yang menentukan batas antara baik dan buruk, antara terpuji dan yang tercela, tentang perkataan atauperbuatan manusia lahir dan bathin.Ilmu Akhlaq adalah ilmu pengetahuan yang memberikan pengertian tentang baik dan buruk, ilmu yang mengajarkan pergaulan manusia dan menyatakan tujuan mereka yang terakhir dari seluruh usaha dan pekerjaan mereka.

Prof. Dr. Ahmad Amin dalam bukunya “Al Akhlaq” merumuskan pengertian Akhlaq sebagai berikut: “Akhlaq ialah suatu ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusya dilakukan oleh setengah manusia kepada lainnya menyatakan tujuan yang harus dituju oleh manusia dalam perbuatan mereka dan menunjukkan jalan untuk nelakukan apa yang harus diperbuat”.

Adapun Drs. H. Ahmad Daeroby, M. Ag, menulis tentang pengertian akhlaq dalam sebuah artikelnya di majalah Risalah: ““Yang dimaksud dengan akhlaq dalam pemakaian kata sehari-hari adalah ‘akhlaq yang baik’ (al Akhlaqul Karimah). Misalnya dikatakan ‘orang itu berakhlaq baik’ artinya orang itu mempunyai akhlaq yang baik, ‘orang itu tidak berakhlak’ artinya orang itu tidak mempunyai akhlaq yang baik. Sebenarnya di samping akhlaq yang baik adapula akhlaq yang buruk akhlaq as Sayi’ah atau akhlaq radzilah)”

Selanjutnya beliau menulis: “Secara etimologi, “Akhlaq” adalah kata bahasa ‘Arab yang merupakan bentuk jamak dari “khuluq” yang artinya perangai atau tabiat. Dapat dibedakan antara khuluq dan kholqun. Hakikat makna khuluq yaitu gambaran batin manusia yang sebenarnya (yaitu jiwa dan sifat-sifatnya), sedang kholqun yaitu gambaran bentuk luarnya/ dzahirnya (raut muka, warna kulit, tinggi atau pendeknya, dan sebagainya). (Lihat Ibnu Katsier, An Nihayah 2:70)

Al Imam Ghazali berkata, “Bilamana orang mengatakan bahwa si A itu baik kholqun dan khulqunnya, maka si A itu baik sifat lahir dan bathinnya.”

Dalam pengertiqan sehari-hari, akhlaq umumnya disamakan dengan budi pekerti, kesusilaan atau sopan santun. Dalam bahasa Indonesia disebut juga moral atau ethio dalam bahasa Inggris.

Sedangkan dalam istilah, akhlaq dapat disimpulkan sebagai suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang peling dalam, yang darinya timbul perbutan-perbuatan yang mudah, tidak memerlukan pertimbangan terlebih dahulu. (lihat definisi akhlaq dari Ibnu Maskawaih dan Imam Al Ghazali dalam kitab Tahdzib al Akhlaq wa Tathir al Araq dan Kitab Ihya Ulumuddin)

Prof. Dr. Ahmad Amin memberikan definisi yang lain dari kedua definisi di atas, yaitu bahwa yang disebut akhlaq adalah kehendak yang dibiasakan. Artinya dari beberapa alternatif keinginan yang ditentukan salah satunya setelah ia mengalami kebimbangan kemudian ketentuan itu dibiasakan dilakukannya secara berulang-ulang, maka kebiasaan tersebut akan menjadi akhlaq.

 

Iklan

Akhlaq bertawakkal kepada Allah Ta’ala dan Percaya Diri

Orang muslim tidak meyakini tawakkal kepada Allah SWT dalam segala hal sebagai akhlaq semata, namun ia meyakini sebagai kewajiban agama dan aqidah Islam, karena Allah Ta’ala memerintahkannya dalam firman-firman Nya sbb:

وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Dan hanya kepada Allah hendaklah kalian bertawakkal, jika kalian benar-benar orang yang beriman” Qs. Al Maidah: 23

وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

“Dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang yang beriman itu bertawakkal.” Qs. At Taghobun: 13

Karena itulah, tawakkal secara mutlak kepada Allah Ta’ala adalah bagian dari aqidah seorang mu’min kepada Allah ta’ala.

Tulisan sebelumnya:

Ketika seorang mu’min beribadah kepada Allah dengan bertawakkal kepada Nya dan menghadapkan diri secara total ke hadapan Nya, maka ia tidak memahami tawakkal seperti dipahami orang-orang bodoh tentang Islam dan musuh-musuh aqidah kaum muslimin yang memahami bahwa tawakkal itu sekedar ucapan di bibir tanpa dipahami akal, atau tawakkal itu membuang sebab-sebab, atau tidak kerja, atau puas dengan kehinaan di bawah bendera tawakkal kepada Allah Ta’ala, dan ridho dengan takdir yang terjadi padanya.

Tidak seperti itu, orang muslim memahami bahwa tawakkal yang merupakan bagian langsung dari imannya dan aqidahnya ialah taat kepada Allah Ta’ala dengan menghadirkan semua perbuatan yanghendak ia kerjakan. Ia tidak berambisi kepada buah tanpa memberikan sebab-sebabnya, dan tidak mengharapkanhasil tanpa meletakan pengantarnya. Hanya saja pembuahan sebab – sebab tersebut dan produktivitas pengantar-pengantar tersebut ia serahkan sepenuhnya kepada Allah Ta’ala, karena Dia saja Yang Maha Kuasa atas hal tersebut, dan bukan yang lain.

Jadi tawakkal bagi orang muslim ialah perbuatan, dan harapan dengan disertai hati yang tenang, jiwa yang tentram, dan keyakinan kuat bahwa apa yang dikehendaki Allah Ta’ala pasti terjadi, apa yang tidak dikehendaki Nya tidak akan terjadi, dan Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik.

Karena orang muslim mempercayai ketentuan-ketentuan Allah Ta’ala pada alam semesta, maka ia menyiapkan sebab-sebab yang diperlukan bagi semua perbuatannya, berusaha sekuat tenaga menghadirkan sebab-sebab tersebut, dan menyempurnakannya. Ia tidak meyakini bahwa sebaba-sebab adalah satu-satunya jaminan untuk tercapainya tujuan dan kesuksesan usaha. Ia tidak meyakini peletakan sebab-sebab di atas yang diperintahkan Allah Ta’ala yang wajib ia taati sebagaimana ia taat kepadaNya dalam perintah dan larangan Nya. Adapun pencapaian hasil, dan sukses, maka orang muslim menyerahkan kepada Allah, karena hanya Dia Yang Maha Kuasa atas hal tersebut dan bukan orang lain. Apa yang dikehendaki Allah Ta’ala pasti terjadi, dan apa yang tidak dikehendaki Nya pasti tidak akan terjadi. Ya, berapa banyak orang yang bekerja keras, namun ia tidak sempat memakan hasil usahanya dan berapa banyak petani yang tidak memanen apa yang telah ia tanam.

Dari sinilah, orang muslim meyakini bahwa hanya bersandar kepada sebab-sebab dan menganggapnya sebagai puncak segala sesuatu dalam merealisasi tujuannya adalah kekafiran, kesyirikan, dan ia berlepas diri dari padanya. Ia juga berkeyakinan bahwa meninggalkan sebab-sebab yang diperlukan bagi perbuatannya padahal ia mampu menyiapkan dan menyediakannya adalah kefasikan, dan kemaksiatan yang ia haramkan, dan meminta ampunan kepada Allah Ta’ala dan dari keduanya.

Dalam pandangannya terhadap sebab-sebab ini, orang muslim menyandarkan nilai filosofinya kepada ruh ke-Islaman dan ajaran Nabinya. Rosululloh SAW dalam seluruh peperangannya yang panjang tidak pernah sekalipun memasuki arena perang hingga beliau menyiapkan perbekalan untuknya, dan menyiapkan sebab-sebab untuknya, misalnya memilih lokasi perang, dan pengaturan waktunya.

Diriwayatkan dari Rasululloh SAW bahwa beliau tidak memulai penyerangan di hari yang panas kecuali setelah suasananya menjadi dingin, dan beliau melakukan penyerangan setelah membuat rencana matang, dan mengatur barisan-barisan tentaranya. Setelah menyelesaikan persiapannya yang matang, beliau menengadahkan kedua tangannya berdo’a kepada Allah azza wa jalla,

((اللهم منزل الكتاب ومجري السحاب وهزم الأحزاب أحزمهم وأنصرنا عليهم))

Artinya: “Ya Allah yang menurunkan Al Kitab, menjalankan awan, dan mengalahkan pasukan sekutu, hancurkan musuh-musuh itu, dan menangkan kami atas mereka” Muttafaqun ‘Alaihi

Begitu juga petunjuk beliau dalam menggabungkan sebab-sebab materi dengan sebab-sebab immaterial, menyerahkan kesuksesan usahanya kepada Allah Ta’ala, dan kehendak Nya.

Contoh lainnya, Rasululloh SAW menunggu perintah Allah ta’ala untuk hijrah ke Madinah setelah sebelumnya sahabat-sahabat terkemuka hijrah ke sana, dan betul perintah tersebut datang kepada beliau. Langkah-langkah yang disusun Rasululloh SAW untuk kesuksesan hijrahnya sebagai berikut:

  1. Memanggil sahabat pilihan yang tidak lain adalah Abu Bakar Ash Shidiq untuk menemani beliau dalam perjalannya ke negeri hijrah.
  2. Menyiapkan bekal perjalanan, makanan dan minuman. Asma’ binti Abu Bakar mengikat perbekalan tersebut dengan ikat pinggangnya, hingga ia dijuluki “Wanita yang memiliki dua ikat pinggang”
  3. Menyiapkan hewan kendaraan yang siap dinaiki dalam perjalanan yang sulit dan panjang.
  4. Menyertakan seorang penunjuk jalan yang mengetahui jalan-jalan yang sulit agar orang tersebut menjadi pemandu dalam perjalanan yang sulit ini.
  5. Ketika beliau hendak keluar dari rumahnya yang dikepug musuh-musuhnya -agar beliau tidak bisa keluar dari padanya-, maka beliau menyuruh anak pamannya, Ali bin Abi Tholib RA untuk tidur di ranjangnya guna mengelabui musuh-musuhnya yang menunggu di luar rumah yang akan membunuhnya. Setelah itu, beliau keluar dari rumah dengan tenang tanpa diketahui oleh musuh -musuhnya.
  6. Ketika orang-orang musyrikin mengejar beliau, dan sibuk mencari beliau bersama Abu Bakar yang ikut bersama beliau, maka beliau masuk ke Gua Tsur dan berlindung diri di dalamnya dari penglihatan mata orang-orang yang mencari dan dendam kepada beliau.
  7. Ketika Abu Bakar berkata, “Seandainya salah seorang dari mereka melihat ke bawah kakinya, mereka pasti bisa melihat kita, wahai Rasululloh!” Maka Rosul SAW bersabda, “Bagaimana dugaanmu terhadap dua orang, wahai Abu Bakar, bahwa pihak ketiga adalah Allah?”

Dari peristiwa-peristiwa di atas yang memperlihatkan hakikat-hakikat iman, dan tawakkal itu bisa dilihat bahwa rosululloh SAW tidak memungkiri sebab-sebab, tidak bergantung hanya ke padanya, dan sebab terakhir bagi orang mu’min ialah menghadapkan dirinya kepada Allah Ta’ala, dan menyerahkan seluruh persoalannya kepada Nya dengan percaya diri, dan hati yang tenang.

Ketika Rosul SAW mengerahkan semua sarana kepada keselamatan hingga beliau berada di gua gelap yang dihuni kalajengking dan ular-ular, maka beliau berkata dengan yakin dalam kapasitasnya sebagai orang mu’min dan tawakkal kepada sahabatnya yang dihinggapi ketakutan, “Engkau jangan sedih, sesungguhnya Allah bersama kita. Hai Abu Bakar, bagaimana menurutmu terhadap dua orang, bahwa pihak ketiga adalah Allah?”

Dari petunjuk Nabi dan pengajarannya inilah orang muslim mengambil sebab-sebab. Jadi bukan pembuat bid’ah, namun ia pengikut setia junjungannya.

Adapun bergantung kepada diri sendiri, maka orang muslim tidak memahaminya seperti pemahaman orang-orang yang tidak kenal dengan diri mereka sendiri karena kemaksiatan mereka. Mereka berpendapat bahwa percaya diri ialah: memutuskan hubungan dengan Allah Ta’ala, seorang hamba itu pencipta seluruh amal perbuatannya, ia mewujudkan kesuksesan dengan dirinya sendiri, dan bahwa Allah ta’ala tidak memiliki keterlibatan di dalamnya. Maha Besar Allah atas apa yang mereka pahami.

Ketika orang muslim berpendapat bahwa hukumnya wajib bergantung pada diri sendiri dalam amal perbuatannya, maka yang ia maksudkan ialah bahwa ia tidak menampakan kebutuhannya kepada amal perbuatannya, dan tidak menggantungkannya kepada orang lain. Jika ia ingin memenuhi kebutuhannya dengan dirinya sendiri, ia tidak meminta tolong siapapun kecuali kepada Allah Ta’ ala, karena meminta tolong kepada selain Allah adalah menggantungkan hati kepada selain Allah, dan jelas sikap ini tidak disukai dan tidak diridhoi oleh orang muslim.

Dalam hal ini, orang muslim, berjalan di atas jalan orang-orang sholih, dan ketentuan orang-orang yang jujur. Jika cambuk salah seorang dari mereka terlepas dari tangannya ketika ia mengendarai kudanya maka ia turun ke tanah untuk mengambilnya, dan tidak mehyuruh orang lain untuk mengambilkannya. Rosul SAW membai’at orang muslim untuk mendirikan sholat, membayar zakat dan tidak meminta kepada siapapun selain kepada Allah untuk memenuhi kebutuhannya.

Jika orang muslim hidup di atas aqidah tentang tawakkal kepada Allah Ta’ala dan bergantung kepada diri sendiri, ia mengisi aqidahnya dan mengembangkan akhlaqnya dengan cara menghadapkan hati dari waktu ke waktu kepada ayat – ayat al Qur’an dan hadits –hadits nabawi. Ia mengambil aqidah, dan akhlaq dari keduanya. Ayat-ayat al Qur’an, dan hadits-hadits nabawi adalah sebagai berikut:

Firman Allah ta’ala:

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ

Artinya: “Dan bertawakkallah kepada Allah Yang Hidup (Kekal) Yang Tidak Mati. ” Qs. Al Furqon: 58

 

وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

Artinya: “Dan mereka menjawab, ‘Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung’.” Qs. Ali Imron: 173

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
Artinya: “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakkal.” Qs. Ali Imron: 159

Rosul SAW bersabda yang artinya: “Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan tawakkal yang sebenar-benarnya, maka kalian pasti diberi rizki sebagaimana burung diberi rizki, ia pergi pada pagi hari dalam perut kosong, kemudian pulang pada sore harinya dalam keadaan kenyang.” Diriwayatkan At Tirmidzi yang menghasankannya.

Sabda Rosul SAW jika keluar dari rumahnya, artinya: “Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah, dan tidak ada daya dan upaya kecuali Allah”

Sabda Rosul SAW tentang tujuh puluh ribu orang yang masuk usyurga tanpa hisab dan siksa yang artinya: “Mereka orang –orang yang tidak minta dibuatkan ruqyah, tidak mem-kay (kay; melakukan pengobatan dengan menusukan besi panas kepa bagian tubuh yang sakit, penukil) dirinya, tidak berthatayyur, dan bertawakkal kepada Allah.” Muttafaqun ‘alaihi

 

Tatanan Peradaban pada jaman Jahiliyah sebelum dan saat Nabi SAW di utus

Perlu diketahui bahwa penulis hanya menukil gambaran tentang kebobrokan kehidupan moral masyarakat jahiliyah, kita tidak dapat memungkiri bahwa masyarakat Jahiliyah identik dengan kehidupan nista, pelacuran dan hal-hal lain yang tidak dapat diterima oleh akal sehat dan ditolak oleh perasaan.

Namun begitu, mereka juga mempunyai akhlaq mulia dan terpuji yang amat menawan siapa saja dan membuatnya terkesima dan takjub. Di antara akhlaq tersebut adalah: kemurahan hati, menepati janji, kebanggaan pada diri sendiri dan sifat pantang menerima pelecehan dan kezhaliman, tekad yang pantang surut, lemah lembut, & ketenangan dan kewaspadaan.

Terdapat beragam klasifikasi dalam tatanan masyarakat ‘Arab di mana antar satu dengan lainnya, kondisinya berbeda-beda.

Hubungan seorang laki-laki dengan keluarganya di lapisan kaum bangsawan mendapatkan kedudukan yang amat terpandang dan tinggi, kemerdekaan berkehendak dan pendapat yang mesti didengar mendapatkan porsi terbesar. Hubungan ini selalu dihormati dan dijaga sekalipun dengan pedang yang terhunus dan darah yang tertumpah. Seorang laki-laki yang ingin dipuji karena kemurahan hati dan keberaniannya di mata orang Arab, maka hendaklah waktunya yang banyak hanya dipergunakan untuk berbicara dengan wanita. Jika seorang wanita menghendaki, dia dapat mengumpulkan suku-suku untuk kepentingan perdamaian, namun juga dapat menyulut api peperangan di antara mereka. Meskipun demikian, tak dapat disangkal lagi bahwa seorang laki-laki adalah kepala keluarga dan yang menentukan sikap didalamnya. Hubungan antara laki-laki dan wanita yang berlangsung melalui akad nikah dan diawasi oleh para walinya (wanita). Seorang wanita tidak memiliki hak untuk menggurui mereka.

Sementara kondisi kaum bangsawan demikian, kondisi yang dialami oleh lapisan masyarakat lainnya amat berbeda. Terdapat beragam gaya hidup yang bercampur baur antara kaum laki-laki dan wanita. Kami hanya bisa mengatakan bahwa semuanya adalah berupa pelacuran, gila-gilaan, pertumpahan darah dan perbuatan keji. Imam Bukhari dan lainnya meriwayatkan dari ‘Aisyah radhiallâhu ‘anha bahwa pernikahan pada masa Jahiliyah terdiri dari empat macam:

Pertama, pernikahan seperti pernikahan orang sekarang; yaitu seorang laki-laki mendatangi laki-laki yang lain dan melamar wanita yang dibawah perwaliannya atau anak perempuannya, kemudian dia menentukan maharnya dan menikahkannya.

Kedua, seorang laki-laki berkata kepada isterinya manakala ia sudah suci dari haidnya, “Pergilah kepada si fulan dan bersenggamalah dengannya”, kemudian setelah itu, isterinya ini ia tinggalkan dan tidak ia sentuh selamanya hingga tampak tanda kehamilannya dari laki-laki tersebut. Dan bila tampak tanda kehamilannya, bila si suaminya masih berselera kepadanya maka dia akan menggaulinya. Hal tersebut dilakukan hanyalah lantaran ingin mendapatkan anak yang pintar. Pernikahan semacam ini dinamakan dengan nikah al-Istibdha’.

Ketiga, sekelompok orang dalam jumlah yang kurang dari sepuluh berkumpul, kemudian mendatangi seorang wanita dan masing-masing menggaulinya. Jika wanita ini hamil dan melahirkan, kemudian setelah berlalu beberapa malam dari melahirkan, dia mengutus kepada mereka (sekelompok orang tadi), maka ketika itu tak seorang pun dari mereka yang dapat mengelak hingga semuanya berkumpul kembali dengannya, lalu si wanita ini berkata kepada mereka: “kalian telah mengetahui apa yang telah kalian lakukan dan aku sekarang telah melahirkan, dan dia ini adalah anakmu wahai si fulan!”. Dia menyebutkan nama laki-laki yang dia senangi dari mereka, maka anaknya dinasabkan kepadanya.

Keempat, Banyak laki-laki mendatangi seorang wanita sedangkan si wanita ini tidak menolak sedikitpun siapa pun yang mendatanginya. Mereka ini adalah para pelacur; di pintu-pintu rumah mereka ditancapkan bendera yang menjadi simbol mereka dansiapa pun yang menghendaki mereka maka dia bisa masuk. Jika dia hamil dan melahirkan, laki-laki yang pernah mendatanginya tersebut berkumpul lalu mengundang ahli pelacak (al-Qaafah) kemudian si ahli ini menentukan nasab si anak tersebut kepada siapa yang mereka cocokkan ada kemiripannya dengan si anak lantas dipanggillah si anak tersebut sebagai anaknya. Dalam hal ini, si laki-laki yang ditunjuk ini tidak boleh menyangkal. Maka ketika Allah mengutus Nabi Muhammad SAW, beliau hapuskan semua pernikahan kaum Jahiliyah tersebut kecuali pernikahan yang ada saat ini.

Dalam tradisi mereka, antara laki-laki dan wanita harus selalu berkumpul bersama dan diadakan dibawah kilauan ketajaman mata pedang dan hulu-hulu tombak. Pemenang dalam perang antar suku berhak menyandera wanita-wanita suku yang kalah dan menghalalkannya. Anak-anak yang ibunya mendapatkan perlakuan semacam ini akan mendapatkan kehinaan semasa hidupnya.

Kaum Jahiliyah terkenal dengan kehidupan dengan banyak isteri (poligami) tanpa batasan tertentu. Mereka mengawini dua bersaudara, mereka juga mengawini isteri bapak-bapak mereka bila telah ditalak atau karena ditinggal mati oleh bapak mereka.

Allah berfirman: “Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh).(22) Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (Dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(23)”. [Q.,s. 4/an-Nisa’: 22-23]. Hak mentalak ada pada kaum laki-laki tetapi tidak memiliki batasan tertentu.

Perbuatan zina merata pada setiap lapisan masyarakat. Tidak dapat kita mengkhususkan hal itu kepada satu lapisan tanpamenyentuh lapisan yang lainnya. Ada sekelompok laki-laki dan wanita yang terkecuali dari hal tersebut. Mereka adalah orang-orang yang memiliki jiwa besar dan menolak keterjerumusan dalam lumpur kehinaan. Wanita-wanita merdeka kondisinya lebih bagus dari kondisi para budak wanita. Kondisi mereka (budah wanita) amat parah sekali. Nampaknya, mayoritas kaum Jahiliyah tidak merasakan keterjerumusan dalam perbuatan keji semacam itu menjadi suatu aib bagi mereka. Imam Abu Daud meriwayatkan dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata: seorang laki-laki berdiri sembari berkata: wahai Rosulullah!

Sesungguhnya si fulan adalah anakku dari hasil perzinaanku dengan seorang budak wanita pada masa Jahiliyah. Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian bersabda: “tidak ada dakwaan dalam Islam (yang berkaitan dengan masa Jahiliyah). Urusan yang terkait dengan masa Jahiliyah telah lenyap. Seorang anak adalah dari hasil ranjang (dinasabkan kepada yang empunya ranjang,yaitu suami yang dengan nikah yang shah-penj), sedangkan kehinaan adalah hanya bagi wanita pezina”. Begitu juga dalam hal ini, terdapat kisah yang amat terkenal yang terjadi antara Sa’ad bin Abi Waqqash dan ‘Abd bin Zam’ah dalam mempersoalkan nasab anak dari budak wanita Zam’ah, yaitu ‘Abdur Rahman bin Zam’ah.

Sedangkan hubungan antara seorang bapak dengan anak-anaknya, amat berbeda-beda; diantara mereka ada yang menguraikan rangkaian bait:

“Sungguh kehadiran anak-anak di tengah kami
Bagai buah hati, berjalan melenggang di atas bumi…”

Di antara mereka, ada yang mengubur hidup-hidup anak- anak wanita mereka karena takut malu dan enggan menafkahinya. Anak laki-laki dibunuh lantaran takut menjadi fakir dan melarat. Allah berfirman: “…dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rizki kepadamu dan kepada mereka..”. (Q.,s.6/al-An’am:151). Allah juga berfirman:

“Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah.(58) Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu. (59)”. (Q.,s. 16/an-Nahl: 58-59). Allah berfirman lagi: “Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kami lah Yang akan memberi rizki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar”.(Q.,s. 17/al-Isra’: 31). Allah berfirman dalam ayat yang lain: “dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya”. (Q.,s. 81/at-Takwir: 8). Akan tetapi kita tidak bisa menganggap bahwa apa yang termaktub dalam ayat-ayat diatas telah mencerminkan moral yang berlaku umum di masyarakat. Di sisi lain, mereka justru sangat mengharapkan anak laki-laki untuk dapat membentengi diri mereka dari serangan musuh.

Sedangkan pergaulan antar seorang laki-laki dengan saudaranya, anak-anak paman dan kerabatnya sangat kental dan kuat. Mereka hidup dan mati demi fanatisme kesukuan. Semangat untuk bersatu begitu membudaya antar sesama suku yang menambah rasa fanatisme tersebut. Bahkan prinsip yang dipakai dalam sistem sosial adalah fanatisme rasial dan hubungan tali rahim. Mereka hidup dibawah semboyan yang bertutur: “Tolonglah saudaramu baik dia berbuat zhalim ataupun dizhalimi”. Mereka menerapkan semboyan ini sebagaimana adanya, tidak seperti arti yang telah diralat oleh Islam yaitu menolong orang yang berbuat zhalim maksudnya mencegahnya melakukan perbuatan itu. Meskipun begitu, perseteruan dan persaingan dalam memperebutkan martabat dan kepemimpinan seringkali mengakibatkan terjadinya perang antar suku yang masih memiliki hubungan se-bapak. Kita dapat melihat fenomena tersebut pada apa yang terjadi antara suku Aus dan Khazraj, ‘Abs dan Dzubyan, Bakr dan Taghlib, dan lain-lain.

Di lain pihak, hubungan yang terjadi antar suku yang berbeda-beda benar-benar berantakan. Kekuatan yang ada mereka gunakan untuk berjibaku dalam peperangan. Hanya saja terkadang, rasa sungkan serta rasa takut mereka terhadap sebagian tradisi dan kebiasan bersama yang sudah ada dan berlaku antara ajaran agama dan khurafat sedikit mengurangi deras dan kerasnya genderang perseteruan tersebut. Dan dalam kondisi tertentu, loyalitas, persekutuan dan subordinasi yang terjalin menyebabkan antar suku yang berbeda berangkul dan bersatu. Dan satu-satunya yang merupakan rahmat dan penolong bagi mereka adalah adanya bulan-bulan yang diharamkan berperang (al-Asyhurul Hurum) sehingga mereka dapat menghirup kehidupan dan mencari rizki guna kebutuhan sehari-hari.

Singkat kata, bahwa kondisi sosial yang berlaku di masyarakat Jahiliyah benar-benar rapuh dan dalam kebutaan. Kebodohan mencapai puncaknya dan khurafat merajalela dimana-mana. Orang-Orang hidup layaknya binatang ternak. Wanita diperjual belikan bahkan terkadang diperlakukan bak benda mati. Hubungan antar umat sangat lemah, sementara setiap ada pemerintahan maka ujung -ujungnya hanyalah untuk mengisi gudang kekayaan mereka yang diambil dari rakyat atau menggiring mereka untuk berperang melawan musuh-musuh yang mengancam kekuasaan mereka.

 

Rosul SAW sebagai Suri Tauladan Akhlaqul Karimah

Tugas para nabi dan rosul secara umum adalah menyampaikan risalah kepada manusia. Di antara manusia ada yang menerima dan beriman kepada Allah, namun banyak di antara manusia yang mengingkarinya.

Mereka yang menerima risalah dan beriman maka ia menjadi seorang muslim dan mu’min. Iman dan Islam mereka terlihat dari pancaran wajah dan perilaku kehidupan mereka. Itulah kesempurnaan akhlaq. Sebagaimana sabda Rosul SAW yang telah berulang kali penulis kemukakan.

((إنما بعست لأتمم مكارم الأخلاق))

“Sesungguhya aku telah diutus untuk menyempurnakan budi pekerti yang luhur”

c. Metode Dakwah Rosul SAW Pengertian metode dakwah

Menurut Dr. Abdul Karim Zaidan, Metode dakwah adalah suatu ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan cara penyampaian (tabligh) dan berusaha melenyapkan gangguan-gangguan yang merintangi.

Drs. Kha. Syamsuri Siddiq menjelaskan bahwa metode berasal dari bahasa latin: methodos artinya “cara” atau cara bekerja, di Indonesia sering dibaca metode. Logis juga berasal dari bahasa Latin artinya “ilmu”, lalu menjadi kata majemuk “Methodologi” artinya ilmu cara bekerja. Jadi methologi dakwah dapat diartikan ilmu cara berdakwah.

Sementara itu Drs. Salahuddin Sanusi menyebutkan jika kata metode itu berasal dari methodus yang artinya “jalan ke methode yang telah mendapat pengertian yang diteriam oleh umum yaitu cara-cara, prosedur atau rentetan gerak usaha tertentu untuk mencapai suatu tujuan. Metode Dakwah ialah cara-cara penyampaian ajaran Islam kepada individu, kelompok ataupun masyarakat supaya ajaran itu cepat dimiliki, diyakini serta dijalankan.

Adapun  Drs. Abdul Kadir Munsyi menjelaskan metode artinya cara untuk menyampaikan sesuatu. Yang dinamakan metode dakwah ialah cara yang dipakai atauyang digunakan untuk memberikan dakwah. Metode ini penting untuk mengantar kepada tujuan yang akan dicapai.

Dari beberapa definisi metode dakwah di atas daptlah dicermati bahwa pendapat para ahli tersebut mempunyai kesamaan yaitu metode dakwah merupakan cara yang dipakai dalam menyampaikan dakwah.

Jadi kesimpulannya metode dakwah adalah cara bagaimana menyampaikan dakwah sehingga sasaran dakwah atau al mad’u mudah dicerna, dipahami, diyakini terhadap materi yang disampaikan.”

Adapun metode yang ditempuh Rosul SAW di dalam berdakwah menyampaikan risalahnya secara global ialah:

  1. Memberi peringatan
  2. Mengagungkan robb
  3. Memberihkan diri dari dosa/ taubat
  4. Iklhas
  5. Bersabar

Sebagaimana tertulis dalam bab “Perintah melaksanakan dakwah kepada Allah dan materi dakwah” Siroh Nabawiyah oleh Syaikh Shofiyyurohman Al Mubarokfury.

“Nabi SAW mendapat berbagi macam perintah dalam firman Allah SWT:

يَاأَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ(1) قُمْ فَأَنْذِرْ(2)وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ(3) وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ(4)
وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ(5) وَلَا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ(6) وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ

Artinya: Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! dan Tuhanmu agungkanlah! dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah. (Al Mudatsir: 1-7)

Sepintas lalu ini merupakan perintah-perintah sederhana dan remeh. Namun pada hakikatnya mempunyai tujuan yang jauh, berpengaruh sangat kuat dan nyata, yang dapat dirinci sbb:

1. Tujuan pemberian peringatan agar siapapun yang menyalahi keridhoan Allah di dunia ini diberi perngiatan tentang akibatnya yang pedih di kemudian hari, dan yang pasti akan mendatangkan kegelisahan dan ketakutan di dalam hatinya.

2. Tujuan mengagungkan rob, agar siapapun yang menyombongkan diri di dunia tidak dibiarkan begitu saja melainkan kekuatannya akan dipunahkan dan keadaannya akan dibalik total, sehingga tidak ada kebesaran yang menyisa di dunia selain kebesaran Allah.

3. Tujuan membersihkan pakaian dan meninggalkan perbuatan dosa, agar perbuatan lahir dan batin benar-benar tercapai, begitu pula dalam membersihkan jiwa dari segala noda dan kotoran bisa mencapai titik kesempurnaan agar jiwa manusia berada di bawah lindungan rahmat Allah, penjagaan, pemeliharaan, hidayah dan cahaya Nya, sehingga ia menjadi sosok ideal di tengah masyarakat manusia, mengundang pesona semua hati dan decak kekaguman.

4. Tujuan larangan mengharap yang lebih banyak dari apa yang diberikan, agar seseorang tidak mengangap perbuatan dan usahanya sesuatu yang besar lagi hebat, agar dioa senantiasa berbuat dan berbuat, lebih banyak berusaha dan berkorban, lalu melupakannya. Bahkan dengan perasaannya di hadapan Allah, dia tidak merasa telah berbuat dan berkorban.

5. dalam ayat yang terakhir terdapat isyarat tentang gangguan, siksaan, ejekan dan olok-olok yng bakal dilancarkan orang-orang orang yang menentang, dan bahkan mereka akan berusaha membunuh beliau dan membunuh para sahabat serta menekan setiap orang yang beriman di sekitar beliau. Allah memerintahkan agar beliau bersabar dalam menghadapi semua itu, dengan modal kekuatan dan ketabahan hati, bukan dengan tujuan untuk kepentingan pribadi, tapi karena keridhoan Allah semata.”

d. Hubungan dakwah Rosul SAW dalam pembentukan akhlaqul karimah

Setelah membaca dari awal tulisan ini, kita bisa menyimpulkan bahwa tujuan diutusnya Rosul SAW adalah menjadikan manusia bertauhid. Bertauhid artinya ia mengesakan Allah dalam segala bentuk ibadah.

Allah Ta’ala berfirman:
((وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا))
“Artinya: Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya”. (An-Nisaa: 36)

Sementara ibadah adalah segala macam perbuatan yang dicintai Allah SWT meliputi Islam (Syahadat, Shalat, Puasa, Zakat dan Haji), Iman, Ihsan, Do’a, Khauf (takut), Raja’ (pengharapan), Tawakkal, Raghbah (penuh minat), Rahbah (cemas), Khusyu’ (tunduk), Khasyyah (takut), Inabah (kembali kepada Allah), Isti’anah (memohon pertolongan), Isti’adzah (meminta perlindungan), Istighatsah (meminta pertolongan untuk dimenangkan atau diselamatkan), Dzabh (penyembelihan), Nadzar dan macam-macam ibadah lainnya yang diperintahkan.

Seluruh bentuk ibadah itu kaitannya adalah dengan Allah SWT dan manusia seluruhnya. Maka barang siapa memiliki tauhid yang paling lurus maka dialah yang paling bertaqwa. Barangsiapa yang paling bertaqwa maka dialah yang paling baik akhlaqnya. Insan yang berakhlaq mulia (Akhlaqul Karimah) adalah ia yang memiliki pakaian taqwa. Jika taqwa itu adalah mematuhi perintah Allah SWT dan menjauhi larangannya, maka manusia yang paling bertaqwa adalah ia yang paling memiliki kemuliaan akhlaq. Allah SWT berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu” (Qs. Al Hujuroot: 13)

Rasululloh SAW ditanya tentang sesuatu yang paling banyak memasukan orang ke syurga, maka beliau SAW bersabda, ((تقوى الله وحسن الخلق)) “Bertakwa kepada Allah dan Akhlak yang baik” (Diriwayatkan At Tirmidzi yang menshahihkannya).

Islam yang dibawa oleh Rosul SAW adalah peraturan yang membina akhlaq. Atau dengan kata lain pembinaan akhlaqul karimah adalah tujuan diutusnya Rosul SAW di atas muka ini. Ini adalah inti dari pada seruan dakwah Rosul SAW.

Karena hanya Islamlah yang akan menuntun manusia dan jin sehingga menjadi makhluk yang mulia dan pantas ditinggikan derajatnya. Dia, manusia itu, akan menjadi sesosok figur yang mampu mempertanggung-jawabkan hak dan kewajiban dirinya sendiri kepada Allah, dalam keluarga dan bahkan dalam tatanan masyarakat yang lebih luas. Sebab figur akhlaq tertinggi adalah dia, manusia mulia, pilihan sang Rabb pemilik langit dan bumi beserta segala yang ada di antara keduaannya, sebagai mana firman Allah yang ditujukan kepada nabi Muhammad SAW: وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” Qs. Al Qolam: 04

Realisasi dari semua ini adalah ittiba’ur Rosul SAW, sebaik baik suri tauladan bagi umatnya, figur akhlaq paling ideal, dan idola paling mulia di kolong langit ini.

Mengikuti Rosul SAW berarti mengikuti pula seluruh jalan para shahabatnya, para manusia yang berakhlaq mulia dan generasi terbaik yang kemudian diikuti oleh para tabiiinya. Mereka adalah generasi-generasi awal Islam yang berhasil merubah kebrobrokan aqidah, kebejadan akhlaq, kekotoran muammalah dan hinanya masa manusia jahiliyah menjadi masyarakat muslim yang berkibar peradabannya denagn aqidah lurus dan akhlaq yang luhur.

Walhasil, akhlaq bangsa ini bisa diselamatkan hanya jika kita mengikuti pola dakwah generasi generasi awal terdahulu, generasi-generasi yang shalih, yang sulit dicari tandingannya.

Maka satu-satunya jalan untuk mengembalikan kemuliaan kaum muslimin adalah dengan meniti jalan yang telah di tempuh oleh para pendahulunya.

Berkata Imam Malik dalam kitabnya, Al Muwattho’: لا يصلح أمر هذه الأمة إلا بما صلح به أولها الإمام مالك “Tidak akan menjadi baik urusan ummat ini kecuali dengan apa-apa yang telah membuat urusan ummat ini baik pada awal mulanya”

Fenomena wahn, lemah dan kebobrokan akhlaq manusia terutama generasi muda di masyarakat kita pada saat ini, terutama realita kehidupan keseharian mereka, maka hal itu disebabkan karena jauhnya mereka dari cahaya Islam.

Melesatnya era globalisasi dan kemajuan tekhnologi telah membuat manusia tidak mengimbangi dengan percepatan tatanan moral yang semakin tinggi dan luhur. Namun akhlaq sebaliknya, semakin melesat mundur dengan cepatnya. Dan kaum muslimin sesungguhnya telah kalah dan akan hancur eksistensinya kecuali mereka kembali kepada ajaran Islam, kembali mengikuti fitroh mereka, kembali kepada ajaran tauhid yang bersih dari syirik.

Adapun metode dakwah yang tepat pada saat ini adalah pola dakwah yang mengikuti pola Rosul SAW. Dan jalan dakwah Rosul sesunguhnya berada di atas pola tasfiyah (pembersihan dan pemurnian) ummat dari akhlaq jahiliyah berupa kemusryikan, kebathilan dan kejahilan, kemudian di bina dan di tarbiyahnya ummat itu dengan ahkhlaq Islam berupa tauhid.

Harapan penulis, semoga risalah kecil ini dapat bermanfaat bagi bagi kita semua, menjadi pelengkap perpustakaan Islam, dan menjadi amal sholih bagi penulis kelak.

Akhirnya, segala kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT semata, segala cacat dan kekurangan itu hanyalah ada pada diri manusia, dan dikarenakan tiada gading yang retak, penulis sangat menyadari akan banyaknya kekurangan dalam penulisan dan pembuatan paper ini, karenanya kami membuka pintu selebar-lebarnya bagi sidang pembaca untuk memberikan saran dan kritik yang membangun guna perbaikan dan muhasabah bagi penulis di masa yang akan datang.

Antara Garut – Karawang, Awal Muharrom 1425 H

Referensi:

  1. Al Hilay, Abu Usamah Salim ‘Ied 2002 Mengapa Memilih Manhaj Salaf, Solo, Pustaka Imam Bukhary
  2. Al-Jazairi, Abu Bakar Jabir 2003 Ensiklopedi Muslim, Jakarta, Darul Falah
  3. Al Mubarrokfuri, Abdurrohman Tt Sieroh Nabawiyah, Jakarta, Download Al Sofwah
  4. Al Mubarrokfuri, Abdurrohman 1997 Sieroh Nabawiyah, Jakarta, Pustaka Al Kautsar
  5. Al Utsaimin, Muhammad 2002 Panduan Kebangkitan Islam, Jakarta, Darul Haq
  6. At Tamimy, Syaikh Muhammad 2002 Kitab Tauhid, Jakarta, Darul Haq
  7. At Tamimy, Syaikh Muhammad 2002 Tiga Landasan Utama, Solo, At Tibyan
  8. Ashr, Syaikh Ibrohim Isma’il 2003 Manhaj Ibnu Taimiyah Beramar Ma’ruf Nahi Munkar, Jakarta, Darul Haq
  9. Daeroby, Ahmad Drs, H., M. Ag 2001, Kesempurnaan Akhlaq, Majalah Risalah, Bandung
  10. Poerwadarminta, W.J.S 2002 Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta, Balai Pustaka
  11. Ya’qub, Hamzah, Dr. H. 2002 Etika Islam Bandung, cv. Diponegoro
  12. Zaidalah, Alwisral Imam, Drs 2002 Strategi Dakwah dalam membentuk da’i dan khotib professional, Jakarta, Kalam Mulia.

 

Akhlaq sabar dan bertahan dalam ujian

Di antara akhlaq baik seorang muslim ialah sabar. Sabar ialah menahan diri terhadap apa yang dibencinya, atau menahan sesuatu yang dibencinya dengan ridho dan rela.

Jadi orang muslim menahan diri terhadap apa yang dibencinya seperti beribadah kepada Allah Ta’ala, dan taat kepada Nya. Ia mewajibkan sifat tersebut pada dirinya, menahan dirinya dari bermaksiat kepada Allah Ta’ala dengan tidak mengizinkan mendekati kemaksiatan, dan mengerjakannya kendati dirinya menghendaki.

Ia menahan diri terhadap ujian yang menimpanya dengan tidak membiarkannya berkeluh kesah, atau marah, sebab keluh kesah terhadap sesuatu yang telah hilang adalah penyakit, dan keluh kesah terjhadap sesuatu yangakan terjadi adalah tidak ridho, sedang tidak ridho terhadap takdir, berarti mengecam Allah yang Maha Esa, dan Maha Perkasa. Dalam bersabar terhadap itu semua, orang muslim bersenjatakan diri dengan ingat pahala ketaatan yang besar dari Allah Ta’ala, dan ingat siksa pedih Allah Ta’ala untuk orang-orang yang dimurkai Nya, dan orang-orang yang berkasiat kepada Nya. Selain itu, iai ingat bahwa takdir-takdir Allah akan senantiasa berlangsung, keputusan Nya adalah adil, dan hukumnya pasti terjadi, meski seorang hamba bersabar atau tidak bersabar. Hanya saja sabar itu menjanjikan pahala dan tidak sabar itu menjanjikan dosa.

Karena sabar dan tidak sabar adalah akhlaq yang didapatkan dengan pelatihan dan mujahadah (usaha maksimal), maka setelah orang muslim meminta Allah Ta’ala memberinya sifat sabar, ia ingat sifat sabar dengan ingat perintah kepada sabar dan ingat pahala yang dijanjikan bagi orang sabar, misalnya dalil-dalil berikut:

Firman Allah ta’ala:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung”. Qs. Ali Imron: 200

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ
Artinya: “Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu

sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu`”. Qs. Al Baqoroh: 45

وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُ فِي ضَيْقٍ مِمَّا يَمْكُرُونَ

Artinya: “Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan”. Qs. An-Nakhl: 127

وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

Artinya: “Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”. Qs. Luqman: 17

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَالَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَأُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

Artinya: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”. Qs. Al Baqoroh: 155-157

مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِينَ صَبَرُوا أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Artinya: “Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”. Qs. An Nahl: 96

جَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami. Qs. As Sajdah: 24

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Artinya: “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”. Qs. Az Zumar: 10

Sabda Rosul SAW yang artinya: “Sabar adalah cahaya”

Sabda Rosul SAW , yang artinya: “Dan barang siapa menahan diri (dari hal-hal haram dan dari meminta-minta pada manusia), maka Allah membuatnya suci.

Barang siapa meminta kaya maka Allah akan mengkayakannya. Dan barang siapa meminta sabar maka Allah menyabarkannya. Seseorang tidak diberi pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada pemberian berupa sabar” HR Muslim

Sabda Rosul SAW, Artinya: “Luar biasa urusan orang mu’min. Sesungguhnya semua urusannya itu baik, dan itu semua tidak dimiliki kecuali oleh orang mu’min. jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, dan itu sangat baik baginya. Jika ia ditimpa cobaan, ia bersabar, dan itu sangat baik baginya” HR Al Bukhary

Ketika salah satu putri Rosul SAW mengutus seseorang kepada beliau untuk meminta kedatangan beliau sebab anak putrinya meninggal dunia, maka beliau bersabda kepada utusan putrinya, “Sampaikan salamku kepadanya dan katakana kepadanya, ‘Sungguh Allah berhak atas apa yang telah Dia ambil, dan berhak atas apayang pernah Dia berikan. Segala hal di sisi-Nya itu sesuai dengan ajal yang telah ditentukan. Olehkarena itu, hendaklah ia bersabar, dan mengharapkan pahala-Nya’.”HR Al Bukhary

Sabda Rosul SAW, “Allah azza wa jalla berfirman, ‘jika Aku menguji hambaku dengan kedua orang anaknya, kemudian ia bersabar, Aku akan mengganti keduanya dengan syurga’.” HR Al Bukhary

Sabda Rosul SAW, “Barang siapa Allah menghendaki kebaikan padanya, maka Dia mengujinya.” HR Al Bukhary

Sabda Rasul SAW, “Sesungguhnya besarnya pahala itu sesuai dengan besarnya ujian. Jika Allah mencintai suatu kaum, Dia menguji mereka. Maka barang siapa ridho maka ia mendapatkan keridhoan dan barang siapa murka maka ia mendapatkan kemurkaan.” HR At Tirmidzi dan Ibnu Majah

Sabda Rosul SAW “Ujian senantiasa menimpa seorang mu’min pada jiwa, anak, dan hartanya, hingga ketika ia menghadap Allah,ia tidak mempunyai kesalahan.” HR At Tirmidzi

Adapun bertahan terhadap gangguan, maka termasuk sabar, namun lebih sulit. Bertahan terhadap gangguan adalah komoditi orang- orang yang jujur, dan symbol orang-orang sholih. Bertahan terhadap gangguan ialah seorang muslim disiksa di jalan Allah Ta’ ala, kemudia ia bersabar, bertahan, tidak membalas dengan kejahatan yang sama, tidak balas dendam untuk dirinya sendiri, tidak mendahulukan kepentingan dirinya sendiri selagi penyiksaan tersebut terjadi di jalan Allah Ta’ala, dan tetap berjalan menuju keridhoaan-Nya. Suri tauladan baginya dalam hal ini ialah para Rosul yang sholih, sebab jarang sekali di antara mereka

yang tidak disiksa di jalan Allah Ta’ala dan tidak diuji dalam perjalanan mereka kepadanya.

Abdulloh bin Mas’ud Radhiyallaah ‘Anhu berkata, “Sepertinya aku melihat Rosul SAW bercerita tentang salah seorang nabi yang dipukuli kaumnya hingga terluka, kemudian nabi tersebut mengusap darah dari wajahnya sambil berkata, “Ya Allah, ampunilah kaumku, karena mereka tidak mengetahui’.”

Itulah salah satu daya tahan terhadap siksaan yang dimiliki Nabi Allah. Contoh lain ialah: pada suatu hari Rosul saw membagi harta, kemudian salah seorang ‘Arab dusun berkata, “Ini pembagian yang tidak dimaksudkan untuk mencari keridhoaan Allah.”

Ucapan tersebut terdengar oleh Rosul SAW dan wajah beliau seketika merah karenanya, kemudian beliau bersabda, “semoga Allah merahmati saudaraku Musa, ia disiksa lebih keras dari ini semua, namun ia tetap bersabar”. Muttafaqun ‘Alaihi

Khobab bin Al ‘Aroth Radhiyallaah ‘Anhu berkata: “kami mengadu kepada Rosul saw yang ketika itu sedang bersandar di bawah kain Ka’bah, dan kami berkata, ‘Kenapa engkau tidak meminta untuk kita?’, ‘Kenapa engkau tidak berdo’a untuk kita?’ Rosul SAW bersabda, ‘Sungguh salah seorang sebelum kalian ditangkap, dibuatkan galian, ia dimasukkan ke dalamnya, gergaji didatangkan kepadanya, kemudian diletakkan di kepalanya hingga kepalanya terbelah menjadi dua, dan ia disisir dengan sisir dari besi yang menyisir daging dan tulangnya, namun hal tersebut tidak memalingkannya dari agama Allah.” HR Al Bukhary

Allah Ta’ala bercerita kepada kita tentang para rasul, dan tentang ucapan mereka ketika mereka bertahan terhadap siksaan yang mendera mereka,

وَمَا لَنَا أَلَّا نَتَوَكَّلَ عَلَى اللَّهِ وَقَدْ هَدَانَا سُبُلَنَا وَلَنَصْبِرَنَّ عَلَى مَا ءَاذَيْتُمُونَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُونَ

“Mengapa kami tidak akan bertawakkal kepada Allah padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakkal itu, berserah diri”. Qs. Ibrohim: 12

‘Isa bin Maryam berkata kepada Bani Israel, “Telah dikatakan kepada kalian sebelum ini bahwa gigi dibalas dengan gigi, dan hidung dibalas dengan hidung. Sekarang aku katakan kepada kalian, ‘Janganlah kalian membalas keburukan dengan keburukan yang sama. Barangsiapa memukul pipi kananmu maka berikan pipi kirimu kepadanya. barangsiapa mengambil bajumu maka berikan sarungmu kepadanya”

Sebagian shahabat-shahabat Rosul SAW berkata, “Dulu kami tidak menganggap keimanan seseorang itu sebagai keimanan jika ia tidak bersabar terhadap siksa.”

Berdasarkan contoh-contoh hidup tentang sabar ini, orang muslim hidup dengan sabar, mengharap ridho Allloh SWT, bertahan, tidak mengeluh, tidak cemberut, tidak membalas keburukan dengan keburukan yang sama namun membalas kejahatan dengan kebaikan, mema’afkan, dan sabar. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَمَنْ صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

“Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” Qs. Asy Syura’: 43