Daily Archives: 31 Januari 2013

Monggo dishare: Kader-Kader PKS yang difitnah Korupsi dan akhirnya tak terbukti hanya untuk menyebar kebohongan publik:

Bismillahirrahmaanirrahiimm…

Hanya KEPADA ALLOH SWT kami kembalikan segala sesuatu…
LID DA’WATI RABBAN YAHMIIHAA ( Bagi dakwah ini ada Rabb yang melindunginya)

Masih ingat Pak Soeripto ditahan polisi?
akhirnya dilepas karena TIDAK BERSALAH.

Masih ingat Misbakhun yg dipenjara sekian lama?
akhirnya dinyatakan TIDAK BERSALAH dan direhabilitasi namanya.

Masih ingat Anis Matta diperiksa KPK yg beritanya luar biasa?
ternyata juga ga ada apa2nya, beliau TIDAK BERSALAH.

Masih ingat kasus Ahmad Ru’yat wakil walikota Bogor beserta bbrp aleg dr PKS kota Bogor yg sdh jd tersangka pnyalahgunaan APBD, melalui proses panjang akhirnya MA mengeluarkan hukum tetap bhw mereka semua TDK BERSALAH.

Sekarang mau jadikan PRESIDEN PKS sebagai tersangka?
MENARIK SEKALI… musuh-musuh kebenaran semakin membabi buta…
Semoga Allah tunjukkan dalang fitnah dari semua ini.

Luthfi Hasan Ishaaq, Pendiri PKS yang Akhirnya Menjadi Tersangka KPK

Jakarta – Mungkin sebelumnya tak pernah ada yang membayangkan seorang ketua umum PKS menjadi tersangka KPK. Namun, kasus dugaan suap daging impor telah membawa hal yang sulit dibayangkan itu menjadi nyata. Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq menjadi salah seorang tersangka dalam kasus tersebut.

Beberapa pihak, khususnya kalangan internal PKS, seakan masih tak percaya dan sulit menerima Luthfi Hasan dijadikan tersangka oleh KPK. Selain faktor PKS, yang selama ini kerap mengklaim sebagai partai bersih, sosok Luthfi sendiri memiliki track record politik cukup cemerlang, sehingga status tersangkanya membuat kaget banyak pihak.

Luthfi merupakan salah seorang pendiri Partai Keadilan (PK), cikal bakal PKS. Saat partai itu dipimpin oleh Nurmahmudi Ismail, Luthfi duduk sebagai Sekjen.

Pria kelahiran Malang 5 Agustus 1961 itu juga pernah menjabat sebagai Bendahara Umum DPP PKS pada periode kepemimpinan Hidayat Nur Wahid. Selain itu, pria yang menguasai bahasa Arab dan Inggris ini pernah menjadi supervisor pengembangan PKS di Eropa. Jabatan terakhirnya sebelum menjadi Presiden PKS adalah Ketua Badan Hubungan Luar negeri DPP PKS.

Karir Luthfi di DPR dimulai saat terpilih menjadi anggota legislatif periode 2004-2009. Saat itu, alumnus pesantren Gontor ini duduk di Komisi XI DPR.

Luthfi kemudian terpilih lagi menjadi anggota DPR pada periode berikutnya, yaitu 2009-2014. Pada periode keduanya sebagai wakil rakyat, Luthfi masuk ke Komisi I DPR yang menjadi mitra pemerintah di bidang pertahanan dan luar negeri.

Selain menjadi anggota komisi, selama bertugas di DPR, Luthfi juga merangkap beberapa jabatan di alat kelengkapan DPR. Selain sebagai anggota Badan Kerja Sama Antarparlemen untuk Afrika, Eropa dan Organisasi Negara-negara Konferensi Islam, pria yang sempat menetap di Belanda ini juga pernah menjadi Wakil Ketua Badan Kerjasama Antar Parlemen 2004-2009.

Luthfi juga menjadi anggota tetap komisi Timur Tengah di International Parliementary Union (IPU). Sebuah organisasi yang beranggotakan anggota parlemen seluruh dunia.

Luthfi menjadi Ketua Umum atau Presiden PKS menggantikan Tifatul Sembiring yang ditunjuk Presiden SBY menjadi Menteri Komunikasi dan Informatika. Pria yang juga alumnus Ushuluddin Ibnu Saud University dan Fakultas Islamic Studies Salafia University itu merupakan Presiden ke-4 PKS.

Namun karir panjang Luthfi di dunia politik sepertinya akan berujung suram. Rabu (30/1/2013) kemarin, KPK menetapkan Luthfi sebagai salah satu dari empat tersangka kasus dugaan suap daging impor.

“Kita temukan dua alat bukti yang cukup yang bisa dikaitkan dengan salah satu anggota DPR atas nama LHI,” kata Jubir KPK, Johan Budi SP, di Kantor KPK, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (30/1/2013).

Luthfi dijerat pasal 12 a atau b, pasal 5 ayat 2 atau pasal 11 UU No 31 tahun 1999. Saat ini Luthfi masih diperiksa di KPK. Tiga tersangka lainnya adalah Ahmad Fathanah yang disebut sebagai orang dekat Luthfi serta Juard Effendi dan Arya Arbi Effendi dari pihak swasta.

Menyambung penetapan tersangka, posisinya sebagai Presiden PKS terancam dicopot. DPP PKS telah menyerahkan urusan mengenai peralihan kepemimpinan kepada Majelis Syuro PKS.

“Ini semua akan diserahkan kepada Majelis Syuro. Akan dibicarakan masalah ini karena ini domain Majelis Syuro,” kata Sekjen PKS, Anis Matta, di Kantor DPP PKS, Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan, Kamis (31/1/2013) dini hari.

Kasus Suap Daging, Kenapa Sang Mahasiswi Cantik Dibebaskan KPK?

Kasus Suap Daging, Kenapa Sang Mahasiswi Cantik Dibebaskan KPK?
Jakarta – Kasus dugaan suap daging impor ikut membawa nama Maharani (19), seorang mahasiswi sebuah PTS di Jakarta. Rani, biasa gadis itu disapa, ikut diamankan KPK di basement Hotel Le Meridien pada Selasa (29/1) malam.

“Ada wanita muda, M yang ikut diamankan,” kata juru bicara KPK Johan Budi dalam jumpa pers di KPK, Jl Rasuna Said, Rabu (30/1).

Sayangnya Johan tak merinci, apa yang dilakukan Rani. Tapi dijelaskan, Rani ini ditemui tersangka Ahmad Fathanah di hotel itu. Fathanah menemui Rani usai serah terima uang Rp 1 miliar.

“M ditemui di hotel oleh AF. Keduanya diamankan di basement, di mobil di jok belakang disita uang Rp 1 M,” imbuh Johan.

Fathanah digelandang KPK. Diduga dia menjadi perantara dalam kasus suap yang menyeret anggota DPR Luthfi Hasan Ishaaq ini. Ada 4 tersangka dalam kasus ini, Fathanah dan Luthfi, juga Juard Effendi dan Arby Arya Effendi dari PT Indoguna, perusahaan pengimpor daging.

Sedang Rani dibebaskan pada Kamis (31/1) dini hari. Memakai rok pendek dan kemeja hitam lengan panjang, Rani menutupi wajahnya dengan rambutnya yang terurai. Tak ada kata dari mahasiswi ini saat dimintai konfirmasi wartawan. Johan menyebut Rani hanya saksi jadi dia dibebaskan.

Nah, soal Rani ini, peneliti Masyarakat Transparansi Indonesia, Jamil Mubarok angkat bicara. Menurut dia harus diusut soal keberadaan Rani di lokasi.

“M tidak akan ada jika tidak ada rencana suap PT IU ke LHI. Ini mesti dijelaskan, apakah ini bagian dugaan gratifikasi? Ini penting untuk jadi bahan pembelajaran,” jelas Jamil.

Jamil menuturkan, KPK harus bisa membuktikan apakah keterlibatan Rani dalam proses itu, sesuai pasal 55 ayat 1 KUHP jo pasal 12 B UU 20/2001 UU Tipikor. “AF dan M dikategorikan sebagai orang yang turut serta dalam perbuatan satu tindak pidana,” jelas Jamil.

(ndr/trq)

Penetapan Tersangka Tanpa Didahului Pemeriksaan Dinilai Aneh

Penetapan Tersangka Tanpa Didahului Pemeriksaan Dinilai Aneh

Rubrik: Nasional | Kontributor: Tim dakwatuna.com – 31/01/13 | 00:38 | 17 Rabbi al-Awwal 1434 H
Anggota Komisi III DPR, Indra. (inet)
dakwatuna.com – Penetapan anggota DPR Komisi I Bidang Pertahanan, Intelijen, Luar Negeri, Komunikasi dan Informatika, Luthfi Hasan Ishaq sebagai tersangka korupsi impor daging oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), bisa menimbulkan kecurigaan di masyarakat.
Pasalnya, penetapan tersangka itu dilakukan tanpa adanya pemeriksaan terhadap yang bersangkutan terlebih dahulu.
Meskipun KPK bisa langsung menetapkan tersangka terhadap seseorang yang tertangkap basah melakukan transaksi korupsi, namun Luthfi tidak ada dalam penggrebekan yang dilakukan KPK itu.
“Biasanya penetapan tersangka secara langsung kalau tertangkap tangan. Tapi kalau tidak tertangkap tangan jadi aneh kalau langsung tersangka. Lha yang tertangkap tangan ini siapa,” kata politisi PKS, Indra saat dihubungi wartawan di Jakarta, Rabu (30/1/2013).
“Ini kan saya agak menggelitik di situ. Kalau yang tersangka itu kan tertangkap tangan. Dari berita yang simpang siur ini kan belum ada transaksi,” tegasnya.
Menurut Indra, sebuah praktek suap dapat dikatakan sebagai tindak pidana apabila baik yang menyuap maupun yang hendak disuap telah mencapai kesepakatan.
“Ketika seseorang berencana menyuap, kan belum tentu yang disuap mau menerima suap. Itu satu hal yang penting. Ini secara objektif lho ya. Namanya suap itu kan sesuatu yang sudah terjadi,” tutup Indra. (okezone)
Redaktur: Hendratno

5 Indikasi Kejanggalan Kriminalisasi LHI oleh KPK

5 Indikasi Kejanggalan Kriminalisasi LHI oleh KPK

Rubrik: Opini Pembaca | Kontributor: Ibnu Sigit – 31/01/13 | 01:01 | 17 Rabbi al-Awwal 1434 H3 Komentar
Ilustrasi. (inet)
dakwatuna.com – Tuduhan yang menerpa Luthfi Hasan Ishaaq anggota Komisi I DPR, dinilai berbagai kalangan sangat janggal. Tak pelak hal ini dianggap sebagai kriminalisasi LHI untuk tujuan tertentu.
Kejanggalan pertama, yaitu ketika awal berita penangkapan muncul isu di berbagai media bahwa yang ikut ditangkap adalah supir Menteri Pertanian, Suswono. Ternyata dibantah sendiri oleh Suswono setelah mengklarifikasikan hal ini ke KPK.
Kejanggalan berikutnya adalah bahwa yang mau disuap adalah anggota komisi IV DPR dari PKS. Lalu ternyata sekarang menjadi Luthfi Hasan Ishaaq yang merupakan anggota Komisi I DPR. Komisi IV adalah komisi yang salah satunya membidangi pangan. Sedangkan Komisi I adalah komisi yang membidangi Pertahanan, Intelijen, Luar Negeri, Komunikasi dan Informatika.
Kejanggalan ketiga, jika berkaitan dengan daging impor, dan tudingannya diarahkan bahwa LHI bisa mengatur Mentan yang notabene kader PKS, jelas salah alamat. Pasalnya Mentan tidak mengatur impor daging. Quota impor daging yang mengatur adalah Kementerian Perdagangan. Apakah LHI bisa mengatur Menperindag yang notabene orang SBY?
Kejanggalan keempat, disebutkan bahwa ada upaya penyuapan. Padahal yang bersangkutan tidak menerima uang tersebut. Hanya disebutkan bahwa uang itu baru akan diberikan untuk LHI. Apakah adil orang yang berupaya mau disuap dijadikan tersangka? Padahal dia bisa jadi tidak tahu ada upaya itu. Dan apalagi tidak menerima uang tersebut.
Kejanggalan kelima, penetapan tersangka kepada LHI oleh KPK tanpa didahului oleh pemeriksaan. KPK memang bisa langsung menetapkan tersangka terhadap seseorang yang tertangkap basah melakukan transaksi korupsi, namun LHI tidak ada dalam penggrebekan yang dilakukan KPK itu. Lalu mengapa tiba-tiba LHI – tidak kurang dari 12 jam – langsung ditetapkan menjadi tersangka tanpa ada pemeriksaan sebelumnya? Berbeda dengan kasus-kasus lain yang bisa bisa memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.
Wallahualam bishowab. Semoga Allah melindungi kita semua dari makar ini.