Monthly Archives: Februari 2013

Operasi Intelijen’ untuk PKS: Dari Penjatuhan Citra Hingga Perangkap Daging Impor

Operasi Intelijen’ untuk PKS: Dari Penjatuhan Citra Hingga Perangkap Daging Impor

Penulis: Saif Al Battar, Jum’at, 1 Februari 2013

JAKARTA (Arrahmah.com) – Tiga bulan sebelum Letjen TNI (Purn) ZA Maulani meninggal dunia pada 2007, Kepala BIN (BAKIN) di era Presiden Habibie ini memberi informasi dan catatan penting dalam sebuah pertemuan.

Kepada yang hadir Maulani mengungkap bahwa intelijen asing yang berkomplot dengan pihak internal (dalam negeri) tengah intens “menggarap” ormas/partai Islam tertentu yang dianggap radikal atau dinilai memiliki pengaruh besar dan diprediksi menjadi partai masa depan.

“Operasi intelijen” ini, menurut Maulani, bertujuan untuk melemahkan ormas/partai Islam tertentu. Ada tiga ormas Islam yang dibidik kala itu dan satu partai Islam yang dinilai ke depannya memiliki pengaruh besar sebagai kekuatan politik Islam alternatif, jika tak segera dikebiri.

Menurut Maulani yang juga sangat dibenci Amerika, partai Islam yang dia maksud menjadi perhatian AS dan sekutunya. Rupanya Barat sangat khawatir dengan perkembangan partai yang pernah disebut fenomenal ini. Karena itu, bagaimana caranya agar partai ini dilemahkan, dibonsai dan dikerdilkan.

Menurut Maulani kala itu, ada tiga modus yang bertujuan melemahkan kekuatan ormas/partasi Islam tersebut. Pertama, membikin konflik internal yang target akhirnya menjadi pecah belah. Kedua, membuat citra/imej ormas/partai Islam tersebut menjadi buruk di mata publik. Ketiga, mengarahkan oknum pengurus/petingginya menjadi tergoda dengan dunia.

Maulani menjelaskan, sesungguhnya tak ada ormas/lembaga/partai Islam yang steril—khususnya yang dianggap radikal. Umumnya disusupi. Penyusupan ini tentu untuk lebih memudahkan pelemahan ormas/partai Islam yang dimaksud.

Modus pertama, membuat konflik di internal ormas Islam tertentu. Setidaknya ada 3 ormas Islam—setelah 2007—yang dengan tajam dilanda konflik internal. Satu ormas Islam akhirnya harus merelakan sejumlah pengurus dan anggotanya bedol desa alias keluar dari organisasi. Sedang ormas Islam lainnya pecah dan pecahannya melahirkan organisasi baru.

Modus kedua, membuat ormas Islam satunya lagi menjadi bulan-bulanan yang terus dicitrakan buruk. Sementara terhadap partai islam yang dibidik, “operasi intelijen” agak sulit membuat konflik atau menciptakan imej buruk. Pertama, partai ini dinilai solid, tidak mudah mengacak-acaknya. Kedua, partai yang dimaksud selama ini pertahanannya cukup kuat, segenap pengurus dan kadernya sangat menjaga citra baiknya di hadapan publik.

Walhasil, dari sisi mengarahkan partai ini ke dalam konflik internal dan merusak imejnya tak semudah mengacak-acak dua ormas Islam seperti tersebut di atas. Karenanya, modus ketiga, mengarahkan oknum pengurus tertentu dalam partai Islam ini untuk “silau” dengan dunia dengan cara memberi proyek, misalnya, ternyata cukup jitu.

“Operasi” ini meyakinkan bahwa pasti orang punya kebutuhan dalam hidup. Orang-orang yang lemah dan lebih cenderung pada dunia akan lebih mudah untuk dirasuki—disadari atau tidak—akhirnya berada dalam kubangan pragmatisme. Jalan “operasi” seperti ini dengan mudahnya dilakukan oleh musuh-musuh Islam.


Oknum atau orang-orang tertentu yang di hati dan jiwanya memiliki penyakit yang disebut dalam hadits Nabi sebagai “al-wahn”—cinta dunia benci mati—ternyata bukan saja menggiring pelakunya menjadi mabuk dunia, tetapi bahkan bisa membuat imej buruk dan distrust (hilangnyakepercayaan) publik secara bertahap terhadap partai dan petingginya—yang ujung-ujungnya melahirkan konflik.

Benar, akhirnya partai ini pun tak lepas dari konflik internal. Ada yang dipecat, ada yang mundur. Ada yang tak terima dipecat sehingga menuntut dan berujung ke pengadilan. Dua kubu berseteru, baik secara langsung maupun lewat SMS dan bahkan via media sosial.

Akhirnya partai yang selama ini dianggap solid, tak mudah dipecah belah, jebol juga pertahanannya.

Selesaikah “operasi” ini? Belum. Meski dalam sejumlah survei dinyatakan suara partai ini anjlok, lantaran berkurangnya kepercayaan, namun kelompok Islamfobia yang turut cawe-cawe dalam “proyek” ini masih belum puas.

Ocehan-ocehan 1 atau 2 petingginya yang dinilai tak mencerminkan Islam makin menambah deret banyak pihak, kader atau simpatisan, yang angkat kaki dari partai ini.

Kini, dengan kasus terbaru yang menimpa Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini, masih belum puas juakah “operasi intelijen” yang telah “berhasil” membuat hasil survei memelorotkan suaranya?

Nyatanya “operasi” ini tak berhenti sampai di sini. Bahwa orang-orang partai ini tak jua tersentuh korupsi, agaknya mengundang rasa penasaran. Selama cap koruptor belum menempel pada partai ini sebagaimana partai lainnya, “operasi” ini dianggap belum sempurna.

“Operasi” ini harus “menggarap” orang-orang tertentu dalam partai dan yang terkait dengan partai untuk dipancing. Hanya orang-orang atau figur yang memiliki potensi dan kecenderungan hubbud dun-ya wakarahiyatul maut (cinta dunia benci mati) yang bisa digoda dengan dunia dan isinya. Tak tanggung-tanggung, orang kedua di partai ini, yakni presidennya, terjerembab dalam tudingan suap izin quota daging sapi impor.

Umumnya para petinggi dan pengurus serta kader-kader partai ini baik, lurus, dengan ghirah dan gairah Islam yang tinggi, tetapi segelintir orang telah membuat partai dakwah ini menjadi terpuruk tanpa ada sanksi terhadap mereka.

Inilah yang dijadikan bibit dan bahan “operasi” berikutnya. Sudah lama perangkap dan jebakan dipasang. Tapi rupanya selama ini belum bisa “dieksekusi” untuk memerangkapnya. Padahal vokalitas dan kritik tajam yang dianggap tak sejalan dengan yang namanya Setgab Koalisi kian menyebabkan partai ini harus segera dibonsai.

Lalu, sejumlah kasus yang menimpa beberapa pesohor dan petinggi negeri ini, dari Century, Hambalang, BLBI, dan lainnya, terakhir kasus manipulasi pajak keluarga SBY yang diungkap pertama kali oleh The Jakarta Post, Rabu (30/1/2013), memaksa kasus suap daging sapi impor yang sudah lama disiapkan untuk dimunculkan, sebagaimana dikatakan Prof Dr Tjipta Lesmana.

Menurut pengamat politik ini, kasus suap daging impor ini disinyalir untuk menutupi sederet kasus yang tadi disebutkan—terutama kasus terakhir: manipulasi pajak keluarga SBY.

Hanya, memang, entah lantaran digarap terburu-buru karena mengejar waktu atau seperti dikatakan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Prof Dr Jimly Ash-Shiddiqie adanya faktor kebodohan (rakyat merdeka online, 31/1/2013), proses penetapan tersangka hingga penangkapan dan penahanannya pun tampak janggal di mata publik.

Jimly khawatir keberanian KPK ini karena didasari atas kebodohan. Kalau sampai pedang keadilan diserahkan kepada orang bodoh, menurutnya, itu sangat berbahaya.

“Jangan sampai begitu. Menegakkan keadilan itu kan sebagian juga seni. (Luthfi) belum diperiksa kok dijadikan sebagai tersangka. Mbok ditunggu seminggu kalau memang ada alat bukti. Ini kan soal kecerdikan. Jadi ini penegak hukumnya agak bodoh. Bisa karena bodoh, bisa karena goblok…,” tandasnya.

Ya, seperti disebut tadi, entah karena diburu waktu yang mengharuskan skenarionya seperti itu atau faktor kebodohan seperti dikatakan Prof Jimly, yang terang ada beberapa hal yang janggal.

Pertama, KPK mengaku sebelumnya sudah mendapat informasi bahwa akan ada transaski (suap) pada Selasa (29/1/2013) siang di kantor PT Indoguna Utama.

Pertanyaannya, kenapa kemudian KPK tidak menangkap langsung saat transaksi suap terjadi? Bukankah ini lebih meyakinkan? KPK malah melakukan penangkapan pada malam hari di saat penerima suap (AF) tengah berada di sebuah hotel bersama seorang wanita yang belakangan diketahui mahasiswi sebuah perguruan tinggi swasta.

Kedua, ada penilaian publik, bahwa skenario yang mengandung unsur cewek cantiknya dalam “operasi” ini harus dimunculkan. Andai KPK menangkap saat transaksi suap berlangsung, maka dipastikan tak ada berita AF ditangkap saat berdua dengan seorang wanita cantik di dalam kamar hotel dengan busana minim.

Beberapa satsiun televisi berulang-ulang memutar dan memberitakan soal perempuan cantik ini. Bisakah kita menepis dugaan bahwa unsur perempuan cantik ini dalam rangka makin mendramatisir beginilah partai Islam! Citranya makin hancur. Ada pesan yang ingin diblowup dalam episode di bagian cerita ini, yakni: lha, partai dakwah, sudah kena kasus suap, eh malah ada unsur ceweknya pula. Imej tentu kian buruk. Itu pesan khususnya.

Jadi, kembali pada pertanyaan, mengapa ditangkapnya harus di hotel, bukan pada saat transaksi suap berlangsung, sebagaimana dilakukan KPK selama ini (tertangkap tangan)?

Ketiga, ini juga jadi pertanyaan banyak pihak, Luthfi Hasan tidak tertangkap tangan, tapi kenapa langsung dijadikan tersangka? Yang sudah-sudah langsung jadi tersangka saat tertangkap tangan memberi dan menerima suap, sementara Luthfi Hasan tidak ada saat transaksi suap terjadi.

Keempat, siapa sebenarnya AF penerima suap dari pimpinan perusahaan pengimpor daging sapi itu? AF disebut-sebut kurir dan orang dekatnya Luthfi. Tentu agak risih mendengar partai Islam kok kadernya mau disuguhi cewek yang kini disebut sebagai gratifikasi seks?

Namun Hidayat Nur Wahid menyebut AF bukan anggota atau kader PKS. Mantan Presiden PKS ini juga menyebut ada konspirasi terhadap PKS. Lantas, siapa yang menskenariokan AF dekat dan sebagai orang kepercayaan Luthfi? Sejak kapan penggarapan ini berlangsung?

Dan sepertinya “operasi intelijen” sebagaimana diinformasikan Alm ZA Maulani itu sejak 2007 sampai sekarang “berhasil” melemahkan, membonsai dan mengerdilkan partai ini, sehingga urung menjadi partai Islam yang memiliki pengaruh dan harapan umat, setidaknya untuk saat ini, wallahu a’lam ke depannya.

Namun seburuk apapun partai ini, ia pernah menjadi harapan banyak umat Islam. Ia pernah menjadi alternatif dalam politik keumatan di tengah penilaian bobroknya partai-partai sebelumnya.

Maka, badai pahit yang tengah melanda partai ini sudah seharusnya dijadikan pelajaran, introspeksi dan evaluasi untuk perjalanan ke depan yang lebih baik.

Mampukah partai ini mengembalikan trust publik seperti sebelumnya? Tentu, itu kembali pada pengelola partai ini, sejauh mana komitmen ke-Islam-an itu merasuki jiwa dan relung-relung mereka dan menjadikannya sebagai benteng kehidupan yang menghantarkan para kader dan simpatisannya ke dalam gerbang Indonesia yang lebih luas.

Dan, sejauh mana pula keberpihakan pada umat dan bangsa mayoritas Muslim ini sungguh-sungguh dirasakan, dan akhirnya dengan Visi Islamnya memiliki komitmen menegakkan Islam dan memperjuangkan Islam sebagai sistem dalam kehidupan bernegara, pemerintahan, bermasyarakat, meninggalkan sistem kufur!

(salam-online.com/arrahmah.com)

Iklan

PKS | Partai Yang Sering Terserang Virus Jurnalisme Su’udzon

PKS | Partai Yang Sering Terserang Virus Jurnalisme Su'udzon

 

21 September 1998. Sebuah artikel menarik ditulis oleh Dahlan Iskan yang saat itu menjabat sebagai direktur Jawa Pos. Tulisannya berjudul Massa Santun di Dunia yang Bergetah dan dimuat di Harian Suara Indonesia. Isinya merupakan kekaguman Dahlan Iskan terhadap fenomena yang disaksikannya.

Berikut beberapa kalimat yang Dahlan tuliskan.

Menyaksikan deklarasi Partai Keadilan di Gelora Pancasila Surabaya Minggu kemarin, bulu kuduk saya merinding. Susana religius yang teduh lebih mendominasi daripada suasana hingar-bingar yang biasa tampak di sebuah forum rapat besar partai.

Dari jalannya acara terlihat mereka adalah kelompok yang sangat terorganisasi. Misalnya saja bagaimana acara seperti itu sekaligus dimanfaatkan untuk mendapatkan daftar anggota lengkap dengan riwayat hidup mereka. Formulir dibagi dengan sistematis dan dikumpulkan dengan cara yang sistematis pula.

Seorang wartawan ‘nyeletuk’ bahwa mereka inilah kelompok reformis sejati.

…Yang kita tunggu, bagaimana ketika mereka bertekad untuk berkiprah di panggung politik, yang bukan hanya banyak getah lama tapi juga akan muncul getah-getah baru…

 

*************

31 Maret 2003. Media Indonesia dalam editorialnya memuat tulisan berjudul Ketertiban Sejuta Umat. Media milik Surya Paloh tersebut kagum dengan aksi massa yang dilakukan PKS.

Berani membawa bayi berdemonstrasi, di antara ratusan ribu orang di Bundaran Hotel Indonesia, jelas menunjukkan tingginya jaminan dan kepercayaan bahwa unjuk rasa itu akan berlangsung tertib dan damai. Jelas memperlihatkan perbedaan kelas dan cita rasa dibanding berbagai demonstrasi yang silih berganti terjadi di negeri ini. Sampai kemudian, Partai Keadilan memperlihatkan kepada publik contoh berdemonstrasi yang baik dan benar. Tentu, ada faktor lain. Yaitu, faktor pemimpin. Hanya komunitas dengan pemimpin yang memiliki visi dan disiplin sosial yang tinggi yang akan menghasilkan pengikut yang juga taat kepada tata tertib. Itulah sebabnya, demonstrasi yang satu berbeda dengan demonstrasi yang lain, tergantung dari siapa pemimpinnya. Karena lebih banyak pemimpin yang amburadul maka lebih banyak pula demonstrasi yang amburadul.

***************

30 Januari 2013. Sekitar jam 19.30, Presiden PKS Lutfhi Hassan Ishaq menjadi tersangka suap oleh KPK tanpa pernah menjalani pemeriksaan dan hanya berdasarkan pengakuan seseorang. Sudah berubahkan partai ini?

Hingga kini aksi-aksi unjuk rasa yang mereka lakukan tak amburadul. Anak-anak pun masih ikut serta. Ada yang berjalan dan digendong ayah ibunya. Mengulang kata Media Indonesia: Hanya komunitas dengan pemimpin yang memiliki visi dan disiplin sosial yang tinggi yang akan menghasilkan pengikut yang juga taat kepada tata tertib.

PKS memang tak berubah. Tapi media massa yang kini justru berbalik 180 derajat. Hari ini, PKS seperti menjadi common enemy media. Apapun yang dilakukan PKS dan menyangkut PKS, media memberitakannya dengan cita rasa negatif. Tak mudah bagi kita untuk menemukan berita-berita positif tentang PKS di media mainstream, seperti yang pernah ditulis Dahlan Iskan dan Media Indonesia

Media mainstream sudah terjangkit virus jurnalisme su’uzhon. Jurnalisme penuh prasangka; jurnalisme prejudice. PKS adalah partai paling sering terserang virus jurnalisme su’udzon. Apapun yang dilakukan oleh PKS, media berlomba-lomba memberitakannya dengan cita rasa negatif dan sarat prasangka buruk. Dan jika ada peluang sekecil apapun untuk menjatuhkan citra PKS, maka media pun dengan penuh semangat memanfaatkannya.

Pada titik ini, biasanya yang paling media bidik adalah soal dugaan korupsi. Media akan berusaha mengaitkan tokoh-tokoh PKS dengan kasus korupsi. Berbagai cara mereka lakukan dalam pemberitaannya, meski dengan data dan fakta yang sangat minim. Tak jarang, mereka menabrak prinsip-prinsip dasar jurnalistik.

Ingat kasus Rama Pratama yang dihubungkan dengan Dhana Widyatmika, pegawai Ditjen Pajak yang menjadi tersangka korupsi? Rama yang berbisnis dengan Dhana kemudian berusaha diseret-seret untuk masuk ke dalam kasus tersebut. Dan hingga kini, Rama terbukti tak terlibat. Tapi media massa sudah kadung memberitakan secara besar-besaran. Opini pun terbentuk bahwa Rama yang politisi PKS diduga terlibat.

Hal serupa juga dialami oleh Anis Matta yang menjadi wakil ketua DPR dan Tamsil Linrung yang berada di pimpinan Banggar DPR. Keduanya diperiksa sebagai saksi oleh KPK dalam kasus korupsi yang menjerat politisi PAN Wa Ode Nurhayati. Pemeriksaan keduanya menjadi santapan lezat dan momentum tepat untuk memberitakan bahwa PKS juga bisa korupsi. Seperti biasa, setelah diperiksa, sampai detik ini, keterlibatan kedua elit PKS itu tak terbukti sama sekali.

Tapi bagi media, itu tak terlalu penting. Yang paling utama adalah framing (kerangka) opini yang terbentuk akibat dari pemberitaan yang dibuat bahwa PKS korupsi. Bagi media, diperiksanya tokoh PKS atau bahkan hanya disebut namanya saja, sudah menjadi barang mewah. Sebuah kesempatan langka yang harus dimanfaatkan dengan baik untuk memojokkan PKS. Karena itu, secara gencar harus diberitakan kepada publik. Persoalan kemudian akhirnya tak terbukti korupsi, tak perlu diambil pusing.

Prinsip jurnalisme su’uzhon sangat sederhana: ”Asumsikan tokoh-tokoh PKS adalah pelaku korupsi sampai sudah jelas ternyata pelakunya bukan mereka. Bila belum ada kejelasan, tetaplah berasumsi seperti itu bahwa mereka pelakunya. Dan jika ternyata bukan mereka, tak perlu meminta maaf.”

Dan Rabu malam lalu, saya teramat yakin awak media mainstream melonjak kegirangan ketika secara tiba-tiba KPK menetapkan Luthfi Hassan Ishaq sebagai tersangka. Sekali lagi: tersangka! Tanpa proses pemeriksaan sebelumnya oleh KPK.

Apakah PKS telah terkena getah di dunia yang bergetah? Waktu yang akan membuktikan.

Wallahu a’lam Bishshowab.

 

Erwyn Kurniawanhttp://www.islamedia.web.id/islamedia.web.id

Gencarnya Fitnah, Berbanding Terbalik dengan Naiknya Dukungan ke PKS

Gencarnya Fitnah, Berbanding Terbalik dengan Naiknya Dukungan ke PKS

Hasilnya ranking PKS terus melesat dari peringkat 16 pada 1999, naik keranking ke-7 pada 2004 dan melesat ke ranking ke-4 pada 2009. Artinya, fitnah yang gencar dilakukan orang-orang yang tak suka PKS berkibar, berbanding terbalik dengan naiknya dukungan terhadap partai bernomor urut tiga ini.

Kelima isu tersebut sudah nyata-nyata tak terbukti, bahkan ada yang lewat pengadilan dan berujung bebas murni. Apa saja fitnah-fitnah besar itu? Simak penelusuran berikut.

Pertama, pada tahun 2000 Hidayat Nur Wahid lewat Yayasan Haramainnya sempat dituding teroris, karena dikaitkan dengan Al Qaeda. Bahkan Dubes AS waktu itu Lin Pasque mengonfirmasi langsung, tapi semua tak terbukti. Karena Yayasan Haramain HNW tak ada hubungan dengan gerakan Al Haramain di Saudi yang memang terkait dengan Al Qaeda. Malahan Lin Pasque apresiasi HNW dan PKS.

Kedua, Soeripto saat jadi Sekjen Dephut dituding melakukan mark up pembelian helikopter untuk mengatasi kebakaran hutan. Setelah melewati sidang yang lama dan melelahkan, hasilnya tidak terbukti dan bebas murni.

Ketiga, Wakil Bupati Bogor Ahmad Ru’yat dituding menggunakan dana APBD. Diproses sidang sebagai terdakwa, bahkan sempat disel, ternyata di pengadilan keluar putusan inkrah bebas murni.

Keempat, Akhmad Misbakhun dituding Andi Arief melakukan ekspor fiktif lewat LC fiktif. Setelah jadi terdakwa, dipenjara, proses hukum tertinggi, MA, mengetuk palu bebas murni.

Kelima, Tamsil Linrung dan Anis Matta ditengarai sebagai bandit anggaran. Proses hukum ternyata hanya memenjara Waode Nurhayati.

Sekarang, menjelang pemilu 2014, fitnah terhadap PKS muncul kembali, dan kini dialamatkan kepada presiden PKS, Luthfi Hassan Ishaaq. “Ini jelas-jelas merupakan skenario besar yang dirancang untuk mendeskreditkan PKS,” kata Hb. Nabiel Al-Musawa yang merupakan Ketua Kelompok Komisi (Kapoksi) IV

Sepanjang usia PKS ikut di kancah politik pada 1999 sudah lima kali mendapat fitnah besar. Namun tak satu pun fitnah besar itu diiringi bukti, kecuali hanya upaya membangun citra negatif.
Penangkapan Luthfi Hasan Ishaq (LHI) di kantor DPP PKS merupakan konspirasi yang memiliki banyak kejanggalan. Bahkan tidak menutup kemungkinan ada campur tangan asing dari negara-negara pengekspor daging yang merasa dirugikan dengan kebijakan impor tersebut. Skenario dirancang untuk menekan dan memperburuk citra PKS dimata publik. Diduga karena PKS lantang menentang impor daging.

Sebelumnya fraksi PKS di komisi pertanian sudah menolak keras tambahan kuota impor daging untuk tahun 2013, hal tersebut juga ditegaskan saat raker dengan Kementerian Pertanian. Ia bahkan meminta surat ancaman dari importir ke Dirjen Peternakan dilaporkan ke Kepolisian.

Menteri Pertanian (Mentan) Suswono pun juga sudah mengatakan pihaknya tidak pernah memberikan rekomendasi penambahan kuota impor daging tahun 2013. Ia mengaku sudah mengirimkan surat ke Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian Hatta Rajasa untuk tidak lagi impor.

Well, kita buktikan saja di pengadilan. PKS kini sudah diadili lewat opini publik yang disebarkan media massa. Pada saatnya kebenaran akan terungkap. Dan tidak menutup kemungkinan, tuduhan keji yang disetting dan diatur sedemikian rupa bukannya menjatuhkan dukungan terhadap PKS, tapi justru malah meningkatkan elektabilitas PKS. Tahun 2014 target PKS naik kelas dari ranking 4 ke ranking 3.
Ia juga mengindikasikan bisa saja kasus ini ditunggangi oleh konspirasi kepentingan politik jelang pemilu. “Diungkap saja dua alat bukti dimaksud, sehingga masyarakat tidak bertanya-tanya. Kok sepertinya PKS jadi target nih,” tuturnya.

KPK harus cepat menuntaskan kasus ini agar masyarakat bisa melihat secara terang-benderang. Jangan sampai kasus ini berlarut-larut padahal belum jelas apakah LHI bersalah atau tidak, tapi PKS sudah diadili oleh opini publik yang terbentuk. Seperti kasus Misbhakun yang akhirnya dibebaskan oleh Mahkamah Agung setelah menjalani masa tahanan dua tahun”. tutup Hb. Nabiel. (adm)