Daily Archives: 22 Januari 2011

Di Mana Ada Kemauan, Di Situ Ada Jalan!

//

 

Ahad, 19 Desember 2010

Hidayatullah.com–SAYA punya pengalaman buruk. Dulu, ketika SMA, saya pernah ikut olimpiade sains tingkat propinsi yang bertempat di Semarang, Jawa Tengah. Ketika itu, saya hanya bisa berada di posisi sepuluh besar. Kendati jauh dari yang saya harapkan, tapi saya tak kecewa. Setidaknya, saya telah berusaha semaksimal mungkin.

Tapi, hal yang membuat saya sangat kecewa adalah para peserta yang dapat juara ternyata si “mata sipit”, China. Tak ada satu pun pelajar pribumi Muslim. Saya sendiri ketika itu utusan dari sekolah kecil di kota terpencil Grobogan. Tak pelak, sebagai pelajar pribumi Muslim, hal itu membuatku kurang PD.

Pengalaman itulah yang memompa semangatku agar lebih semangat belajar dan berprestasi. Tak sewajarnya kalah dengan mereka yang berbeda agama apalagi minoritas jumlahnya. Padahal, sebagai Muslim, seharusnya memiliki kualitas ilmu yang jauh lebih dahsyat ketimbang mereka. Bukankah sejarah Islam selama ini mengatakan, umat Islam selalu mendapat kemenangan dalam setiap pertempuran. Padahal, jumlah mereka lebih sedikit.

Sejak itu, saya berniat belajar hingga doktor meski kondisi ekonomi sangat tipis. Orangtuaku hanya petani kecil biasa. Hasilnya hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, mustahil jika untuk biaya kuliahku. Usai SMA, saya melanjutkan perguruan tinggi swasta di Surabaya. Alhamdulillah, selama kuliah, saya mendapat beasiswa penuh; SPP, makan plus asrama. Saya pun hanya tinggal mencari biaya tambahan sehari-hari untuk buku, sabun dan lain sebagainya.

Untuk mendapatkan itu, saya terkadang ngajar les private, jual majalah hingga menjadi juru pungut donatur di sebuah lembaga amil zakat. Semuanya saya lakukan dengan senang hati hingga lulus kuliah. Selama kuliah saya jadi mahasiswa terbaik dan ketika lulus pun dengan predikat cum laude. Satu tangga sudah saya lalui. Plong.

Seperti cita-cita tadi. Saya haru terus kuliah. Saya harus tapaki tangga lainnya lagi yang masih tinggi dan mendaki. Karena itu, setahun usai S1, saya kemudian melanjutkan S2 di perguruan tinggi negeri ternama di kota Jember, Jatim. Padahal, waktu itu tak punya modal, hanya yakin saja di mana ada kemauan di sana ada jalan. Betul saja, setelah kuliah S2, ternyata rezeki datang dari mana saja. Tak terduga.

Untuk memenuhi biaya S2 dan kebutuhan lainnya, saya membuka bimbingan belajar (Bimbel). Saya mengumpulkan puluhan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jember untuk jadi guru les di tempat bimbel yang telah saya buat. Dari situ, saya bisa memiliki ratusan murid les. Setiap bulannya saya bisa meraup bersih Rp. 3 juta lebih. Setidaknya, dari usaha itu bisa menutupi biaya kuliahku. Hal itu pun membuat saya jadi lebih yakin bahwa jika ada kemauan, pasti ada jalan. Tinggal mau berusaha atau tidak.

Jalan mulus pun tak jarang saya lalui selama menimba ilmu. Ketika itu ada seorang kenalan yang ingin menjual tanahnya, luasnya sekitar 10 hektar. Dia minta dicarikan pembeli. Kebetulan, dosen saya punya rekan yang butuh lahan untuk membuka usaha.

Dan, Alhamdulillah cocok. Saya pun berhasil memediasikan jual beli itu. Tak disangka, dari hasil cuap-cuap itu saya dapat imbalan fantastis. Padahal, di awal, saya tak mematok harga atas apa yang saya lakukan itu. Uang cukup banyak itu lalu saya investasikan untuk membeli pohon sengon. Sekitar dua tahun, waktu normal kuliah S2, saya akhirnya lulus juga. Tangga ke dua berhasil saya lalui. Plong.

Melanjutkan sekolah

Usai lulus S2, saya pun langsung melanjutkan ke jenjang doktor.  Saya mengambil di perguruan tinggi negeri ternama di Semarang, Jateng dengan jurusan yang sama. Seperti sebelumnya, saya memciptakan usaha untuk menopang biaya kuliah dan hidup. Saya membuka usaha warteg. Kini sudah ada tujuh warteg yang saya kelola. Selain itu saya juga bisnis lainnya; jual beli batik dan sebagainya.

Dari situ saya sudah cukup mendapat keuntungan. Tak hanya itu, tesis saya, “Marketing Sekolah” juga dibeli Dikti seharga Rp 50 juta. Selama kuliah, S1, S2 hingga S3 (masih proses), saya merasakan ada bukti dari falsafah itu; \”Jika ada kemauan pasti ada jalan.\”

Saya pun semakin yakin untuk menapaki tangga-tangga lainnya yang masih tinggi dan terjal. Asal ada keingginan dan usaha yang keras.

Tapi, tangga-tangga yang saya lalui itu tidak hanya untuk sekedar mengoleksi gelar saja. Jauh dari itu, saya ingin membangun lembaga pendidikan yang berkualitas yang mampu menciptakan out put unggul baik di bidang agama maupun umum. Menciptakan pelajar Muslim yang tidak kalah hebat.

Mungkin, orang yang mengetahui cita-citaku itu akan pesimistis atau setidaknya mencemooh “Masa anak petani miskin punya cita-cita tinggi.” Tapi, saya tetap yakin, di mana ada keinginan pasti ada jalan. Dan, keinginan itu pun telah saya rintis.

Insya Allah, saya akan membeli lahan di sebuah daerah dingin yang representatif di daerah Semarang. Di sana, jika tidak ada aral melintang, rencananya akan membangun lembaga pendidikan. Saya pun telah merancangnya dari sekarang. Hasil dari investasi 20 hektar pohon sengon pun akan saya tanamkan di situ. InsyaAllah. [ans, seperti dikisahkan Iskandar kepada hidayatullah.com

Tentramnya Hati Sang Mantan Preman Kramat Tunggak

// <![CDATA[//

Sabtu, 22 Januari 2011

BUKU berjudul “Fragmentasi Sejarah Islam Indonesia” karya Ahmad Adaby Darban, terselip di kantong sisi kiri celananya. Mengenakan seragam sekuriti warna abu tua, pria berperawakan tegap itu tergopoh gopoh menyusuri koridor lapang menuju ruang Sekretariat Jakarta Islamic Center (JIC), Jl. Kramat Raya, Koja, Tanjung Priok, Jakarta Utara, siang jelang pertengahan bulan Januari (13/01) lalu.

Pria murah senyum itu, Dian Apriyadi, 46 tahun, dipanggil H. Paimun, Kepala Humas JIC yang menyambut hidayatullah.com siang itu di kantornya.

“Ok, siap. Habis shalat Ashar ya,” ujar Dian, menanggapi permintaan bincang-bincang hidayatullah.com. Seraya mengulum senyum lebar, kami bergegas  menuju ruang utama masjid karena kumandang adzan Ashar telah berbunyi.

Berkarir sebagai sekuriti di lingkungan Jakarta Islamic Center yang luasnya 5,6 hektar itu, begitulah kesibukan sehari hari lelaki yang biasa disapa Pak Dian ini. Melaporkan, mendatangi panggilan, menyampaikan pesan, dan mengamankan, sekaligus menjadi “ahli masjid”.

Di JIC, Dian bekerja sebagai sekuriti selama 8 jam sehari dengan sistem shift malam dan siang. Kalau bertugas malam ia berangkat jam 05:00 kalau tugas siang star jam 07:00.

***

Dian adalah anak Betawi asli lahir di bilangan Haji Ung, Kemayoran, Jakarta Pusat, 46 tahun silam. Masa kanak kanak hingga dewasa dihabiskan di Tanjung Priok. Di daerah inilah ia kemudian pernah berkenalan serta bergumul dengan pikuk erotisme malam malam di Kramat Tunggak, lokalisasi seks populer di Jakarta, yang kini telah disulap menjadi Islamic Centre (JIC).

Dian bekerja sebagai tukang parkir dan keamanan di lokalisasi Kramat Tunggak sejak tahun 1972. Kala itu, biaya parkir masih 100 perak. Keberadaan Kramat Tunggak kala itu sebenarnya diuntukkan pertama kali untuk rehabilitasi dengan nama “Teratai Harapan”. Harapannya, agar para pelacur bisa dibina. Namun lama lama, karena tidak ada perhatian serius dari pemerintah, “Teratai Harapan” berubah fungsi menjadi lokalisasi mewah bisnis esek esek di Jakarta.

“Dulu daerah ini susah dijangkau,” kisah Dian.

Selain menjadi preman dan juru parkir,  ia juga menjadi guide (pemandu) para lelaki hidung belang yang datang “bertamu”. Tugasnya memperkenalkan bos-bos yang datang dengan para pelacur melalui mucikari. Ia kemudian mencocok-cocokkan pilihan pelanggan yang datang.

Selama menjadi preman itu, Dian merasa kehidupannya sudah sangat glamor. Uang tidak pernah putus di kantong. Namun masalahnya, uangnya lekas sekali habis tanpa arti karena dipakai minum dan main judi.

“Walaupun serba cukup, tapi saya rasakan tidak ada enaknya,” katanya mengenang.

Ia mengisahkan, bersama sejumlah sejawatnya di lokalisasi itu,  mabuk mabukan sudah menjadi tradisi dan dianggap sebagai bahasa pengantar wajib dalam setiap momentum. Baginya, kalau tidak minum, maka tidak dapat duit. Dan hal itu sudah menjadi semacam kesepakatan tak tertulis di antara mereka.

Karena kebiasaan buruk itu, bahkan ketika  Kramat Tunggak telah ditutup dan ia telah bekerja di JIC tahun 2004, tradisi buruk itu masih berlanjut. Pernah bulan Ramadhan ia berfoya foya seenak hati. Akibatnya, empat hari menjelang lebaran, gaji yang sudah diterimanya di awal, ludes total.

Dalam keadaan miskin harta , Dian memberanikan diri pulang ke rumah. Ia disambut istrinya dan sempat menanyakan apakah ada uang untuk beli pakaian baru lebaran anak anak.

“Kok bapak masih mabuk aja, gak ada kapok kapoknya,” cecar istrinya ketika itu. Dian beringsut, yang ia rasakan, kepalanya mau pecah saja.

“Saya juga bingung, saya juga mau berubah,” begitu jawab Dian.

Setelah kejadian itu, Dian acap kali merenung. Tak jarang ia berfikir, salah apa dirinya kok tidak bisa berubah dan tidak bisa bertaubat.

Apalah daya, duit tak punya. Selama 3 hari setelah lebaran tahun itu, Dian tidak pulang  ke rumah. Padahal jarak rumahnya dengan JIC hanya sepelemparan batu. Dian mengaku sangat malu kepada istri dan anak anaknya. Bersama sejumlah teman-teman dekatnya, saban malam ia tidur di bekas gedung milik Adi Karya yang berlokasi sekitar JIC.

Suatu malam, ia mendapatkan kejadian yang tak bisa lepas dari ingatannya. Saat itu, di malam ketiga, sekitar pukul 02:00 WIB, ia baru saja mabuk bungsa selasih. Dian tiba-tiba terjaga dari peraduannya dan berkomat-kamit menyebut asma Allah berjanji tidak akan merokok dan minum minum lagi.

Sejak peristiwa yang tak bisa dilaupakannya itu, Dian tidak pernah lagi merokok dan minum.

Kisah spiritual yang didapatkan Dian dilalui dengan beberapa kejadian-kejadian yang dialaminya. Pernah juga, saat sedang bekerja menjadi juru parkir, dari dalam Masjid JIC, Dian mendengar ustadz berceramah membahas tentang infaq.

“Setiap penghasilan kita ada hak orang lain 2,5 persen,” ucap Dian menirukan kalimat yang menyentuh hatinya itu.

Siang itu, setelah mendengar ceramah itu, Dian pun berjanji dalam hati akan mengeluarkan infaq 25 ribu dari gajinya nanti.

“Alhamdulillah, tenyata benar benar ada perubahan,” imbuhnya.

Berkah Kehidupan

Menurut pengetahuan Dian, Kramat Tunggak ditutup bukan karena ada demo. Justru demo mulai marak dilakukan ketika menjelang penutupan saja pada tahun 1999. Dian memuji  Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso kala itu yang dinilai punya cara bagus menutup lokalisasi pelacuran tersebut.

“Beliau mengajak mediasi seluruh masyarakat. Gubernur datang memantau, mahasiswa datang meneliti. Mereka menasehati,” demikian kisah suami dari Juriyah ini.

Pada saat penggusuran terjadi, jelas Dian, dirinta sangat bersyukur. Bukan karena mendapat ganti rugi, tapi dia mengaku malah mendapat ganti untung. Yang sebelumnya tidak ada pekerjaan, kini ia bisa dapat pekerjaan tetap. Yang rumuahnya tergusur juga diganti.

Ketika lokalisasi ini ditutup oleh Gubernur Sutiyoso tahun 1999, pas  juga menjelang Ramadhan. Sehingga kondisinya dinilai Dian, pas momennya. Semua orang pada tenang-tenang. Tidak ada keributan.

Kini, di luar kesibukannya, menjadi staf keamanan di JIC, Dian juga aktif menjadi pendidik dan guru untuk anak anaknya. Sebagai orangtua, Dian mengaku tidak bisa memaksakan kehendaknya kepada anak anak. Dia bersyukur, sebab anak-anaknya baik-baik saja, tidak ada yang merokok, apalagi minum-minuman keras. Mereka juga sudah mengerti tentang latar belakang ayahnya.

Dalam membina anak-anaknya, Dian mengaku biasa melakukan sharing dengan istri tercintanya. Banyak hal yang mereka bicarakan tentang anak-anak mereka.

“Biasanya menjelang tidur, atau sebelum berangkat kerja,” papar pria yang gemar membaca ini.

Berhasilnya ia lepas dari jerat hitam Kramat Tunggak masa lalu, membuat Dian tak dapat membahasakan kesyukuran. Sudah lebih 10 tahun ini ia mengaku mendapatkan ketentraman hidup dan berumah tangga yang lebih baik sehingga bisa mengarahkan anak anak dan keluarga.

“Prinsip saya dalam mendidik, kita laksanakan dulu sebelum kita sampaikan nasehat kepada anak,” katanya.

Dian menceritakan, saat masih menjadi perokok berat, rutin pengeluarannya untuk biaya asap beracun dan kopi setiap bulannya tidak kurang dari Rp 400 ribu. Hebatnya, setelah berhenti, Dian justru bisa beli motor dengan cicilan selama 3 tahun saja. Pada tahun 2010 lalu, ia bahkan membeli rumah di Cikarang, Bekasi.

“Semua berawal dari berhenti merokok,” katanya.

“Saya seperti orang yang tercebur kemudian dimandikan. Alhamdulillah, kami bisa membersihkan diri di tempat dulu kami main kotor kotor,” ungkapnya, berkaca kaca.

Sekarang Dian sadar betul, bahwa jika mau menemukan ketentraman dan kebahagiaan adalah dengan mengikuti aturan dan tidak melanggar fitrah kemanusiaan.

Kini kakek yang sudah punya 1 orang cucu ini hidup bahagia di dekat masjid JIC bersama istri, keenam orang anaknya, dan Titin Kartina, ibundanya tercinta. * AC/hidayatullah.com

Rep. Ainuddin Chalik
Red. Cholis Akba

Tewas Setelah Operasi Perbesar Payudara 6 Kali

Sabtu, 22 Januari 2011

Hidayatullah.com–Beginilah akibatnya jita tak mensyukuri karunia Allah Swt. Nasib nahas menimpa seorang artis Jerman yang meninggal setelah melakukan operasi pembesaran payudara untuk keenam kalinya.

Artis tersebut adalah Carolin Berger, bintang acara realita TV Jerman yang mendapat julukan Carolin ‘Sexy Cora’ Berger. Berger yang berusia 23 tahun ini meninggal dalam keadaan koma setelah operasi payudara keenam.

Berger yang juga merupakan artis film seks telah bergabung dengan Big Brother versi Jerman tahun lalu. Ia memulai serangkaian operasi pembesaran payudara dalam upaya untuk menjaga publisitasnya sebagai artis film seks.

Dilansir BBC News, Sabtu (22/1/2011), Berger telah mengalami koma sejak 11 Januari lalu karena komplikasi serius setelah operasi keenam, yang berlangsung di sebuah klinik di kota Jerman Utara.

Ia diyakini mengalami dua serangan jantung setelah prosedur untuk memperbesar payudaranya, dari ukuran 70F ke 70G atau versi Inggris dari 34F ke 34G.

Berger ingin menambah ukuran perangkat silikon di payudaranya dari 500 gram menjadi 800 gram, untuk masing-masing payudara, menurut laporan Bild newspaper.

Menurut sebuah tabloid di Hamburg, Jerman, Berger baru saja kembali dari kapal pesiar ke Dubai dengan suaminya. Tepat sebelum operasi, bintang TV yang lahir di Berlin ini sempat mengirimkan foto anjingnya yang tidur di keranjang cucian kepada penggemarnya di twitter.

Jaksa di Hamburg mengumumkan akan menyelidiki dokter anestesi dan ahli bedah yang melakukan operasi di klinik bedah plastik Alster, atas dugaan pembunuhan karena kelalaian.

Karena faktor keamanan, implan silikon memang sempat dilarang oleh badan pengawas obat dan makanan Amerika Serikat, Food Drug Administration (FDA) pada tahun 1992.

Alasan pelarangan ketika itu adalah data yang menunjukkan 0,2-1,1 persen silikon mengalami kebocoran saat ditanam di payudara. Ketika bocor, silikon bisa terserap ke pembuluh darah lalu terbawa dan menumpuk di jaringan lainnya. Sebagian besar penumpukan silikon terjadi di sekitar tulang iga, lengan atas, siku, hati dan yang paling berbahaya adalah di kelenjar getah bening.

Tumpukan silikon dapat menyumbat dan mengganggu fungsi kelenjar yang merupakan salah satu komponen penting dalam sistem kekebalan tubuh tersebut. Akibatnya, kemampuan tubuh untuk melawan kuman penyakit
akan menurun atau hilang sama sekali jika sumbatan itu memicu kerusakan permanen.Nah, marilah kita syukuri dan kita jaga apapun pemberitan Tuhan. *

Cara Mempercepat Kinerja Komputer Anda Tanpa Install Software

Pada posting kali ini saya akan mengajarkan anda tentang cara mempercepat komputer bersama saya Agung AP. Sekarang kita akan membahas bla bla bla…. hehe terlalu baku ya bahasanya? yaudah kalo gitu kita nyante aja belajar tutornya kayak seperti di posting sebelumnya, yok lets go!

Tips ini khusus untuk komputer dengan OS Windows XP, tapiWindows Vista juga bisa. Ada beberapa cara untuk mempercepat kinerja komputer dengan sederhana, sebagai berikut:

A. Mensetting Display Properties

  1. Klik kanan pada Desktop –> Properties
  2. Pilih tab dengan nama Appearance, lalu klik Effects
  3. Nah sekarang sesuaikan settingannya dengan gambar di bawah:

– info tambahan: hilangkan gambar di desktop background (gunakan none pada desktop background) untuk mempercepat kinerja komputer anda.

B. Mensetting System Properties

  1. Klik kanan pada icon My Computer –> Properties
  2. Pilih tab dengan nama Advanced –> klik Settings padaPerformance
  3. Lalu klik pada Adjust for best performance
  4. Kemudian setting sesuai gambar di bawah:
  5. Masi pada Settings di Performance, klik tab dengan namaAdvanced
  6. Pada virtual memory klik change
  7. Samakan jumlah initial size dengan maximum size
  8. Klik SetOK
  9. Restart komputer anda
C. Mensetting Folder Option
  1. Buka My Computer
  2. Klik Tools –> Folder Option di menu bar
  3. Pilih tab dengan nama View
  4. Lalu uncheck pilihan di bawah:
    a. Automatically search for network folders & printers.
    b. Display file size information in folder tips.
    c. Display simple folder view in Explorer’s Folders list.
    d. Show encrypted or compressed NTFS files in color.
    e. Show pop-up description for folder and desktop icons.
    f. Use simple file sharing.
  5. Klik OK
D. Mengunakan Disk Clean Up dan Disk Defragmenter

  1. Klik Start –> All Programs –> Accessories –> System Tools
  2. Pilih Disk Clean Up untuk membersihkan hardisk dari file2 yang tidak dibutuhkan, dan klik Disk Defragmenter untuk mendefrag file2 di hardisk komputer anda. Lakukan ini secara rutin mungkin seminggu sekali.
E. Mensetting Load Menu
  1. Klik Start –> Run
  2. Ketik regeditOK
  3. Expand HKEY_CURRENT_USER
  4. Cari dan expand Control Panel
  5. Cari dan klik Desktop
  6. Cari dan klik 2 kali pada MenuShowDelay, ganti jumlahnya dari400 menjadi 0
  7. Klik OK
F. Mematikan Idexing Service
  1. Klik Start –> Control Panel –> Add/Remove Programs
  2. Klik Add/Remove Windows Components
  3. Uncheck Indexing Services
  4. Klik Next
Demikian tipsnya untuk mempercepat komputer dengan cara sederhana tanpa software apapun, dengan ini komputer anda akan berjalan lebih cepat dan maksimal. Kasi komentar anda ya :)
Sumber: http://www.blogtopsites.com/outpost/b558a78a58d735d48623943492b6c9cd

Imam Ahmad bin Hambal, Ujian dari Empat Rezim (Habis)

Setelah ujian penyiksaan, fitnah, dan penjara dialami Imam Ahmad bin Hambal dari tiga khalifah secara berturut-turut sukses dilalui dengan kesabaran; ujian bentuk lain pun sudah menanti. Dan justru, ujian dari khalifah yang baru ini lebih berat dirasakan Imam Ahmad ketimbang ujian-ujian sebelumnya.

Setelah meninggalnya Al-Watsiq bin Al-Mu’tashim, kekhalifahan pun dipegang oleh Al-Mutawakkil bin Al-Mu’tashim. Seorang khalifah yang pemahaman akidahnya sangat berbeda dengan para pendahulunya.

Al-Mutawakkil melarang seluruh penduduk, siapa pun mereka, untuk memperdebatkan atau membicarakan soal Alquran adalah makhluk. Beliau pun membebaskan seluruh ulama yang sempat masuk penjara karena fitnah dari para khalifah pendahulunya. Sebaliknya, mereka yang sebelumnya disebut sebagai ulama yang mengobarkan fitnah bahwa Alquran adalah makhluk, dipenjara seumur hidup. Dan, harta yang mereka dapatkan dari kekhalifahan sebelumnya disita tanpa syarat.

Para ulama ahlul hadits yang akhirnya mendapat pembebasan bukan saja dibebaskan tanpa syarat, tapi juga dipersilakan dan difasilitasi khalifah untuk melakukan dakwah dan taklim kepada seluruh warganya. Mereka yang pernah dipenjara pun mendapat permohonan maaf dan penghormatan secara khusus dari Khalifah. Termasuk Imam Ahmad bin Hambal.

Khalifah Al-Mutawakkil mengirim surat kepada Gubernur Baghdad untuk mengantar Imam Ahmad bin Hambal menemuinya di istana kekhalifahan.

Salah seorang putera Imam Ahmad, Abdullah, menceritakan bahwa utusan Al-Mutawakkil datang untuk menyampaikan surat undangan. Utusan itu memberitahukan bahwa khalifah sangat mengharapkan kedatangan Imam Ahmad dan doa restunya.

Kemudian, berangkatlah iring-iringan utusan Khalifah yang mengantarkan Imam Ahmad berserta keluarga ke istana Mutawakkil. Sambutan meriah pun diberikan kepada Imam Ahmad. Bahkan, Mutawakkil mengucapkan sebuah kalimat kepada ibunya di saat kedatangan Imam Ahmad. “Wahai Ibunda, saat ini, rumah kita menjadi sangat bercahaya dengan kedatangan Imam Ahmad.”

Selain sambutan yang begitu meriah, Al-Mutawakkil menghadiahkan Imam Ahmad dengan berbagai fasilitas. Mulai dari uang dirham, baju kebesaran, dan lain-lain.

Imam Ahmad tidak memberikan reaksi apa pun dengan sambutan dan berbagai hadiah itu. Lama ia terdiam. Kemudian, tiba-tiba ia menangis. Seluruh yang hadir pun terkejut mendapati reaksi di luar dugaan dari Imam Ahmad.

Imam Ahmad saat itu mengatakan, ”Enam puluh tahun aku diuji dengan berbagai penderitaan. Tapi kini, di penghujung usiaku, engkau uji aku dengan yang ini.” Tak satu pun dari hadiah-hadiah itu yang disentuh Imam Ahmad.

Beberapa waktu berlalu setelah pertemuan itu, Al-Mutawakkil mengirim tunjangan bulanan kepada Imam Ahmad. Tapi, setiap kali utusan khalifah menyampaikan itu, setiap kali itu pula hadiah ditolak Imam Ahmad. Hingga akhirnya, Al-Mutawakkil menulis surat.

Surat itu berbunyi, ”Jika hadiah uang ini tidak diterima oleh Imam Ahmad, biarlah uang ini disedekahkan Imam Ahmad kepada orang lain yang berhak, walaupun tidak bersisa sedikit pun untuk beliau.”

Selain uang, Al-Mutawakkil juga mengirimkan berbagai makanan istimewa termasuk buah-buahan yang dikhususkan buat Imam Ahmad. Tapi, tak sedikit pun dari kiriman itu yang disentuh Imam Ahmad.

Al-Mutawakkil tidak putus asa untuk memberikan hadiah kepada Imam Ahmad. Melalui anak beliau yang bernama Shaleh bin Ahmad bin Hambal, Al-Mutawakkil memberikan rumah khusus yang dinilai layak untuk ditinggali Imam Ahmad.

Shaleh tidak berani menolak pemberian tulus seorang Khalifah. Dan justru, inilah konflik yang terjadi antara Shaleh dengan ayahnya. Setelah mengetahui anaknya menerima pemberian rumah, Imam Ahmad berkata kepada Shaleh, ”Kalau kamu menerima hadiah itu, maka putuslah hubungan antara aku dengan kamu.” Sejak itu, Imam Ahmad tidak pernah masuk ke rumah yang akhirnya ditinggali anaknya itu. Ia tetap tinggal di rumah lamanya yang sangat sederhana.

Begitu pun dengan anak Imam Ahmad yang lain, Abdullah. Melalui Abdullah, Al-Mutawakkil mengirimkan uang bulanan untuk dihadiahkan kepada Imam Ahmad, khususnya untuk membeli makanan-makanan yang layak dan bergizi. Tapi justru, sejak anaknya menerima hadiah dari Khalifah, Imam Ahmad tidak mau mencicipi makanan yang diberikan dari puteranya itu. Walaupun di saat beliau sedang sakit.

Namun, semua itu tidak membuat Imam Ahmad putus kontak dengan Khalifah. Beliau tetap memberikan jawaban dan pengarahan kepada Khalifah. Bahkan, hampir tidak satu pun kebijakan dari Al-Mutawakkil kecuali setelah mendapatkan persetujuan dan pengarahan dari Imam Ahmad.

Seorang murid beliau pernah meminta nasihat dari Imam Ahmad. Beliau mengatakan, ”Seorang ksatria adalah mereka yang berani meninggalkan tuntutan nafsu karena landasan takwa.”

Imam Ahmad pun pernah menyampaikan nasihat, ”Arahkanlah hidupmu untuk selalu mencari balasan akhirat. Sedikit yang kamu peroleh dari dunia, maka sedikit pula hisabmu di akhirat.”

Imam Ahmad bin Hambal meninggal dunia di usia 77 tahun. Beberapa karya besar yang beliau wariskan untuk umat ini begitu tidak ternilai. Di antaranya, Kitab Al-Musnad yang memuat 30 ribu hadits, Kitab At-Tafsir yang memuat 120 ribu hadits, An-Nasikh wal Mansukh, At-Tarikh, Hadits Syu’bah, Al-Muqaddam wal Mutaakhar fil Quran, dan lain-lain. (muhammadnuh@eramuslim.com)