Daftar Situs Islam yang Bermanfaat

INFO DARI MILIS DT DENGAN BEBERAPA TAMBAHAN

Assalamu’alaikum..
Di bawah ini adalah daftar link situs2 Islam dan situs2 bagus. Semoga bermanfaat…

Anak-Anak

http://www.bunyan.co.id Bunyan, Membentuk Generasi Ideal Masa Depan
yang Berakhlak Mulia, Cerdas, Kreatif, Imajinatif

Artikel Islam

http://media.isnet.org Pustaka Online Media ISNET (Islamic Network)
http://www.cintaislam.com CintaIslam.com, Menjalin Cinta dan
Silaturahim
http://www.cybermq.com CyberMQ, Cakrawala Informasi dan Inspirasi
http://www.kaffah.com Kaffah.com, be real muslim be kaffah
http://www.media-islam.or.id Media Islam, Belajar Islam Sesuai Al
Qur’an dan Hadits
http://www.mediamuslim.info Media Muslim INFO
http://www.mii.fmipa.ugm.ac.id Media Informasi Islam FMIPA UGM
http://www.mualaf.com Mualaf Center Online
http://www.percikan-iman.com Percikan Iman, Menuju Era Dakwah Tanpa
Batas
http://www.sinaimesir.com SINAI, Studi Informasi Alam Islami
http://www.ukhuwah.or.id Ukhuwah.or.id

https://belajarcepatbacaalquranalbayan.wordpress.com kumpulan artikel islami, pengetahuan umum, privat Al-Quran, download Murottal Al-Quran dll

http://marketingbuku2alitishom.wordpress.com Kumpulan artikel tarbiyah dan daftar buku best seller serta berkualitas.

Asuransi

http://www.takaful.com Takaful Indonesia

Berita

http://www.eramuslim.com Berita dunia Islam
http://www.hidayatullah.com Hidayatullah.com
http://www.infopalestina.com Pusat Informasi Palestina
http://www.republika.co.id Republika Online
http://www.sabili.co.id Sabili Cybernews

http://www.suara-islam.com Suara Islam Online

https://belajarcepatbacaalquranalbayan.wordpress.com kumpulan artikel islami, pengetahuan umum, privat Al-Quran download Murottal Al-Quran dll

http://marketingbuku2alitishom.wordpress.com Kumpulan artikel tarbiyah dan daftar buku best seller serta berkualitas.

Dakwah dan Harakah

http://www.al-ikhwan.net Kajian Islam berlandaskan Al-Qur’an dan As-
Sunnah
http://www.boemi-islam.com Boemi Islam, Bumi Perjuangan dan
Pergerakan
http://www.dakwah.info Dakwah Info
http://www.usahamulia.net Usahamulia dot net, SAMARA dan Da’wah

http://islammyreligion.wordpress.com Dakwah Islam berbahasa Inggris

https://belajarcepatbacaalquranalbayan.wordpress.com kumpulan artikel islami, pengetahuan umum, privat Al-Quran download Murottal Al-Quran dll

http://marketingbuku2alitishom.wordpress.com Kumpulan artikel tarbiyah dan daftar buku best seller serta berkualitas.

Dunia Lain

http://www.majalah-ghoib.com Majalah Ghoib

Ekonomi & Bisnis

http://www.ekonomisyariah.net Portal Ekonomi Syariah Indonesia
http://www.ekonomisyariah.org Masyarakat Ekonomi Syariah (MES)
http://www.fossei.org Forum Silaturahmi Studi Ekonomi Islam (FoSSEI)
http://www.iseg-unpad.org Islamic Studies of Economics-Group (ISEG)

http://pengusahamuslim.com Pengusaha Muslim
FE Unpad
http://www.jpmi.or.id Jaringan Pengusaha Muslim Indonesia (JPMI)
http://www.karimconsulting.com KARIM Business Consulting
http://www.pasarmuslim.com Pasarmuslim.com, Media Iklan dan Bisnis
http://www.pkes.org Pusat Komunikasi Ekonomi Syariah (PKES)
http://www.sebi.ac.id STIE Shari’ah Economics & Banking Institute
http://www.senyumuslim.com Senyumuslim, Waralaba Toko Buku Islam
http://www.seputarkita.com Wijawiyata Jaring Asia
http://www.tazkiaonline.com TazkiaOnline.com, Merangkai Jejaring
Ekonomi Syariah

Ibadah Haji

http://www.informasihaji.com Informasi Haji Departemen Agama

Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

http://www.beritaiptek.com Berita IPTEK Online
http://www.harunyahya.com/indo Harun Yahya
http://www.ilmukomputer.com IlmuKomputer.Com
http://www.istecs.org Institute for Science and Technology Studies
(ISTECS)
http://www.mifta.org Muslim Information Technology Association
http://www.miti.or.id Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia
(MITI)

Jurnalisme dan Kepenulisan

http://kamus.javakedaton.com Kamus Bahasa Arab – Indonesia
http://www.flpjepang.com Rumah Cinta, Forum Lingkap Pena (FLP)
Jepang
http://www.penulislepas.com Kiprah dan komunitas penulis lepas di
internet
http://www.wedangjae.com Komunitas Wedangjae. Wacana dan Analisis
Jurnalisme Empatik

Kepemudaan, Pelajar, dan Mahasiswa

http://al-hadiid.brawijaya.ac.id KBM Al Hadiid Fakultas Teknik
Universitas Brawijaya
http://isi.stiki.ac.id Ikatan Studi Islam (ISI) STIKI Malang
http://ukki.eepis-its.edu Unit Kegiatan Kerohanian Islam PENS ITS
http://ukmi.uns.ac.id Jamaah Nurul Huda UKM Islam Univ Sebelas Maret
Surakarta
http://www.al-azzam.com LDK Al Azzam Universitas Budi Luhur
http://www.ash-shaff.org Barisan Dakwah SMAN 2 Bekasi
http://www.dakwah-fk.com Forum Ukhuwah Lembaga Da’wah Fakultas
Kedokteran (FULDFK)
http://www.faris8.com Forum Alumni Rohis SMKN 8 (FARIS8)
http://www.fsrmy.net Forum Silaturrahim Remaja Masjid Yogyakarta
(FSRMY)
http://www.gamaisitb.org Keluarga Mahasiswa Islam ITB
http://www.hudzaifah.org Hudzaifah.org, Bertaqwa, Kreatif, dan
Cerdas. Lembaga Dakwah Kampus Trisakti
http://www.iqroclub.org IQRO Club
http://www.kammi-jepang.net Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia
(KAMMI) Jepang
http://www.kammi.or.id Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia
(KAMMI)
http://www.kammiuin.or.id KAMMI UIN Jakarta
http://www.kapmi.or.id Kesatuan Aksi Pelajar Muslim Indonesia
(KAPMI)
http://www.karisma-itb.org Keluarga Remaja Islam Salman ITB
http://www.kmfh.hukum.ugm.ac.id KMFH UGM Yogyakarta
http://www.ksai-aluswah.org Kelompok Studi dan Amaliyah Islam (KSAI)
Al Uswah, Lembaga Muslim Alumni SMAN 1 Teladan Yogyakarta
http://www.ski.fkip.uns.ac.id Sentra Kegiatan Islam FKIP UNS
http://www.skistttelkom.or.id Sentra Kegiatan Islam STT Telkom
Bandung
http://www.thulaby.com Thulaby Indonesia, Aliansi Pelajar dan
Mahasiswa untuk Demokrasi, Kesejahteraan, dan Masyarakat Islami
http://www.ukmassalam.org UKM AsSalam Darmajaya
http://www.wasilah.net Wadah Silaturahim Alumni Rohis SLTP 88

Komputer dan Software

http://www.jifisa.net Media JIFISA Software House

Komunitas Darat

http://www.degromiest.nl Cafe deGromiest, The Groningen Moslem
Society
http://www.forkom-jerman.org Forum Komunikasi Masyarakat Muslim
Indonesia se-Jerman
http://www.ikpdnmesir.com Ikatan Keluarga Pesantren Darunnajah
(IKPDN) Mesir
http://www.imeanet.org Wipha IMEA, Kmunitas Muslim Indonesia di kota
Enschede, Belanda
http://www.imsa.us Indonesian Muslim Society in America (IMSA)
http://www.kibar.org.uk Keluarga Islam Britania Raya dan Sekitarnya
(KIBAR)
http://www.kmii.jp Keluarga Masyarakat Islam Indonesia – Jepang
(KMII)
http://www.kpii.net Keluarga Pelajar Islam Indonesia (KPII) Sydney
Australia
http://www.miit-toronto.org Masyarakat Islam Indonesia di Toronto
(MIIT)
http://www.muslimdelft.nl Keluarga MuslimDelft, Belanda
http://www.pmij.org Persaudaraan Muslim Indonesia Jepang (PMIJ)

http://www.ppmr-indonesia.com Pengajian Pelajar Muslim Rotterdam (PPMR)
http://www.rydaviny.net Majelis Taklim Yasin Taipei – Taiwan

Komunitas Maya

http://www.ajangkita.com Forum Ajangkita
http://www.islamdotnet.com IslamDotNet (ISDN) Portal
http://www.kotasantri.com KotaSantri.com, Komunitas Santri Virtual
http://www.muslimblog.net Indonesian Muslim Blogger (IMB)
http://www.myquran.org MyQuran

Jejaring Sosial

http://pencerahanhati.com PencerahanHati.com

http://muxlim.com Muxlim

Lembaga Pendidikan dan Pelatihan

http://daaruhiraa.multiply.com Pesantren Mahasiswa Daaru Hiraa’
Yogyakarta
http://www.alkausar.org Al Kausar Boarding School
http://www.darunnajah.com Pesantren Darunnajah
http://www.esqway165.com ESQ WAY 165
http://www.humairacenter.com Humaira Center
http://www.izzuddin.com Yayasan Izzuddin
http://www.kampussyariah.com Kampussyariah.com
http://www.lpknf.or.id Lembaga Pendidikan Komputer Nurul Fikri
http://www.nurulfikri.org Nurul Fikri Group
http://www.ppsdms.org Program Pembinaan SDM Strategis (PPSDMS)
http://www.sdit-alhikmah-jkt.sch.id SDIT Al Hikmah Jakarta

Makanan, Kesehatan, dan Gaya Hidup

http://www.halalguide.info Guide to Halal and Islamic Lifestyle
http://www.indohalal.com Halal Lifestyle

Masjid dan Musholla

http://www.albarokah.or.id Musholla Al-Barokah Gedung Cyber
http://www.alhikmah-online.com Masjid Al Hikmah, Mampang, Jakarta
Selatan
http://www.alhikmah.or.id AL HIKMAH, Menebar Dakwah Dunia Maya
http://www.arroyyan.com DKM Ar Royyan, Perumahan Bojong Depok Baru
II Sukahati Cibinong Bogor
http://www.masjidipb.org Masjid Al Hurriyah IPB
http://www.masjidistiqlal.com Masjid Istiqlal Jakarta
http://www.masjidits.com Manarul Ilmi Online, Jamaah Masjid Manarul
Ilmi ITS
http://www.masjidkotabogor.com Masjid Kota Bogor
http://www.mbmstan.org Masjid Baitul Maal STAN

http://www.masjidal-falah.info Masjid Al Falah Surabaya

Medis dan Kedokteran

http://www.bsmi-bandung.or.id Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI)
Bandung
http://www.lkc.or.id Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC)
http://www.mer-c.org Medical Emergency Rescue Committee (Mer-C)

Ormas dan LSM/NGO

http://www.gemanusa.or.id Gerakan Membangun Nurani Bangsa (Gema
Nusa)
http://www.icmi.or.id Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI)

Penerbitan dan Percetakan

http://www.eraintermedia.com Era Intermedia, menerbitkan buku-buku
pemikiran dan pergerakan
http://www.gemainsani.co.id Gema Insani Online
http://www.kautsar.co.id Pustaka Al-Kautsar
http://www.robbanipress.co.id Robbani Press Online

https://belajarcepatbacaalquranalbayan.wordpress.com kumpulan artikel islami, pengetahuan umum, privat Al-Quran download Murottal Al-Quran dll

http://marketingbuku2alitishom.wordpress.com Al-Itishom cahaya Umat online

Perumahan

http://www.griyamadani.com Griya Madani
Peternakan dan Pemotongan Daging
http://www.amanahaqiqah.com Amanah Aqiqah

Radio

http://www.dakta.com Radio Dakta 107 FM Bekasi
http://www.qommunityradio.de Qommunity Radio Germany, Bersatu
Mempererat Persaudaraan
http://www.radiokita.nl Radio Kita
http://www.radionasyid.net Radio Nasyid Online
http://www.radiotarbiyah.net Radio Tarbiyah, Menjalin Ukhuwah
Mengikat Ilmu

Sejarah

http://www.bangsamusnah.com Bangsa Musnah.com

Seni dan Budaya

http://www.izisweb.com Tim Nasyid Izzatul Islam
http://www.klikjv.com Klikjv.com, Tim Nasyid Justice Voice
http://www.liriknasyid.com LirikNasyid.com
http://www.nasyidsnada.com Snada, Senandung Nasyid dan Dakwah

Sosial Kemanusiaan dan ZISWAF

http://www.aksicepattanggap.com ACT – Aksi Cepat Tanggap, Care for
Humanity
http://www.al-azharpeduli.com Lembaga Amil Zakat Al-Azhar Peduli
Ummat
http://www.bazisdki.go.id Badan Amil Zakat, Infaq, dan Sedekah
(BAZIS) DKI Jakarta
http://www.dompetdhuafa.or.id Dompet Dhuafa Republika
http://www.dpu-online.com Dompet Peduli Ummat Daarut Tauhiid (DPU-
DT)
http://www.dsim.or.id Dompet Sosial Insan Mulia
http://www.e-bmpk.net Baitul Maal Pupuk Kujang (BMPK) Cikampek
http://www.imz.or.id Institute Manajemen Zakat (IMZ)
http://www.kispa.org Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina
http://www.kki-sumut.or.id Komite Kemanusiaan Indonesia (KKI)
Sumatera Utara
http://www.pkpu.or.id Pos Keadilan Peduli Ummat, Menggugah Nurani
Menebar Peduli
http://www.portalinfaq.org Portal Infaq
http://www.rumahzakat.org Rumah Zakat Indonesia
http://www.tebarhewan.or.id Tebar Hewan Kurban Dompet Dhuafa
Republika
http://www.ydsf.or.id Yayasan Dana Sosial al-Falah

Sosial Politik

http://www.majalahsaksi.com Majalah SAKSI, Pembela Aspirasi Rakyat

Ulama, Fatwa, dan Syariah

http://www.mui.or.id Majelis Ulama Indonesia
http://www.syariahonline.com Sharia Consulting Center (SCC), Pusat
Konsultasi Syariah

Wanita & Muslimah

http://akhwat.kpii.net Pengajian Akhwat KPII Sydney Australia
http://imsa-sisters.imsa.us IMSA Sisters
http://www.fahima.org Fahima, Forum Silaturahim Muslimah (Jepang)
http://www.indomuslim.net Indonesian Muslimah Network
http://www.kafemuslimah.com Kafe Muslimah
http://www.kharisma.de KHARISMA, Woman & Education
http://www.salimah.or.id Persaudaraan Muslimah
http://www.ummigroup.co.id Ummi Online, Identitas Wanita Islami
http://www.ummigroup.co.id/annida Annida Online, Cerdas Gaul Syar’i

Website Bermanfaat
http://www.mufiidah.com Website Pengubah Tulisan Indonesia ke Arab

http://mufiidah.net Website Perpustakaan Online

http://islam-download.net Download Artikel/File Islami gratis

http://www.freepdfconvert.com Merubah file teks/dokumen jadi PDF secara online (tak perlu menginstall)

http://www.free-ocr.com Merubah tulisan dalam gambar/image jadi teks secara online

http://www.grab-tube.com Merubah file youtube menjadi mpg secara online

——————————

Link: http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/

http://sherrypmr.multiply.com/journal/item/19/Useful_Islamic_Links_in_Indonesian

Direvisi oleh Nizami berupa penghilangan situs yang sudah expired (penerbit pena, muslim sources.com dan halaman hijau.com)

Dan penambahan beberapa situs baru.

4 responses to “Daftar Situs Islam yang Bermanfaat

  1. esoteric tafakur transenden isyaratbatin iluminated THE SPIRIT TO KEEP Minggu, 04 Desember 2011 aajje gilleee……..hardly unexpected rudeness 2 Sebagai pengantar awal, sesuai dengan nama blog ini, yakni esoteric, alias ”hanya dapat dipahami oleh orang-orang tertentu’, maka substansinya sudah barang tentu insya Allah adalah bagi semua yang mau mendapat hidayah, namun tatkala agak mendapat ganjalan dalam mencernanya, mohon harus bertanya pada yang diperkirakan dapat ‘memahami maksud tulisan ini”, dan barangkali bisa saja terjadi estafeta-multi level, ke beberapa sumber, yang insya Allah mau sedikit mendalami tulisan ini, walau maksud penulis dalam ”memahami’ ini bukan berarti sepakat, namun sebatas menangkap maksud penulis dalam uraian2nya, tapi pula tentunya penulis sangat mengharapkan terjadi kesepemahaman, manakala dianggap sebagai hal yg haq,, dan tentunya pula tatkala ada kekeliruan, sangat dimohon pula koreksiannya. Insya Allah tulisan ini ada yang membaca dan mendalaminya. Uraian di bawah ini adalah tentang hal-hal mendasar, dimulai dari ;; hadangan setan alias perangbatin. Hakikatnya semua kita mengakui kebenaran hal ini, walau faktanya mengatakan bahwa tidak setiap saat atau jarang menempuhnya. Salahsatu refleksi dari kesalahpemahaman atas hal ini adalah berupa do’a ;; minta diberikan keengganan jika hal itu akan berakibat negative. Nah, do’a itu bisa dikabul atau tidak, maka bukan berarti parameter ‘keengganan’ itu yang dijadikan penentu negative-maslahat atau tidaknya, namun pertamatama adalah tentunya dilihat apakah betul2 maslahat atau tidak, merasa wajib atau bisa ditunda, atau sunnah, mubah, makruh, haram. Lantas jikalau telah jelas statusnya, misalnya merasa wajib-harus, namun kurangjelas maslahatnya dan ternyata merasa enggan, lalu berpretensi bahwa kalau diteruskan malahan bisa jadi akan mafsadat-mudharat, karena telah memastikan bahwa do’anya itu telah dikabul, dan segala yang enggan adalah mudharat, maka justru terjadi kebalikannya, keengganan itu malahan merupakan ‘’kekalahan’ kita dalam perangbatin, alias menuruti nafsu enggan-tidak mau melawan rasa malas dan berjuangkeras memaksakan diri. Lebih jauh lagi adalah dalam hal keimanan, keIslaman dan keIhsanan. BerIslam itu adalah patuh , dan termasuk bertauhid , yakni yaqin sepenuhnya padaNya dan pada RasulNya, alias Islam yang kaffah. Adapun yang fasik yang berarti ‘’kulit’, adalah ‘’ingkar dalam hal kulitnya’’, yakni tidak menjalankan Rukun Islam, alias ‘ingkar dalam tauhid dalam hal kulitnya’’ namun qalbunya betul2 yaqin , sama syahadatnya dengan yang tidakn fasik, demikian juga dengan musyrik amali, munafik amali, yakni tindakannya alias kulitnya, alhasil, yang fasik itu terkadang bertindak munafik-musyrik amali, dan belum tentu terus2an bertindak musyrik-munafik amali, nah, bedanya dengan beriman , adalah ‘’yaqin pada akhirat’’, adapun yang Islam itu adalah ‘’percaya penuh pada akhirat’’, namun belum yaqin, seeperti halnya yang telah melihat dengan mata kepala sendiri dalam hal2 duniawi, hanya saja ”yaqin dalam hal akhirat’ ini adalah tentang hal yg abstrak dan tidak mungkin dapat dibuktikan dalam kehidupan duniawi, makanya disebut ‘iman’, alias ”keyaqinan atas hal2 yang transendent-bukan kasatmata-ghaib”. Adapun secara pengertian umum, hal tentang ‘percaya penuh’ alias berIslam itu, biasa disebut juga iman, yakni ”beriman dalam tataran percaya’, dan disingkat ”beriman”, namun secara hakikat, berdasar AL HUJURAT 14, 15, , disebut ”belum beriman’, alias ”baru berIslam”, makanya istilah iman Islam ini, jikalau belum memasyarakat, mungkin, biarlah dipakai istilah ”iman”’ saja untuk kesemuanya alias disamaratakan. . Ilustrasinya adalah ‘’iman ‘itu dalam tataran transcendent-ilahiyah-beyond, dan persamaannya dalam tataran duniawi adalah ‘yaqin setelah melihat sendiri’, misalnya kita diberitahu oleh yang sangat dipercaya bahwa ada tembokbesar di China, dll, dan fotonya pun belum pernah kita lihat, namun kita pasti ‘’percaya’’, adapun kita baru yaqin setelahnya kita lihat langsung, dan yang terpenting adalah adanya ‘’’gambaran atau rasa tertentu di qalbu’’ manakala sepulangnya dari tempat2 tadi, dan kita memikirkannya, dsb , alhasil ‘’rasa tertentu di qalbu’’ itu adalah mutlak sama dengan ‘’iman’’. Nah, segenap hidup kita ini ibadah, dan jikalau telah iman, maka mutlak dipastikan bahwa tujuannya atau sasarannya atau target akhirnya, atau goalnya, atau maksudnya, dsb.adalah untuk mencapai surga, terhindar dari neraka, maka sudahbarang tentu diantara segenap aktivitas itu yg terutama adalah Rukun Islam, terutama shalat yg merupakan ibadah harian. Maka tatkala shalat, adalah mutlak wajib muncul ‘’rasa tertentu di qalbu’’ seperti halnya tatkala kita memikirkan, membicarakan tempat2 atau hal2 tertentu, yang telah kita yakini secara duniawi tadi. Jikalau ‘’tidak ada rasa tertentu alias gambaran tertentu’’, maka kita baru berIslam secara kaffah, salahsatu dalilnya Al Baqarah , kurang lebih ‘’ ;;; sabar dan shalat itu sungguh berat kecuali bagi yg khusyuk, yakni yang yakin akan bertemu dan kembali padaNya. Secara jelas-muhkamat, dan insya Allah semua qalbu akan berkata sama, darimanapun latarbelakang- tingkatan pendidikannya, asalkan berakalsehat, yakni ‘’sungguh berat’’ itu , yang terparah adalah ‘’tidak bisa melakukan’’ alias ‘’sama sekali tidak ada gambaran’, dan kemudian ber-tingkat2 menjadi ‘’bisa melakukan, namun sangat berat, alias bisa muncul gambaran, namun sangat sukar, dan hasilnya pun samar samar, dikarenakan memang belum yaqin’’, nah, YANG TERPENTING ADALAH ‘’TERJADINYA GAMBARAN TERSEBUT DI QALBU’’, DAN HAL INI SEMATA MATA BAGI DIRI KITA SENDIRI, BETUL2 SAMA SEKALI TIDAK ADA PENTINGNYA BAGI ORANG LAIN, KECUALI UNTUK CONTOH, DAN QALBU PUN HARUS BETUL2 JUJUR BAHWA SEMATA2 UNTUK CONTOH, DAN PASTI MENGAKUI SENDIRI KALAU BERBOHONG-RIYA, DSB . BETUL2 PILIHAN, DAN BAGI YANG BERISLAM, YANG YAQIN PADA NYA, DAN ‘’PERCAYA PENUH’’ PADA AKHIRAT, DIPASTIKAN AKAN MEMILIH YANG BENAR, KARENA BETUL2 TAKUT KONSEKWENSI NERAKA. Olehkarenanya , memang sangat berat, dikarenakan kita telah akui kelemahan kita, namun belum bisa menempuh yang haq, yakni dihubungkan dengan ‘’keengganan’’, maka ‘’tidak dipermasalahkan kita merasa enggan-malas-berat’’,, yang terpenting adalah ‘’kehadiran rasa gambaran’’,, jikalau kita betul2 jujur telah beriman ,dan tidak ada rasa berat, dsb,, maka terserahlah masing2,, tokh yang penting adalah ‘’adanya ‘’rasa iman—gambaran seyakin2nya pada akhirat tatkala SHALAT’’, dan sama sekalai konsekwensinya utamanya adalah bagi masing2- diri kita sendiri, disamping tentunya ada dampak bagi yang lain, misalnya keluarga, ummat, dan tentunya menjadi diperhitungkan sebagai dosa kita, SEKAALI LAGI YANG TERPENTING ADALAH ‘’ADANYA GAMBARAN AKHIRAT-RASA YAQIN DI QALBU TATKALA SHALAT;;, SEKALAI LAGI TATKALA SHALAT !!!!!.. Nah, tentunya kita merasa heran, mengapa semua telah dilakukan namun tidak muncul ‘’gambaran yaqin’’, maka bagi yang berIslam yang ‘’percaya penuh’, yg takut , akan jujur mengakui adanya hadangan terberat-kengganan terberat, atau beberapa rasa malas terberat, dsb , maka di situ lah titik kancah medan perangbatin kita,, kecuali bagi yang betul2 tidak merasa adanya ‘’rasa keengganan’’ tersebut, dan betul2 telah ‘’hadir gambaran akhirat’ seperti halnya kita yaqin pada hal2 yang telah kita lihat sendiri . alhasil, uraian ini semata bagi yang paradigmanya sama, dan tentjnya tidak berlaku bagi yang pengalaman batinnya berbeda. .., yakni , jikalau dirunut latarbelakangnya, sekali lagi jika memang ada rasa berat pada hal2 tertentu, yakni latarbelaknganya adalah HARUS BERMULA DARI HUKUM WAJIB’’,, TIDAK ADA BUTUH. SEGALAMACAM, , dsb, maka tatkala kita kalah-malas, terutama dalam shalat, dan bagi yg dulunya menagn utnuk melakukan WAJIB , namun merasa berat dan tetap istiqamah memaksakan diri, namun ternayata kalah dalam hal2 lain, yang terutama adalah tolabul ilmi, atau mungkin hal2 lainnya yag wajib, yg umumnya akan dimenangkan akhli shalat, ygmana bisa saja terjadi kekalahan2 pada para akhli shalat, alias kekalahan2 yg tidak umum, anggap saja, semuanya menang perang, misalnya dlm hal berbakti, taawun, empati, dsb—untuk hal2 haram, dipastikan secara teori adalah hal gampang bagi akhli shalat, kecuali hal2 yg makruh—nah, berarti kekalahan yg umum adalah dalam ‘tolabul ilmi’’yg tentunya wajib diikuti tafakaur, dst,, nah begitu mengikuti dorongan nafsu malas-berat, maka mulai lah terpeleset, dan mulailah shlatnya terasa ringan, yag tadinya terasa berat memaksakan diri dikarenakan wajib, lama2, pudarlah gambarana akhirat, alias cermin qalbunya menjadi buram, maka agar ummat mau shalat, didoronglah agar butuh, seperti halnya yang dirasakannya, yakni yang betul2 yaqin dan betul2 telah merasa manfaatnya, lantas, dikarenakan terpeleset, maka seiring dengan makin mejauhnya jalan, makin besarlah ‘’takabur-riya-suuzhan, tiga hal yg menggumpal, dan dikarenakan betul2 suram, malahan mungkin ada yang pekat, sedangkan qalbunya betul2 yaqin di jalan benar, maka criteria yg benar itu adalah seperti dirinya, yakni yang tidak ada ‘’ga,mbaran akhirat’, maka muncullah teori2 mardhatillah yang menyimpang, kalau diridhai maka surga dapat, dsb, dsb ,, inilah ‘’tidak tahu bahwa dia tidak tahu’’,, namun disamping kekalahan dalam tolabul ilmi, ada juga yag sedari awal ‘’kalah dalam hal shalat’’,, maka hakikatnya ‘’belum lulus dalam kelas kewajiban’’,, namun beranjak menjadi akhli shalat,, maka thterapynya adalah kembali ke awal, yakni shalat munfaridh, untuk beberapa waktu untuk membuktikan bahwa betul2 dahulunya ;;telah lulus dalam kelas kewajiban shalat tersebut’’, dan bagi ‘’yg belum lulus dalam kelas wajib shalat’ ini akan ‘’lebih tinggi tingkat takabur-riya nya. , . memang sangat berat untuk mengatakan hal ini,, memang sangat bpahit,, namun MENGAPA TIDAK DIKATAKAN TENTANG SHALAT YANG BENAR???, KALAU MENURUT SAYA MERUPAKAN JALAN YANG HAQ, DIMANA KEKELIRUAN SAYA??. Sehubungan dengan hal ini adalah dalil2 diantaranya sbb ;; kurang lebih “”tidak akan masuk surga jika ada kesombongan walau sebesar dzarrah’.lantas, dalam AZ Zumar, Al Mumin, dll, dalamana kekal di neraka, dst.. Nah,, sudah jelas, bahwa sombong di sini adalah ‘’sombong aqidah-sombong keilmuan agama, sombong kejumudan-sombong tidak mau menerima kebenaran’’, adapaun sombong2 duniawi, dalamnana secara teori dipastikan semua kita mempunyainya, tergantung sejauh mana perangbatin kita mengalahkannya, adalah jikalau termanifestasi, maka tidak termasuk sombong aqidah,, namun akan bermuara pada takabur aqidah tersebut, alhasil, sombong aqidah ini, adalah ingkar secara penuh-seperti Fir’aun, dll, dikarenakan betul2 digdaya, betul2 serba paling secara duniawi, dsb. , maka bagi yg berIslam, adalah tidak mungkin ada sombong aqidah tersebut, dikarenakan telah betul2 patuh secara kaffah, dan jikalau ada, maka disebut ‘sombong aqidah secara kulit-amali’’ namun mohon diingat bahwa, ‘’kesombongan tidak mau menerima kebenaran secara kulitnya’’ ini adalah tentunya sangat besar dosanya,, karena ‘’sombong hakiki alias sombong aqidah’ pun akan kekal di neraka. . Alhasil, tatkala ‘’takabur amali’’ ini lumayan kadarnya, maka akan mengemuka lewat ‘’keberanian’’ membantah’’ segala apa yang disebutksan oleh pihak lain benar—bukan khilafiyah, namun ikhtilaf-kekeliruan —, misalnya tentang batasan Islam, Iman, Ihsan, ygmana hakikatnya tidak ada meloncat langsung ke Ihsan, syaratnya ‘’merasa melihat-dilihat’ itu adalah setelahnya ‘yaqin akhirat’’, kalau melompat,, maka memang bagi yg ‘’percaya-Islam’ pun adalah merasa ‘’melihat-dilihat’’, karena memang betul2 ‘’percaya secara penuh-kaffah ‘’, nah,, ketakaburan ini, adalah berani bicara, tanpa tafakut terlebih dahulu, setidaknya menhaan diri, sampai yaqin betul, dan mentafakuri hal2 lain yang menafsirkan lain, dan sangat takut akan konsekwensinya, makanya akan menahn diri,, namun bagi yg takaburnya tinggi, maka akan tidak kuat menahan diri, ingin nyaman pada posisi, tidak mau berusaha kerasa pada batinnya, dst, walau belum tuntas tafakurnya, dan belum ada jawaban atau bantahan, sedangkan konsekwensinya tidak dia pikirkan lagi, inilah ciri2 takabur,, tidak peduli-tidak takut resikonya.. Tentang islam ini Al HUjurat 14, adalah bukan untuk munafik, karena jelas sekali disebut baru berIslam, belum Iman, artinya, adalah telah betul2 Islam, dan kaalu munafik, tentunya tinggal disebut saja munafik Kembali pada ‘keengganan-rasa berat, ‘’ dsb,, maka secara teori jikalau telah menapak jalan lurus, segala aspek akan dihalangi, persis seperti kita zaman dulu, begitu akil baligh, dan merasa berat jalankan kewajiban, –yang hakikatnya sampai seumur hidup, tidak ada istirahat– nah,, bagi hal2 yang mendesak, yang bukan reflek-bersin, menguap, dsb, maka hal2 seperti minum yang telah kebelet, buang hajat, buang air kecil, lapar, dsb tentunya pasti akan dilakukan , sama seperti binatang, kecuali terpaksa, kelaparan, kehausan, dsb, namun manusia bisa tertahan jika belum sangat mendesak, misalnya untuk minum, makan walau sudah lapar, buang hajat yg bisa ditahan, dsb kecuali sangat lapar-mendesak-kebelet, nah,, jikalau dianggap ‘’bunuh diri-merusak diri pelan2’’, maka tidaklah betul, karena binatang pun tidak ada yg bunuh diri, kecuali untuk kasus2 khusus, alhasil jika manusia telah sama seperti binatang, tentunya tetap tidak mau merasa sakit-bunuh diri, namun perilakunya adalah hanya berdasar reflek, yakni makan. Minum, dst., apalagi bagi yang SQ nya normal, yakni yang tertahan dikarenakan hadangan setan, maka binatang dan manusia yg sepertibinatang saja alias ‘’tidak patuh’’ saja tidak mau bunuh diri, masa iya bagi yang tertahan oleh hadangan setan dianggap merusak diri. Nah, jikalau diangggap ada kelainan , yakni pada otaknya, apatis, zsicofrenia, dsb, maka berarti bagi yg normal, adalah tidak akan dihalangi pada segenap aspek, namun secara teori yang haq, dipastikan akan dihadang pada aspek2 tertentu, agar jalannya untuk menepuh jalan lurus menjadi terhambat—mau seabrek apa pun pembelaan bagi yang inginnnya merasa nyaman dalam beribadah-segenap hidup ini baik di awalnya, atau ditengahnya, di hasilnya alias tidak tahan hidup menjalankan kewajiban-ujian2 yg hanya sementara, satu setengah jam akhirat saja yg merupakan kehidupan sebenar2nya itu—,alhasil, menjadi sama saja antara dihadang pada segenap aspek, dengan dihadang hanya pada beberapa titik terlemah atau lemah, dikarenakan, kesemuanya akan berdampak apada tidak bisa dilaksanakannya segenap aspek hidup, yangmana landasannya telah benar yakni jalan yang lurus, alhasil pula, dalil, bahwa yg kuat itu adalah yang dapat menahn hawa nafsu marah, penjabarannya adalah sbb ;; jikalau telah menempuh jalan lurus, maka segala kedigdayaan sekecil apapun akan terhambat, demikian juga yang besar, dikarenakan hadangan pada titik-titik tertentu agar penapakan jalan lurus itu tidak mulus, apalagi jika berlaku teori ‘’penghadangan pada semua aspek, termasuk makan, minum, dsb’’, maka jelaslah, kedidgdayaan itu berlaku bagi yang telah memenangkan perang,, barulah pada lapis keduanya,, yakni setelahnya dipastikan semuanya dapat makan, minum, dapat bergerak dengan normal, dengan melewati perangbatin, maka berlakulah perang menahan marah,, yakni perang tingkatan kedua, setelah perang mendasarnya dimenangkan. Berangkat dari teori bahwa ‘’sama saja antara yg dihadang pada segenap aspek dan hanya pada beberapa aspek , dikarenakan tetap akan berdampak pada apatisnya segenap aktivitas, tatkala seseorang telah menapaki jalan lurus’’,, maka dapat kita runut tentang orang2 ‘’gila’ alias apatis, yang tidak ‘’merusak ‘, yg beda dengan yg seperti psikopat, czikofrenia yg destruktif-sgresif, delusive agresif, halusinatif destruktif, dll. , namun tentunya karena bukan domain penulis, maka tidak pula mengesampingkan adanya kelainan2 otak bawaan, atau degeneratif, celaka, dsb, alhasil, seperti halnya imbesil, retarded, dsb, maka yg ‘’apatis’’itu mengalami kelainan2 sel otak, , namun secara eschatologist, maka tatkala akil baligh, dia itu kalah total, dalam jalankan kewajiban, beda dengan yang melenceng, ygmaan tentunya tidak akan terhadang baik pada beberapa aspek, atau seluruh aspek, ygmana hasilnya sama saja, yakni menjadi apastis, alhasil, begitulah konsekwensinya jikalau kalah total, berbeda dengan yg jalan di tempat-stgnan-tidak lulus2, maka keyakinannya adalah tidak tergoyahkan yakni ‘’ semuanya berdasar ‘’HUKUM WAJIB’’, YANG MEMANG TERPAKSA TIDAK ADA INGIN NIKMAT, DSB , YG MEMANG SEKEDAR GUGUR KEWAJIBAN, DSB, MEEMNAG BEGITU LAH YANG HAQ,, BERANIKAH KITA RUBAH, KARENAMMENURUTKAN NAFSU INGIN NYAMAAN, MENURUTKAN MALAS BERJUANG UNTUK MENJALANKAN SHALAT DENGAN PERJUANGAN YANG BERAT SEBELUKM PELAKSANAAN SHLAT TERSEBUT///???? CIri2nya, yakni sangat banyak berperangbatin, banyak stress, karena banyak peringatan, masih jelas gambaran surga,, atau sangat mudah recovery –kembali pada fitrah yang tadinya suram, menjadi terang rasa yaqinnya-ada gambaran seperti melihat hal2 di dunia ini dengan matakepala sendiri, dsb . wallaahu’alam. “”Sepertinya menjadi sebuah ‘debat kusir’ tatkala satu hal paling sentral dalam suatu dialog abstrak, tawaashaubilhaq, dsb, ternyata terlupakan untuk disamakan persepsinya, alias segala macam uraian, sebanyak apa pun, sebenar apapun, dst menjadi tidak berguna, alias secara hakikat berdasar satu pihak adalah keliru total, dan walau kulitnya seperti benar-alias substansinya adalah benar, namun salah dasarnya, sedangkan di sisi lain, dikarenakan ‘’tidak tahu bahwa dia tidak tahu’’, maka tentunya merasa benar. Kesamaan itu adalah ;; sudahkan qalbu merasa yaqin pada akhirat ?? alias sudahkan beriman??. Sudahkah beriman?? Sudahkan yaqin pada akhirat?? Sudahkan yaqin pada akhirat?? Sudahkah yaqin pada akhirat?? Sudahkah yaqin pada akhirat ?? sudahkah yaqin pada akhirat?? Sudahkah yaqin pada akhirat?? Silahkan dijawab sudah, namun ada kelas ‘’percaya’’ alias ‘berIslam””, yang persis terasanya sama. Adapun beda percaya adalah sama dengan kita baru mendengar dari sumber yg sangat dipercaya, tentang suatu hal, tempat, dsb. Dan yaqin itu jikalau telah melihat dengan matakepala sendiri, maka otomatis akan timbul’’rasa yaqin’’ di qalbu, nah, rasa yaqin’’ itu lah yang sama persis kita rasakan tatkala bicara akhirat, makanya dinamakan iman, artinya adalah yaqin pada hal yang transcendent, yang tidak mungkin kita dapat buktikan. Contoh lain adalah yakin seratus prosen bakal berhasil, artinya optimis seratus prosen, sedangkan percaya adalah optimis tidak seratus prosen, optimis limapuluh prosen, dsb , alias percaya bakal berhasil alias optimis namun optimisnya itu tidak seratus prosen. Jadi yang penting adalah ‘’rasa yaqin di qalbu’’, alias tidak hanya ‘percaya’’, dan jika telah ‘’yaqin’’ maka akan ‘’SANGAT MUDAH TIMBULNYA ‘’RASA YAQIN DI QALBU’’ TATKALA SHALAT. Dalil’’ Al Baqarah 165, , kalu tidak salah. SUDAHKAN ADA ‘RASA YAQIN PADA AKHIRAT DI QALBU’’ TATKALA SHALAT?? SUDAHKAH ADA ‘RASA YAQIN DI QALBU’’ TATKALA SHALAT’’ SUDAHKAH ADA ‘RASA YAQIN DI QALBU ‘TATKALA SHALAT/. SUDAHKAH ADA ‘’RASA YAQIN PD AKHIRAT DI QALBU’’ TATKALA SHALAT?? SUDAHKAH ADA ‘’RASA YAQIN DI QALBU PD AKHIRAT TATKALA SHALAT??????????????????????????????,,Kalu belum stop saja sampai di sini, segala uraian yg berhubungan dengan subyektivitas, kemukakan saja persis dari sumber aslinya, dasar2 amalan yg wajib, sunnah, dsb, fiqih, tarikh, syariah, faraid, dsb. Mohon diingat, kelas kita sekarang ini belum teruji, belum terbukti,, apakah yg mau beriman itu tidak diuji, pernahkah kita menempuh ujian itu atau lari dari kelas, dan ingin mengerjakan hal2 yg wajib menurut nyamannya kita, teringatkan kita pada periode tersebut?? Betul2 pilihan, terserah lah kita mau jujur atau tidak. Ijinkalnlah saya berputar terlebih dahulu pada konstelasi ummat tatkala kalah total—bukan ingkar total–, yakni tatkala masukpada ujian untuk masuk kelas beriman, dipastikan akan dihadang, baik pada semua aspek atau beberapa aspek terlemah, dalammana kesemuanya akan tetap berdampak sama yakni terhentinya semua aktivitas—apatis, jikalau menang perang alias lulus ujian maka berlanjutlah ujian2nya, dan tentunya tidak apatis-beraktivitas normal-dimulai dari rukun Islam, dst, sedangkan yg kalah adalah menjadi apatis-disebut gila yg hakikatnya bukan gila bawaan alias gila yg dimaksud dalam fiqih; namun gila ini artinya menjadi fasik, karena boro2 shalat, aktivitas normal pun tertahan-ditinggalkan-tidak normal, atau stagnan , yakni tetap tidak apatis, namun menanggung beban mental karena menunda2 ujian, dan akan banyak stress, akibat langsung dari menunda tersebut dan juga teguran2 akibat tdk langsungnya, atau lari dari medanperang,, . Pelarian ini ingin tetap menyembahNya namun ingin memilih berdasar nyamannya diri sendiri, maka dicarilah motive2 agar dapat tetap shalat, bukan karena wajib, lantas menjadi melencenglah jalannya, dan menjadi suramlah matabatinnya, dan akhirnya berpendirian bahwa shalat itu harus karena butuh, dsb. Sekarang ini sebelum wafat, dipastikan tingkatan p[elarian ini jauh lebih baik, yakni masuk pada kelas taqwa, namun untuk masa depannya belum teruji, kecuali wafat dalam keadaan Ber Islam yakni khusnul khatimah,–akan diangkat ke surga– namun bukan berarti yang apatis-‘gila karena fasik’’ itu disebut tdk berIslam, tapi adalah Islam yg tdk kaffah-tdk shalat, dst—kafirfasik, . Dalilnya Al Hujurat 14, dan hal ini semata2 jika ‘’’ SUDAHKAH MERASA ‘’YAQIN PADA AKHIRAT’’ TATKALA SHALAT////??????????, JIKA SUDAH,, SEKALI LAGI JIKA SUDAH,, JIKA SUDAH,, JIKA SUDAH,, JIKA SUDAH,, JIKA SUDAH,,, JIKA SUDAH,,, JIKA SUDAH,, JIKA SUDAH,, MAKA tidak usahlah hiraukan segala macam paparan penulis, dll, TOKH BUAT APA ,, YANG PENTING KAN ANDA TELAH BERIMAN,, DAN TULISAN SAYA ITU ‘’’’’’’JIKA DAN HANYA JIKA, JIKA DAN HANAYA JIKA,, JIKA, DAN HANYA JIKA, . JIKALAU TIDAK LULUS UJIAN, ATAU STGANAN PUN TIDAK-TIDAK NAIK KELAS, YANG MUTLAK JUGA DIPERLUKAN KETAHAN-KEMAMPUAN UNTUK BERTAHAN PADA KELAS TERSEBUT, –JIKALAU TDK LULUS, MAKA DIPASTIKAN TATKALA APATIS TERSEBUT, BORO2 SHALAT, BACA QUR’AN, , LIHAT SAJA ORANG2 GOKIL YG TDK DESTRUKTIF TERSEBUT DI JALANAN, DI PANTI2, BORO2 BICARA SEGALA MACAM, BORO2 MIKIR YANG MUL;UK2, BORO2 MIKIRIN KELAS2 GENERASI2 TERDAHULU, BORO2 , BORO2,, BORO2—–BORORO2, DST, DST, MAKANYA JANGAN PANDANG HINA PADA YANG STAGNAN, YG BANYAK STRESS, BANYAK GAGAL, DST,, BISA BERGERAK MAKAN MINUM JUGA TELAH SANGAT JAUH LEBIH BAIK DIBANDING YANG KALAHTOTAL-BUKAN INGKAR TOTAL–, ATAU YANG BELUM TERUJI-TERBUKTI, DAN KELAS STAGNAN-TIDAK NAIK2 KELAS INI TENTUNYA DIPASTIKAN TOLOK UKURNYA ADALAH PE;ALAKSANAAN RUKUN ISLAM, DST , , ADAPUN BEDA ANTARA ‘’APATIS-CZIKOFRENIA DESTRUKTIF ADALAH , DIA PUNYA KELAINAN YAKNI EQ YANG BURUK DAN’’ SEBABNYA BUKAN KARENA KALAH –TIDAK LULUS DALAM KELAS WAJIB’’, NAMUN DIKARENAKAN FRUSTRASI-DEPERSI , DSB, DALAM HIDUP, KEBETULAN EQ NYA BURUK, ADAPUN YANG EQ NYA NORMAL, MAKA TIDAK AKAN MENJADI ‘GILA’, NAMUN DPRESI, DSB , DAN TENTUNYA TERDIRI DARI BERBAGAI KELAS, DAN YANG MENDEKATI KELAS STAGNAN ADALAH YG DISEBUT ABU2, YAKNI YG MASIH BOLONG2 TAPI SERATUS PROSEN MASIH SADAR AKAN ‘’’DASARNYA BAHWA BERLANDASKAN HUKUM WAJIB-HARAM’’, SAMA HALNYA DENGAN YG STAGNAN, MAKA KELAS ABU2 INI PUN AKAN BANYAK STRESS, TEGURAN2.,PENAWARAN2 YANG SETIAP SAAT DATANG UNTUK IKUT UJIAN DAN MENJAWABNYA, YAKNI DENGAN AMAL NYATA, DALAM MANA INHEREN DENGAN NIYAT,, BUKANNYA HANYA AZAM-TEKAD, DSB, YANG BERARTI BUKAN AMALNYATA. .. kEMBALI sebelum berputar tadi,, maka implikasi2 dari kelas2 pelarian ini akan senantiasa bicara yang berdasar pengalaman2nya-subyektivitasnya dan dipastikan akan keliru,, yakni ‘’;;; SHALAT ITU HARUS BUTUH-KEPERLUAN , DSB,, NAH,, JIKALAU BUTUH UNTUK PAHALA, KETENANGANHATI, ATAUPUN SUKSSES DUNIA, MAKA MUTLAK WAJIB DIURAIKAN TENTANG ‘’BUTUHNYA ITU UNUTK PAHALA’’, ALIAS HARUAS ADA KATA2 ‘’BUTUH UNTUK PAHALA’’, ADAPUN JIKA BUTUH UNTUK TENANGHATI, DLL, MAKA HARUS DIURAI PERSIS DENGAN PARADIGMA SBB;;; DASAR ITU AKAN MENYATU DENGAN TUJUAN,, MISAL, BUMBU DASAR, MAKA SETALAH JADI MASAKAN, BUMBU DASARNYA ITULAH YANG BERLAKU, YANG TIDAK BISA KEMBALI LAGI, DSB , SESUAI DENGAN TUJUAN JENIS MASAKAAN APA YANG AKAN DIDAPAT DENGAN BUMBU DASAR TERSEBUT,, LAIN LAGI JIKA SETELAH JADI MASAKAN, LANTAS DITUJUKAN UNTUK DIJUAL, DLL.. CONTOH LAIN ADALAH ALAS UNTUK MENULIS, MEJABELAJAR,MEJA GAMBAR, DSB. TUJUANNYA ADALAH UNTUK MENULIS-MENGGAMBAR APA, , MAKA HASILNYA ADALAH MISALNYA’’GAMBAR PEMANDANGAN DENGAN BERALASKAN MEJAGAMBAR’’—ALIAS ALASNYA ITU TELAH MENYATU MENJADI SATU TUJUAN YG TELAH TERJADI,—, LANTAS TUJUAN LAINNNYA-AKHIRNYA ADALAH UNTUK DILOMBAKAN-UJIAN SEKOLAH, DSB. NAH.. JIKAALU EMMANG DISADARI TUJUANNYA UNTUK DILOMBAKAN, MAKA DASARNYA ADALAH UNTUK ‘’DILOMBAKAN’’, DAN MUTLAK HARUS DIURAIKAN-DIKATAKAN PADA PIKIRAN, DSB,, KALAU SAMA SEKALI TIDAK ADA DI OTAK-QALBU, MAKA HANYA TUJUAN UNTUK ‘’MENGGAMBAR PEMANDANGAN YG BERALASKAN MEJAGAMBAR’’ ITU LAH YANG BERLAKU. , DEMIKIAN JUGA DENGAN TUJUAN MEMASAK,, JIKA TIDAK DIPASTIKAN-DISEBUTKAN TUJUAN AKHIRNYA—UNTUK DIJUAL, DSB–, MAKA HANYA TUJUAN UNTUK MEEMASAK MEMAKAI BUMBU DASAR TADI ITULAH’’ YANG HANYA BERLAKU,, BAGAIMANA MAU BERTUJUAN LAIN, JIKA SAMA SEKALI OTAKNYA KOSONG-BENGONG??. NAH,, MAKANYA MUTLAK HARUS DISEBUTKAN ‘’DASARNYA YANG LURUS-BENAR’’,, BOLEH BICARA ‘’DASARNYA KEPERLUAN-BUTUH, DSB’’,, DAN TIDAK DIBILANG DI AWAL, NAMUN KEMUDIAN MUTLAK DIPERBAIKI NIYAT-MAKSUDNYA, ALIAS DISEBUTKAN—DITOREHKAN DI QALBU-PIKIRAN, BAHWA TUJUAN AKHIRNYA ITU UNTUK ‘’DIJUAL’’, UNTUK UJIAN SEKOLAH’, LOMBA, DSB,, TENTUSAJA SECARA TEORI-DUNIAWI, HAL INI ADALAH TIDAK MUNGKIN YAKNI TIDAK TAHU-SADAR PADA TUJUAN AKHIRNYA, KECUALI TERLUPA DAN MASIH MEMBIASAKAN DIRI UNTUK TUJUAN BARU,, YAKNI TATKALA MEMASAK ITU, TUJUANNYA SEMATA BERDASAR UNTUK MEMASAK BISTIK, ALIAS ‘’BERDASAR’’ ITU SIMILAR DENGAN ‘’BERDASAR BUTUH’’,, , MAKA TUJUAN MEMAKAI ‘’BUMBU DASAR’’ ALIAS ‘’DASARNYA—MOTIVENYA’’ ITU JELAS ADALAH UNTUK SEMATA2 BERTUJUAN MEMASAK BISTIK, ATAU ‘’BUTUH KARENA INGIN TENANGBATIN, SUKSES, . ‘, DEMIKIAN JUGA DALAM TATARAN RUHANI, BISA SAJA TERJADI KELUPAAN, KARENA MASIH BERLATIH, SAMA DENGAN YANG TERBIASA SEHAARI2 MASAK BISTIK,, MAKA MASIH TERLUPA TATKALA ADA TUJUAN2 BARU, YAKNI UNTUK DIJUAL, YANG SIMILAR ITU YAKNI MOTIVENYA ADALAH ‘’BUTUH TENANG BATIN; DLL, YG BUKAN BUTUH PAHALA, NAMUN DITENGAH JALAN DIPERBAIKI MENJADI ‘’BUTUH UNTUK AKHIRAT-PAHALA, DAN MUTLAK HARUS DIEBUTKAN-DISADARI.. Alhasil,, ‘’dasar karena butuh’’ itu baik pahala, dunia, dsb, mutlak harus disebutkan dasar sekaligus tujuan utamanya,, yakni jika butuh untuk sukses, tenang jiwa, maka dasarnya adalah untuk akhirat-mengabdi-, demikian juga tujuan akhirnya, jikalau tdk disebutkan,, maka hanya dasarnya itulah yg menjadi tujuannya yakni ‘’butuh untuk dunia, tenag batin, dsb, kalau untuk pahala, jelas akan otomatis tertorehkan di qalbu dasarnya tersebut yakni untuk pahala,, dan tujuan ‘’pahala’’ nya pun mutlak akan disebutkan , ‘’butuh untuk pahala’’. Jadi,, tatkala ‘’kalahtotal=apatis’’, maka segala keahlian, kemampuan, dll.. akan tidak berguna, untuk sehari2 saja-makanminum menjadi tdk normal, apalagi untuk shalat dan aktivitas2 lainnya yang dibawah RUkun Islam, aktivitas2 duniawi, olehkarenanya maka dasarnya pertama2 harus iman, dan criteria bagi yg lulus ujian adalah Rukun Islam, kewajiban2 pokok, dst,, sesusia dengan tingkatan2 taqwa seperti generasi2 terdahulu,, makanya jangan dulu mimpi seperti mereka, sebelum melewati ujian pertama keimanan tersebut,, masihkah bertahan??? Masihkah shalat, dst?? Ataukan menajdi gokil,, ataukah menjadi stagnan, dan berarti lenyapnya segenap ‘aktivitas berkulit taqwa yg tinggi’’ yg selama ini diagung2kan,, HANYA SATU untuk membuktikannya ‘’’ SUDAHKAH ADA ‘’RASA YAQIN PADA AKHIRAT’’ TATKALA SHALAT??? KALAU SUDAH, ALHAMDULILLAH,,, TOKH hanya urusan diri masing2,, betul2 hanya bagi diri senidrilah nanti kelak di akhirat,,, namun bukan berarti yang baru berIslam itu, bebas ujian,, tatkala mendekat ke kelas ujian atau tertarik pada penawaran2 untuk ikut ujian, pastilah akan dihadang habis2an, demikkian juga pada kelas2 di bawahnya, yang kesemuanya itu tdk akan luput dariNya dan diperhitungkan di akhirat, maka bagi yg belum beriman, akan terhindar dari kelas hadangantohtal-menjadi apatis,, .. Ada dalil bahwa ;; dosa2 kecil itu jika menumpuk , maka akan menjadi dosa besar.. nah, apalagi dosa2 besar yg menumpuk.. namun dosa2 kecil itu, menjadi berkadar sama dengan dosa2 besar yg secara teori tentunya tidak yg kelas tinggi, misalnya menjadi berkadar sama dengan ghibah yg seperti makan bangkai, menuduh yg bukan menuduh dosa besar- menuduh zinah, dsb , adapun dosa2 kecil itu misalnya mengakhir2kan waktu shalat, menunda kewajiban2 lain yang bisa ditunda, berbisik2 di depan orang dengan bukan bermaksud membicarakannya, membuang sampah sembarangan,melihat aurat-rambut-muka, pada TV, dsb, atau makruh yang tingkatannya dibawah dosa kecil, , yakni jika ditinggalkan akan dapat pahala, dan tidak apa2 jika dilakukan, kalau dosa kecil, maka jika dilakukan akan dapat siksa, ataupun melakukan yg syubhat, mungkin hukumnya makruh, memakan yg syubhat, kecuali betul2 terpaksa , dan dinetralisir dengan basmallah, nah,, apakah jikalau dosa2 kecil itu menumpuk akan menjadi berkadar sama dengan dosa2 besar dibawah musyrik-durhaka, yakni berzinah, membunuh, menzhalimi, saksi palsu, dll??? wallaahu’alam . Khussus tentang melihat aurat, jikaalu secara kasatmata, maka termasuk dosa besar, dikarenakan sumber dari kemaksiatan, namun dikarenakan kurang dawah, dan sangat besarnya dorongan setan-fitrah-kodrat manusia untuk melihat–, maka telah dianggap biasa, jikalau ulama nya telah jauh pesat meningkat taqwanya, maka insya Allah dapat leboh memperingan-mempermudah ummat untuk menundukkan pandangan, sebagai dosa besar jika dilanggar. Tentang kegilaan apatis atau czicofrenia non destruktif ini, menurut eschatology adalah tertahannya segenap aspek, kecuali yg instiktif-bersin, ngedip, dll- dan yg sangat mendesak, ataupun bisa disebabkan tertahannya beberapa aspek atau pada titik2 terlemah,. Kedua sebab ini sama2 mengakibatkan mandegnya segenap aktivitas manakala seseorang telah menapaki jalan lurus secara total, yakni memaksakan diri melakukan hal2 wajib. Tatkala seseorang sudah tidak kuat, maka dipastikan akan mencari motivasi yg dapat menjadikannya tetap melakukan kewajiban tersebut, di sisi lain tatkala yg bersangkutan mengalami kekalahan2 dalam beberapa aspek atau satu aspek, maka motivasi yg dicarinya itu, baik berupa passion, keuntungan2 duniawi, dsb akan lebih menggelincirkan jalan lurusnya itu. Namun dibandingkan dengan yg kalahtotal, sehingga sama sekali apatis, tentunya golongan yg tergelincir ini jauh lebih baik, karena tidak termasuk yg fasik, alias masih menjadi yg patuh-yg bertauhid-mempunyai derajat taqwa. Berbeda dengan yng tidak mengalami kekalahan2 dalam perang2 batinnya , atau minimal kalah dalam hal2 yang makruh, maka motivasi yg bersifat duniawiyah,–passion, dll—tidak terlalu mendominasi, motivasi utamanya adalah sesusia dengan kodrat manusia yakni ‘’ingin selamat’, dalammana landasan utamanya adalah tetap dikarenakan ‘’wajib’. Adapun bagi yg banyak kalah, maka shalat itu menjadikannya suatu kebutuhan, dikarenakan memang motivasi utamanya dan yang menjadikannya berbuat shalat, adalah dominant disebabkan keinginan duniawiyah, hakikatnya memang agar tetap dapat shalat, motive butuh itu boleh dipakai, namun tujuan akhirnya mutlak wajib karena ‘’kewajiban’’ dan goal utamanya adalah akhirat, jikalau terus2an terperangkap dalam jalan yg menggelincir ini, maka tujuan utamanya itu akan lebih susah untuk difokuskan. Disamping keunggulan golongan yg tergelincir ini dari yg kalahtotal-yg apatis, ada sisi yg harus dicermati, yg sepertinya hal sepele, yakni keunggulan itu memang telah terjadi, namun untuk masa yg akan datang, sama sekali belum bisa terbukti, dibandingkan dengan golongan yg tetap istiqamah dalam motivasi ‘karena wajib’’, dalammana mereka telah terbukti dapat menang perang, dengan menjadikannya bukan yg kalah total, walau misalnya niyatnya belum kaffah karena ahirat alias belum hadir gambaran surga di qalbu alias belum iman, dan biasanya ibadahnya pun pas2an. . Maka jangan dulu takabur, dengan kulit factual ibadah yang ‘kulitnya’’ sangat berderajat taqwa yg tinggi, selama belum mengembalikan niyat-tujuan pada ‘karena wajib’, karena dipastikan akan mengalami perangbatin persis dengan yg kalahtotal-apatis, yakni akan tertahannya segenap aktivitas., dan k ke depannya betul2 barulah terbukti –tertentukan dimanakah kelas kita sesungguhnya. Jadi , jikalau menilik generasi terdahulu, maka dipastikan mereka telah melewati perangbatin awal, dan tidak kalahtotal-apatis, lantas baik kulit factualnya serta ruhaninya adalah berderajat taqwa yg sangat tinggi-paling tinggi di bawah Rasul saw, dan para Nabi. Ciri2 kekeliruan penggelincir ini adalah takabur-riya-suuzhan, dan dampak yg sangat negative adalah menyebar virus negative, yakni merasa telah benar, walau faktanya memang telah berIslam kaffah, yakni ‘ketinggina derajat taqwa factual-kulit ibadah’, menjadi ukuran, misalnya terlupakana tentang syarat sah shalat, dan berdampak, menyulitkan bagi para pemula, yakni shalat itu tetap sah, walau ada najis, kecuali tidak berthaharah, dan dalam taharah itu ada dosa besar jika tidak sesuai yakni ada najis, namun wudhunya tetap sah, namun dosa besarnya adalah dalam aspek-bagian thaharah., tentunya syarat syahnya wudhu itu adalah mutlak, yakni airnya suci mensucikan, tdk berubah warna, bau, rasa, misalnya air laut, kopi, kelapa, dsb, alhasil, jika jelas2 ada najis dan berubah, maka wudhunya menjadi tdk syah, namun ada batasan dua kulah dll, , alhasil, tatkala kasatmata sangat jelas airnya bernajis dan sangat sedikit-seember, dll, maka mutlak dicari air lainnya, namun ttatkala ketahuan ada najis setelahnya shalat, maka wudhu-shalatnya itu tetap syah, kecuali jika sebelum shalat, dan ada waktu untuk mengulang wudhunya, atau bebas untuk mengulang atau tidak, untuk dewasa ini sangat mudah mencari air bersih, air mineral sebotol kecil pun bisa untuk wudhu bagi aspek2 yg wajibnya saja, atau bagi air yg syubhat namun volumenya banyak, atau yg jelas2 berubah namun volumenya banyak. dsb. wallahu’alam Kembali pada apatis, maka secara eschatologist, dia tadinya tahu persis benarsalah-telah baligh-normal-tdk ‘gila’-retarded, dll, , dan apakah ada kelainan sel2 otak, tentunya akhlinya yg tahu, dan EQnya bisa saja tidak baik, namun yg dipastikan bagi yg destruktif, secara teori adalah ber EQ buruk, sedangkan bagi yg hanya apatis, EQ nya baik, namun tertahan-kalahtotal, sehingga menjadi ‘apatis-czikofrenia non destruktif. Alhasil, segala kemampuan, kebisaan, dll, sekecil apapun, akan tidak berguna tatkala kalahtotal, alias sama sekali tidak beradaya apapun, maka kemenangan awal ini merupakan prasyarat bagi bergeraknya seseorang dalam hidup dan jalan yg ditempuhnya adalah jalan lurus, analognya persis tatkala jihad qital, zaman Rasul saw. tatkala segenap aspek tertahan, manakah bisa naik kuda, bergerak, dsb , setelah itu adalagi jihaddunnafs2 lain , diantaranya menhan marah, ygmana disebutkan sebagai orang yg kuat, namun bukan berarti tatkala belum melewati perang awal-mendasar, maka menahan marah itu, tidak ada nilainya, hal itu tetap saja merupakan ujian-jalan bagi naiknya tingkat untuk meraih kelas2 yg lebih tinggi, yakni menbempuh aktivitas2 yg bermotivekan dikarenakn wajib, dst. Wallahualam. Kembali pada ‘kebutuhan’, yg mana jika dikaitkan dengan do’a, maka shalat itu juga sebagai permohonan . Berangkat dari ihwal do’a yg hakikatnya merupakan kebutuhan, maka shalat pun kita asumsikan mempunyai dasar ‘ karena butuh’ tersebut, alias –‘hal sebagai kebutuhan itu’’ dijadikan motive utama dalam shalat. Hakikatnya shalat itu mempunyai hukum dasar ‘’wajib’, dan boleh kita tambahkan motive ‘butuh’ sebagai penyemangat-penggerak, namun seperti saya uraikan di muka, maka mutlak wajib dipaparkan hukum dasarnya dan tujuan akhir-motive utamanya, yakni butuh untuk pahala, butuh untuk ketenangan, untuk sukses yg tujuan akhirnya adalah untuk akhirat-pahala. Demikian juga halnya tatkala berdo’a, kita wajib berniyat sama persis seperti tatkala shalat, yakni diniyatkan-diafirmasikan-difokuskan pada akhirat-pahala sebagai tujuan-motive akhir-utamanya. Jikalau sama sekali tidak ada kata2 ‘’butuh untuk pahala’’, atau butuh untuk ketenangan dalam rangka bertujuan akhir-bermotive utama untuk pahala’’, maka berarti kita berani MENGUBAH—MENAMBAH DENGAN MENYINGKIRKAN HUKUM DASARNYA,, SUNGGUH TIADA TERKIRA KELANCANGANNYA, KETIDAKPATUHANNYA. TANYAKANLAH PADA QALBU–, BUKAN UNTUK DIPERDEBATKAN, MEMANG KITA WAJIB MENCARI SALAH-BENARNYA, DAN DIALOG INI UNTUK MEMBUKTIKAN SIAPA SALAH SIAPA BENAR DEMI UMMAT.. CUKUP HANYA SATU PERTANYAAN ;; SUDAHKAH ADA ‘’RASA YAQIN PADA AKHIRAT’’ TATKALA SHALAT, DAN ‘’RASA YAQIN’ ITU ADALAH BUKAN SEKEDAR PERCAYA SEPERTI KITA BARU MENDENGAR TENTANG SATU HAL-TEMPAT , NAMUN ‘’SEPERTI TELAH MELIHAT DENGANMATAKEPALA SENDIRI’, ITULAH ‘IMAN’, YAKNI YAQIN PADA HAL YG TIDAK DAPAT DIJANGKAU-TRANSENDENT, PERSIS SEPERTI YAQIN DI DUNIA NYATA INI PADA HAL YG KITA LIHAT SENDIRI.. MAUKAH KITA YAQIN??. CUKUP DUA PERTANYAAN INI. TIDAK ADA LAGI KOMENTAR2 BERIKUTNYA YG WALAU SUBSTANSINYA BENAR, HANYALAH AKAN PERCUMA BAGI PERBAIKAN DIRI, ATAU KURANG BERARTI, SEDANGKAN HAL KRUSIALNYA-HAL YG PALING TERASA BERAT, TIDAK MAU DILAKUKAN. JAWABLAH SENDIRI DALAM QALBU, HANYA UNTUK DIRI SENDIRI. JIKALAU BETUL2 SUDAH ‘’YAQIN TATKALA SHALAT’’, TANPA MELALUI PENGALAMAN BATIN SEPERTI PENULIS, MAKA MY MISTAKES ALL THE WAY, FINE, PERIOD, KEEP IT THAT WAY. WALAU TETAP ADA KEANEHAN YG SANGAT MENGGANJAL ;; YAKNI MENGAPA SAMA SEKALI TIDAK DIURAIKAN, SAMA SEKALI TIDAK ADA KATA2 ;; ‘TUJUAN UTAMA AKHIRAT-PAHALA TATKALA SHALAT’, ‘’TATKALA SHALAT’’ , SEKALI LAGI;; ‘’TATKALA SHALAT,, DITAMBAH LAGI;; ‘’TATKALA SHALAT’’, TIDAK BOSAN22 ;;; ‘’TATKALA SHALAT’’, BUKANKAH WAJIB MENOLONG UMMAT?? TENTUNYA TIDAK MUNGKIN KITA MENZHALIMI,, / KALAU HANYA BICARA TAUHID, INGINKAN PAHALA- INGINKAN SURGA, TATKALA CERAMAH, DISKUSI, TEFAKUR, DLL, MAKA HAL ITU BERARTI BARU BERAZAM-BERTEKAD, BELUM BERNIYAT. LANTAS JIKA TELAH TERSADAR DAN MERASA SALAH, KENAPA SAMPAI TIDAK TIMBUL ‘’RASA YAQIN PADA AKHIRAT TATKALA SHALAT’’, MAKA AKAN TERINGATLAH KESALAHAN FATAL DI MASA LALU , DALAMMANA ‘’HANYA MAU MELAKUKAN KEWAJIBAN BERDASAR NYAMANNYA DIRI’’, HANYA MEMILIH KEWAJIBAN YANG TERASA ENAK, YAKNI MEMILIH SHALAT YANG HANYA BERTUJUAN DUNIA, SEDANGKAN HUKUM DASARNYA ADALAH ‘’HARUS KARENA KEWAJIBAN’’, DALAMMANA TATKALA MEMILIH LAKUKAN SHALAT BERDASAR KEWAJIBAN DIA TIDAK SANGGUP, —BERDASAR KEWAJIBAN ITU ADALAH SEBAGAI EMBRIO DARI KESADARAN AKAN PAHALA–DIKARENAKAN SANGAT BESARNYA HADANGAN SETAN, DAN TATKALA MEMILIH BERMOTIVEKAN DUNIA SEMATA, DIA MERASA NYAMAN, DIKARENAKAN BLONG TDK ADA HADANGAN SETAN, NAMUN TATKALA DIA MENDEKAT KEMBALI PADA JALAN LURUS, TETAP DIHADANG ALIAS TERKADANG MERASA BERAT-MALAS MELAKUKAN SESUATU YG HAKIKATNYA AKAN MENGARAH PADA JALAN LURUS-JALAN YANG BERDASAR KEWAJIBAN. NAH, APA BEDANYA JIKA BERMOTIVEKAN ‘INGIN SELAMAT ‘ YG JUGA MOTIVE DUNIA, ?? MOTIVE ‘INGIN SUKSES ITU SEBAGAI KODRATINYA MANUSIA, HANYA AKAN TIMBUL SECARA TOTAL TATKALA SEDANG TENANG, TDK ADA BENCANA2, DSB, ATAU PADA SAAT BANYAK BENCANA, TETAP ADA KEINGINAN SEDIKIT, DI BAWAH SETENGAH DARI KEINGINAN YG TOTAL TIMBUL DI SAAT TENANG, SEDANGKAN MOTIVE’INGIN SELAMAT’, AKAN TIMBUL SETIAP SAAT, YG JUGA TENTUNYA SEBAGAI MOTIVE KODRATI MANUSIA, , NAH, MAKANYA TATKALA DASARNYA KARENA WAJIB, NAMUN MOTIVE YG MENGGERAKKANNYA ADALAH ‘’INGIN SELAMAT’’, MAKA AKAN SANGAT MUDAH MEMFOKUSKAN-MENGAFIRMASI QALBU PADA TUJUAN-MOTIVE UTAMA AKHIRAT-PAHAL;A. Alhasil, berdasar hal2 di atas , dapat dikonstelasikan golongan ummat secara kasar, yakni golongan fasikin, dimana terdiri dari kelas2, dan di dalamnya termasuk abu2, yg mengarah-mendekati kelas2 di atasnya, lantas, golongan yg berIslam, namun shalatnya berdasar ::semata2 kebutuhan dunia’’’—karena bukti nyata bahwa tidak pernah membahas tentang kebutuhan pahala khusus pada shalat, yaqin pada akhirat ‘tatkala shalat’’, butuh dunia namun ujungnya akhirat dan disebutkan khusus pada saat membahas shalat—, lantas sebagai yg lebih tinggi kelasnya adalah golongan ‘’stagnan’, yang walau realitanya secara duniawi pada umumnya terpuruk, baik hanya jasmani, atau hanya ruhani-depresi jiwa, atau kedua2nya, –seperti pernah saya bahas pada ruang tentang ‘’kadar’’teguran yg keras, bagi yg kelas kepatuhannya di bawah, dan semakin ringan ‘kadarnya’’, sejalan dengan makin tingginya kelas kepatuhan, yakni hanya dalam aspek batiniah , misalnya tidak puas2, keresahan2, dsb, namun dalam bobot atau ‘tingkatan’ atau beratnya teguran sekaligus ujiannya adalah sesuai dengan kelas kepatuhannya;; dan berupa hal2 batiniah juga fisik, diantaranya termasuk teguran2 dalam bentuk kekurangan2 materi, ketidaktentraman2, dll, dalilnya ;; Al Baqarah 286, , golongan yg stagnan ini yakni yg istiqamah deengan shalatnya berdasar ‘’hukum wajib;’ tidak lancang berani mengubah, walaupun belum masuk ‘beriman’, karena belum ‘’yaqin pada akhirat tatkaala shalat’’, khusus tentang ihwal ‘’gila’ adalah dimasukan juga pada golongan fasikin yakni orang yang ‘’gila karena tidak kuat menjalankan kewajiban-aturan agama’’, dalam kasus ini, apakah ber EQ buruk atau tidak, ujungnya adalah tetap pada ‘’keapatisan total, kecuali kegiatan yg instinktif’’, bedanya kalau EQ nya buruk, maka dihadanganya pada semua aspek hidup, sedangkan ‘’mungkin ‘’ bagi yg EQ nya baik, hanya dihadang pada beebrapa aspek terlemah, karena aspek2 lainnya sepertinya percuma dihadang juga, dikarenakan dapat dengan mudah-seperti reflek dan otomatis akan tetap dilakukan. Keapatisan ini bukan hanya jikalau kalah dan menjadi fasik, namun walaupun menang dan tetap dalam kelas2 taqwa,, ‘hakikat keapatisan’’’ ini adalah akan tetap sama saja, alias dihadang total pada segenap aspek, makanya tolokukurnya adalah dimulai dari Rukun Islam, berlanjut pada kewajiban2 utama;; cari nafkah yg primer, tolabulilmi ilmu2 agama dan pendidikan keluarga, amarmarufnahimunkar, ta’awun, . Alhasil, disbanding yg ‘’kalahtotal-apatis’’, yg termasuk fasikin, maka para pemenang ini jauh lebih baik,, walau hanya jalankan shalat saja, namun tentunya tetap berdosa besar, karena tinggalkan kewajiban2 lainnya, namun minimal sudah terbukti keimanannya, walau hanya pada kelas terendah—tidak ada iman yg hanya syahadat saja, kecuali yg berIslam–, demikian juga dibandingkan golongan yg ‘’berIslam yg hanya berdasar kebutuhan’’, dikarenakan golongan ‘stagnan terendah ini ‘ adalah embrio dari kelas iman , sangat dekat untuk naik kelas, dan walaupun tidak naik2 , untuk tetap bertahan di kelas itu pun dibutuhkan ketahanan-kemampuan yg sangat mumpuni, namun hadangannya belum pada semua aspek—bagi yg EQ nya buruk–, atau pada beberapa aspek terlemah bagi yg EQnya baik-normal, –belum totalnya hadangan ini memang dikarenakan dia sendiri masih kalah-alias masih memperturutkan nafsu kemalasan-rasaberat untuk menempuh-menjawab ujian, makanya dalam hal2 yg akan menjauhkannya dari jalan lurus, dia tdk akan dihadang, misalnya dalam hal agar tidak mau menjawab ujian-tidak naik kelas, makanya dia merasa nyaman secara batiniah dalam kelas tersebut, dan aspek hidupnya normal semuanya, kecuali tatkala dia mendekat atau ada azam, gerakhati , maka spontan ada hadangan teramat berat, apalgi tatkala mewujud menjadi niyat dan perbuatan , namun di sisi lain untuk tetap bertahan itu,, dia tetap berjuang-berperang sepanjang hidup, silahkan saja tanya pada penghuni kelas2 golongan ini, mungkin sekian banyak yg berguguran akibat sangat dahsyatnya virus2 merajalela, dan di sisi penyebar virus, yakni ‘’yg berdasar kebutuhan alias hubuddunnya’’ walau merasa sadar menyebar virus dan ada rasa dosa sebagai penzhalim, , namun kalah oleh memperturutkan nafsu untuk tidak mau berkorban –sama sekali tidak mau menderita batin,, hanya memilih kewajiban2-ujian2 yang nyaman, dan tidak mau melakukan ujian2-hal2 yg dirasa wajib yang terasa sangat berat, padahal apakah pahala itu akan diberikan pada yg tidak mau berbuat, yg hanya memilih hal2 yg nyaman,?? apakah kalau ingin masuk disebut beriman itu tidak akan diuji?? Justru hal2 yg dirasa sangat malas-berat inilah sebagai syarat masuk kelas iman, dan tatkala terlewatkan beberapa hal yg betul2 disadari sebagai hal positif alias wajib , baik mendesak atau tidak, maka berarti kita tidak mau mengerjakan hal2 yg dilewatkan tersebut ,, sebetulnya sangat sederhana, qalbu semua kita sangat sadar akan ‘pemilihan’ hal2 yg tidak mau dilakukan,, dengan adanya wujud hal2 positif atau kewajiban2 itu , otomatis merupakn penawaran bagi setiap pribadi2 yg merasakan adanya penawran2 ujian tersebut, tidak bisa dibantah lagi, lantas tatkala kita tidak mau atau melewati-memilih hanya hal2 yg nyaman, sedangkan qalbu itu pasti bicara tentang hal yg urgen, dll,, alhasil HANYA ITULAH SYARATNYA JIKA MAU ‘’ADA RASA YAQIN PADA AKHIRAT TATKALA SHALAT’’,, Jikalau setelahnya masuk pada kelas stagnan, maka lewatlah satu rintangan , namun masih belum tentu lulus untuk masuk ke kelas iman, bisa saja turunkelas menjadi ‘gokil’, apalagi bagi yg masih ada di kelas yg beradasar butuh’’, masih lebih jauh lagi jalannya,, kecuali betul2 mau mujahadah-bersungguh2, meloncat, dll. sekali lagi semuanya belum terbukti,, maka pantas saja kadar takabur-riya-suuzhannnya masih lumayan tebal, dan dikarenakan bisa mengenali rambu2 yg umum,, yakni termasuk ‘’kelas yg percaya’’, alias rambu takut dosa’, maka untuk menguranginya, insya Allah mau mengurangi takabur, dengan mau mendengar masukan, dan menyetop penyebaran virus2 yakni ujaran2 yg semata berdasar pengalaman2 atau pendapat2 pribadi, dsb , karena telah dipastikannya golongan yg dimasukinya tadi di atas, maka mau bagaimana membuat ummat ke jalan lurus, jikalau qalbunya pun masih pekat, selain hanya mennularkan penyakit2, alhasil mohon sampaikan saja tanpa menambah2 pendapat pribadi, dsb. Apakah tidak punya tenggang rasa untuk tidak memaksa dalam bertindak menyebarkan virus2, setelahmana disadari akan masih rendahnya kelas dan masih gulitanya qalbu, dan dikarenakan bertauhid, maka dalam pekatnya qalbu , masih sangat yaqin akan dosa, apakah tidak takut ??? Kembali pada topic sebelumnya ,apakah dampak bagi yg ber EQ normal akan apatis total pada segala aspek –tertahan total namun tetap dilakukan –atau tidak apada segenap aspek, penulis belum paham, kecuali telah ada buktinya , alhasil, bisa saja menjadi tertahan hanya pada aspek2 terlemah, namun secara teori ujungnya akan berdampak sama, yakni walau hanya aspek2 terlemah, dan masih normal dalam aspek2 lain, namun menjadi apatis dalam segenap aspek hidup secara umum, karena pengaruh dari aspek2 terlemah tersebut, ygmana sebagai satu system, dipastikan akan bergejala sama dengan yg apatis total,, namun bukan berarti apatis itu menjadi sama sekali tdk bergerak,, sekali lagi, kriterianya adalah RUKUN ISLAM, DST. YANG TERPENTING ADALAH TELAH IMAN,,’YAQIN PADA AKHIRAT TATKALA SHALAT . ’’, DAN OTOMATIS AKAN IHSAN, NAMUN DERAJATNYA MASIH RENDAH, LAMA2 AKAN NAIK KELAS,, YAKNI MAU MELAKUKAN KEWAJIBAN2 LAINNYA DENGAN DASAR IMAN , –BUKAN HANYA BERDASAR PERCAYA—BERISLAM, YG BELUM TENTU DI MASA DEPANNYA DAPAT TETAP BERISLAM SECARA KAFFAH—MAU SHALAT-, , BISA SAJA KALAH DAN MENJADI FASIK , ATAU GOKIL BAGI YG BER EQ BURUK, .JIKALAU DI MASA DEPAN ITU GOLONGAN BERISLAM YANG SAAT INI BERATRIBUT SEBAGAI ”MUTTAQIN BERDERAJAT TINGGI’ , MAU MENGIKUTI UJIAN YANG SELAMA INI DIHINDARINYA, YAKNI TIDAK ME MILIH2 KEWAJIBAN, DAN MELEWATKAN BEBERAPA HAL YANG BETUL2 TELAH DISADARINYA SEBAGAI SUATU HAL YG WAJIB-POSITIF BAIK BAGI DIRINYA ATAUPUN BAGI UMMAT . JADI, sebagai panutan , maka harus dimulai dari para ulama, memang hal itu lah tugas-risiko-konsekwensi jabatannya, sebagaimana dalil , Rasul saw bersabda ada tiga hal yang aku khawatirkan , yakni ” ulama yang salah, hukum yg zhalim, dan memperturutkan hawa nafsu” TAQDIR, MUCH MORE. Qadha dan qadar itu , diartikan pula taqdir baik dan taqdir baik, jikalau sepakat bahwa qadha itu berupa ilmuNya, dan sebagai makhluk kita tidak bisa memposisikan diri sejajar atau satu frame waktu, maka semua kita sepakat bahwa qadar itu mutlak dikembalikan pada qadha yg telah tertentu dan sebagai makhluk, kita sama sekali sangat haram memikirkannya dan mencampurkan posisi sehingga menjadi ”seperti mengacu pada jabariyah-apatis, hanya wayang-robot, dll” , alhasil, qadha itu adalah sebagai aqidah, dlammana wajib diyakini tatkala menerima taqdir-ridha-‘ikhlas menerima’, tolabul ilmi, dll. , namun dalam keeseharian, –yg mana sesuai pula dengan kodrat insaniyah–kita wajib melepaskannya–tidak melekat terus2an dipikirkan, dikarenakan posisi kita sebagai makhluk, alhasil yg berlaku adalah qadar alias taqdir baik dan buruk. Kewajiban atas taqdir baik buruk ini adaalah sunatullah, yakni berusaha memilih hal-hal yg dirasa baik dalam kehidupan, dalammana pada kehidupan ini terdapat berbagai hal baik-buruk. Alhasil, tidak ada taqdir ALIAS KETENTUAN LAIN YANG LEBIH BAIK DARIPADA YANG TELAH TERJADI, ALIAS PEMILIHAN ITU BUKAN MEMILIH ANTARA NASIB-TAQDIR BAIK DAN BURUK YG TELAH TERSEDIA, DAN DIANGGAP KITA BISA SAJA SALAH MEMILIH . KEKELIRUAN PERTAMA ADALAH BERTENTANGAN DENGAN KONSEP QADHA ITU SENDIRI, YAKNI BAHWA NASIB-TAQDIR-KETENTUAN, DLL. ITU ADALAH HANYA SATU, WALAU DIANGGAP BAHWA TAQDIR-QADAR ITU ADALAH HANYA BERADA DALAM KEHIDUPAN NYATA YG SEDANG KITA JALANI, NAMUN HAKIKATNYA DALAM KEHIDUPAN NYATA INI PUN, TAQDIR ITU MUTLAK HANYALAH SATU, YAKNI QADHA, ALIAS ‘TELAH TERTULIS DI LAUH MAHFUZ’ DAN SANGAT HARAM JIKA MENOLAK ATURAN NYA TERSEBUT, LANTAS APAKAH YG DIMAKSUD DENGAN QADAR??, MAAKA JAWABNYA ADALAH SEPERTI DI ATAS TADI. KEKELIRUAN KEDUA ADALAH DAMPAK DARI KESALAHAN PENGERTIAN TERSEBUT, YAKNI JIKALAU DIANGGAP ADA KETERSEDIAAN -PEMILIHAN ANTARA TAQDIR-KETENTUAN-NASIB YG BAIK DAN BURUK, MAKA TATKALA SADAR TELAH SALAH MEMILIH , ATAU MENGALAMI KEKECEWAAN2, DSB, DIPASTIKAN,- DIKARENAKAN ADA DUA OPSI,–, KITA MENJADI LEBIH SANGAT MENYESAL, –MENGAPA TIDAK MEMILIH-MENGAMBIL YG TADI, YG LAIN, YG ITU, DST., DIBANDINGKAN JIKA ”YG ITU, YG LAIN”, ”YG TADI ITU”, TATKALA TELAH TERJADI SESUATU PERISTIWA, ADALAH ”SAMA SEKALI TIDAK ADA!!!—, DEPRESI, SUSAH TOBAT, DSB. ALHASIL, TATKALA TERSADAR TELAH SALAH, LANGSUNG MUHASABAH-TAFAKUR, DAN WAJIB BERKESADARAN BAHWA MUTLAK HANYA SEMATA2 KESALAHAN DIRI KITA SENDIRI., DALAM MANA SETIAP QALBU AKAN MEYADARI PROSES PEMILIHAN -KEMERDEKAAN PENUH YANG TELAH DITEMPUHNYA-DIPILIHNYA SENDIRI, DAN SECARA HAKIKAT HAL ITU ADALAH QADAR, ALIAS ”UKURANN’, ATAU BERDASAR ”JANJI” DI ALAM RUH, ATAU ”MUNGKIN ” DITAFSIRKAN BERDASAR ”KEHIDUPAN DI ALAM RUH YG TIDAK KITA SADARI BAHWA TELAH TERJADI”, KARENA SECARA DALIL AQLI, ALLAH SWT. ITU BERSIFAT SERBA MAHA, DIANTARANYA ADALAH ”TIDAK MENGENAL WAKTU”, MAKA SEMUA YG SEDANG, TELAH DAN AKAN KITA JALANI DI DUNIA INI, SECARA ILMU ALLAH SWT. ADALAH TELAH TERJADI, TIDAK USAH HARUS MENUNGGU PROSES, MENGIKUTI PROSES-MENGENAL WAKTU, DSB., YANG PENTING ADALAH KITA BETUL2 TIDAK MEYADARI PROSES DI ALAM RUH ALIAS QADAR TERSEBUT, MAKANYA JANGAN DICAMPURKAN DALAM KEHIDUPAN NYATA INI, KITA SEMATA2 SEDANG MENEMPUH ”QADAR’, TERSEBUT,, ALIAS SAMA PERSIS DENGAN TATKALA DI ALAM RUH YG TIDAK KITA SADARI TERSEBUT, DALAMMANA KEJADIAN DI DEPAN KITA ADALAH BETUL2 SAMA SEKALI TIDAK KITA KETAHUI, BELUM DITENTUKAN, DSB,, OLEHKARENANYA, ”YG PENTING ADALAH DETIK INI!!!, SAAT INI!!, MAU MEMILIH ARAH MANAKAH LANGKAH KE DEPAN KITA,, BETUL2 DITENTUKAN DENGAN SEPENUHNYA MERDEKA OLEH ”SAAT INI- DETIK INI” !!!, JIKALAU SAMPAI KALAH PERANG DAN MENUNDA HAL2 YANG DIRASA WAJIBHARUS DILAKUKAN, MAKA, HAL ITU LAH YANG MENENTUKAN KELAS KITA SEKARANG INI YANG MENJADIKAN KITA BERCOKOL DI KELAS2 RENDAH,, PENUNDAAN INI TIDAK BOLEH TERJADI BAGI HAL2 WAJIB YG MENDESAK-SANGAT MENDESAK., HAL INI LAH YG MENJADI DASAR PENEMPATAN KELAS KITA TERSEBUT. ADAPUN HAL2 WAJIB YG AGAK BISA DITUNDA, AKAN MENGAKIBATKAN STRESS-DEPRESI BERKEPANJANGAN JIKA TERLALU LAMA DITUNDANYA. ADAPUN PENUNDAAN LAINNYA ADALAH HAL2 YG BUKAN WAJIB, YANG JUGA TURUT MENENTUKAN PENEMPATAN KELAS TAQWA. DI SISI LAIN , HAL2 YG SANGAT MEENNTUKAN PENEMPATAN ITU ADALAH KALAHPERANG DALAM HAL2 HARAM,. ADAPUN JIKALAU SAMPAI HARUS KALAH, MAKA SECARA MINIMAL, –YANG HAKIKATNYA TETAP MERUPAKAN PEMILIHAN YG SALAH, NAMUN DIBANDINGKAN DENGAN YG LEBIH BURUK, MAKA SECARA MINIMAL—- DIUPAYAKAN KALAH DALAM HAL2 BUKAN HARAM, ALIAS KALAH DALAM HAL2 MAKRUH, MUBAH, DSB., ATAU YG LEBIH BURUK DARI MAKRUH, ADALAH HAL2 YG SYUBHAT YANG BERKECONDONGAN BESAR KE ARAH HARAM. WALLAHUA’LAM. KEMBALI PADA TEORI QADAR, MAKA ADA TAFSIRAN YG MENURUT PENULIS LEBIH TEPAT, YAKNI DIDASARKAN SIFAT ‘SERBA MAHA”, MAKA SESUAI ILMU NYA , TERDAPAT ”ALAM PENCIPTAAN YANG SESUAI DENGAN SIFAT2 NYA , TERUTAMA SIFAT”TIDAK MENGENAL WAKTU”, BAQA’-KEKAL’, ”’,, ALAM PENCIPTAAN YG SESUAI DENGAN SIFAT2 NYA” INI, DISINGKAT SAJA DENGAN ”ALAM PENCIPTAAN”,, DALAM MANA DICIPTAKAN EMPAT MAKHLUK , UNTUK HIDUP DI SURGA, YANG KEMUDIAN TERJADI KEZHALIMAN2 . ATAUPUN DITAFSIRKAN ;; DICIPTAKAN TIGA MAKHLUK, MINUS MALAIKAT,. , NAH, ALAM PENCIPTAAN INI LAH YG MERUPAKAN QADAR, ALIAS UKURAN ATAU DASAR BAGI ”PENCIPTAAN ALAM SEMESTA’ INI, UNTUK KEMUDIAN MENJADI QADHA, YANG HANYA SATU, ALHASIL,, PENCIPTAAN ALAMSEMSTA, BERIKUT TURUNNYANABI ADAM, AS, DST, DST, ”SUBSTANSI HAKIKI PENYEBABNYA” ADALAH BUKAN KEHENDAK NYA,, DALIL2NYA BANYAK,, DIANTARANYA KURANGLEBIH ;; DOSA MANUSIA ADALAH SEMATA2 ATAS KESALAHANNYA SENDIRI, DSB, DSB ,, NAMUN TENTUNYA DALAM ”PENCIPTAAN ALAMSEMSTA BERIKUT SEGALA ISINYA DAN KEHIDUPANNYA ITU ADALAH SEMATA2 DITENTUKAN OLEH NYA, YAKNI QADHA, NAMUN BERDASAR QADAR, OLEHKARENANYA MENGACU PADA KONSEP QADHA INI, MAKA DALAM QUR’AN BANYAK DISEBUT, KURANG LEBIH ;; YG TELAH DISESATKAN,, YANG TELAH DITENTUKAN MENJADI TIDAK BAIK, DSB, DSB”.. .. MOHON WAJIB DIINGAT BAHWA,, HAL ITU ADALAH BAGI YANG ”TELAH TERJADI”,, ADAPUN BAGI KITA SEMUA,, ”KITA SAMA SEKALI TIDAK TAHU APAKAH TELAH DISESATKAN, DSB”,, ALHASIL TIDAK ADA KATA TERLAMBAT, SELAMA MASIH NAFAS,, MAKA SATU DETIK PUN ADALAH SANGAT BERHARGA,, YAKNI MINIMAL ;; ” HARUS WAFAT DALAM KEADAAN BER ISLAM”. ,, ”YAKNI SELAMA NAFAS BELUM DI KERONGKONGAN”. .. NAH,, TEORI TENTANG TAQDIR INI, INSYA ALLAH, TIDAK AKAN SULIT BAGI TATARAN KELAS2 TINGGI, YAKNI KELAS ABU2, ISLAM YG KAFFAH–YG SHALAT BERDASAR BUTUH, DALAMMANA WALAUPUN BUTUH UNTUK MENGADU, NAMUN DASARNYA-ASALMUASALNYA ADALAH UNTUK KEHENDAK DUNIAWI”, ”YG SHALAT BERDASAR KEWAJIBAN’, ”YG BERIMAN DAN SHALATNYA MASIH BERCAMPUR DOSA2 LAIN”,, NAMUN BAGI TAATARAN2 BAWAH PUN,, INSYA ALLAH, TIDAK AKAN SULIT PULA, DIKARENAAKAN, TATKALA TIMBUL PERTANYAAN2 ;; MENGAPA BEGINI, BEGITU, DSB, , QALBU TIAP2 ORANG ITU TELAH DIBEKALI ”TAUHID”, SEDARI LAHIR,, YAKNI ;;IMAN INSTINKTIF”,, MAKANYA DIA AKAN BETUL2 JUJUR YAQIN AKAN KEMERDEKAANNYA TATKALA MEMILIH JALAN-JALAN DALAM KEHIDUPANNYA, DAN SEMATA2 AKAN KESALAHANNYA SENDIRI BERHUBUNGAN JUGA DENGAN TAQDIR ADALAH DIIJABAHNYA DO’A, YAKNI TERKADANG DO’A ITU DIKONVERSI MENJADI KESELAMATAN, NAH, JIKALAU SALAH BERPIKIR, MAKA AKAN TERJADI KERANCUAN, YAKNI BERPERSEPSI ;; KAN BISA SAJA DIKABUL SAMBIL DISELAMATKAN”., LANTAS DIDUKUNG OLEH KEKELIRUAN LAIN , YAKNI MENETAPKAN UKURAN DUNIAWI SEBAGAI KRITERIA KETTQWAAN, , ALHASIL ASUMSINYA ADALAH TATKALA BELUM DIKABUL DAN DIKONVERSI ATAS TERHINDARNYA DARI MUSIBAH2 YG BISA SAJA MENIMPA, LALU DIANGGAP BAHWA KETIDAKTERKABULAN ITU , –WALAU MENDAPAT KONVERSI– ADALAH DIANGGAP BELUM PANTAS MENERIMANYA, ALIAS KETIDAKSUKSESSAN DUNIA ITU DIANGGAP DIKARENAKAN BELUM PANTAS ALIAS BELUM TAQWA , ALIAS BISA DITENTUKAN DERAJAT TAQWA SESEORANG BERDASAR BELUM PANTASNYA MENRIMA PENGABULAN. NAH, BAGI YANG LEBIH ARIF, ADALAH MENELISIK KEMBALI DALIL2, TARIKH, DIANTARANYA, TIDAK SEMUA GENERASI2 TERDAHULU ITU KAYA, ATAU TIDAK SEMUA NABI, DAN AYAT2, HADITS, DIANTARANYA KURANG LEBIH ISINYA ; RASUL SAW BERDO’A AGAR HIDUP BERSAMA ORANG MISKIN, DAN DIWAFATKAN DALAM KEADAAN MISKIN, DST. . NAH, MAKSUDNYA ADALAH BUKAN FAKIR. DALIL2 LAINNY ADALAH ; TIDAK BOLEH BERLEBIHAN, MEMILIH PERTENGAHAN WUSTHA, UMMAT PERTENGAHAN, SEDEKAH SEPERTIGANYA, ATAU DIBAWAHNYA, DLL., DLL. . ALHASIL , TATKALA TDK SUSKSES DUNIAWI, MAKA TDK LANGSUNG DIVONIS BELUM TAQWA, , NAMUN TATKALA BERKERANGKA PIKIR BAHWA HAL ITU DIKONVERSI PADA KESELAMATAN, , TETAP SAJA BERARTI BAHWA DERAJAT TAQWA BISA DIDTEKSI, ALIAS MASIH ADA TARAF SUKSES DUNIA YG LEBIH TINGGI YG TDK TERCAPAI. KERANCUAN INI DIKARENAKAN TITIK BERANGKATNYA YG TDK TEPAT, YAKNI DIAMBIL SATU SATU, YAITU DIMULAI DARI ‘KESELAMATAN”, DAN DIPISAHKAN DARI ”KESUKSESAN’, PADAHAL SEYOGYANYA MENURUT SAYA, ADALAH HARUS MELETAKAN ” KESUKSESAN” ALIAS QADHA-NASIB-KEADAAN YG TALAH DAN SEDANG DIJALANI, SEBAGAI VARIABEL DASAR YG MEWADAHI SEMUA PARTIKEL2 KEHIDUPAN YG DIALAMI, TERMASUK DIDALAMNYA PARTIKEL ‘KESELAMATAN”, ALHASIL, ”VARIABEL”’KESUKSESAN ” ITU SECARA BULAT—BUKAN VARIABEL YG DITENTUKAN TERJADINYA BERDASAR KONVERSI PADA KESELAMATAN– ADALAH SEBAGAI HAL YANG ”PALING BAIK-SESUAI’ DENGAN KITA, YG TENTUNYA BUKAN TOLOKUKUR DERAJAT TAQWA hal2 lain yg penulis coba uraikan adalah tentang ‘nekad’, yakni tatakal telah betul2 stuck , namun betul2 telah sadar akan urgensi hal2yg wajib dilakukan dalam perangbatin, maka makna ‘nekat; itu adalah labrak saja, lakukan saja, seperti terrjun bebas tanpa parasut ke bawah jurang ygmana di bawahnya dipastikan-diimani ada jaring pengamaan yg kita ragukan keamannay–bolong2, dsb,, namun kita wajib terjun,, dsn ilustrasi2 lainnya, dsb, nah,,, maka ,, DIPASTIKAN HAL2 YG WAJIB ITU ADALAH UJIAN ATAU ”PENAWARAN2 BAGI KITA UNTUK DILAKUKAN ATAU MENEURUTI KEMALASAN UNTUK TIDAK BERBUAT, YGMANA KEBERADAAANNYA TDK TERBANTAHKAN ADA DI QALBU DAN BETUL2 TERASA BERAT-MALAS,”,, ALHASIL,, HAL2 ITU BUKAN HAL2 YG REMANG2,, BAGAIMANA NANTI, TIDAK JELAS ARAHNYA, CARANYA, POLANYA, HUKUMNYA, DSB,, MAKSUD NEKAD ITU ADALAH , SEBENARNYA ADALAH HARUS BERANI,, HARUS DIGDAYA MELAWAN SETAN, WALAU JARING PENGAMANNYA BOLONG2, DSB,, HARUS BERANI MELOMPAT!!!!, DSB.. Satu hal lain adalah tentang amanah, maka tatkaal titik berangkat kita untuk shalat itu berdasar wajib, dan dalam kerangka yg lebih luas, adalah ”untuk amanah”, maka hakikatnya adalah sama saja,, apakah berdasar amanah ataua wajib, yg penting adalah ;; dikarenakan untuk dapat pahala, atau takut siksa,.dan jika dasar ‘karena amanah’ itu ternyata dapat menjadikan dorongan -motive yang kuat alias membuat bersemangat, maka tentunya adalah merupakan hal yang baik, asalkan syaratnya tentang adanya ‘rasa yaqin pada akhirat tatkala shalat’ itu terpenuhi. Dikaitkan dengan pahala, maka kelas yg stagnan ini adalah di bawah kelas yg ”punya rasa yaqin pada akhirat” tatkaala shalat, walaupun misalnya melakukan dosa2 lain dalam shalat tersebut misalnya bid’ah, kurang maksimal, tdk syah dalam thaharah yg bukan dikarenakan sakit, dsb. . Contoh bid’ah itu misalnya, menganggap hal2 yg tidak diajarkan sebagai hal yg wajib, misalnya berniyat sebelum shalat, yg diyakini telah diajarkan, dan dianggap wajib serta merasa sangat berdosa tatkala tidak dilakukan, ataupun mengusap muka setelah salam, dan dianggap shalat belum berakhir serta tidak syah, jika tdk mengusap muka, dsb. Adapun jika betul2 telah mencari ilmu dan yakin bahwa hal itu tidak diajarkan dan tdidak dosa jika ditinggalkan, alias syah shalatnya, dan tatkaal tetap dilakuan namun betul2 berkeyakinan seperti tadi, alias bisa saja ditinggalkan sewaktu2, namun merasa betul yaqin bahwa shalatnya syah. . adapun tentang qunut,, adalah ada dalil2nya, dan bagi yg tdk terbiasa dan mengambil dalil lain,, sebenarnya dalam era sekarang ini, yakni yg kritis secara batin juga lahir, adalah juga terkadang diperlukan qunut nazilah, walau tidak sedang perang qital. Adapun proses batin anatara dua kelas ini adalah sama, yakni bagi yg stagnan adalah dihadang untuk menedekati jalan lurus, dan ottomatis didorong agar tetap beraktivitas dalaam jalan yg tergelincir tersebut, namun walau masih tergelencir, dipastikan dia memenagkan perang2 batinnya, sehingga terbukti dengan tetap berkeyakinan bahwa shalatnya harus berdasar ‘wajib”. Adapun kelas yg betul2 yaqin akhirta-pahala, namun berbuat dosa, misalnya bid’ah, –bukan sama2 bermotive butuh seperti kelas Islam kaffah yg hakikatnya adalah pecinta dunia dan remang2 pada akhirat tatkala shalat–, adalah telah meemenangkan mayoritas perangnya, walau belum total,, alhasil,, aktivitas kesehariannya tdk dihadang,, atau dihadang pada spot2 terlemah,, sehingga sebagai satu sistem, menjadikan keseluruhan aktivitasnya terhadang–menjadi terasa seperti ”apatis total”, namun tetap memaksalan diri untuk melakukan,, YG PENTING ADALAH ”MELAKUKAN–BUKTI NYATA!!!!, YAKNI BUKTI DALAM RANAH RUHANI,, BUKAN HANYA BUKTI KULIT, YGMANA ”SEANDAINYAPUN” HANYA SHALAT SAJA, MAKA JAUH LEBIH BAIK, DIKARENAKAN TELAH IMAN,, NAMUN TATKALA IMAN, MAKADIPASTIKAN TDK MUNGKIN MENINGGALKAN RUKUN2 ISLAM LAINNYA,, ALHASIL,, ‘SENADAINYA”. MENINGGALKAN WAJIB2 LAINYA YG MERUPAKAN DOSA BESAR, YAKNI LIMA KEWAJIBAN UTMA A; CARI NAFKAH, TOLABUL ILMI, TA’AWUN, AMAR MARUF NAHIMUNKAR, MENDIDIK KELUARGA. MAKA JAUH LEBIH BAIK. ——- kembali PADA KELAS BID’AH INI YG TELAH YAQIN PADA AKHIRAT-PAHALA, maka kenapa tidak dihadang saja pada seluruh aspek, sambil didorong pada aspek bid’ah?? nah,, , kelas ini telah mayoritas menang perang,, alhasil, TIDAK MUNGKIN DIHADANG LAGI UNTUK TIDAK MENGHARAP AKHIRAT ATAU TIDAK MUNGKIN DIHADANG LAGI UNTUK TIDAK BERGERAK DI JALAN LURUS,, maka ”gerakannya” adalah pasti diamalkan–ibadah keseluruhan -ghairmahdhah dan mahdhah, dengan niyat pahala,, namun dikarenakan masih ada kekalahan, maka didoronglah ke arah bid’ah,, dan mana mungkin bisa bergerak menjalankan ”kesalahan” itu jika dihadang pada semua aspek,, alias dorongan atau bebasnya hadangan pada titik2 terlemah ataua keseeruhan aspek-menjadi apatis, dikarenakan kebutuhan setan agar manusia bisa menempuh jalan yg tergelincir itu, walau tdk kesel;eruhannya tergelincir,, alhasil,, aktivitas kesehariannya akan normal2, namun tetap perangbatin-merasa berat, dalam hal memepertahanakan kelasnya tersebut dan dalamerangka tatkala mendekati jalan lurus–yakni agar tidak bid’ah sambil tetap berniyat lurus yg dipastikan secar teori akan tdk tergoyahkan menjadi ”kelas2 di bawahnya”,, karena kelas ”yg beradsar motive wajib” itu telah berhasil dilaluinya, dan dibuktikan tidak ”menjadi apastis”, apalagi turun kelas menjadi ”kelas yg bermotive buutuh’, wallaahua’lam. Sekali lagi bagi kelas yg berdasar wajib alais stagnan itu, memang ”hanya agar gugur kewajiban, ‘, sepertinya tidak ada ghirah selanjutnya, tidak semangat, menikmati, asal2an, diambil yg wajib2 saja, tdk menyegerakan waktu, dsb. , memang begitulah adanya. namun di sisi lain, selalu banyak penawaran2 ujian agar diikuti, jika ingin naik kelas, dan agak terbebas dari beban teguran, belum yaqin akhirat, dsb. . alhasil memang salah sendiri lah sehinggga tetap di kelas tersebut, dan bagi kelas dibawahnya pun sama, yakni selalu banyak penawaran2, dan tatakala selalu menghindar, memilih2 melakukan hal2 yg ”terasa wajib”. , namun hanya ingin melakukan hal yg nyaman aliass tdk patuh,, malahan berusaha sekeras mungkin lakukan pembelaan2, alias tdk mau lakukan hal yg terasa wajib namun berat-malas, dsb, maka ,, apakah mau ”ada rasa yaqin tatkaala shalat??,, apakah tdk takut dosa2,,., yg secara teori adal;ah riya, ujubtakabur, suuzhan, tdk laklukan kewajiban2 dasar yang utama, dsb,, yg kesemuanya akan menjadi tdk terasa, disamping terutama tdk adanya pahala2, alaias kosong melompomg tatkala di Mahsyar , walau tdk berat akibat dosa tdk shalat, namun dari dosa2 lainnya, akan menambah beban sisi kiri mizan. A
  2. Apakah tdk takut sehari, seribu tahun, alias satu jam adalah dua puluh tahun, ataukah diandaikan saja hari-hari di dunia, apakah tidak takut direbus air panas, atau terbakar apin, selama beberapa jam, dsb, . Maka hanya bagi yg mau memaksakan diri–,,BERANI, melakukan menjawab ujian2 itu lah yg akan ”MENGALAMI-MERASAKAN SENDIRI” hal2 yg sama dengan kelas”yg stagnan”, ataukah bagi yg Eq nya buruk , malahan menjadi ”apatis totall’ alaias fasik, sekalilagi belaum terbukti!!!,, jikaluau sekarang wafat,, maka dipastikan akan lebih baik dari fasik, namun waktu ke depan,, belum terjadi,, maukah mengikuti-menjawab ujian dan meloncati kelas satagnan, atau meloncati kelas ‘yg iman namun bid’ah atau yg iman namun kurang maksimal, atau yang berdosa dalam hal thaharah dsb ?????. Tentang peloncatan ini, bukan berarti langsung meraih kelas iman, namun tetap merasakan hal2 yang sama persis dengan tingkatan2-fase2 di atas kelas ‘berIslam yg berdasar kebutuhan”tersebut, hanya saja dikarenakan ghirah nya atau dayajuangnya, kedigdayaannya, dsb dalam berperangbatin melawan setan lah yang menjadikannya bergerak cepat, dan hanya sebentar melewati atau mengalami kelas2 keimanan yang bawah tersebut, sehingga sepertinya meloncati kelas2 ”iman derajat awal” tersebut. Kembali lagi tentang ”berdasar butuh” dan yang ”berdasar wajib”, yang mana terdapat perbedaan mendasar antar keduanya, yakni tatkala ada ihwal yg sepertinya sama, dalammana ihwal tersebut adalah ”dikarenakan butuh pada ketenangan”. Nah, bagi yg berdasar butuh, titik berangkat dalam motivenya adalah ”untuk kesuksesan’, yg mana dalam perjalanannya tentunya mengalami kekecewaan2, dan butuh untuk mengadu, dsb, sedangkan bagi ‘yg berdasar wajib”, adalah juga mempunyai motive ”butuh untuk mengadu”, namun ”titik keberangkatannya ” adalah berbeda, yakni semata2 berdasar ”wajib”, dan terefleksikan oleh ;;; sekedar gugur kewajiban,kurang bersegera, kurang maksimal dalam ibadah mahdhah, kurang bergairah dalam hal2 duniawi, dsb, juga akan terhalangi pada spot2 tertentu tatakala dia bergerak untuk lebih menggapai kelas2 di atasnya, yakni kelas ”iman secara hakikat”, dalam mana kelas yg berdasar wajib itu adalah berupa kelas yg hanya ” berkesadaran bahwa shalat itu mutlak harus berdasar wajib, bukan diutamakan berdasar pada tujuan ingin duniawi, ygmana tujuan2 duniawi tersebut hanya merupakan tambahan-tujuan antara, dan dalam prakteknya seringkali tatkala shalat itu, terlupakan tujuan2 duniawinya”. Ada pengemukaan pendapat bahwa kita belajar Qur’an itu terutama agar dapat hidayah, dan tentang pahalanya , insya Allah akan didapat. Jadi, pahala itu dijadikan nomor dua, yang penting adalah maksud untuk mendapat hidayah., nah, tentunya hidayah itu sangatpenting,, yakni termasuk tolabul ilmi yaitu lima wajib setelah rukun Islam. , alhasil,, jenis kegiatannya adalah tolabulilmi yg tentunya dimaksudkan untuk dapat hidayah, sedangkan dasar utamanya mutlak harus berdasar ”pahala”’,, dikhawatirkan kata pahala ini sepertinya alergi–terkhusus dalam amalan2 mahdhah, y—ataupun menjadi stigma. Nah, setelahnya kita dapat hidayah-taufiq, sepenuhnya tergantung kita, apakah mau berperang batin memilih hidayah itu, atau hanya sebatas kesadaran , alias, hidayah itu baru merupakan modal yg sangat bermakna bagi kehidupan hakiki kita, dan bukan telah merasa cukup, hanya dengan didapatnya hidayah itu. Adapun menurut penulis, hidayah yg sangat penting, adalah meluruskan niyat, dan hal ini tentunya wajib dilakukan, . Alhasil, dikarenakan tatarannya adalah dimensi batin, maka yg terpenting dalam hal tindakan nyata niyat ini, adalah ”DILAKSANAKANNYA NIYAT-TUJUAN YANG LURUS’, ALHASIL, ”sepertinya’ tidak perlu segala macam wacana, dialog, kontrapendapat, antithesis, dsb, , jikalau memang substansi-esensi ”niyat yg lurus’ itu telah dilakukan, tidak perlu mempermasahkan segala hal yg ada sangkutpautnya dengan niyat yg lurus tersebut alias ”jikalau telah dilakukan , why bother?, kecuali mempermasalahkan hal2 yg memperkuat ihwal niyat lurus itu, ataupun penyadaran2, dsb . Jikalau membicarakan hal2 yg tidak searah dengan ihwal niyat lurus itu, maka tentunya adalah sepenuhnya merdeka, apakah mau mengambil pilihan yg menurut penulis adalah jalan lurus, ataukah terus2an membicarakan hal yg tdk searah, yg artinya adalah tidak mau melakukannya, tidak perlu lah membela dengan argumen2 apa pun, kalau memang tidak mau, tentunya tinggalkan saja, beres lah sudah., tindakan yg tdk mendukung itu misalnya dengan mencari2 argumen2 baru, seperti niyat ‘untuk dapat hidayah tersebut’, dan pahala nya dinomorduakan, barangkali akan terus2an bermunculan argumen2 lainnya, yg walaupun substansinya benar, namun tdk searah-berbeda dasarnya dan otomatis berbeda derajat kewajibannya , jadi, seperti pernah penulis bahas, seandainya terus2an dicari argumen yg kontra, insya Allah tdk akan pernah bisa meruntuhkan yg haq!!!, alhasil cukup sampai titik ini saja. Kembali pada topik,, maka PAHALA itu adalah nomor satu, dan jikalau berkehendak untuk pahala, maka barulah akan diberi,, dan yg berkehendak untuk pahaal itu, adalah yang konstelasi batinnya berkonfigurasi seperti halnya sunatullah-kodratiyah pada orang yg berkehendak sesuatu hal, yakni ”terbetik-terbersit-terlintas-tergambar-hadir, dsb pada pikirannya dan pada hatinya. Adapun konsep pahala itu sudah jelas menyatu dengan akhirat, kecuali bagi orang yg tatkala MENYEBUT KATA PAHALA ITU, YG TERBETIK DI HATINYA ADALAH SEMATA2 PAHALA DUNIA ATAU TUJUAN2 DUNIA. ALHASIL, MUTLAK TATKALA MENYEBUT KATA PAHALA ITU, KITA MEMPUNYAI ”RASA YAQIN PADA AKHIRAT”, DALAMMANA ”RASA YAQIN’ ITU ADALAH PERSIS DENGAN TATKALA KITA YAQIN DENGAN MATAKEPALA SENDIRI ATAS HAL2 YANG ADA DI DUNIA INI, ALIAS BUKAN SEKEDAR ”PERCAYA”, YAKNI SAMA HALNYA DENGAN KITA PERCAYA KATA2 ORANG YG SANGAT KITA PERCAYAI ATAS HAL2 YG ADA DI DUNIA DAN BELUM KITA LIHAT DENGAN MATAKEPALA SENDIRI, .. SECARA TEORI ADALAH MUDAH BERWACANA, NAMUN SECARA HAKIKAT, ADA KRITERIA-REFLEKSI DARI ”RASA YAQIN’ TERSEBUT, DALILNYA AL BAQARAH , YAKNI KURANGLEBIH ”MINTA TOLONGLAH DENGAN SABAR DAN SHALAT, DAN KEDUANYA ADALAH SUNGGUH BERAT KECUALI BAGI YG KHUSYU, YAKNI YG YAQIN AKAN BERTEMU DAN KEMBALI PADA NYA”. NAH, YG DIMAKSUD SHALAT TERSEBUT ADALAH SHALAT YG BENAR, MAKA, REFLEKSI DARI ”RASA YAQIN” ITU ADALAH ”ADANYA RASA YAQIN PADA AKHIRAT-PAHALA TATKALA SHALAT’, DAN PEMBUKTI DARI PERCAYA DAN ‘YAQIN’ ITU ADALAH ”SUNGGUH BERAT”, ALIAS SAKING BERATNYA SEHINGGA TIDAK BISA MELAKUKAN NIYAT YG BENAR, ALIAS TDK BISA SHALAT KECUALI NIYATNYA TIDAK BENAR, ALIAS SHALATNYA DILAKUKAN TAPI NIYATNYA TIDAK DILAKUKAN DIKARENAKAN SUNGGUH BERAT, ATAUPUN MAKNA SUNGGUH BERAT ITU ADALAH BISA BERKESADARAN UNTUK BERNIYAT DENGAN BENAR, NAMUN SANGAT SUSAH UNTUK TIMBULNYA ‘RASA YAQIN” , ALIAS HANYA SEBATAS’PERCAYA’. SEBAGAI implementasi dari semua topik yg penulis bahas, maka mau tidak mau penulis coba usulkan , mohon agak dipertimbangkan—tentang substansi-materi tawaashaubilhaq-amar marufnahimunkar, yakni ;;; KURANGLEBIH ;; PEMAKSAAN DIRI ALIAS MELAWAN RASA MALAS-BERAT ATAS SEGALA HAL YG JELAS2 POSITIF BAIK SECRA UNIVERSAL; ATAUPUN SECARA SYAR’I, ALIAS JANGAN MEMPERTURUTKAN ENAKNYA HATI-KEMALASAN, DAN HANYA MAU MENGERJAKAN YANG TERASA RINGAN-SEDANGKAN IHWAL2NYA SUDAH JELAS DIRASAKAN SEBAGAI HAL YG WAJIB, BAIK DIANGGAP HARUS BERSEGERA ATAU AGAK BISA DITUNDA . NAMUN ”RASA MALAS’ BAGI HAL2 YG JELAS2 NEGATIF ADALAH NORMAL-SUNATULLAH, DAN SANGAT BENAR, BUKAN BERARTI HARUS DILAWAN, KECUALI ADANYA RASA MALAS PADA HAL2 YG JELAS2 BUKAN NEGATIF, NAMUN TIDAK DIYAKINI-DISADARI-DIKETAHUI SECARA SUBYEKTIF KEMANFAATANNYA, MAKA SECARA TEORI , DIPASTIKAN BAHWA HAL2 ITU ADALAH AKAN MEMBAWA PADA JALAN YG LURUS, MAKANYA PULA WAJIB LAH KITA LAWAN RASA MALAS UNTUK MENEMPUHNYA.. UNTUK MENENTUKAN ”BUKAN NEGATIF’ATAU NEGATIF TIDAKNYA, MAKA JIKA ADA SATU ORANG SAJA YG MENGKTITIK, MAKA WAJIB DICARI PENDAPAT2 LAINNYA, DAN DIPASTIKAN SETELAHNYA MENCARI PENDAPAT-TOLABUL ILMI SEBANYAK MUNGKIN-SEMAKSIMAL MUNGKIN, MAKA PASTI QALBU LUBUK TERDALAM AKAN MENGETAHUI DENGAN PASTI TENTANG SALHBENARNYA HAL TERSEBUT, DAN JIKA ADA ‘RASA MALAS” UNTUK MENEMPUHNYA MAKA HAL ITU DIKARENAKAN BAHWA ”HAL ITU ADALAH HAL YG SALAH”, BUKAN BERARTI RASA MALAS ITU HARUS DILAWAN, SEPERTI PADA IHWAL ”MELAWAN RASA MALAS DALAM HAL2 YG TELAH PASTI KEPOSITIFANNYA”. Hal2 lainnya adalah urutan tentang kewajiban, dimulai dari Rukun islam, lalu lima kewajiban utma ;; carinafkah yg primer;sandangpangan, tolabul ilmi, mendidik keluarga, ta’awun, amarmarufnahimunkar. Sebagai aplikasi dari materi pertama, maka misalnya bagi agniya,, maka titik perangbatinnya adalah pada taa’wun, disamping meluruskan niyat dengan MEMBIASAKAN DIRI MENGHILANGKAN NIYAT ”BUTUH”, DIUBAH MENJADI ‘KARENA WAJIB”, ATAU BOLEH JUGA AGAR SEMANGAT , DIUBAH MENJADI ;;KARENA AMANAH’, ASALKAN DIAKHIRI DENGAN NIYAT ”AKHIRAT-PAHALA’, BIARLAH JIKALAU BELUM ADA ”RASA YAQIN” TERHADIRKAN DI QALBU, ASALKAN SUDAH BETUL2 SADAR AKAN KEWAJIBAN MENOREHKAN-MEMBERSITKAN AKHIRAT-PAHALA DI HATI-PIKIRAN. ADAPUN TENTANG NIYAT DUNIA, TENTUNYA SANGAT BOLEH, NAMUN MUTLAK HARUS DIAKHIRI DENGAN NIYAT AKHIRAT-PAHALA TADI. . VARIABEL LAINNYA, misalnya bagi yg mendahulukan cari dunia dan meelalaikan mendidik keluarga, atau kurang maksimal, dsb, tolabul ilmi, maka kancah perangbatinnya adalah pada titik2 tersebut,, disamping kewajiban utama dalam membiasakan diri dalam niyat shalat yg lurus tadi.. Adapun bagi kelas2 lainnya , adalah berlaku ihwal dalam materi pertama, yakni ”memaksakan diri”, dan tentunya tergantung dari sekian banyaknya segenap variabel2 kehidupan dewasa ini pada semua masyarakat dunia. Sedikit tentang konsep ikhlas, ygmana sepengetahuan penulis diantaranya berasal dari kata khulush-bersih, atau khalus. Adapun arti kata khalaa-kosong, seperti pernah penulis ungkap, adalah tidak tepat. Alhasil, tujuan itu harus bersih dari maksud2 lainnya selain ”karenaNya’, karena taat menjalankan segala titahNya, dan dengan kata lain, ”kepatuhan padaNya” itu adalah semata2 ‘mengabdi-menghamba’, ygmana dasar kepatuhan itu adalah semata2 harus bertujuan pada akhirat-pahala, alias berdasar segala hukum2Nya, dimulai dari WAJIB”. aDAPUN TEORI tentang MARDHATILLAH–YANG MEMANG BERDASAR DALIL2—, ADALAH SUBSTANSINYA TENTUNYA SANGAT BENAR, NAMUN PENAMBAHAN ATAS PENERAPAN DAN PENENTUAN PENAFSIRAN ATAS HUKUMNYA, ADALAH SEBATAS TAFSIRAN, ALHASIL,, BAGI YG PENCARI RIDHA NYA ITU MUTLAK WAJIB MENGHARAP PAHALA, DAN BAGI PENGHARAP AKHIRAT-PAHALA PUN DIPASTIKAN AKAN MENCARI RIDHA NYA DAN MENGHARAP PERTEMUAN DENGAN NYA KELAK,, BUKAN HANYA MENGHARAP RIDHA DI DUNIA, DAN MENGANGGAP BAHWA PAHALA PASTI DIBERI JIKA TELAH DIRIDHAI, SEDANGKAN HATINYA-PIKIRANNYA SAMA SEKALI TIDAK TERPIKIRKAN-TERBERSIT TENTANG PAHALA TERSEBUT . Jikalau ada perbedaan antara predikat mardhatillah dan pengharap apahala, mungkin sebatas konstelasi batinnya,, tatkaal lebih banyak rindunya, maka lebih besar jumlah ibdahnya yg bermotivekan ingin berjumpa kelak , , ,, mungkin yang lebih banyak mengahrap pertemuan itu adalah bersifat tertentu yg menjadikannya seperti begitu, namun tentunya merupakan sifat yg sangat mulia, namun pula tetap emngharap pahala, untuk itu lah mungkin tepat pendapat dari Imam al Ghazali, bahwa yg disebut ikhlas itu dianalogikan d dengan tatkala memberi, yakni sama sekali jangan dipikirkan lagi, alias dikiaskan seperti kita BeABee, jikalau dalam amalan2 lain, maka termasuk sum’ah, sedangkan dalam shalat yg ikhlas, adalah sama sekali tdk dipikirkan lagi,, namun mungkin jikalau dalam muhasabah, maka secara keseluruhan–telah berubah bentuk menjadi bentuk ”amalan total”–bukan amlan rinci shlat per shalat yang tidak kita pikirkan lagi tersebut— kita evaluasi-kita renungi-hitung lagi amalan2 kita . Alhasil tatkala telah tidak terlalu banyak shalat yg berujuan pahala, atau semata ”hanya mengharap pertemuan kelak”,, alias ”mahabbha yg tinggi”,, maka tentunya tidak akan dipikirkannya lagi amalan2 tersebut, alias tidak dibicarakan apalagi ditagihnya lagi,, dan berkaitan dengan tagihan ini, adlah riwayat tiga pemuda yg terkurung di gua,, dan bertawasul atas amalnya sehingga pintu gua menjadi terbuka. tentang hal ini ada pendapat yg tidak [penulis ketahui berdasar dalil ataukah pendapat, bahwasanya jika bertawasul pada amal, maka amal yg kita tawasulkan itu menjadi hilang digantikan hal yg ditawasulkan itu , keuali mungkin tatkala muhasabah, wallaahu’alam. Adapaun tentang mengaharap pertemuan kelak,, maka sudah barangtentu adalah telah ada ”rasa yaqin pada akhirat”, alias pertemuan itu adalah kelak di akhirat, dan ”rasa yaqin ini”harus timbul tatkaala kita shalat. Berkaitan dengan perangbatin, terdapat dalil ttg godaan setan, yakni kuranglebih ;; akan menggoda dari kanankiridepanbelakang, nah, tidak diseut atas bawah, menurut tafsiran penulis, godaan itu mutlak akan hadir, dan dikarenakan kita tdk hidup di udara dan di bawah tanah, maka tdk disebutkan atasbawah, disamping ada tafsiran lain bahwa, di bawah itu tatkala sujud, makanya tidak dihadang, sedangkan di atas adalah tempat bersemayamnya Allah swt– Arasy, atau kalau tdk salah, adalah ditafsirkan sebagai tempat jalannya do’a, atau mungkin tempat jalannya turun wahyu, ilham, taufiq, hidayah. Ada juga tafsiran bahwa kuranglebih sbb;;; digoda dari depan agar ragu pada akhirat, dari belakang agar hubuddunnya, dari kiri agar lakukan maksit2, dari kanan agar membuat hal2 baru–kalau tdk slah begitulah pendapat tersebut–,, nah,, tentunya sangta benar tafsiran itu, namun ada pula tafsiran penulis di atas tadi, yakni kita ini hidup di aats tanah,, dan didatangi dari segala arah,, ”didatangi ‘ini adalah ditafsir secra sangat logis adalah digoda didorong, dipengaruhi, ditaku2i, dsb, alias dihimpit, sehingga tidak bisa bergerak kemana pun baik ke atas atau ke bawah, alias ”ada rasa apatis total”,, namun dengan selalu mohon dimampukan,, dan berjuang nujahadah-bersungguh2, dan memenangkan perang dengan memaksakan diri,, sebagai satu2nya cara untuk mendobrak himpitan2 itu, maka kita berusaha semaksimal mungkin menjalankan aturan2Nya dimulai dari YG paling wajib,, yakni RUKUN ISLAM, beranjak ke wajib2 lainnya. Tentang ”mohon dimampukan” ini, penulis pernah bahas,, tatkala dihadapkan pada perang melawan hawanafsu,, sebgai SATU2NYA MUSUH TERAKHIR SETELAH SETAN DIKALAHKAN, —bagi yg tidak mau menganggap setan sebagai musuh utama—-, dalammana kita mutlak tetap dipastikan harus mengalahkana ”rasa2 malas ” yg selalu ada pada setiap orang,, dan YG HARUS DILAWAN ADALAH RASA MALAS2 UNTUK JALANKAN HAL2 YG JELAS2 POSITIF SECARA UNIVERSAL,, kembali pada ‘dimampukan”, maka artinya Allah swt sebaagai YANG SERBA MAHA, akan dengan sangat mudah memilah2 andil2 -usaha2 kita sendiri dalam memerangi nafsu tersebut, sebagai pahala kita, namun dalam prakteknyatanya tatakala kita dihadapakan pada perang2 tersebut, kita betul2 merasa bebasmerdeka total sepenuhnya,, sama sekali ‘merasa” tdk ada bantuan2, , yg sebenarnya included, , dan secara imanhakikat, tdk ada yg sertamerta ringan, tanpa adanya ”perangbatin terlebihdahulu”, alhasil,, tatkaal berdo’a, dimampukan mohon tolong, dsb,, maka mutlak adanya pemaksaan diri untuk bergerak, dan untuk berdo;a, misalnya dalam hadits,, ;; kiuranglebih tatkala, berdo;a teretntu, MUNGKIN AYAT KURSI, AL IKHLAS, AN NAAS, AL FALAQ,, maka lepaslah satu buhul-ikatan, tatakala bangun tidur,, tatkala berwudhu, lepas lagi satu buhul, dst, nah,, tdk sertamerta kita bergerak baca do’a, wudhu, dst,, namun dalam BATINNYA TERJADI PROSES PEMAKSAAN DIRI UNTUK BANGUN DAN MELAKUKAN SHALAT MALAM .TERSEBUT!!! Nah, yang penting adalah adanya hadangan2, dan dikhawatirkan bahwa, kita akan bisa menjadi orang yg bebas hadangan, lewat dilaluinya proses2 kehidupan yang banyak melakukan amal2 taqwa, menyandang predikat ketaqwaan tertentu ,dll. . nah, seandainya pun demikian, bolehlah dituruti saja, namun mohon diperhatikan bahwa setiap muttaqin yang derajat tinggi pun masih diuji, dam hal ini tdk mungkin dibantah, dan ujian itu harus dijawab, namun hal ttg jawaban ujian pun dianggap tidak perlu,, maka bolehlah dituruti juga,, dan yg umum diakui kebenarannya adalah bahwa ujian itu berupa hal2 yg menimpa, baik kesenangan ataupun musibah. Jadi tatkala diberi ujian, berupa musibah2,, apakah langkah selanjutnya,, tentu dijawab, bahwa tindakannya pertamakali adalah sabar, ikhlas menerima, dsb. . , lantas kalau stop sampai di situ,, berarti sebagai apakah ujian itu–sebatas musibah2 kah?. Maka kembali saja pada etimologi-definisi. Mari kita lupakan ujian dan berhenti pada hanya diartikan sebatas musibah.. Namun di sisi lain, setiap kita punya pikiran-hati yang senantiasa menyebut hal2 yang wajib, yang ingin, yang tidak boleh, dsb, dsb.. Apakah ada dalam pikiran kita tentang hal2 yang dirasa ”harus”, apakah untuk mengejar cita2, ataukah dalam keseharian berhubungan dengan oranglain, dsb.. nah, tatkaala dihadapkan pada hal2 yg dirasa ‘harus”, –pokoknya saya harus melakukan ini, jika ingin berhasil, dsb, saya harus berlaku demikian, dsb, sb—-, maka kita akan terdorong-termotivasi, sedangkan disamping ”hal2 yg dirasa harus”, ada ”hal2 yang dirasa malas, berathati, dsb”,, nah, secaara hakikat,, walau segala teori tentang ujian itu dibantah,–, semua ”hal2 yg dirasa berathati itu”, adalah ujian2 bagi para pembantah., dan tentunya secara teori akan tidak terbantah bahwa hal2 itu membutuhkan jawaban2 lewat tindakan2-baik batin atau fisik–, terlepas mau dilakukan atau tidak, dalam arti ada jawabannya atau tidak, alias ada tindakan untuk merespon rasa malas, tersebut, ataukah didiamkan, namun yg penting adalah disadari bahwa, arsa malas itu berarti dua sisi mata uang dengan tindakannya-tindakan dari yang menjadikannya malas tersebut,, tindaklan yg disebut malas tersebut, alias dibutuhkan jawabannya. Adapun bagi yg patuh, maka ”hal2 yg dirasa harus itu”, tentunya langsung dianggap sbagai ujian dan harus dijawab, dan dipastikan bahwa ‘hal2 yg dirasa harus’ itu akan terasa berat-malas,, tidak terdorong, namun bukan berarti tidak dilakukan–yang penting adalah dilakukannya hal2 berat tersebut!! Alhasil setiap yang merasa muttaqin yg wahid pun akan diuji alias tdk bisa dibantah bahwa akan mendapati ”hal2 yg dirasa malas” pada hati-pikirannya, dan artinya adalah ada tindakan2 yang disebut malas untuk dilakukan tersebut,, yang mana berarti tindakan yang dijadikan malas itu tidak bisa dibantah lagi adalah seharusnya sebgai jawaban atas ujian2, jikalau dia berhasil memilih untuk melakukan hal2 yg malas itu. Dan , seandainya pun tidak ada hal2 yg dirasa malas,, maka cermin qalbu kita akan memantulkan jenis2 tindakan apakah yang wajib dilakukan, terutama tindakan batin dalam hal niyat,,–bukan untuk oranglain, betul2 merdeka, mau ditafakuri–dipikirkan,, mau tidak ambil pusing pun,, dsb adalah betul2 bebas,—, dan tdk akan terbantahkan bahwa ”harus bertujuan pada akhirat-pahala”, dan terutama tatkala shalat, apakah kita betul2 memaksudkan shalat itu untuk akhirat??, mohon telisik sendiri2, apakah yang ada di pikiran, tatkala shalat??, Nah,, hal ini adalah salahsatu hal wajib, seandainya tidak ada rasa malas untuk melakukannya–alias tidak dihadang setan—maka yang penting ADALAH HAL WAJIB INI TELAH DILAKUKAN, BETUL2 UNTUK DIRI SENDIRI DANMERDEKA, DISAMPING UNTUK KALANGAN TERDEKAT DAN UNTUK UMMAT, -BAGI YANG MENYANDANG AMANAT. .. SEKALI LAGI, YANG PENTING ADALAH TELAH DILAKUKAN NIYAT YANG LURUS ITU, TIDAK DIPERMASALAHKAN PROSESNYA MENDAPAT HADANGAN ATAU TIDAK BETUL2 BERDASAR KEJUJURAN QALBU SENDIRI2,, TIDAK ADA YANG TAHU HATI ORANG,, APAKAH MAU BILANG TIDAK DIHADANG, DAN BETUL2 TELAH LURUS NIYATNYA, ATAUKAH BELUM, BETUL2 BAGI DIRI SENIDRI,, HANYA SAJA, SECARA TEORI BAGI PENULIS ADALAH MUTLAK HARUS LEWAT ”HADANGAN2 SETAN !!!”,, DAN MOHON DIINGAT , WALAUPUN DIHADANG DAN TERASA BERAT=MALAS, BUKAN BERARTI ”TIDAK DILAKUKAN!!!. , HAL2 yg penulis anggap penitng pula adalah tentang dalil , kuranglebih;;; ada tiga pasangmata yang menyelamatkan ummat yakni , yang terbangun untuk shalatmalam, yang menangis dikarenakan takut padaNya–mungkin juga rindu, mahabbah–, yang menundukkan pandangan. . Nah, yg terakhir ini, sepengetahuan penulis dalam 25 dosa besar, tidak dimasukkan,, mungkin dalam pengleompokkan lainnya yg berjumlah lebih banyak, hal menjaga pandangan ini turut dimasukkan. Alhasil, hakikatnya , –juga berdasar dalil tadi– hal ini adalah dosa besar, dikarenakan dampaknya juga yang besar- sebgai slahsatu sumber kemaksiatan., disamping itu, berkaitan dengan dosa besar, ada pendapat bahwa kriteria taqwa adalah tiga hal ;; kalau tidak salah ;; selalu muraqabah,, merasa selalu diawasi, melakukan ibadah yang benar, dan mu’amalah yg baik. menurut penulis ada satu yg tertinggal yakni berbakti pada orangtua, sebagai salahsatu dosabesar setlah musyrik , terlepas dari apakah ortunya taqwa atau tdk.. dalam hal dirasa tdk taqwa berdasar kriteria yg pasti, secara umum, pandangan2 pihak2 lain, dsb-bukan subyektif–, maka justru tanda bakti itu adalah tawaashaubilhaq, tentunya dengan cara2 yg benar pula. Berikut ini adalah dalil2 tentang carinafkah, dsb. kuranglebih sbb ;;; Rasul saw berdo’a, jadikanlah dunia pahit bagi wali2 Mu, janganlah mereka digoda olehnya, dst. dalil lainnya , kuranglebih ;; Rasul saw bersabda pada puterinya–kalau tidak salah, ataukah pada isterinya—apakah orang2 yang membela kebenaran itu orang2 kaya, apakah orang2 yang …. … itu orang kaya???, dst,, penulis lupa berapa kali disebutkannya hal tersebut.. Nah,, dalail2 ini sangat penting bagi kehidupan , diantaranya dihubungkan dengan lima kewajiban utama setelah Rukun islam, yakni ;; carinafkah yg primer .. Ada pendapat bahwa motive carinafkah itu adalah untuk mewaris,, tentu saja sangat boleh, dengan catatan sebagai kewajiban yg tingkatannya di bawah wajib yg utama yg lima setelah Rukun Islam, dan juga asalkan jangan meninggalkan kewajiban2 , ataupun mungkin termasuk sunnah mu’akad.Alhasil merujuk dalil2 tadi,, dan maksud dari ”generasi yg kuat”–terutama dalam hal ilmu dan fisik, bukan hanya harta, yg secra teori bisa lenyap dalam sekejap—, maka waktu-tenaga-pikiran, dll untuk cari harta untuk mewaris itu, harus diambil dari sisa melakukan tolabul ilmi, mendidik keluarga, taa’wun, amarmarufnahimunkar, carinafkahsandangpangan,, seandainya ada hal2 pokok tadi terlalaikan, maka tentunya berdosa besar, karena lebih mendahulukan hal di bawahnya,, dikarenakan seandainya pun harus ngontrak atau tinggal di ortu,, maka yg terutama adalah sandangpangan, beserta wajib2 yg empat, , dibandingkan mencari harta untuk papan-rumah,, sedangkan kewajiban yg empat ditinggalkan ygmana derajatnya adalah wajib utama, yg berarti hampir mendekati derajat shalat-rukkun Islam, namun, bukan berarti dilarang untuk mewaris, mencari papan, dsb.. asalkan wajib yg utamanya telah dilakukan, ataupun , tatkala berniyat cari sandangpangan dengan kesadaran penuh bahwa hanya bertujuan sandangpangan, namun ternyata dalam waktu yg ada diberi sangat berlebih , berlebih, cukup, dsb, seperti Abdurrahman bin Auf, Utsman bin Affan, dsb. . Adapun bagi kelas ”yg secara tidak sadar mengubah hukum wajib menjadi butuh dengan menjadikan hukum wajib nomor dua dan tidak menjadi terhadirkannya konsep-kesadaran wajib di hati atauapun menjadi remang2 di hati tatkala beramal ”, —disingkat adalah kelas yg beradasr butuh alias hubudddunya alias dajjal amali”, — maka segaal bungkus2 fisik-hal duniawi adalah dijadikan tolokukur utama dalam beberapa hal, fdan terlupakannya hal2 batiniah, misalnya berdasar dalil2 bahwa yg kaya saja yg bearrti diridhaiNya, yg dikhawatirkan akan mengarah pula pada pengkultusan yg walau agak tercegah dikarenakan ketakutan tdk diijabahanya do’a2, –yg walau tersembunyi namun tetap tdk tertahan -tdk bisa tercegah menjadi mengemuka sebagai cerminan kelas batinnya, misalnya lewat ”hal2 yg kurang ajar yg tdk mungkin dilakukan orang2 tawadhu selain oleh yg merasa setaraf dengan generasi terdahulu dan merasa langsung menjabat penerusnya, dan merasa cukup pantas untuk berlaku seenaknya mendagelankan seseorang yg sangat kita junjung tinggi, yg tdk mungkin akan berani misalnya kita saja menyebutkan seorang presiden berlaku negatif sambil bergurau , walau berkata ”berani tidak saudaara2 membayangkan hal tersebut??, berani tidak ?? , sementara sebelumnya disebutkan , tentang hal2 negatif itu dengan jelas, sambil ketawa2, memang yg diebutkan adalah hal yg tdk mungkin dilakukan namun dengan berkata se olah presiden tersebut sedang berlaku negatif tersebut, apakah yg ada di otaknya, sementara pihak2 lain, kecuali yg segolongan adalah betul2 sangat tdk berani, bahkan memikirkannya pun walau yg disebutkan adalah hal yg tdk mungkin,, berbeda dengan menyebutkan hal yg tdk mungkin bagi Allah swt,, karena sebagai KHALIK, kita tdk mungkin membayamngkannya sebagai hal2 yg nyata, , malahan pada tampilan sebelumnya, dengan blak2an dikatakan di atas podium yg tersiar lansung bahwa dia BELUM PERNAH SEBAHAGIA INI !!!!!!!!, DAN YG DIUTARAKANNYA ADALAH TENATANG GURAUAN YG SANGAT TDK PANTAS TERSEBUT, sunngguh gille, —–JADI TOLOKUKUR DUNIA INTULAH YG DIPAKAI, YGMANA BUKAN DILARANG SELAMA MENOMORSATUKAN UNSUR BATINIYAH, DAN MUTLAK PENENTUNYA ADALAH KUALITAS TAQWA SECARA HAKIKI YAKNI SECARA JASMANIRUHANI BERDASAR ATURAN2 YG HAQ!!!!. AJE GILLE…. pEMBUKTIAN NYATA bahwa seseorang telah melewati tahap kritis-penentu bagi ”keberimanan yg hakiki”, adalah setelah berhasil masuk ke kelas ”yg berdasarkan kewajiban semata”, apakah setelahnya berada di kelas tersebut bercampur dengan motive butuh untuk mengadu, butuh untuk dunia, dsb adalah tidak berarti latarbelakang motivenya-motive utamanya–asalmuasaal motive2 lainnya tersebut bukan ‘motive karena wajib’. Adapun pembeda antara yg ‘asalmuasalnya bermotive dunia semata-hubuddunya’, adalah tidak mengatakan tentang ‘motive wajib” ataupun sangat sedikit membahasnya dan itupun bukan khussus dalam ihwal shalat. , disamping ada ciri2 lainnya, misalnya susah untuk berubah, takabur yg kental, riya, su’uzhan, kurang empati, egois, , dsb. Alhasil, jiklaau kita pilah2, maka tatkala ssesesorang kalah dalam perangbatin, lantas dia bertekad bahwa ;; cukup sampai di sisni saja tolabul ilmi ku, aku nyerah, cukup sudah kesengsaraan batinku dan derita materil, , namun tentunya masih cukup banyak tersisa kemenangan2 besar, makanya dia tetap bertahan di ”kelas karena butuh” alias kelas ‘yang beriman”, walau secara hakikat adalah ”kelas berislam’, berbeda dengan kelas di atasnya,– sebagai pembuka jalan bagi masuknya ke kelas beriman secara hakiki”, atau ‘pre elementary’, pre school, dsb, ygmana telah lewat masa kritis dan kemungkinannya sangat besar. walau tetap sepenuhnya tergantung masing2 . — yangmana dia bertekad bahwa dia nyerah, namun berikrar, apakah disadari atau tidak, sbb ;; aku nyerah, tapi tetap selalu mohon taufiq, dan terserah Allah lah segalanya, alaias berserah diri total, . nah, walau tdk diazamkan, namun dipastikan secara haqqul yaqin, bawahsadarnya tetap akan mohon taufiq, makanya mereka akan lebih mudah untuk taubat, , nah, mereka ini akan tdk dihadang pada titik2 terlemah, sehingga menjadikan ”mempunyai rasa apatis total”, dikarenakan telah kalah , dan dia didorong setan untuk meneruskan hidupnya tanpa ada ”keapatisan total”, dalammana ”kekalahan dirinya tadi untuk berhenti menapaki ujian2-jalan2 yg sangat mendaki-terjal-jurang2 dalam, dsb. dan sepenuhnya berserah diri sambil tetap mohon taufiq, ciri2nya adalah ”tawadhu, takabur yg bisa dikontrol, meminimalisisr riya, dsb . adapaun hadangan2nya adalah tatkala berazam dan bergerak walau sepanjang intiatom pun untuk kembali menempuh jalan2 terjal, persis seperti yg telah ditinggalkannya di masa lampau, tatkala bergerak sedikit saja, langsung lah terasa derita batin yg sangat mendera, yakni dihadang pada titik2 terlemah, dan timbulnya ”rasa apatis total”, tidak berdayaupaya, helpless, dsb. , analaog dengan yg kesetrum, alergi berat, phobia, dsb. , olehkrenanya walau tdk apatis total, namun dikarenakan bawah sadarnya ada azam untuk menempuh kebenaran, maka terkadang tdk disadari muncul ke permukaan, dan jadi lah terkadang ‘semi apatis’, sangat beda dengan kelas yg hubuddunya,. Nah, secara simpel, ,dalam kelas ini terbadi dua bagian besar, golonagan yg sama2 kalah dalam menapaki jalan lurus, namun menjalankan mahdhah yg bebas dari kesalahan2 atau lebih sedikit salahnya, atau bebas dalam shalat, namun salah dalam RUKUN2 Islam lainnya, yakni shaum, zakat, haji, misalnya salah dalam miqat , dalam waktu berzakat fitrah, menaggap dianalogkan sebelum shalat I’ed itu adalah shalat shubuh, seperti urutan angka, padahal, jelas dalilnya adalah pada hari Ied, yakni setelah ghurub matahari, gosok gigi tatkala shaum, boleh cicipi makanan, dan mungkin ada yg lain yg belum terpikirkan, golongna ini adalah dihadang pada ketawadhuan, alias lebih didorong untuk lebih takabaur-jumud daripada golongan yg satunya, walau dibanding kelas hubuddunya, derajat takaburnya adalah jauh lebih rendah, adapun golongan satunya lagi adalah yg mahdhahnya, khususnya shalat, masih melakukan dosa, yakni beranggapan wajib atau tdk syahnya shalat jika tidak ikrar niyat, atau mengusap muka, dalamaman secara syar’i-qath’i, adalah sebatas untuk memguatkan niyat-hati untuk akhirat, atau kebiasaan mengusap yg terasa lebih sejuk-bukan gatal–, yg seharusnya mutlak disadari bahwa hal itu bukan syari’ah, yg terkadang harus ditinggalkan, atau mengusapnya tdk langsung setelah slam, dsb. , nah, dihadangnya adalah untuk tolabul ilmi, dan di ssii lainnya adalah lebih tawadhu daripada golongan yg pertama. . Namun yg penting adalah keduanya dihadang tatkala bergerak menuju kelas ‘iman hakikat”, dan tatakala ujiannya tidak dijawab2, tdk bergerak -berani menempuh ke depan waalu sangat menyesakkan dada di awalnya, maka dipastikan tegurannya akan terus2an mendera. Beanjak pada kelas dia atsnya yakni ‘iaman hakaikat”, adalah yg telah gagahberani menempuh peperangan sanngat dahsyat, dan mempunyai ”rasa yaqin akhirat, khususnya tatkala shalat’, namun tetap ada pembeda antara yg ”mempunyai rasa apatis total”, dengan yang normal, yakni mhdhah yg ditempuhnya masih ada kesalahan2, makanya persis seperti kelas ‘yg berdasar wajib”, tatkala bergerak sekcil apaun untuk memperbaiki diri, akan teresetrum kembali, persis seperti yg dia rasakan tatkala hendak menaiki kelas ”iman hakikat”, yakni mengalami”apatis total” namun tetap dilawannya ,, ”peduli setan dengan rasa2 apa pun, yg penting akaua wajib melakukannya,, dan istiqamah dilakukannya, maka berhasil lah memasuki kelas ‘iman hakikat’, namun tatkala dihadapkan pada ujian berikutnya, yakni, kurang lebih dalil ;;; apakah yg beriman akan dibiarkan tdk diuji ?? , yakni tolabul ilmi dalam mahdhah, dia stagnan lagi, alhasil, persis seperti waktu di preschool, dan dia pun tahu persis apa yg dialaminya-dirasakannya,, hanya saja masih ”berserah total;, dan dipastikan tetap mohon taufiq– saking terasa beratnya baginya–yg hakikatnya akan bisa ditempuh seperti loncat ke jurang yg di bawahnya jaring pengamannya bolong2, ygmaana diperlukan keberanian–. Dan setalh taufiq pun datang memang sepenuhnya seratus prosen terserah pemilihannya-kekuatannya sendiri. LEPAS DARI kelas2 tersebut adalah, kelas yg ‘gokil’, dikarenakan ”apaatis total”, apakah disebabkan eq nya buruk ataukah yg normal yg dihadang pada titik2 terlemah, sehingga sebagai satu sistem, dia pun mengalami ‘apatis total” persis seperti yg eq nya buruk , nah, tentunya secara normal golongan ini adalah lebih rendah dari ”kelas yg berdasar butuh”, alias mereka dianggap masih tahu persis benar dan salah, namun kalah besar tatkala menempuh perjalanan hidupnya di kelas yg berdasar wajib atau tatkala hendak memasuki kelas’ yg berdasar wajib tersebut’, alhasi, boro2 shalat, segenap aspek hidup pun tdk dilakukannya, makanya termasuk fasik. Namun dikarenakan bukan disiplin penulis, maka secara ilmiah, ada kelainan pada otaknya, persis seperti yg abnormal-imbesil, dsb , ataupun ada kelainan sementara, yg bisa sembuh, nah, apakah perubahan permanen atau sementara, yg penting adalah ”ketidaksadaran total’, seperti dalam dalil , kurang lebih ” yg gila sampai sembuh-sadar dari gilanya ‘. ,, alhasil,, mereka itu terbebas dari dosa, selama dia gila, dan jikalau hatinya betul2 merasakan ”tidak bisa membedakan benarsalah–baligh”., adapau selama beebrapa waktu tatkalaa dia kalahperang dan sempat tinggalkan2 kewajiban2 , maka tentunya dia berdosa besar. Nah, kembali pada kelas2 lainnya, mereka pun bisa saja kalah di kelas ”yg berdasar wajib”–yakni masih termasuk kelas yg kritis, namun lebih besar cenderungnya untuk masuk ke ‘iman hakikat”, ,, namun mereka memaksakaan diri-berani meloncat -memenangkan perang2 sangat dahsyat, dan naik ke iman hakikat,, demikian juga bagi yg di kelas yg berdasar wajib, mereka bisa saja kalah dan menjadi apatis total-gokil’, namun tetap bertahan di kelasnya, yang walaupun belum bisa meemenangkan perang dahsyatnya tatkala kesetrum dalam saat merasakan ”rasa apatis total’, dan mundur kembali, namun dia tetap memepertahankan kelasnya dengan istiqamah menjawab ujian2nya yg mendorongnya agar tergelincir ke ”golongan apatis total–malas total,, atauapun tergelincir ke ”kelas hubuddunnya- kelas yg latarbelakang-dasar utamanya adalah untuk duniawi semata, demikian juga dengan yg kelas yg berdasar butuh,, maka BELUM TERBUkti Islamnya yang kaffah”, selama belum mau menempuh ujian-mau melakukan hal2 yg dirasa sangat berat-malas, dsb. ,, dan ada kemungkinan setelahnya berazam , dia akan mulai masuk fase sangat kritis, yakni masuk gerbang ”karena wajib”, dengan dibuktikan oleh meninggalkan kejumudan2nya-takabur- riya, cintadunianya, dsb. , dan jikalau ternyata kalah besar, maka jadilah \\apatis total, ataupun setelahnya lulus ujian , dia akan tetap berada di kelas wajib, yg juga masih kritis, alhasil,, tidak bisa hanya berazam, hanya bicara, MUTLAK PERLU BUKTI NYATA!!!!!, dan latarbelakang mengapa susah berubah, yakni telah keluarnya itiqad-tekad, bahwa dia cukup berhenti sampai di situ, dan tidak ada mohon taufiq,, inilah yg membentengi pendiriannya dari terpaan air bah jalan yg lurus, tabir tebal yg menghalangi cahaya kebenaran. Jikalau masalah niyat yg lurus, atau kedudukan pada kelas2 atas, adalah mutlak semata2 dalam taatran batin,, maka buktinya hanya satu yg hanya diketahuinya sendiri , yakni ”dilakukannya niyat lurus tersebut”,, ataupun jika demi kepentingan ummat, maka segala apa yg diyakininya dan dikatakannya,, walau tetap saja , segala apa yg di hatinya hanya dia yg tahu. .. Adapun salah satu pendirian2 yg jumud itu adalah tetap beranggapan bahwa ”tidak ada hadangan2 setan, dsb,, waalau misalnya telah disampaikan tentang bukti nyata bahwa hatinya itu mutlak pasti merasakan hal2 yang terasa malas, ygaan hakikatnya hal2 itu lah sebgai ujian2 yg harus dijawab,, dalammana jawaban tersebut adalah sebenarnya telah tersedia sendiri dalam hatinya,, yakni”hal2 yg dirasa malas tersebut”,, hal2 apakah itu??, maka itulah bentuk jawabaan2 atas ujian2 tersebut, alhasil tdk bisa dibantah bahwa ujian2 itu mutlak harus dijawab, dan jawabannya adalah ”hala2 yg dirasa berat tersebut’.,, alhasil, dia hanya mau memilih2 sendiri jalan hidup yg hendak ditempuhnya , yakni hanya yg selama ini terasa nyaman, tidak mau lagi terperososk merasakan hal2 pahit dalam batin, dsb, dan beranggapaan bahwa hidayah itu lah yg akan memberinya langkah gerak hidup-yg bebas hadangan , alias jika telah diberi hidayah, maka akan bebaslah jalannya dari hadangan, segala ringan, dst,, mohon diingat bahwa hidayah itu petunjuk,, , apakah otomatis setelah adanya petunjuk rambu2 jalan kita akan mau berjalaan, jikalau tidka berusaha mengendarai kendaraann, atau berusaha berjalana, alias ” MUTLAK HARUS ADA USHA TIDAK SERTA MERTA TERASA RINGAN, ALIAS HARUS ADA USHA, SEKALI LAGI USAHA. USAHA, APAKAH USAHA ITU HANYA FISIK,, SILAHKAN JAWABB, RASUL SAW, BERSABDA. ,, DEMiKIAN juga TERUTAMA QUR’AN. IMAM AN NAWAWI, DLL, YAKNI TERUTAMA USAHA BATIN. .. jadi MEMANG YG PENTING ADALAH ”RASA YAQIN APADA AKHIRAT TATKALA SHALAT, ALIAS IMAN HAKIKAT”,, DAN UNTUK EUFEMISM, PEDULI SETAN PADA PROSESNYA, CARA MERAIHNYA, DSB,, NAMAUN SECARA TEORI, AINUL YAQIN, MAKA MUTLAK SECARA TEORI ADALAH HANYA MELALUI PERANGBATIN ALIAS MEMENANGKAN HADANGAN2”,, MEMANG SANAGT SULIT JIKALAU KITA TIDAK MENGALAMI SENDIRI,, SUSAHNYA ITU,, HANYA SEJUMLAH YG LEBIH KECIL SECARA UMUM, DAN HANYA SEGELINTIR YG BETUL2 MERASAKAN-AINULYAQIN, PRAKTISI, YG TERLIBAT DALAM PENDAWAHAN MASSAL, , MAKA MEMANG ITULAH KEKALAHN DALAM PENGUASAAN JALAN 2 MENUJU JALAN LURUS INI. wallaahu’alam. ALMOST EXTREMELY RUDE Setelahkita pahami berdasar penalaran eschatologis tadi tentang konstelasi berikut latarbelakang kelas2 ummat, maka dapat kita telisik segala hal ihwal sebab musabab mandegnya taubat, dll. Dipastikan secara teori jika kita betul2 jujur mau mempunyai ”rasa yaqin pada akhirat dalam semua aspek terutama tatkala shalat”, maka mutlak akan menjalani proses batin yg sama, yakni adanya hadangan berupa rasa malas-berat pada segala aspek alias ”rasa apatis total’,, seandainya masih berkelit–belum tuntas dengan dalil tentang hadangan setan ini, maka tidak bisa mengelak lagi bahwa semua kita pasti merasakan dorongan nafsu, yg populer adalah jihaddunnafs, , jangan pedulikan darimana datangnya dorongan tersebut, pokoknya mutlak adanya nafsu tersebut dan mutlak wajib kita lawan. . Dan ‘rasa yaqin alias iman hakikat’ ini adalah sudah jelas merupakan salahsatu ihwal terpenting dalam aqidah, yg merupakan dua sisi mata uang dengan tauuhid, tdk ada tauhid yg benar-kaffah tanpa ”yaqin pada akhirat”, alias rukun Imannya belum lengkap, dan jelas sekali semua qalbu mengakui bahwa ”iman percaya” alais iman hakikat’, adallah berbeda dengan ‘iman yaqin”,,, percaya itu adalah sama persis dengan ”belum melihat matakepala sendiri pada hal2 duniawi”, olehkarenanya hal percaya dan yakin itulah yg membedakan antara Islam dan Iman—Firman Allah swt, Al Hujurat 14-15—– , tidak perlu susahpayah, tanya qalbu masing2..Nah, sseandainya pun tidak membaca tulisan ini, yg insya Allah suatu waktu akan ada yg mendalaminya dan juga sangat diharapkan koreksiannya-melengkapinya, ,–seandainya bertafakur atau tolabul ilmi, dsb, maka dipastikan akan paham sendiri tentang keadaan ‘percaya ‘ dan ‘yaqin’ tersebut, tanya saja qalbu ”APAKAH INGIN YAQIN SEPERTI HALNYA KITA TELAH PERNAH KE AKHIRAT??. nah,, dikaitkan dengan nafsu , maka diakui adanya ‘nafsu malas’, walau serajin apapun orang, dia akan punya malas pada hal2 tertentu, yg tentunya hal2 positif. , jadi, kita semua sepakat bahwa ”yaqin-iman hakikat ; itu adalah hal positif, maalahan secaaara hakikat-eschatologis, dan semua yg sepaham, disebut sebagai hal paling pokok;; dua sisi mata uang dengan tauhid-salah satu rukun iman— , maka pasti ada ‘rasa malas ‘ pada setiap orang untuk mengkajinya, meraihnya, dll. , apakah kadang2, setiap saat, dsb,, pokoknya pasti pernah ada ‘rasa malaas’!!!, Jadi,, tatkala betul2 jujur telah berazam, bahwa ”tidak hanya bicara menginginkan punya rasa yaqin”, secara logika biasa, apakah yg seharusnya-normal-dipastikan terjadi??? Alhasil, secara teori dipastikan bahwa ”TIDAK SUNGGUH2 berkehendak untuk PUNYA RASA YAQIN!!,, mengapa?? hal ini kita telususri pada klasifikasi ummat tadi,, yakni ”kelas yg berfatwa-mengajarkan tentang perubahaan motive dari wajib kepada motive karena butuh”, yakni kelas yg lebih kental takaburnya dll. , yaitu yg telah menyerah dan bertekad bahwa cukuplah sudah sampai titik ini, tdk kuat lagi, dan menganggap pengalaamn batinnya itu lah yg paling tinggi untuk periode akhir zaman ini, berikut teman2 sekelasnya , dikarenakan memang telah bersusahpayah lahirbatin, dan dikarenakan tingkat taqwanya tersebut yg secara lahirbatin dirasakannya, maka dianggap bahwa tingkatan yg telah ditempuhnya itu lah yg paling benar,, dan secara bawahsadar dia berpendirian bahwa tidak ada lagi yg lebih benar, dan artinya dia menutup hidayah-taufiq, walau secra lahir-mulutnya tentunya tetap mohon taufiq, namun hakikatnya adalah taufiq yg semata2 sesuai dengan kehendaknya sendiri-nafsu., sama dengan tatkala mohon ‘ihdinash shiraatal mustaqiim;, namun qalbunya tdk dikosongkan, tdk dibersihkan-ikhlas, yg seharusnya hanya berisi aturan2 qath’i, dan tetap mohon petunjuk, dikarenakan banyaknya pemelencengan2 dan kesalahtafsiran2, contohnya tentang keimanan itu sendiri, yg mana kita mohon petunjuk yg lurus yg tentunya yg mutlak wajib berdasar aturan2 qath’i tersebut,, berbeda jika dianggap mutlak telah benar, , alhasil yg kita mohonkan pun bukan atas hal2 yg telah kita batasi teresbut alias kita tdk mohon atas segala petunjukNya jikalau menurutNya ada hal2 yg salah, jadi, beda dengan qalbu yg tdk mengosongkan diri ataua telah menentukan petunjuk2 mana saja yg mau dia terima, , , nahh, hal ini dilatarbelakangi ketakaburan. Sikap ini lama kelamaan masuk bawah sadar, alhasil, walau qalbu mengakui hal 2yg benar,, qalbunya itu sanagt susah tobat, dan BETUL2 TERBUKTI DENGAN TIDAK ADANYA KEINGINAN MEMPUNYAI RASA YAQIN -IMAN HAKIKAT TERSEBUT!!,, mohon diingat jikalau ada proses itu,, maka mutlak akan dikatakan, karena merupakan hal2 yg urgen dan terpenting untuk saat ini !!!, yakni proses adanya rasa malas terutama dalam shalat, bukannya malahan mengumbar teori2 bahwa cukup dengan hidayah , maka kita akan ringan melangkah, dsb, alias ”RASA RINGANNYA TERSEBUT DICARIKAN PEMBENARAN BAHWA DIA TELAH DAPAT HIDAYAH SEBGAI PENGGERAK LANGKAH HIDUPNYA, dan mohon diingat pula, apakah jadinya jika memberikan dawah , sedankan dari susdut lain, jelas sekali kelas tersebut kedudukannya, maka mau tdk mau tanyakanlah qalbu lubuk terdalam, tafakurlah sejenak, laalu lawanlah rasa malas pada apapun itu,, diantaranya mungkin adalaha, ‘BETUL2 MAU PUNYA RASA YAQIN”, DAN DIPASTIKAN PROSESNYA AKAN KETAHUAN-TDK BISA BOHONG,, , lama2 akan bisa melakukan RUKUN ISLAM dengna benar, dan memaha,mi tentang lima wajib utama di bawahnya yg akan mengurangi secara total penyakit hubuddunya pada mmmat yg mutlak harus dimulai dari ulama2, dikarenakan pihak2 lain yg kelasnya dtelah lurus, tdk punya kuasa, atau hanya segelintir, dsb, alhasil, mungkin, semua pihak2 penempuh jalan lurus itu, sama2 telah bicara, namun tdk didengar, atau hanya beredar di kalangan tertentu dan tatkala disebarkan, adalah tdk bertambah, alias tdk didengar selain oleh yg itu2 lagi. . Secara ekstrem penulis sampaikan satu intermezo untuk mendiagnosa atau mengetes jiwa kita, yakni telah penulis tulis tentang bukan ahanya berazam tapi ada langkahnyata yakni bukti nyata dalam hal ini memang tdk kelihatan, yaitu berniyat akhirat dalam shalat,, maka lakukanlah , betul2 jujur, , lantas coba rasa2kan apa yg dialami tatkala hendak pergi ke masjid, dll,, yg lebih ekstrem-paten dalam obat, adalah dicoba shalat munfaridh untuk beberapa waktu,, apakah yg kita alami tatkala betul2 meniyatkan untuk pahala–betul2 menghadirkan ==akhirat-pahala di pikirann, yg tentunya akan sangat mudah bagi kelas yg ”imanpercaya”, lebih ekstrem lagi,, cobalah satukali sja, atau dua kali, atau jika cukup tigakali saja, atau mungkin butuh lebih, di bawah maksimal kuranglebih sepuluhkali, asaljangan dibiasakan,, yakni untuk ”mengakhirkan shalat” tatkala munfaridh, khusus untuk shalat Isya,, disamping ada riwayat bahwa Umar ra, lebih suka tidur dulu untuk tahajud, dan ada dalil bahwa Isya itu lebih baik di akhir spertiga malam, , maak tidurlah agak malam, Isya ditunda, atau olahragalah, dll terlebih dahulu, pokoknya super sibuk, atau tundalah mandi wajib, , lantas tidur agak malam, lebihbagus lagi, tidur di hampir sepertiga malam, kurang lebih tidurlah setengah jam atau sepuluhmenit, dsb,, lantas Secara ekstrem penulis sampaikan satu intermezo untuk mendiagnosa atau mengetes jiwa kita, yakni telah penulis tulis tentang bukan ahanya berazam tapi ada langkahnyata yakni bukti nyata dalam hal ini memang tdk kelihatan, yaitu berniyat akhirat dalam shalat,, maka lakukanlah , betul2 jujur, , lantas coba rasa2kan apa yg dialami tatkala hendak pergi ke masjid, dll,, yg lebih ekstrem-paten dalam obat, adalah dicoba shalat munfaridh untuk beberapa waktu,, apakah yg kita alami tatkala betul2 meniyatkan untuk pahala–betul2 menghadirkan ==akhirat-pahala di pikirann, yg tentunya akan sangat mudah bagi kelas yg ”imanpercaya”, lebih ekstrem lagi,, cobalah satukali sja, atau dua kali, atau jika cukup tigakali saja, atau mungkin butuh lebih, di bawah maksimal kuranglebih sepuluhkali, asaljangan dibiasakan,, yakni untuk ”mengakhirkan shalat” tatkala munfaridh, khusus untuk shalat Isya,, disamping ada riwayat bahwa Umar ra, lebih suka tidur dulu untuk tahajud, dan ada dalil bahwa Isya itu lebih baik di akhir spertiga malam, , maak tidurlah agak malam, Isya ditunda, atau olahragalah, dll terlebih dahulu, pokoknya super sibuk, atau tundalah mandi wajib, , lantas tidur agak malam, lebihbagus lagi, tidur di hampir sepertiga malam, kurang lebih tidurlah setengah jam atau sepuluhmenit, dsb,, lantas dipastikan kelas imanpercaya akan otomatis terbangun,, marilah kita rasakan apa yg kita alami, , rasa apakah yg ada?, yakni rasa malas, yakni ”RASA TIDAK MAU MENGERJAKAN SHALAT”, lalu mau apa, merem lagi??,, marilah kita coba.. Hal itulah yang analog dengan tatkala kita betul2 jujur berkehendak untuk mempunyai ”rasa yaqin –iman hakikat”, , yakni DIPASTIKAN AKAN PUNYA RASA MALAS TERSEBUT,, ALIAS JIKA TIDAK PERNAH PUNYA RASA MALAS TERSEBUT, MAKA DIPASTIKAN KITA TIDAK PERNAH PUNYA KEINGINAN YG JUJUR UNTUK MEMPUNYAINYA DAN MERASA TELAH CUKUP DENGAN ‘IMANPERCAYA. satu lagi intermezo, yakni ada pihak yg merasa miris melihat hal2 positif dikemas menjadi negatif, dan sebaliknya,, nah,, waalau secara maya, namun SEANDAINYA” dikaitkan dengan tulisan2 ini, senandainya suatu waktu terbaca,, maka , JIKALAU” dimaksudkan pada isi tulisan ini, maka pemnalarannya sbb ;; HAL2 YG PENULIS BAHAS INI NYATA2 ADALAH HAL2 POSITIF, MARI TANYA QALBU MASING2, DAN YG DIKRITIK ADALAH HAL2 NEGATIF YG MEMANG SUBYEKTIF NAMUN BERDASAR KEYAKINAN PENULIS DAN DALIL2 QATH’I, ALHASIL, YG DISEBUT MEMBUNGKUS HAL2 POSITIF-ATAU YG BENAR ITU,, DARI SISI PENULIS ADALAH MEMBUNGKUS HAL2 NEGATIF-SALAH, ALIAS BUKAN DIBUNGKUS TAPI MEMANG SALAH, DAN JIKA DIANGGAP MEMBUNGKUS YG NEGATIF MENJADI HAL2 YG BENAR,, APAKAH YG DIMAKSUD HAL2 NEGATIF DAN PENULIS KATAKAN SEBGAI HAL YG BENAR??, JIKALAU HUKUMNYA JELAS, PASTI DIEBUT, APAKAH HARAM, SYUBHAT, MAKRUH, DSB,, JIKA HARAM TETAP HARAM ,DOSA KECIL TETAP DOSA KECIL, MAKRUH TETAP MAKRUHM SYUBHAT, JUGA SMA DENGAN KONSEKWENSI 2NYA, DAN ADA SUYBHATA YG KECENDERUNGANNYA BERBEDA2, KEMUNGKINAN BESAR, BETUL2 TDK JELAS, DSB,, POKOKNYA DALILNYA ;;SAMA DENGAN BERDIRI DI JURANG KEHARAMAN, APAKAH KEMUNGKIANNNYA KECIL ATAU SEDANG, DSB, APALAGI YG KEMUNGKINAN BESAR, MAKA KESEMUANAYA ADALAH LEBIH SANGAT DEKAT KE HARAM , ATAU MUNGKIN MAKRUH, BERPAHLA JIKA DITINGGALKAN BAGI YG KECENDERUNGANNYA KECIL-ADA KEMUNGKINAN HALAL, WALLAAHUA’LAM. HAL2 POSITIF ITU ADALAH HANYA SEDIKIT;;;;; satu ;; harus memaksakan diri, melawan rasa malas pada seganap HAL YG JELAS POSITIF, DAN MELAWAN RASA MALAS UNTUK MENINGGALKAN YG NEGATIF BAGI YG TERBIASA, ATAUPUN MENAHAN DIRI MELAKUKAN YG NEGATIF, ALIAS MELAWAN DORONGAN UNTUK LAKUKAN HAL NEGATIF. ,, DUA ;; HARUS PUNYA IMANHAKIKAT’, YG BEDA DENGAN IMANPERCAYA, , AGAR UMMAT SELAMAT DIMULAI DARI CONTOH2 YG OTOMATIS AKAN DITULARKAN, UNTUK MENGHILANGKAN SEGALA KETIDAKBERESAN, YG DIYAKINI BERSUMBER DARI TIDAKBENARNYA TUJUAN AKHIR, YGMAAN HARUS DIMULAI DARI BETUL2 JUJUR MAU ”MEMPUNYAI ”RASA YAQIN PADA AKHIRAT” BUKAN PERCAYA PADA AKHIRAT, YAKNI PUNYA IMAN HAKIKAT BUKAN IMANPERCAYA,, . KETIGA;; DIMULAI DARI MEMAKSAKAN DIRI MEMPRAKTEKAN ;; SHALAT YG BERNIYAT PAHALA-AKHIRAT, DAN DIPASTIKAN KRITERIANYA-BUKTIFISIKNYA ADALAH ”ADANYA RASAMALAS”, YG TDK TERBANTAHKAN!!!. NAH HAL ITULAH YG DIANGGAP DIBUNGKUS MENJADI HAL POSITIF, DAN SEBENARNYA HAL NEGATIF,, KALAU BISA MOHON TERANGKAN DENGAN JELAS, DIMAANA KENEGATIFANNYA,, ,BARU LAH BOLEH MENUDUH,, ALIAS TIDAK ASAL TUDUH,, DALIL TENTANG TUDUHAN INI PUN NANTI DIBAHAS, NAMUN TUDUHAN PUN HARUS ADA ALASANNYA AGAR BISA DIMUHABALAHKAN, JIKA TIDAK ADA, MAKAA SANGAT ABSURD!!. ALHASIL,, JUSTRU DARI SISI [ENULIS ADALAH KEBALIKANNYA,, HAL2 NEGATIF ITU LAH YG DIKRITIK PENULIS ADALAH YG SELAMA INI DISEBUT POSITIF, ALIAS SISIKIRI MENJADI SISIKANAN. SEDIKIT TENTANG TUDUHAN SEBAGAI DAJJAL INI,, PENULIS MAKLUMI SEBGAI TUDUHAN YG TDK KE HATI ALIAS TDK BERITIQAD-, YAKNI TUDUHAN SECARA AMA’LI DAN LATARBELAKNAGNYA ADALAH TAKABUR YG CUKUP 5TINGGI. , JIKALAU TUDUHAN YG BERBALIK PADANYA–HADITS MUSLIM, ADALAH TUDUHAN YG ITIQADI, YAKNI YG KELUAR DARI ORANG2 SEPERTI FIR’AUN, DLL, YAKNI YG BETUL2 MERASA SEBAGAI TUHAN, , ALHASIL, TUDUHAN ITU BERBALIK PADA YG MENUDUH, SESUAI DENGAN TUDUHANYA YAKNI SEBAGAI PIHAK YG KAFIR AMALI–MENUDUH AMALI, ATAU DAJJAL AMALI.. Lebih jauh tentang ”berdasar butuh’ ini, yakni awalnya tentunya adalah beradasar sama yaitu’karena wajib’, namun di perjalanan hidupnya,setelah terkalahkan setan dan terutama hawa nafsunya sendiri, yg dibarengi takabur yg lumayan besar, dia betul2 tidak sanggup lagi menjalani hidup yg lurus jikalau jalan yg mendakainya itu tetap dia naiki, alias berbelok arah dan berubahlah pendirian2nya, pemahaman2nya, dsb, dan lambat laun, dijadikannya pendirian2-keyakinan2nya itu sebagai hal yg haq, alias yg negatif DIBUNGKUS MENJADI POSITIF ALIAS DAJJAL AMALI. , . lOGIKA SEDERHANA TENTANG HAL INI ADALAH SBB ;;; tatkala tentara , dll, diperintah komandannya, maka dijawab ;; siap komandan, dsb,, yg ada di hatinya adalah patuh menjalaankan kewajiban dan tentunya inheren dengan balasan yg pasti diterimanya, yakni imbalan materi, pangkat, penghargaaan, dsb .. YG PENTING ADALAH ”’KEPATUHAN KARENA KEWAJIBAN !!!!”, NAH tatkala unsur waib ini terlupakan, alais kepatuhannya ”tidak sengaja dihilangkan”, MAKA YG MENGDEPAN ADALAH UNSUR ”KEBUTUHAN AKAN IMBALAN’, DAN TATAKALA IMBALAN YG DIJADIKAN OBSESI-TUJUANNYA, DSB ADALAH IMBALAN MATERI, MAKA IMBALAN ”PAHALA” MENJADI TIDAK SENGAJA TERLUPAKAN !!!!. DEMIKIAN JUGA HALNYA TENTANG HAL2 YG SUNNAH,, MAKA DASARNYA ADALAH ”BUTUH UNTUK PAHALA”!!!, SEBGAAI HAL YG INHEREN DENGAN PREDIKAT -SUBSTANSI HUKUM TERSEBUT, YAKNI ”SUNNAH’. ALHASIL, BAGI YG TIDAK MENYERAH, DAN TETAP BERTAHAN DI KELAS ”KARENA WAJIB”, KARENA SUNNAH, DSB,, ALIAS TETAP ”PATUH PADA NYA”, TENTUNYA JUGA PUNYA MOTIVE2 -BUTUH AKAN HAL2 DUNIAWI.MATERI, MENGADU, DSB, NAMUN KESADARAN=PEMAHAMAN-KEYAKINAN AKAN HUKUM DASARNYA ADALAH TETAP DITANAMKAN DALAM DALAM LUBUK QALBU TERDALAM, , ALIAS TIDAK TERLUPAKAN, DAN TIDAK AKAN ADA UCAPAN2” HARUS KARENA BUTUH’, JANGAN HANYA SEKEDAR GUGUR KEWAJIBAN, DSB., STATEMEN ”KARENA BUTUH’ ITU MUTLAK HARUS DIIRINGI PENJELASAN LANJUTANNYA, YAKNI BUTUH PAHALA, BUTUH DUNIAWI, BUTUH KETENANGAN, BUTUH KESELAMATAN, , DAN BAGI YGTELAH IMANHAKIKAT, MAKA PASTI AKAN DIHUBUNGKAN DENGAN TUJUAN AKHIR ”AKHIRAT-PAHALA,, TERUTAMA DALAM SHALAT. , NAH, BOLEH LAH BERAPOLOGI, BAHWA PENJELASANA2 ITU BELUM DIUCAPKAN, YG SBETULNYA MUTLAK PASTI HARUS LANGSUNG-OTOMATIS DISEBUTKAN TATKALA BICARA HARUS ”KARENA BUTUH” TERSEBUT,, BUTUH APA??, DST. ,, YG WAJIB ATAU SUNNAH PUN SAMA2 BUTUH PAHALA, SEBAGAI IMBALAN YG INHEREN DENGAN KEPATUHAN- MENJALANKAN KEWAJIBAN ,KALAU BUTUH MATERI, MAKA LANGSUNG DIHUBUNGKAN DENGAN AKHIRAT-PAHALA,, NAMUN BAGI IHWAL KEDUA, YAKNI ”JANGAN ASAL GUGUR KEWAJIBAN”, DSB. ADALAH MUTLAK SUDAH SANGAT JELAS BAHWA ”UNSUR HUKUM DASARNYA TELAH TERLUPAKAN-DIUBAH. TENTUNYA MEREKA PUN BERKEYAKINAN BAHWA TOKH KAMI TETAP MENGAKUI BAHWA HUKUMNYA ADALAH WAJIB,, NAMUN DENGAN UCAPAN TERSEBUT ADALAH SAMA DENGAN ”JANGAN MENOMORSATUKAN BAHWA HAL ITU SEBAGAI KEWAJIBAN”, ALIAS TIDAK SENGAJA MELUPAKAN TENTANG HARUS ”HADIRNYA KONSEP KEWAJIBAN DI HATI-PIKIRAN TATKALA BERBUAT”. ,, MARI KITA TELISISK APA YG ADA DI HATI TATKALA ” BERKATA ‘JANGAN ASAL GUGUR KEWAJIBAN, ALIAS HARUS ”KARENA BUTUH, DENGAN TDK DISEBUTKAN PAHALA DALAM IBADAH SUNNAH, APALAGI DLM IBADAH WAJIB, MAKA TATKALA BERUCAP TERSEBUT, YG TERJADI ADALAH ”KONSEP WAJIB” DI HATI AKAN HILANG ATAU REMANG2, BERBEDA DENGAN YG TIDAK MENGEDEPANKAN ”BUTUH MATERI, BUTUH SELAMAT-MENGADU, DSB, ALIAS TETAP YAQIN -MEMPERTAHANKAN MOTIVE UTAMA, KEPATUHAN UTAMANYA YAKNI ”KARENA WAJIB”, MAKA MUTLAK DIPASTIKAN BAHWA ”KONSEP KARENA WAJIB ITU TIDAK AKAN HILANG DI HATINYA ATAU MUNGKIN TDK TERLALU REMANG2. ALHASIL ” KEYAKINA-PEMAHAMAN2 TERSEBUT AKAN SUSAH EBRUBAH, DAN TETAP AKAN KELUAR DARI MULUT, DIKARENAKAN TELAH KARATAN, NAMUN DIPASTIKAN BAGI YG BERIMANPERCAYA, WALAU HANYA KULITNYA-FASIK, AKAN MENGAKUI RAMBU2 YG SAMA, YAKNI TAKUT SU’UL KHATIMAH, TAKUT BENCANA, INGIN BAHAGIA. ,, DAN INSYA ALLAH AKAN PUNYA KESADARAN ;;; BAGAIMANA JIKA KRITIKAN ITU BENAR, DAN KITA ADA DI PIHAK YG SALAH ??,, SEKALAI LAGI ” MUTLAK AKAN ADA PERTANYAAN;; ”BAGAIMANA KALAU”, , BAGAIMANA KALAU BENAR, ,, SEKALAI LAGI BAGAIMANA KALAU BENAR DAN KITA SALAH, ??, DAN ”BAGAIMANA KALAU” INI ADALAH BELUM TENTU,, MINIMAL, SECARA KODRATI-FITRAH MANUSIAYG BERKECENDERUNGAN PADA YG POSITIF , ADALAH HARUS ADA KESADARAN TERSEBUT, APAKAH LANGSUNG DILUPAKAN, TDK DIPEDULIKAN, DSB,, NAMUN MUTLAK AKAN MENCUAT SEJENAK-SEKILAS KE HATI, DIKAITKAN DENGAN ” FASE KRITIS ” BAGI KELAS YG BERDASAR BUTUH” INI , ADALAH SBB;; TENTUNYA BUKAN KRITIS AKAN MENJADI ‘KAFIRMUTLAK-ITIQAD’, NAMUN KRITIS BAGI DUNIA AKHIRAT, BAGI DUNIA ADALAH DAMPAKNYA SEBAGAI DAJJALLISM AMALI, YG BERUPA PENGARUH-VIRUS YG SANGAT BERBAHAYA BAGI UMMAT, DAN SUMBER DARI SEGALA SUMBER KETIDAKBERESAN,, MOHON DIINGAT ”SUMBER DARI SEGLA SUMBER KEKACAUAN !!!!,, MAUKAH ANDA MENJADI ”BIANGKEROKNYA!!!!!,, MOHON DIINGAT VIRUS INI ADALAH MENDUNIA, DAN ENTAH BERMULA DARIMANA, NAMUN JIKALAU KITA TERINFEKSI DAN MENULARKAN, MAKA KITA TERMASUK BIANGKEROK BAGI UMMAT YG AWAM, .. ADAPAUN FDAMPAK AKHIRATNYA, ADALAH BAGI MASING2 YAKNI ;;; MEMANG SNGAT PAHIT!!, NAMUN MAU TDK MAU JIKALAU INGIN ADA PERBAIKAN BAGI PRIBADI ATAU KOMUNAL, MAKA HAL INI HARUS TERANG, ,, MOHON DIINGAT PADA KEHIDUPAN ABADI-KEHIDUPAN YG SEBENARNYA KELAK, YG BETUL2 BAGI DIRI SENDIRI, NAMUN HAL ITU MUTLAK DITENTUKAN OLEH PERILAKU KITA YG TDK HANYA BAGI PRIBADI, YAKNI MUTLAK SEKARANG INI TIDAK HANYA BAGI DIRI SENDIRI.. HAL2 PAHIT ITU ADALAH SECARA TEORI -TAFSIRAN BERDASAR DALIL2, SBB ;; SUDAH JELAS BERDASAR ASY SYURA 20, BAHWA KALAU TUJUANNYA SALAH, MAKA SHALAT KITA TDK AKAN DAPAT PAHALA, WALAU EMEMANG DI SISI KRIRINYA TDK MENAMBAH BEBAN DOSA, ALIAS TIMBANGANNYA TDK BERTAMBAH BERAT DIKARENAKAN UNSUR ”TDK SHALAT’, NAMUN DIPASTIKAN DARI UNSUR DOSA2 LAINNYA YG SECARA TEORI AKAN BERTUMPUK BAGI KELAS YG RIYA-TAKBUR, SU’UZHANNYA CUKUP BESAR, APALGI DARI DOSA2 LAINNYA,, YAKNI TIDAK DILAKSANAKANNYA KEWAJIBAN UTAMA DI BAWAH-SETELAH RUKUN ISLAM;; TA’AWUN, MENDIDIK KELUARGA, TOLABUL ILMI, DSB, YG TDK MAKSIMAL, ASAL2 AN, , ATAU TUJUANNYA-NIYATNYA SALAH. NAH,, DOSA2 INI DITAMBAH DENGAN DOSA YG BESAR DAN BERTUMPUK YAKNI ”MENYEBAR VIRUS”, DAN BERLAKU SECARA ESTAFETA ALIAS DARI MULUT KE MULUT YGMANA SUMBERNYA TENTUNYA TURUT MENANGGUNG DOSA. TENTANG ESTAFETA INI,, MEMANG YG MENENTUKAN ADALAH DIRI SENDIRI YANG MENEERIMA VIRUS TERSEBUT, KENAPA TDK MAU TOLABUL ILMI KE LAIN SUMBER-ALIAS TDK MAKSIMAL TOLABUL ILMI, , ALHASIL, JIKA DIPRAKIRAKAN ATAU DIANDAI2,, MISALNYA DOSANYA FIFTY2, ATAU 25 PROSEN, 75PROSEN BAGI PENERIMA VIRUS, ATAU 20- 80 BAGI PENERIMA VIRUS, NAH,, WALAU BAGI PENYEBAR VIRUS INI HANYA DIGANJAR SEDIKIT DARI ORANG PER ORANG, MISALNYA 10 PROSEN, , 5 PROSEN, DSB,, NAMUN DIKARENAKAN JUMLAHNYA SANGAT BANYAK, MAKA MENUMPUK LAH DOSANYA., SEDANGKAN DI SISI KANANNYA,, DIA HANYA DAPAT PAHALA TATKALA HATINYA BETUL MENGINGINKAN PAHALA-INGAT AKHIRAT, MISALNYA TATKALA MENYMBANG MASJID, JALAN-SARANA2 UMUM, TATKALA TAFAKUR DALAMAMANA SUNGGUH2 SAAT ITU DIA MENGINGINKAN SURGA, MAKA DIA DAPAT PAHALA, ”WALAU HANYA SAAT TAFAKUR TERSEBUT, ” LANTAS TATKALA BERDAWAH DAN SATU DETIK, SATU MENIT BETUL2 MENGINGINKAN PAHALA-INGAT AKHIRAT–BUKAN HANYA DI BIBIR, ATAU TATAKALA SHALAT SUNNAH YG JELAS2 MOTIVENYA-DASAR HUKUMNYA ADALAH PAHALA, ,, ATAU SHALAT WAJIB YG BIASANYA LEBIH SUSAH INGAT PAHALA BAGI KELAS INI.. MAKANYA PULA DIABIL DARI TAFSIRAN2 INI YG BERADASAR DALIL2—DIANTARANYA ASY SYURA 20,, YGMANA SEANDAINYA ”ADA YG ALERGI”, ATAU ”MERASA TIDAK NYAMAN”,, TIDAK SENANG”, POKOKNYA ADA ”PERASAAN TIDAK ENAK, DSB,, TATKALA MENDENGAR DISEBUTKANNYA SURAT -AYAT INI,, MAKA MOHON DIINGAT,, JIKA TIDAK DISADARI BAHWA TATKALA KITA TIDAK NYAMAN-TIDAK ENAK-ADA GANJALAN2 PADA SATU AYAT,, APAKAH DIKARENAKAN TAFSIRANNYA, ATAU OTOMATIS MERASA ”TIDAK NYAMAN”, MAKA WASPADAILAH AKAN KEPATUHAN KITA PADA NYA!!!!!,, DAN BAGI LOGIKA SEMUA ORANG, JIKALAU MERASA TIDAK NYAMAN KARENA ISINYA YG MUHKAMAT,,misalnya tentang larangan2 , MAKA ADALAH SUDAH JELAS KELAS TAQWANYA-KEPATUHANNYA, ADAPAUN BAGI YANG ADA TAFSIRAN LAIN, WALAU SANGAT LEMAH, MAKA MUNGKIN AGAK LUMAYAN BOLEH KITA MAKLUMI,, DIKARENAKAN TAFSIRAN ASY SYURA INI ADALAH SANGAT JELAS BAGI YG BERAKAL SEHAT-ULILALBAB ADALAH MUHKAMAT,, ENTAHLAH JIKALAU ADA TAFSIRAN2 YG DIPASTIKAN AKAN SANGAT LEMAH TERSEBUT YG WALAU AGAK BEDA, NAMUN TIDAKN MUNGKIN BERBEDA JAUH. , ALHASIL, SEBENARNYA JANGAN DIANGGAP SAJA BAHWA ADA TAFSIRAN LAIN YG DIPASTIKAN AKAN SANGAT LEMAH,, LANTAS JIKALAU ANDA ALERGI, TIDAK NYAMAN,, APALAGI BENCI,, LANTAS PAKAH ANADA INI !!!, SEDANGKAN SECARA LAHIRIAH ANDA TAHU SENDIRI POSISI ANDA TERSEBUT,, MOHON DIJAWAB, APAKAH ADA KEBENCIAN PADA AYAT ALLAH SWT INI, ADA RASA TIDAK NYAMAN, ADA RASA TIDAK SUKA, DSB, DSB,, MOHON dijawab!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!———-kembali pada pendapat yg diambil dari tafsiran ini, alias secara teoritis akan bisa kita perbandingkan atara berbagai kelas, , namun mohon diingat, penulis tidak bermaksud membelaatau berdidri pada posisi kelas tertentu,, ygmana tentunya memang disebut membela berdasar aturan2 firman2Nya, alias meletakkan pada posisi yg sebenarnya-yg insya Alah adalah yg haq. , yakni bagi kelas abu2 yg merupakan awam, baik pembawa-penyebar virus, atau hanya bagi dirinya sendiri, atau hanya sekali dua bicara ke orang lain, , maka walau misalnya tanggungan dosanya lebih besar secaara pribadi dibanding penyebar massal, bagi dosanya tatkala shalat berdasar butuh tersebut, namun dia tidak menyebarkan alias dosanya lebih sedikit, , atau mungkin sekedar lebih banyak dari diri sendiri, dan walau secara estafeta bisa berantai, namun tidak efektif-tidak diyakini didengar sekenanya, dsb, yg tentunya berdampak juga bagi derajat dosanya, dan sebagai penyandang kelas abu2, maka dosa2 sosialnya pun dipastikan secara teori adalah sedikit, demikian juga dosa2 batinnya, karena dipastikan lebih ringan derajat2 takabur-riyanya , dsb , alhasil, walau dikarenakan shalatnya masih ada bolongnya, –ygmana terdiri dari berbagai kelas, misalnya yg bolong satu waktu-shubuh, bolong beberapa waktu–hanya shalat maghrib, hanya Juma’tan, hanyaI’ed–yg sudah sangat terlalu, beberapa kali seumur hidup, dsb. —, maka dosa dari tdk dilaksanakannya shalat itu tentunya akan lebih banyak dibanding ”kelas yg berdasar butuh’, namun, dosanya itu hanya dari shalat, ditambah dosa2 lain, dan pada timbangan kanannya, adalah berlaku sama dengan kelas yg beradasar butuh, yakni tatkala dia betul2 ”menginginkan akhirat-pahala, apakah tatkala membangun masjid, sarana2 umum, shalat, dsb. Alhasil, jumlah dosanya itu diprakirakan akan lebih numpuk yg mana???, bayangkan saja pengaruh -dampak virus2 bagi sekian banyak orang, dan virus itu bukan sekedar virus, namun MENGAKIBATKAN KESENGSARAAN YG AMATSANGAT, YG SANGAT MENDERITA, BAYANGKAN SAJA RASANYA MINUM NANAH UNTUK BEEBRAPA JAM SAJA, DISIRAM AIR PANAS BEBERAPA MENIT SAJA, DIBAKAR HANYA BEEBRAPA SAAT SAJA, DSB WALAU TIDAK DIYAKINI ALIAS HANYA PERCAYA,, NAMUN BAGI ULIL ALBAB DAN SEBAGAI HAL YG HAQ, HAL ITULAH YANG MUTLAK AKAN TERJADI, ALHASIL, MEREKA ITU TIDAK BISA DIBANTAH LAGI-SECARA HAQUL YAQIN ADALAH MENGAKIBATKAN PENDERITAAN YG BUKAN SEPERTI DIRASAKAN DI DUNIA SEKARANG INI,, YG WALAU HANYA SEBENTARA TOKH TETAP JUGA TERASA SAKIT,, NAMUN ADALAH MENYEBABKAN-MENJERUMUSKAN ORANG MENJADI MENDERITA SECARA TIDAK TERPERI-NERAKA, dibandingkan dengan hanya dari dosa2 yg diakibatkan diri sendiri, atau bagi sedikit orang, dst secara bertingkat2. , MOHON DIINGAT BUKAN MEMPERINGAN, BUKAN tidak usah dipersoalkan, atau boleh dijalankan,, inilah mungkin seandainya ada yg reaktif adalah penyakit su’uzhan yg karatan-suuzhan yg besar, yg reaktif, yg purbasangaka dari kelas2 berdasar butuh ini!!!, dan mungkin menyebut sebagai membalikan hal negatif menjadi positif, padahal selama inilah hal2 negatif yg dia yakini itu yg dibungkus menjadi hal2 positif, INGAT ANDA TIDAK MUNGKIN BERTENTANGAN DENGAN ALLAH SWT,, ANDA SUDAH TIDAK TAKUT LAGI , SAKING HITAMNYA QALBU, DAN SEANDAINYA, SEKALI LAGI ”SEANDAINYA” ADA YG MENYATAKAN BAHWA HAL2 YG PENULIS UTARAKAN INI HANYALAH SEBAGAI TANGAN MANUSIA- MAN HANDS, DAN PEDULI SETAN, TOKH BUKAN DARI NYA, MAKA MOHON INGAT, SEGALA YG TERJADI ITU ADALAH DARI NYA , APALAGI YG SUBSTANSINYA BERKENAAN LANGSUNG DENGAN HIDAYAH, TERLEPAS BENARTIDAKNYA,, NAMUN KTA DIBEKALI QALBU-LUBUK TERDALAM, TIDAK MUNGKIN BOHONG!!! DEMIKIAN MEMBANGKANGNYA SEHINGGA TERLUPAKAN BAHWA JIKALAU EMEMANG YG HAQ, MAKA TENTULAH KEBENARAN ITU ADALAH DARI ALLAH SWT, SEHINGGA TERUS2AN, MEMUTAR2 MENCARI PEMBENARAN BAGI HAL YG SECARA LUBUK TERDALAM TELAH DIAKUI SALAH, , TERAKHIR KALI, KALIAN BICARA BAHWA ‘HIDAYAH ‘ ITULAH YG BIKIN RINGAN SEGALA LANGKAH, LANTAS ,, MUNGKIN ” TIDAK TAKUT APAPUN SELAMA DARI MANUSIA, KECUALI DARI ALLAH SWT, YGMANA TENTUNYA SUBSTANSINYA ADALAH SAAANGAT BENAR,, LALU TENTANG APALAGI SAYA LUPA, YANG KERAPKALI TERUCAP ADALAH ,, TENTANG CUKUP HANYA ALLAH, ALIAS MUNGKIN LUBUK HATINYA ADALAH YG TERPENTING ADALAH MENYEMBAH-TAUHID, ALIAS BAGI MEREKA ADALAH IMANPERCAYA, YG TELAH DIYAKINI MANFAAAT DUNIAWINYA, TIDAK PEDULI HARUS ADA YAQIN AKHIRAT, PAHALA, DSB,, YG HANYA SEBATAS TEORI MEREKA SAJA , BAHWA SOAL YG DEMIKAN ITU PASTI MENGIKUTI, DSB, TANPA MENGINDAHKAN SYARAT2- ATURAN2 NYA , KODRATI -AYAT QAUNIYAH, TENTANG MEKANISME BATIN YG NORMAL PADA MANUSIA TATKALA BERKEHENDAK ATAS SESUATU, YG BUKAN ASAL BICARA, ALIAS TIDAK BETUL2 MENGINGINKANYA,, DEMIKIANLAH MAKA PEMBENARAN2 ITU AKAN TERUS2AN MEMUTAR2,, ENTAH APALAGI TDK ADA HABIS2NYA,, MAKANYA PENULIS PUTUSKAN UNTUK MENGHINDAR, ALIAS TDK MENGIKUTI PERKEMBANGAN APAPUN, KECUALI TDK SENGAJA ATAU INGIN TAHU, SEMENJAK KURANGLEBIH AWAL DESEMBER 2011 INI , NAMUN BUKAN BERARTI TDK MAU DIMINTA APAPUN, DAN SAMBIL TETAP MEMOHON TAUFIQ .. KEMBALI PADA TOPIK, hakikatnya, golongan abu2 ini adalah kelas2 yang masih tarik ulur-berjuang untuk melakukan hal2wajib , demikian juga secara bertingkat ke bawahnya, sebgai kelas2 yg berIslam, alias imanpercaya,, walau sebatas kulitnya-fasik. ..Dan dasar dari dilakasanakannya aktivitas2 -terutama shalat, bagi abu2 ini adalah tetap ”karena wajib”, ATAU MUNGKIN ADA YG MENJURUS, ATAU TELAH TERTULAR, NAMUN HANYA MENYEBARKAN SEDIKIT YG JUGA TDK SAMPAI BERDAMAPAK-MENULARI, DSB, ,, alhasil, berdasar dalil Al baqarah 45,, maka sungguh berat itu, berlaaku bagi shalat yg haq, adapun beradasar dalil2 lain, maka sudahjelas bahwa untuk melakukan shalatnya secara umum-lahirdan batin-ruhani, adlah dihalangi-didatangi dihimpit dari segenap penjuru, alias terasa berat-malas, , jadi, bagi abu2 itu, terasa beratsecra umum, dan juga” sungguh berat” untuk berniyat akhirat, demikian juga bagi kelas yg beradasar wajib-yg masih berIslam, adapun bagi yg telah berimanhakikat, adalah ”tidak sungguhberat” dalam niyat akhirat,, sedangkan secra umum-jasmani-ruhani adalah tetap dihimpit dari segala arah, atasbawahdepanbelakang, sehingga tidak bisa bergerak-alias apatis total,, namun tetap memaksakn diri untuk melakukan ——– sekAli lagi ;YG PENTING ADALAH PELAKSANANNNYA,, SECRA BER KELAS,, TENTUNYA YG LEBIH BAIK ADALAH YG BAIK KULITNYA–KUALITAS IBADAH YG TINGGI SEPERTI GENERASI2 TERDAHULU, DAN TENTUNYA JUGA YG LEBIH PENTING ADALAH KUALITAS BATINNYA, SEBAGAI PENENTU IMAN TIDAKNYA, JADI, SEANDAINYA PUN HANYA SHALAT SAJA, —YGMANA TDK MUNGKIN BAGI YG IMANHAKIKAT,, SEKLAI LAGI ”SEANDAINYA”, —, MAKA JAUH LEBIH BAIK, DIBANDING DARI YG BARU BERISLAM, ALIAS, YG PENTING ADALAH PELAKSANAAN RUKUN ISLAM, , NAMUN TENTUNYA DIA BERDOSA BESAR DIKARENAKAN TIDAK MELAKUKAN KEWAJIBAN2 UTAMA LAINNYA YG ADA LIMA HAL, ,, YAKNI ”CARINAFKAH, TOLABUL ILMI, TA’AWUN, DST. ———–aDAPAUN tentang ”sungguh berat” ini, Al Baqarah 45, adalah kecuali bagi yg khusyuk, yakni yg … dst. dst. dst ,, dengan jelas disebut definisinya,, nah,, entah semenjak kapan maka definisi khusyuk secara etimologis dalam bahasa Arab pun yg bolehjadi bersumber dari Qur’an, alias seblum ada Qur’an, adalah tidak ada perbendaharaan kata khusyuk, dalam
  3. ta khusyuk, dalam bahasa Arab kuno,, , namun definisi lain dari khusyuk, adalah fokus, tenang, tdk tergoda apa pun,–bukan trance tdk ingat apapun, , tumaninah, tdk tergesa2, dsb..,, nah,, apakah definisi2 itu merupakan arti baru,, mengapa tdk diambil saja yg telah qath’i??,, penulis sangat awam, dan hanya sebatas ini lah yg diketahuinya yakni yg dari Al Baqarah 45 , kurangl;ebih ;;”yg yakin akan bertemu dan yakin akan kembali padaNya”. -Adapun kelas yg beradsar butuh ini dan abu2, ini, beradsar AT TAUBAH 24, secara tafsiran-teori adalah masuk kelas fasik-Islam secara kulit, alias Iman yg percaya, yakni kurang lebih ;; DIANTARANYA ;; LEBIH MENCINTAI HAL2 DUNIAWI–YG TERINCI DALAM AYATNYA–, DIBANDING CINTA PADA NYA, terbukti dengan masih meninggalkan perintah2 Nya, adapaun bagi yg be4radsar wajib, alias BerIslam, adalah ”belum ”berniyat “yaqin akhirat”, tatkala shalat, ,, mengapa yg berdasar butuh termasuk fasik, dikarenakan sudah jelas tdk MENJALANKAN SHALAT BERDASAR ATURAN NYA, YAKNI TERLUPAKANNYA KONSEP HUKUM WAJIB PADA HATINYA, DENGAN BERUCAP ”JANGAN ASAL GUGUR KEWAJIBAN”, WALAU JIKALAU DITANYA, TENTUNYA SANGAT MAPHUM AKAN HUKUM DASAR ITU , NAMUN DIKARENAKAN SHALATNYA DILAKUKAN MAKA DI ATERLEPAS DARI DOSA, , , NAMUN DIKARENAKAN SHALATNYA ITU MENYIMPANG , MAKA TIDAK TERMASUK MELAKUKAN SHALAT SEPERTI ORANG YG BERISLAM. , YAKNI TIDAK SENGAJA MENGubah DASAR UTAMA HUKUMNYA, DENGAN MENOMORDUAKAN HUKUM TERSEBUT–JANGAN ASAL WAJIB, HARUS KARENA BUTUH,, ALIAS, jangan ”hanya”, maka ‘HUKUM KARENA WAJIBNYA disisihkan, dan diutarakan harus”karena butuh”, yg berarti hal itu dinomorsatukan–apalagi tdk disebutkan butuh untuk pahala, yg sering mendengar kata pahala itu menjadi alergi, lantas butuh apa??,, buth ridhaNya,, apa yg dimaksud ridhaNya itu,, cukup Allah,, asal ada Allah di hati, maka” secara teori” segala pahala, dunia, pasti diberi,, sedangkan dalam hatinya yg ada adalah dijejali keinginan2 duniawi saja—– setelahnya ”butuh ridhaNya itu–sambil baru percaya, belum yaqin ‘ pada akhirat,, ygmana ridhaNya itu adalah ingin bertemu kelak—-dinomorsatukan, maka dampaknya adalah bisa terlupaknnya ATAU MENGABURKANNYA hukum2 dasar tadi, wajib, sunnah, dst. Tentang ridha ini, analog dengan patuh tadi seperti contohpada topik sebelumnya, maka yg semata2 patuh itu, alias tdk mengharap apapun–imbalan apapun, yakni pahala, adalah semata2 menjalankan titah2Nya -taqwa, dan mengaharp pertemuan,, namun menurut penulis, ssusai pula dengan dalil2 tidak nomorduaknnya pahala secra letterlijk,, semata2 tafsiran bahwa harus mardhatillah, dsb–, maka pahala itu adalah inheren dengan ”yg semata2 patuh”, tidak ada ygs semta2 patuh dan ”HANYA ” mengharap pertemuan,, tanya lubuk terdalam,, apakah tdk mengaharap apahaala, tidak peduli surga,, maka mardhatillah itu adalah yg MUTLAK MENGHARAP PAHALA,, LAHASIL TIDAK ADA YG BICARA SEMATA2 MARDHATILLAH,, ATAU CUKUP ALLAH,, , sedangkan hatinya tdk mengharap pahala, jadi, kalau yg ”cukup Allah saja”, dsb,, sambil tdk bicara pahala,, maka hatinya pun ngaku bahwa di hatinya HANYA terlintas dunia,, , karena tdk ada yg mardhatillah, tanpa menyebut pahala, dalam proses yg wajar, bukan hanya dibatasi dengan ucapan ;; ”asal ada Allah, pahala pasti didapat, sedangkan tatkala dia beramal-shalat dsb, konsep-gambaran-bersitan pahaal itu sama sekali tdk ada di hatinya,, alias hanya sebatas teori tatkaal bicara ”asal ada Allah ” itu lah dia terpikirkan pahala,, tokh BUKTINYA TIDAK MENYEBUTKAN PROSES-LANGKAH2 YG MUTLAK PASTI TERJADI JIKA MEMANG DIA BETUL2 MARDHATILLAH!!!!!!! HAL yang lebih mendalam adalah didasarkan pada ihwal yg haq, yakni tentang asalmuasal pemilahan hukum2, dimana hal yg wajib tersebut, sebagai istilah fiqih, adalah sebagai pelaksanaan kepatuhan padaNya, dan tentunya berdasar firmanNya bahwa akan diganjar pahala serta diberi siksa, dan untuk selanjutnya disingkat ”menjalankan kepatuhan’, atau yg patuh padaNya’, dsb. , dalammana sudah barang tentu inheren-integral dengan ‘pahala dan siksa’ tersebut. Alhasil, walau tdk disebutkan secara eksplisit tentang hukum wajib tersebut dalam Qur’an, namun substansinya sudah sangat jelas adalah sama dengan tertulis eksplisit, alias tafsiran yg haqul yaqin atau untuk mempermudah menjalankan kepatuhan kita, alhasil pula, dengan kata lain bahwa orang yang terlupakan tentang ihwal wajib ini, adalah dia terlupakan pada ”menjalankan kepatuhan untuk pahala-takut siksa”. Nah, jika diklasifikasi kembali, maka setelah kelas fasik tataran bawah atau Islam secara kulitnya yg kelas bawah , adalah naik menjadi kelas fasik yg ahli ibadah-yg pembawa virus dan penyebar kelas wahid, kelas berikutnya adalah kelas abu2 yg walau di timbangan kirinya kelak di akhirat –jika tdk tobat sampai wafat–bertumpuk dengan dosa2 tdk shalat–tentunya jika saya menulis shalat, maka maksudnya adalah shalat wajib–, nammun sesuai dengan predikat alias karakter dari kelasnya tersebut, dialebih kecil doas2 batinnya, dan misalnya;; takabur yg lebihkecil, riya, lebih empati, dengki yg lebih kecil, dl,, dll, pokoknya segla penyakit hati yg lebih baik daripada kelas penyebar virus kelas wahid,, sednagkan disis kanannya dia bisa jadi sama banyak atau malahan lebih besar amalannya,, dikarenakan ‘pembawa virus ini di sisi kirinya memang tdk ada dosa tdk shalat”, namun dosa2 dari penyebaran itu jumlahnya banyak, walau dari tiap2 orang hanya sangat sedikit, misalnya stau prosen, lima prosen, dsb, dikarenakaan memang tanggung jawab penuh sebagai pengambil keptusan terakhir adalah ybs yg terkena virus itu sendiri, ,dan dosa2 itu adalah dari ”meruginya si yg terkena virus” bahwa dia menjadi tdk dapat pahala, dan melakukan dosa batiniah penyakit hati lainnya, takabaur, riya, dsb, yg disebabakan salahnya fatwa2=tafsiran2 penyebar virus, .. beranjak ke las berikutnya adalah kelas abu2 yg akhli ibadah yg masih remang2 pada ”kepatuhan untuk pahala”, yakni bisa saja menjadi penyebar, namun tdk sebesar penyebar utama, dikarenakan tingkat kesadarannya akan ”kepatuhan untuk mendapat pahala tersebut–istilah fiqihnya wajib–, ygmana pasti mewarnai penyebaran2 virusnya, walaupun diterangkan dengan jelas ataupun tidak, namun yg penting adalah adanya bayangan remang tentang hhal ”wajib alais ”kepatuhan untuk mendapat pahala” itu pada qalbunya,, beranjak pada kelas berikutnya yakni kelas ”yg betul2 sadar akan ”kepatuhan untuk mendapat pahala”, alias yg sering disebut ”asal gugur kewajiban”, kurang menikmati ibadah,, kurang gairah untuk hidup, untuk cari dunia, dsb–walau tdk semuanya. , kelas berikutnya adalah kelas yg telah beriman, yakni yg betul2 yaqin pada akhirat,, , lalu beanjak ke ”kelas khusyuk’. tenatang yaqin ini adalah beda dengan percaya seperti halnya kerap dipermisalkan tentang hal2 yg tersembunyi-disembunyikna di balik tabir, tas, bungkusan, dsb. dalamamaan tatkala orang yg mendengar dari orang yg dipercayainya, maka dia akan percaya sepenuhnya, namun akan beda menerangkan-meyakinkan tentang hal-benda tersebut, diabnding dengan orang telah peranah melihatnya sebelum disembunyikan-tersembunyi, dengan matakepala sendiri, alhasil, memang hal yaqin ini adalah hanya adlam tataran keyakinan, alias ”yg lebih percaya”, yg tingkat percayanya paling tinggi”, dsb. dalammana akan tercermin dlm hal meyakinkan-menerangkan, menjelaskan dsb. . Adapun dimulai dari kelas yg ”sadar akan kepatuhan untuk mendapat pahala”, dan kelas yg telah berIman,, adalah akan sangat mudah disadarkan untuk berniyat dengan lurus, yakni;; harus ”karena butuh pahala”, dikarenakan memang telah built-in-koheren-integrated dalam qalbunya. Adapun kelas khusyuk, dalilnya adalah Al Baqarah 45, Al Hadid 17, kurang lebih ; belum tibakah waktunya bagi yg beriman untuk khusyuk dlm menjalankan titah2Nya, ingatlah pelajaran ummat2 terdahulu yg sekianlama berjalan dan hatinya menjadi keras. dan banyak yg menjadi fasik..Nah, alhasil, bagi yg telah iman-yaqin hakikat” itu,, alias yg qalbunya tdk akan mungkin bohong bahw atelah betul2 jujur yaqin pada akhirat, seperti halnya telah melihat dengan matakepala sendiri hal2 duniawi dlm arti sama2 keyakinanyannya–perasaanya– awalau bedanya adalah tdk mungkin dibuktikan–makanya DISEBUT IMAN!!!!!!, kalau disebut percaya, maa sama saja dengan hal2 di dunia yg dapat dibuktikan dan telah pernah dilihat matakepala sendiri . harus berusaha maksimal, mengalahkan setan atau ”mengalahkan diri sendiri-perang melawan diri sendiri–yg mana melalui proses ”apatis total”-terhimpit dari segala arah , , harus usaha maksimal untuk hidup dengan khusyuk, terutama shalat untuk khususyk yakni harus secara yakin akan bertemu dan kemabali padaNya,, alias harus adanya rasa khiisyuk tersebut, nah,, hal ini tentunya telah dialami oleh semua kelas, namun terkaalahkan , misalnya yg kalah dalam kelas yg fasik yg berkeyakinan untuk butuh dunia, kelas fasik yg telah berkesadaran akan’kpatuhan ukntuk meraih pahala”, kelas abu2 yg remang2 akan ”kepatuah untuk mendapat pahalanya–fiqihnya ;; remang2 kesadaran akan kesadarana hukum wajibnya, dll.. nah,, disebutkan di ayat itu,, jika dibiarakan akan kembali menjadi fasik, alias ”tdk yaqin hakikat”, dan menjadi ”iman percaya”, .. ada hal lainnya tentang carinafkah,, ada pendapat bahwa hidup itu mimpi saja harus tentang businesss, alias dua puluhempat jam buat usaha,, nah,, ucapan ini bisa jadi keluar dari kelas2 yg ”terlupakan kesadaran ”kepatuhan untuk dapat pahala–alias hukum wajib”,, , bisa ada di kelas ”berdasar butuh dunia”, atau di kelas yg akhli ibadah namun abu2 dalam hal ”kesadaran akan kepatuhan untuk dapat pahala-hal hukum wajib, dikarenakan terlupakannya empat ihwal wajib utama setelahnya Rukun islam, yakni ;; cari nafkah primer, ta’awun, tolabul ilmi, mendidik keluarga, amarmaruf nahi munkar,, memang disebut kesemuanya diserahkan padaNya untuk mendidik keluarga, dll, namun harus ingta, bahwa tafakur yg intens itu tdk sekedar beebrapa menit, ygmana termasuk ranah tolabulilmi, , apalagi toalbulilmi hal2 lainnya, , juga mendidik keluarga, sebutsaja ,d ua ajam sehari, belum lagi ta’awun yg terkadang tdk bisa diwakilkan, apalagi waktu untuk amarmarufnahimunkar yg hakikatnya adalah fardhu ai’in, walau bisa menjadi kifayah, tergantung situasikondisi-kemampuannya,, nah,, sungguh bahayanya jika hanya untuk usaha-cari uang,, ygman hal itupun merupakan kewajiban tingkat dua, jika carinafkah primer sandangpangan telah dilakukan, bayangkan jika tdk ada amarmaruf, ta’awun, dsb, yg kesemuanya mutlak butuh tenaga dana waktu,, beda dengan telah dilakuakn walau minimal, namun jangan sama sekali tdk ada,. . adapun cariharta sebanyak2nya tdk dilarang asalkan kewajiban2 utama tadi telah dilakukan,, ataupun tatakalaa melakukan carinafkah yg primer–dengan kesadaran bahwa ”yg diperintahakan untuk meraih pahala–alias wajibmnya– hanya untukk sandangpangan, ternyata dia dapat harta yg sangat banyak,, namun niyatnya tetap tdk berubah yakni hanya untuk yg primer,, .. . hal2 lainnya adalah ”’jangan melakukan yg tdk kamu lakukan,, , nah,, misalnya dalam lima wajib tadi,, tidak melakukan carinafkah, atau mendidik keluarga, dsb, , maka ketika diperintah-atau diingatkan untuk ;;jangan katakan yg tdk dilakukan, dsb, itu dituruti ,lantas, tentunya diperbaiki terlebih dahulu hal yg tdk dilakukan tersebut, misalnya ”carinafkah telah dilakukan, , lalau empat hal lainnya tentunya boleh malahan wajib dilakukan,, disisi lain misalnya diperintah-diingatkan ;; kamu jamngan bicara hal2 yg tdk kamu lakukan, karena yg paling bahya itu adalah hal yg negatif pada didir sendiri, dsb, dsb,, nah, sama halanya dengan ”hal carinafkah itu,, maka turutilah apa maunya,, yakni lakukan yg merasa belum dilakukan,,, misalnya semuanya telah dilakukan,, lalau , dikatakan–diingatkan ;; jangan katakan yg tdk kamu lakukan,, sedangkan kelimanya telah dilakukan oleh kita,, terutama marmarufnahimunkar,, , maka kalau nurut ;; jangan lakukan, karena yg lebih penting adalah yg ada di ririmu sendiri,, nah,, amarmaruf, dst adalah jangan dilakukan, sedangkan disebutkan jangan bicara kalau tdk dilakukan, padahal, hal itu–bicara keburrukan 2 adalah harus,, malahan disebut slaah jika tdk dilakukan,, namun juga dilarang padahala disalahkan jika tdk dilakuka–yakni tdk berbuat yg dikatakan,, yakni mengatakan amarmaruf, namun kita tdk beramarmaruf–mengatakan hal2 buruk, bagaiamana kumaha????, Lantas,, seandainya hal2 yg telah diapaparkan itu–khusysuk, dsb,, merupaakn hal2 ideal,, maka apa salahnya kita mengambil hal2 ideal tersebut, walau minimal, daripada tdidak, ingat BUKAN MENIRU PERILAKUK ORANGNYA,, NAMUN SENADAINYA KITA AKUI HALA 2 ITU ADALAH HAL2 YG LURUS,, MENAGAPA TDK KITA LAKUKAN WALAU MINIMAL/////, ??? misalnya rukun Islam, DAN LIMA KEWAJIBAN2 TERSEBUT , DENGAN SYARAT ”telah khusyuk. dst. wallahua’alam.

    Diposkan oleh tafakur transendental di 23:06
    Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook
    0 komentar:

    Poskan Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s