Daily Archives: 24 Januari 2011

Koleksi gambar foto orang-orang yang sedang menunaikan sholat di berbagai tempat dan kondisi

3456589308_5331ffa773
3456589690_f851823b15
3455770559_147bf081ef

 

 

Fenomena di Langit Karawang, pertanda apakah ini?

Kamis sore (30/09/2010) selepas asyar, saya meluncur sepulang berburu modem GSM HSDPA di sebuah kios langganan di sekitar Jalan Kertabumi.

Memasuki Tuparev dan berbelok ke Jalan Taruno, mata saya mendadak menangkap semburat biru effek cahaya matahari di belakang sebuah onggokan awan biru tua. Sungguh indah..

Karena dibonceng teman, maka saya bisa bebas menikmati pemandangan langka ini. Banyak orang yang kebetulan berada di teras rumah sepanjang jalan taruno sebelah kiri nampak mengarahkan wajah mereka ke langit bagian Barat. Ah, rupanya banyak juga yang mengagumi lukisan Tuhan yang tiada terkira indahnya.

Karena tidak jauh dari pekerjaan setting dan olah grafis, insting saya tergugah untuk mengabadikan moment indah hasil desain yang Maha Maestro di Langit tersebut. Berikut apa yang bisa saya jepret dengan ponsel jadul saya.

Klik pada gambar untuk memperbesar. 3 gambar nampak objek itu di belakang kepala saya (ber-helm).

Konon yang kerap saya dengar dari beberapa sumber orang-orang Jogja, itu adalah sebuah pertanda alam akan terjadinya bencana dalam waktu dekat.

Beberapa gempa yang telah terjadi di Jogja, banyak saksi mata yang melihat semburat garis lurus di langit beberapa hari sebelum terjadinya petaka itu.

Para ahli menyangkal secara ilmiah tentang hubungan munculnya effek cahaya matahari dengan terjadinya gempa bumi, dan saya telah menyaksikan bahasan fenomena di ini di sebuah stasiun TV.

Kini di depan mata saya, fenomena langka ini menjadi hadiah indah bagi mata saya. Benar tidaknya makna pertanda ini, tentu kita kembalikan segalanya kepada Allah SWT, tuhan yang Maha Kuasa.

Terima kasih ya Allah, atas keindahan di langit-Mu sore itu. Pembaca, anda pernah punya pengalaman yang sama? Atau anda punya pendapat tentang makna fenomena ini sebagai sebuah pertanda alam? Tuliskan komentar anda.

 

Akhlaqul Karimah, Definisi Etimologi dan Terminologi

Dalam kamus umum bahasa Indonesia, susunan W.J.S Poerwadarminta, kata akhlak bermakna budi pekerti; watak; tabiat.

Sementara menurut para pakar yang kami nukil dari buku “Etika Islam, Pembinaan Akhlaqul Karimah, Suatu Pengantar” oleh Dr. H. Hamzah Ya’qub, Penerbit CV. Diponegoro Bandung, cet. VII adalah sebagai berikut:

“Perkataan akhlaq berasl dari bahasa ‘Arab jama’ dari (خلق) yang menurut logatnya diartikan budi-pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat.

Kalimat tersebut mengandung segi-segi persesuaian dengan perkataan khuluqun yang berarti: kejadian serta erat hubungannya dengan خالق yang berarti pencipta dan مخلوق yang berarti yang diciptakan.

Perumusan pengertian “Akhlaq” timbul sebagai media yang memungkinkan adanya hubungan baik antara khooliq dengan makhluq dan antara makhluq dengan makhluq.

Perkataan ini bersumber dari kalimat yang tercantum dalam al Qur’an:

وإنك لعلى خلق عظيم.القلم
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”Qs. Al Qolam: 04

Demikian juga dari hadits Nabi SAW: إنما بعست لأتمم مكارم الأخلاق. رواه أحمد
“Sesungguhya aku telah diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlaq” (HR. Ahmad)”.

Akhlak secara etimologi

Masih kami kutip dari buku “Etika Islam, Pembinaan Akhlaqul Karimah, Suatu Pengantar” oleh Dr. H. Hamzah Ya’qub, Penerbit CV.Diponegoro Bandung, cet. VII, pengertian sepanjang terminologi yang dikemukakan oleh ulama akhlaq antara lain sebagai berikut: “Ilmu akhlaq ialah ilmu yang menentukan batas antara baik dan buruk, antara terpuji dan yang tercela, tentang perkataan atauperbuatan manusia lahir dan bathin.Ilmu Akhlaq adalah ilmu pengetahuan yang memberikan pengertian tentang baik dan buruk, ilmu yang mengajarkan pergaulan manusia dan menyatakan tujuan mereka yang terakhir dari seluruh usaha dan pekerjaan mereka.

Prof. Dr. Ahmad Amin dalam bukunya “Al Akhlaq” merumuskan pengertian Akhlaq sebagai berikut: “Akhlaq ialah suatu ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusya dilakukan oleh setengah manusia kepada lainnya menyatakan tujuan yang harus dituju oleh manusia dalam perbuatan mereka dan menunjukkan jalan untuk nelakukan apa yang harus diperbuat”.

Adapun Drs. H. Ahmad Daeroby, M. Ag, menulis tentang pengertian akhlaq dalam sebuah artikelnya di majalah Risalah: ““Yang dimaksud dengan akhlaq dalam pemakaian kata sehari-hari adalah ‘akhlaq yang baik’ (al Akhlaqul Karimah). Misalnya dikatakan ‘orang itu berakhlaq baik’ artinya orang itu mempunyai akhlaq yang baik, ‘orang itu tidak berakhlak’ artinya orang itu tidak mempunyai akhlaq yang baik. Sebenarnya di samping akhlaq yang baik adapula akhlaq yang buruk akhlaq as Sayi’ah atau akhlaq radzilah)”

Selanjutnya beliau menulis: “Secara etimologi, “Akhlaq” adalah kata bahasa ‘Arab yang merupakan bentuk jamak dari “khuluq” yang artinya perangai atau tabiat. Dapat dibedakan antara khuluq dan kholqun. Hakikat makna khuluq yaitu gambaran batin manusia yang sebenarnya (yaitu jiwa dan sifat-sifatnya), sedang kholqun yaitu gambaran bentuk luarnya/ dzahirnya (raut muka, warna kulit, tinggi atau pendeknya, dan sebagainya). (Lihat Ibnu Katsier, An Nihayah 2:70)

Al Imam Ghazali berkata, “Bilamana orang mengatakan bahwa si A itu baik kholqun dan khulqunnya, maka si A itu baik sifat lahir dan bathinnya.”

Dalam pengertiqan sehari-hari, akhlaq umumnya disamakan dengan budi pekerti, kesusilaan atau sopan santun. Dalam bahasa Indonesia disebut juga moral atau ethio dalam bahasa Inggris.

Sedangkan dalam istilah, akhlaq dapat disimpulkan sebagai suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang peling dalam, yang darinya timbul perbutan-perbuatan yang mudah, tidak memerlukan pertimbangan terlebih dahulu. (lihat definisi akhlaq dari Ibnu Maskawaih dan Imam Al Ghazali dalam kitab Tahdzib al Akhlaq wa Tathir al Araq dan Kitab Ihya Ulumuddin)

Prof. Dr. Ahmad Amin memberikan definisi yang lain dari kedua definisi di atas, yaitu bahwa yang disebut akhlaq adalah kehendak yang dibiasakan. Artinya dari beberapa alternatif keinginan yang ditentukan salah satunya setelah ia mengalami kebimbangan kemudian ketentuan itu dibiasakan dilakukannya secara berulang-ulang, maka kebiasaan tersebut akan menjadi akhlaq.

 

Akhlaq bertawakkal kepada Allah Ta’ala dan Percaya Diri

Orang muslim tidak meyakini tawakkal kepada Allah SWT dalam segala hal sebagai akhlaq semata, namun ia meyakini sebagai kewajiban agama dan aqidah Islam, karena Allah Ta’ala memerintahkannya dalam firman-firman Nya sbb:

وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Dan hanya kepada Allah hendaklah kalian bertawakkal, jika kalian benar-benar orang yang beriman” Qs. Al Maidah: 23

وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

“Dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang yang beriman itu bertawakkal.” Qs. At Taghobun: 13

Karena itulah, tawakkal secara mutlak kepada Allah Ta’ala adalah bagian dari aqidah seorang mu’min kepada Allah ta’ala.

Tulisan sebelumnya:

Ketika seorang mu’min beribadah kepada Allah dengan bertawakkal kepada Nya dan menghadapkan diri secara total ke hadapan Nya, maka ia tidak memahami tawakkal seperti dipahami orang-orang bodoh tentang Islam dan musuh-musuh aqidah kaum muslimin yang memahami bahwa tawakkal itu sekedar ucapan di bibir tanpa dipahami akal, atau tawakkal itu membuang sebab-sebab, atau tidak kerja, atau puas dengan kehinaan di bawah bendera tawakkal kepada Allah Ta’ala, dan ridho dengan takdir yang terjadi padanya.

Tidak seperti itu, orang muslim memahami bahwa tawakkal yang merupakan bagian langsung dari imannya dan aqidahnya ialah taat kepada Allah Ta’ala dengan menghadirkan semua perbuatan yanghendak ia kerjakan. Ia tidak berambisi kepada buah tanpa memberikan sebab-sebabnya, dan tidak mengharapkanhasil tanpa meletakan pengantarnya. Hanya saja pembuahan sebab – sebab tersebut dan produktivitas pengantar-pengantar tersebut ia serahkan sepenuhnya kepada Allah Ta’ala, karena Dia saja Yang Maha Kuasa atas hal tersebut, dan bukan yang lain.

Jadi tawakkal bagi orang muslim ialah perbuatan, dan harapan dengan disertai hati yang tenang, jiwa yang tentram, dan keyakinan kuat bahwa apa yang dikehendaki Allah Ta’ala pasti terjadi, apa yang tidak dikehendaki Nya tidak akan terjadi, dan Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik.

Karena orang muslim mempercayai ketentuan-ketentuan Allah Ta’ala pada alam semesta, maka ia menyiapkan sebab-sebab yang diperlukan bagi semua perbuatannya, berusaha sekuat tenaga menghadirkan sebab-sebab tersebut, dan menyempurnakannya. Ia tidak meyakini bahwa sebaba-sebab adalah satu-satunya jaminan untuk tercapainya tujuan dan kesuksesan usaha. Ia tidak meyakini peletakan sebab-sebab di atas yang diperintahkan Allah Ta’ala yang wajib ia taati sebagaimana ia taat kepadaNya dalam perintah dan larangan Nya. Adapun pencapaian hasil, dan sukses, maka orang muslim menyerahkan kepada Allah, karena hanya Dia Yang Maha Kuasa atas hal tersebut dan bukan orang lain. Apa yang dikehendaki Allah Ta’ala pasti terjadi, dan apa yang tidak dikehendaki Nya pasti tidak akan terjadi. Ya, berapa banyak orang yang bekerja keras, namun ia tidak sempat memakan hasil usahanya dan berapa banyak petani yang tidak memanen apa yang telah ia tanam.

Dari sinilah, orang muslim meyakini bahwa hanya bersandar kepada sebab-sebab dan menganggapnya sebagai puncak segala sesuatu dalam merealisasi tujuannya adalah kekafiran, kesyirikan, dan ia berlepas diri dari padanya. Ia juga berkeyakinan bahwa meninggalkan sebab-sebab yang diperlukan bagi perbuatannya padahal ia mampu menyiapkan dan menyediakannya adalah kefasikan, dan kemaksiatan yang ia haramkan, dan meminta ampunan kepada Allah Ta’ala dan dari keduanya.

Dalam pandangannya terhadap sebab-sebab ini, orang muslim menyandarkan nilai filosofinya kepada ruh ke-Islaman dan ajaran Nabinya. Rosululloh SAW dalam seluruh peperangannya yang panjang tidak pernah sekalipun memasuki arena perang hingga beliau menyiapkan perbekalan untuknya, dan menyiapkan sebab-sebab untuknya, misalnya memilih lokasi perang, dan pengaturan waktunya.

Diriwayatkan dari Rasululloh SAW bahwa beliau tidak memulai penyerangan di hari yang panas kecuali setelah suasananya menjadi dingin, dan beliau melakukan penyerangan setelah membuat rencana matang, dan mengatur barisan-barisan tentaranya. Setelah menyelesaikan persiapannya yang matang, beliau menengadahkan kedua tangannya berdo’a kepada Allah azza wa jalla,

((اللهم منزل الكتاب ومجري السحاب وهزم الأحزاب أحزمهم وأنصرنا عليهم))

Artinya: “Ya Allah yang menurunkan Al Kitab, menjalankan awan, dan mengalahkan pasukan sekutu, hancurkan musuh-musuh itu, dan menangkan kami atas mereka” Muttafaqun ‘Alaihi

Begitu juga petunjuk beliau dalam menggabungkan sebab-sebab materi dengan sebab-sebab immaterial, menyerahkan kesuksesan usahanya kepada Allah Ta’ala, dan kehendak Nya.

Contoh lainnya, Rasululloh SAW menunggu perintah Allah ta’ala untuk hijrah ke Madinah setelah sebelumnya sahabat-sahabat terkemuka hijrah ke sana, dan betul perintah tersebut datang kepada beliau. Langkah-langkah yang disusun Rasululloh SAW untuk kesuksesan hijrahnya sebagai berikut:

  1. Memanggil sahabat pilihan yang tidak lain adalah Abu Bakar Ash Shidiq untuk menemani beliau dalam perjalannya ke negeri hijrah.
  2. Menyiapkan bekal perjalanan, makanan dan minuman. Asma’ binti Abu Bakar mengikat perbekalan tersebut dengan ikat pinggangnya, hingga ia dijuluki “Wanita yang memiliki dua ikat pinggang”
  3. Menyiapkan hewan kendaraan yang siap dinaiki dalam perjalanan yang sulit dan panjang.
  4. Menyertakan seorang penunjuk jalan yang mengetahui jalan-jalan yang sulit agar orang tersebut menjadi pemandu dalam perjalanan yang sulit ini.
  5. Ketika beliau hendak keluar dari rumahnya yang dikepug musuh-musuhnya -agar beliau tidak bisa keluar dari padanya-, maka beliau menyuruh anak pamannya, Ali bin Abi Tholib RA untuk tidur di ranjangnya guna mengelabui musuh-musuhnya yang menunggu di luar rumah yang akan membunuhnya. Setelah itu, beliau keluar dari rumah dengan tenang tanpa diketahui oleh musuh -musuhnya.
  6. Ketika orang-orang musyrikin mengejar beliau, dan sibuk mencari beliau bersama Abu Bakar yang ikut bersama beliau, maka beliau masuk ke Gua Tsur dan berlindung diri di dalamnya dari penglihatan mata orang-orang yang mencari dan dendam kepada beliau.
  7. Ketika Abu Bakar berkata, “Seandainya salah seorang dari mereka melihat ke bawah kakinya, mereka pasti bisa melihat kita, wahai Rasululloh!” Maka Rosul SAW bersabda, “Bagaimana dugaanmu terhadap dua orang, wahai Abu Bakar, bahwa pihak ketiga adalah Allah?”

Dari peristiwa-peristiwa di atas yang memperlihatkan hakikat-hakikat iman, dan tawakkal itu bisa dilihat bahwa rosululloh SAW tidak memungkiri sebab-sebab, tidak bergantung hanya ke padanya, dan sebab terakhir bagi orang mu’min ialah menghadapkan dirinya kepada Allah Ta’ala, dan menyerahkan seluruh persoalannya kepada Nya dengan percaya diri, dan hati yang tenang.

Ketika Rosul SAW mengerahkan semua sarana kepada keselamatan hingga beliau berada di gua gelap yang dihuni kalajengking dan ular-ular, maka beliau berkata dengan yakin dalam kapasitasnya sebagai orang mu’min dan tawakkal kepada sahabatnya yang dihinggapi ketakutan, “Engkau jangan sedih, sesungguhnya Allah bersama kita. Hai Abu Bakar, bagaimana menurutmu terhadap dua orang, bahwa pihak ketiga adalah Allah?”

Dari petunjuk Nabi dan pengajarannya inilah orang muslim mengambil sebab-sebab. Jadi bukan pembuat bid’ah, namun ia pengikut setia junjungannya.

Adapun bergantung kepada diri sendiri, maka orang muslim tidak memahaminya seperti pemahaman orang-orang yang tidak kenal dengan diri mereka sendiri karena kemaksiatan mereka. Mereka berpendapat bahwa percaya diri ialah: memutuskan hubungan dengan Allah Ta’ala, seorang hamba itu pencipta seluruh amal perbuatannya, ia mewujudkan kesuksesan dengan dirinya sendiri, dan bahwa Allah ta’ala tidak memiliki keterlibatan di dalamnya. Maha Besar Allah atas apa yang mereka pahami.

Ketika orang muslim berpendapat bahwa hukumnya wajib bergantung pada diri sendiri dalam amal perbuatannya, maka yang ia maksudkan ialah bahwa ia tidak menampakan kebutuhannya kepada amal perbuatannya, dan tidak menggantungkannya kepada orang lain. Jika ia ingin memenuhi kebutuhannya dengan dirinya sendiri, ia tidak meminta tolong siapapun kecuali kepada Allah Ta’ ala, karena meminta tolong kepada selain Allah adalah menggantungkan hati kepada selain Allah, dan jelas sikap ini tidak disukai dan tidak diridhoi oleh orang muslim.

Dalam hal ini, orang muslim, berjalan di atas jalan orang-orang sholih, dan ketentuan orang-orang yang jujur. Jika cambuk salah seorang dari mereka terlepas dari tangannya ketika ia mengendarai kudanya maka ia turun ke tanah untuk mengambilnya, dan tidak mehyuruh orang lain untuk mengambilkannya. Rosul SAW membai’at orang muslim untuk mendirikan sholat, membayar zakat dan tidak meminta kepada siapapun selain kepada Allah untuk memenuhi kebutuhannya.

Jika orang muslim hidup di atas aqidah tentang tawakkal kepada Allah Ta’ala dan bergantung kepada diri sendiri, ia mengisi aqidahnya dan mengembangkan akhlaqnya dengan cara menghadapkan hati dari waktu ke waktu kepada ayat – ayat al Qur’an dan hadits –hadits nabawi. Ia mengambil aqidah, dan akhlaq dari keduanya. Ayat-ayat al Qur’an, dan hadits-hadits nabawi adalah sebagai berikut:

Firman Allah ta’ala:

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ

Artinya: “Dan bertawakkallah kepada Allah Yang Hidup (Kekal) Yang Tidak Mati. ” Qs. Al Furqon: 58

 

وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

Artinya: “Dan mereka menjawab, ‘Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung’.” Qs. Ali Imron: 173

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
Artinya: “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakkal.” Qs. Ali Imron: 159

Rosul SAW bersabda yang artinya: “Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan tawakkal yang sebenar-benarnya, maka kalian pasti diberi rizki sebagaimana burung diberi rizki, ia pergi pada pagi hari dalam perut kosong, kemudian pulang pada sore harinya dalam keadaan kenyang.” Diriwayatkan At Tirmidzi yang menghasankannya.

Sabda Rosul SAW jika keluar dari rumahnya, artinya: “Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah, dan tidak ada daya dan upaya kecuali Allah”

Sabda Rosul SAW tentang tujuh puluh ribu orang yang masuk usyurga tanpa hisab dan siksa yang artinya: “Mereka orang –orang yang tidak minta dibuatkan ruqyah, tidak mem-kay (kay; melakukan pengobatan dengan menusukan besi panas kepa bagian tubuh yang sakit, penukil) dirinya, tidak berthatayyur, dan bertawakkal kepada Allah.” Muttafaqun ‘alaihi

 

Tatanan Peradaban pada jaman Jahiliyah sebelum dan saat Nabi SAW di utus

Perlu diketahui bahwa penulis hanya menukil gambaran tentang kebobrokan kehidupan moral masyarakat jahiliyah, kita tidak dapat memungkiri bahwa masyarakat Jahiliyah identik dengan kehidupan nista, pelacuran dan hal-hal lain yang tidak dapat diterima oleh akal sehat dan ditolak oleh perasaan.

Namun begitu, mereka juga mempunyai akhlaq mulia dan terpuji yang amat menawan siapa saja dan membuatnya terkesima dan takjub. Di antara akhlaq tersebut adalah: kemurahan hati, menepati janji, kebanggaan pada diri sendiri dan sifat pantang menerima pelecehan dan kezhaliman, tekad yang pantang surut, lemah lembut, & ketenangan dan kewaspadaan.

Terdapat beragam klasifikasi dalam tatanan masyarakat ‘Arab di mana antar satu dengan lainnya, kondisinya berbeda-beda.

Hubungan seorang laki-laki dengan keluarganya di lapisan kaum bangsawan mendapatkan kedudukan yang amat terpandang dan tinggi, kemerdekaan berkehendak dan pendapat yang mesti didengar mendapatkan porsi terbesar. Hubungan ini selalu dihormati dan dijaga sekalipun dengan pedang yang terhunus dan darah yang tertumpah. Seorang laki-laki yang ingin dipuji karena kemurahan hati dan keberaniannya di mata orang Arab, maka hendaklah waktunya yang banyak hanya dipergunakan untuk berbicara dengan wanita. Jika seorang wanita menghendaki, dia dapat mengumpulkan suku-suku untuk kepentingan perdamaian, namun juga dapat menyulut api peperangan di antara mereka. Meskipun demikian, tak dapat disangkal lagi bahwa seorang laki-laki adalah kepala keluarga dan yang menentukan sikap didalamnya. Hubungan antara laki-laki dan wanita yang berlangsung melalui akad nikah dan diawasi oleh para walinya (wanita). Seorang wanita tidak memiliki hak untuk menggurui mereka.

Sementara kondisi kaum bangsawan demikian, kondisi yang dialami oleh lapisan masyarakat lainnya amat berbeda. Terdapat beragam gaya hidup yang bercampur baur antara kaum laki-laki dan wanita. Kami hanya bisa mengatakan bahwa semuanya adalah berupa pelacuran, gila-gilaan, pertumpahan darah dan perbuatan keji. Imam Bukhari dan lainnya meriwayatkan dari ‘Aisyah radhiallâhu ‘anha bahwa pernikahan pada masa Jahiliyah terdiri dari empat macam:

Pertama, pernikahan seperti pernikahan orang sekarang; yaitu seorang laki-laki mendatangi laki-laki yang lain dan melamar wanita yang dibawah perwaliannya atau anak perempuannya, kemudian dia menentukan maharnya dan menikahkannya.

Kedua, seorang laki-laki berkata kepada isterinya manakala ia sudah suci dari haidnya, “Pergilah kepada si fulan dan bersenggamalah dengannya”, kemudian setelah itu, isterinya ini ia tinggalkan dan tidak ia sentuh selamanya hingga tampak tanda kehamilannya dari laki-laki tersebut. Dan bila tampak tanda kehamilannya, bila si suaminya masih berselera kepadanya maka dia akan menggaulinya. Hal tersebut dilakukan hanyalah lantaran ingin mendapatkan anak yang pintar. Pernikahan semacam ini dinamakan dengan nikah al-Istibdha’.

Ketiga, sekelompok orang dalam jumlah yang kurang dari sepuluh berkumpul, kemudian mendatangi seorang wanita dan masing-masing menggaulinya. Jika wanita ini hamil dan melahirkan, kemudian setelah berlalu beberapa malam dari melahirkan, dia mengutus kepada mereka (sekelompok orang tadi), maka ketika itu tak seorang pun dari mereka yang dapat mengelak hingga semuanya berkumpul kembali dengannya, lalu si wanita ini berkata kepada mereka: “kalian telah mengetahui apa yang telah kalian lakukan dan aku sekarang telah melahirkan, dan dia ini adalah anakmu wahai si fulan!”. Dia menyebutkan nama laki-laki yang dia senangi dari mereka, maka anaknya dinasabkan kepadanya.

Keempat, Banyak laki-laki mendatangi seorang wanita sedangkan si wanita ini tidak menolak sedikitpun siapa pun yang mendatanginya. Mereka ini adalah para pelacur; di pintu-pintu rumah mereka ditancapkan bendera yang menjadi simbol mereka dansiapa pun yang menghendaki mereka maka dia bisa masuk. Jika dia hamil dan melahirkan, laki-laki yang pernah mendatanginya tersebut berkumpul lalu mengundang ahli pelacak (al-Qaafah) kemudian si ahli ini menentukan nasab si anak tersebut kepada siapa yang mereka cocokkan ada kemiripannya dengan si anak lantas dipanggillah si anak tersebut sebagai anaknya. Dalam hal ini, si laki-laki yang ditunjuk ini tidak boleh menyangkal. Maka ketika Allah mengutus Nabi Muhammad SAW, beliau hapuskan semua pernikahan kaum Jahiliyah tersebut kecuali pernikahan yang ada saat ini.

Dalam tradisi mereka, antara laki-laki dan wanita harus selalu berkumpul bersama dan diadakan dibawah kilauan ketajaman mata pedang dan hulu-hulu tombak. Pemenang dalam perang antar suku berhak menyandera wanita-wanita suku yang kalah dan menghalalkannya. Anak-anak yang ibunya mendapatkan perlakuan semacam ini akan mendapatkan kehinaan semasa hidupnya.

Kaum Jahiliyah terkenal dengan kehidupan dengan banyak isteri (poligami) tanpa batasan tertentu. Mereka mengawini dua bersaudara, mereka juga mengawini isteri bapak-bapak mereka bila telah ditalak atau karena ditinggal mati oleh bapak mereka.

Allah berfirman: “Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh).(22) Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (Dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(23)”. [Q.,s. 4/an-Nisa’: 22-23]. Hak mentalak ada pada kaum laki-laki tetapi tidak memiliki batasan tertentu.

Perbuatan zina merata pada setiap lapisan masyarakat. Tidak dapat kita mengkhususkan hal itu kepada satu lapisan tanpamenyentuh lapisan yang lainnya. Ada sekelompok laki-laki dan wanita yang terkecuali dari hal tersebut. Mereka adalah orang-orang yang memiliki jiwa besar dan menolak keterjerumusan dalam lumpur kehinaan. Wanita-wanita merdeka kondisinya lebih bagus dari kondisi para budak wanita. Kondisi mereka (budah wanita) amat parah sekali. Nampaknya, mayoritas kaum Jahiliyah tidak merasakan keterjerumusan dalam perbuatan keji semacam itu menjadi suatu aib bagi mereka. Imam Abu Daud meriwayatkan dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata: seorang laki-laki berdiri sembari berkata: wahai Rosulullah!

Sesungguhnya si fulan adalah anakku dari hasil perzinaanku dengan seorang budak wanita pada masa Jahiliyah. Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian bersabda: “tidak ada dakwaan dalam Islam (yang berkaitan dengan masa Jahiliyah). Urusan yang terkait dengan masa Jahiliyah telah lenyap. Seorang anak adalah dari hasil ranjang (dinasabkan kepada yang empunya ranjang,yaitu suami yang dengan nikah yang shah-penj), sedangkan kehinaan adalah hanya bagi wanita pezina”. Begitu juga dalam hal ini, terdapat kisah yang amat terkenal yang terjadi antara Sa’ad bin Abi Waqqash dan ‘Abd bin Zam’ah dalam mempersoalkan nasab anak dari budak wanita Zam’ah, yaitu ‘Abdur Rahman bin Zam’ah.

Sedangkan hubungan antara seorang bapak dengan anak-anaknya, amat berbeda-beda; diantara mereka ada yang menguraikan rangkaian bait:

“Sungguh kehadiran anak-anak di tengah kami
Bagai buah hati, berjalan melenggang di atas bumi…”

Di antara mereka, ada yang mengubur hidup-hidup anak- anak wanita mereka karena takut malu dan enggan menafkahinya. Anak laki-laki dibunuh lantaran takut menjadi fakir dan melarat. Allah berfirman: “…dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rizki kepadamu dan kepada mereka..”. (Q.,s.6/al-An’am:151). Allah juga berfirman:

“Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah.(58) Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu. (59)”. (Q.,s. 16/an-Nahl: 58-59). Allah berfirman lagi: “Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kami lah Yang akan memberi rizki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar”.(Q.,s. 17/al-Isra’: 31). Allah berfirman dalam ayat yang lain: “dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya”. (Q.,s. 81/at-Takwir: 8). Akan tetapi kita tidak bisa menganggap bahwa apa yang termaktub dalam ayat-ayat diatas telah mencerminkan moral yang berlaku umum di masyarakat. Di sisi lain, mereka justru sangat mengharapkan anak laki-laki untuk dapat membentengi diri mereka dari serangan musuh.

Sedangkan pergaulan antar seorang laki-laki dengan saudaranya, anak-anak paman dan kerabatnya sangat kental dan kuat. Mereka hidup dan mati demi fanatisme kesukuan. Semangat untuk bersatu begitu membudaya antar sesama suku yang menambah rasa fanatisme tersebut. Bahkan prinsip yang dipakai dalam sistem sosial adalah fanatisme rasial dan hubungan tali rahim. Mereka hidup dibawah semboyan yang bertutur: “Tolonglah saudaramu baik dia berbuat zhalim ataupun dizhalimi”. Mereka menerapkan semboyan ini sebagaimana adanya, tidak seperti arti yang telah diralat oleh Islam yaitu menolong orang yang berbuat zhalim maksudnya mencegahnya melakukan perbuatan itu. Meskipun begitu, perseteruan dan persaingan dalam memperebutkan martabat dan kepemimpinan seringkali mengakibatkan terjadinya perang antar suku yang masih memiliki hubungan se-bapak. Kita dapat melihat fenomena tersebut pada apa yang terjadi antara suku Aus dan Khazraj, ‘Abs dan Dzubyan, Bakr dan Taghlib, dan lain-lain.

Di lain pihak, hubungan yang terjadi antar suku yang berbeda-beda benar-benar berantakan. Kekuatan yang ada mereka gunakan untuk berjibaku dalam peperangan. Hanya saja terkadang, rasa sungkan serta rasa takut mereka terhadap sebagian tradisi dan kebiasan bersama yang sudah ada dan berlaku antara ajaran agama dan khurafat sedikit mengurangi deras dan kerasnya genderang perseteruan tersebut. Dan dalam kondisi tertentu, loyalitas, persekutuan dan subordinasi yang terjalin menyebabkan antar suku yang berbeda berangkul dan bersatu. Dan satu-satunya yang merupakan rahmat dan penolong bagi mereka adalah adanya bulan-bulan yang diharamkan berperang (al-Asyhurul Hurum) sehingga mereka dapat menghirup kehidupan dan mencari rizki guna kebutuhan sehari-hari.

Singkat kata, bahwa kondisi sosial yang berlaku di masyarakat Jahiliyah benar-benar rapuh dan dalam kebutaan. Kebodohan mencapai puncaknya dan khurafat merajalela dimana-mana. Orang-Orang hidup layaknya binatang ternak. Wanita diperjual belikan bahkan terkadang diperlakukan bak benda mati. Hubungan antar umat sangat lemah, sementara setiap ada pemerintahan maka ujung -ujungnya hanyalah untuk mengisi gudang kekayaan mereka yang diambil dari rakyat atau menggiring mereka untuk berperang melawan musuh-musuh yang mengancam kekuasaan mereka.