Polemik Klub Istri Patuh Suami

Kelompok Islam di Malaysia Global Ikhwan kembali mengagetkan pemberitaan baik di Malaysia maupun Indonesia. Setelah sebelumnya mendeklarasikan klub Poligami, maka yang terbaru adalah dilaunchingnya Klub Istri Patuh Suami, yang salah satu visi utamanya adalah kesiapan melayani suami di atas ranjang.

Penggagas klub tersebut berpendapat bahwa urusan ‘ranjang’ dapat menyembuhkan masalah sosial seperti pelacuran dan perceraian dengan mengajar perempuan untuk tunduk dan patuh pada suami serta menjaga mereka bahagia di kamar tidur. Rohayah Mohamad, salah satu pendiri klub, secara terbuka menyatakan : “Seks adalah tabu dalam masyarakat Asia. Kami telah mengabaikannya dalam  pernikahan kita, tapi semua urusan rumah tangga berpulang pada urusan ranjang. Seorang istri yang baik adalah pekerja seks yang baik kepada suaminya. Apa yang salah dengan menjadi pelacur untuk suami Anda?”.(Republika online 7/6)

Untuk menjawab pertanyaan dalam judul di atas, setidaknya beberapa hal bisa kita bahas dengan sederhana, yaitu : seputar ketaatan istri, urusan seks dalam keluarga dan pemaknaan atau pengistilahan pelacur itu sendiri.

Pertama : Kepatuhan atau Ketaatan Istri
Jika kita melihat dari sisi ini, maka sesungguhnya yang dilakukan oleh Klub Istri Patuh adalah sesuatu yang positif, dalam arti gerakannya adalah mengingatkan kembali sekaligus upaya meningkatkan ketaatan istri kepada suami.  Hal ini menjadi begitu penting khususnya di jaman ini, dimana banyak para istri yang sukses memainkan peran di luar rumah. Penghasilan take home pay para istri pun terkadang lebih banyak dari suami. Belum lagi dengan kehadiran media sosial yang berpeluang menambah ‘kerenggangan’ antar suami istri. Maka atas dasar itu semua, seluruh upaya untuk meningkatkan ketaatan pada suami sungguh layak untuk diapresiasi.
Persoalan kepatuhan istri dalam Islam merupakan hal yang harus selalu diusahakan dan diupayakan. Gambaran hadits Rasulullah SAW berikut ini cukup menggambarkan penekanan hal ini, beliau bersabda : “Seandainya aku suruh seseorang untuk sujud kepada orang lain, maka aku suruh seorang istri sujud kepada suaminya.” (HR Abu Daud dan Al-Hakim).

Meski demikian, kepatuhan seorang istri tidak boleh diartikan kebebasan seorang suami untuk berlaku sewenang-wenang kepada istrinya. Bahkan sebaliknya, ukuran kebaikan dalam Islam salah satunya adalah akhlak mulia seorang suami kepada istrinya. Rasulullah SAW bersabda : “Orang terbaik dan kalian ialah orang yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku orang terbaik dan kalian terhadap keluarganya.” (HR Ath-Thabrani).

Kedua : Urgensi Masalah Seks dalam Rumah Tangga.
Jika kita meneliti angka statistika penyebab perceraian di manapun, maka salah satu penyebab yang sering mencuat adalah karena permasalahan seksual. Ragam rinciannya pun beragam, dari mulai ketidakpuasan salah satu pihak, atau keterpaksaan salah satu pihak, bahkan lebih jauh lagi karena kebutuhan seksual tidak terpenuhi dengan baik sehingga mencari kepuasan di tempat yang lain.

Barangkali titik inilah yang dijadikan starting point bagi Klub Istri Patuh di Malaysia, yaitu sebagai bentuk riil menghindari ketidakpuasan suami atas pelayanan suami. Maka salah satu agenda unggulan adalah : siap melayani sang suami dan memberikan layanan yang optimal dalam masalah ranjang. Jika kita menilai dari sisi ini, maka yang dilakukan klub Istri Patuh sungguh layak untuk diapresiasi dengan baik. Ajaran Islam yang mulia sejak awal meminta para istri untuk menyiapkan diri melayani suami agar stand by 24 jam, tentu saja bukan atas nama eksploitasi seks namun langkah pencegahan agar suami terpuaskan dan tidak terbersit sekalipun untuk jajan di luar.  Dua hadits berikut ini menjelaskan dengan begitu gamblang tentang makna di atas:

Rasulullah SAW bersabda : “Jika seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidur, kemudian istrinya tidak datang kepadanya, dan suaminya pun marah kepadanya pada malam itu, maka istrinya dilaknat para malaikat hingga pagi harinya.” (Muttafaq Alaih).

Rasulullah SAW bersabda, “Apabila seorang suami mengajak istrinya untuk memenuhi kebutuhannya, hendaknya si istri mendatanginya meski ia sedang berada di dapur.” (HR. Tirmidzi dan Nasa’i)

Dari isyarat hadits di atas, sesungguhnya menjadi sebuah kewajiban sekaligus kemuliaan bagi istri saat siap sedia melayani sang suami. Pada saat itu sang istri tengah melakukan anjuran agama 100%, bukan sedang menjalankan perbuatan nista bak seorang pelacur.

Ketiga : Masalah Penyebutan Pelacur bagi sosok Istri
Pertanyaan penting berikutnya adalah: apakah penyebutan istilah pelacur bagi istri adalah suatu yang baik atau tidak ? dan apakah sudah sedemikian penting atau mendesak ?.  Satu jawaban logis yang coba saya tangkap, jika yang dimaksudkan istilah pelacur ini adalah istri diminta untuk berhias dengan optimal khusus bagi suaminya di dalam kamar, dengan maksud tujuan untuk meningkatkan gairah sang suami, maka hal ini juga termasuk hal yang baik-baik saja dan bukan hal yang tercela. Anjuran Islam dalam hal ini pun begitu jelas : “Wanita (istri) terbaik ialah jika engkau melihat kepadanya, ia menyenangkanmu. ” (HR Muslim dan Ahmad).

Namun jika semua hal di atas kemudian melegalkan penyebutan pelacur bagi seorang istri, maka sungguh hal ini perlu dipertimbangkan matang-matang. Karena istilah pelacur sendiri begitu merendahkan kehormatan dan kemuliaan wanita secara umum, apalagi wanita sholihat. Dalam Islam seorang istri yang sholihah diberikan panggilan yang mulia yaitu : sholihat, qonitat dan hafidhot. Firman Allah Ta’ala, “Maka wanita-wanita yang shalihah ialah wanita-wanita yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).” (An-Nisa’: 34).

Bahkan dalam riwayat hadits pun, seorang istri sholihat diibaratkans sebagai perhiasan dunia yang terbaik. Rasulullah SAW bersabda :“Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah”. (HR. Muslim). Maka apakah sebutan-sebutan mulia itu dengan mudah kita hapus dengan label pelacur atas nama kebaikan juga ? Mari kita berpikir ulang sebelum benar-benar menganggukkan kepala.
Terakhir, pelabelan istilah pelacur dalam Islam, tidak pernah dimaksudkan untuk menyebutkan wanita yang sholihah atau dengan tujuan dan alasan positif, namun justru untuk menyebutkan wanita yang melakukan penyimpangan, sebagaimana gambaran sebuah hadits : “Perempuan manapun yang menggunakan parfum, kemudian melewati suatu kaum agar mereka mencium bau wanginya, maka dia adalah seorang pezina”. (HR Ahmad).

Semoga bermanfaat dan salam optimis.

sumber: http://www.indonesiaoptimis.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s