Daily Archives: 18 Januari 2011

9 Bahaya Nyata Akibat Terlalu Banyak Mengirim SMS dan BlackBerry

Dewasa ini remaja makin ketagihan SMS dan BlackBerry hingga betah berjam-jam menyendiri. Terlepas dari apapun materi Short Message Service (SMS), aktivitas tersebut menimbulkan banyak dampak buruk.

Sebuah studi oleh Case Western Reserve School of Medicine di Cleveland, Ohio, AS menemukan efek buruk bagi remaja yang telah mengirim lebih dari 120 SMS dan BlackBerry message sehari. Para remaja itu cenderung akan merokok, minuman keras dan melakukan hubungan seks bebas.

DAMPAK BURUK SMS dan BlackBerry Message
– Merokok
– Minuman Keras
– Seks bebas
– IQ menurun
– Kurang konsentrasi
– Stress
– Kurang tidur dan kurang belajar
– Rawan kecelakaan
– Cidera persendian lengan

Selain itu, remaja kebanyakan SMS dan BlackBerry Message juga akan menderita stress, kurang tidur dan terganggu konsentrasi belajarnya. Belum lagi persendian tulang di pergelangan tangan juga terancam cidera. Ini merupakan temuan terbaru terkait perkembangan maraknya para remaja keranjingan SMS dan BlackBerry Message di seluruh dunia.

Penelitian yang melibatkan 4.000 remaja di Amerika Serikat ini juga terungkap, terlalu banyak SMS dan BlackBerry Message menurunkan kemampun IQ. Hal ini diketahui setelah diadakan tes IQ kepada remaja yang berSMS dan BlackBerry Message ria dibanding dengan yang tidak ketagihan, diketahui remaja yang banyak SMS dan BlackBerry Message hasil tes IQ menurun.

Sedangkan dari sisi lalulintas kendaraan, SMS dan BlackBerry Message menjadi pemicu tinggi bagi bertambahnya angka kecelakaan. Penelitian ini juga bersesuaian dengan survey sebelumnya yang dilakukan oleh peneliti dari Monash University di Melbourne, Australia.

Seorang profesor ilmu syaraf, Baroness Susan Greenfield dari Universitas Oxford mengatakan, orang yang terlalu banyak SMS akan mengganggu konsentrasi dan perhatiannya.

Jika di usia remaja, otak sudah terkontaminasi dengan gangguan over SMS maka di usia dewasa dan tua akan makin parah efeknya. Demikian ditulis the sun (1/12)

Dr Richard Graham juga mengakui, saat ini remaja lebih mahir menggunakan teknologi hingga orang dewasa dan orangtuanya kesulitan mengikutinya. Remaja yang terlalu banyak SMSan dan menggunakan jaringan internet berlebihan justru membuat lambat dalam memberikan respon, lalai dalam membaca SMS penting, terutama yang tidak menyenangkan.

Dalam kaitan ini, di beberapa negara sudah mengurangi layanan SMS gratis demi menekan risiko yang akan ditimbulkan bila para remaja terlalu banyak SMSan.

Dr Graham menyarankan, agar membatasi penggunaan ponsel untuk SMS pada waktu tertentu dan di tempat tertentu agar dampak buruk bisa dihindarkan. Dan lebih utama, para remaja dianjurkan untuk melepas headset saat akan tidur.

 

Sekeluarga Melihat 10 UFO Melintas Diatas Rumah Di Selandia Baru

Sebuah keluarga di Christchurch, New Zealand mengaku melihat konvoi Unidentified Flying Object (UFO) yang melintas di atas rumah mereka. Mereka yakin betul benda terbang yang melintas itu adalah UFO, mereka juga mengklaim memiliki foto-foto UFO tersebut.

Satu anggota keluarga tersebut, Jeannine Mander mengatakan konvoi UFO itu terdiri dari 10 piring terbang. “Sangat terang, warnanya oranye, cahayanya berkedip-kedip,” kata Mander seperti dikutip dari laman 3news.co.nz, Kamis (23/12). UFO ini, kata Mander, melintas Rabu lalu sekitar pukul 10 malam.

Mander bukan satu-satunya orang yang melihat konvoi UFO itu, dia bersama tetannga dan beberapa anggota keluarganya ikut menyaksikan UFO tersebut. “Aku memang percaya kita bukan satu-satunya mahluk hidup, ada sesuatu di luar angkasa sana,” katanya.

Militer Selandia Baru kemarin merilis ratusan laporan rahasia soal penampakan yang diklaim sebagai obyek terbang tak dikenal (UFO) dan perjumpaan dengan alien. Dokumen bertanggal 1954 hingga 2009 itu dirilis di bawah hukum keterbukaan informasi setelah Departemen Pertahanan Selandia Baru menghapus materi nama-nama dan identitas lainnya.

Dalam dokumen setebal 2.000 halaman, masyarakat, personel militer, dan pilot-pilot komersial mengaku berjumpa dengan makhluk luar angkasa, mayoritas melibatkan sinar-sinar yang bergerak di langit.

Satu yang paling komprehensif adalah dua sinar aneh di Kota Kaikoura di South Island pada 1978, yang ditangkap seorang kru televisi dalam pesawat di area itu. Insiden ini menjadi berita utama dunia, tapi laporan kontemporer Angkatan Udara menemukan hal itu bisa dijelaskan sebagai fenomena alam semacam cahaya dari kapal-kapal yang terpantul ke awan atau pemandangan tidak biasa dari planet Venus.

Menurut Mander apa yang dia lihat sangat mirip dengan apa yang direkam di Kaikoura pada 1978. Dia sangat yakin apa yang dia lihat adalah

 

Sejak Tahun Baru 2011 Kematian Massal Ribuan Burung dan Ratusan Ton Ikan Meluas Dari Swedia Hingga Selandia Baru

Kematian massal berbagai jenis burung dan ikan dilaporkan meluas hingga berbagai penjuru dunia, Rabu (5/1). Hanya beberapa hari setelah 5.000 burung berjatuhan dalam keadaan mati di Negara Bagian Arkansas, Amerika Serikat, kejadian serupa juga dilaporkan terjadi di Negara Bagian Lousiana, AS, dan di sebuah kota di Swedia.

Christer Olofsson, petugas layanan darurat di kota Falkoeping, mengatakan, burung-burung mulai berjatuhan di kota di Swedia barat daya itu sejak Selasa tengah malam. Sekitar 50-100 burung jackdaw—sejenis gagak—ditemukan terkapar di jalanan berlapis salju. Sebagian besar sudah mati.

Institut Kedokteran Hewan Swedia saat ini sedang meneliti bangkai-bangkai burung itu untuk menyelidiki kemungkinan adanya infeksi virus flu burung.

Anders Wirdheim, ahli ornitologi, mengatakan bahwa peristiwa ini tidak lazim. Burung jackdaw biasa menghabiskan musim dingin dalam sebuah kawanan besar. Diduga ada gangguan yang membuat kawanan itu stres dan terbang tidak beraturan sampai mati.

Di AS, sekitar 500 bangkai burung blackbird sayap merah, jalak, dan grackles ditemukan di kawasan Pointe Coupee Parish, dekat kota Baton Rouge, Louisiana, Selasa (4/1). ”Kami sudah mengirim sampel bangkai ke sebuah laboratorium di Missouri dan sedang menunggu hasilnya,” tutur Olivia Watkins dari Departemen Perikanan dan Margasatwa Louisiana.

Hingga saat ini, para pakar belum mengetahui penyebab pasti kematian massal burung-burung tersebut. Berbagai teori mengemuka, mulai suara ledakan kembang api Tahun Baru yang membuat burung-burung tersebut kaget sampai petir dan hujan es.

Dari hasil pembedahan bangkai-bangkai burung tersebut, petugas hanya bisa memastikan penyebab kematian adalah ”trauma fisik yang akut” dan bukan disebabkan jenis penyakit tertentu.

Kabar kematian massal burung ini disusul kabar kematian massal misterius ribuan ikan yang terjadi di berbagai lokasi di dunia, mulai Teluk Chesapeake, Maryland, AS; Sungai Arkansas, Arkansas, AS; Semenanjung Coromandel, Selandia Baru; dan Pantai Parana, Brasil.

Di Sungai Arkansas, yang terletak hanya sekitar 160 kilometer dari lokasi kematian massal burung blackbird di kota Beebe, pekan lalu ditemukan sekitar 80.000-100.000 bangkai ikan drum (keluarga Sciaenidae). Ribuan bangkai ikan tersebar hingga 36 kilometer di sepanjang aliran sungai tersebut.

Komisi Memancing dan Berburu Arkansas kebingungan karena kematian massal tersebut hanya menimpa satu spesies ikan. ”Kalau penyebabnya adalah polusi, pasti ikan-ikan lain juga ikut terkena, bukan cuma ikan drum,” tutur Keith Stephens, petugas dari komisi tersebut.

Juru bicara Departemen Lingkungan Hidup Maryland Dawn Stolzfus, yang dikutip wbaltv.com, mengatakan bahwa penyebab kematian puluhan ribu ikan kecil di Teluk Chesapeake diduga disebabkan oleh cuaca dingin ekstrem yang membuat ikan-ikan itu stres. Stolzfus mengatakan, ikan-ikan itu biasanya berenang ke perairan yang lebih hangat sebelum cuaca dingin melanda kawasan itu pada Desember. Namun, entah mengapa, tahun ini mereka tidak melakukan itu.

Harian The New Zealand Herald (www.nzherald.co.nz) edisi hari Rabu mengabarkan, para petugas dari dinas perikanan masih terus menyelidiki penyebab kematian ratusan ikan di pantai-pantai di kawasan Semenanjung Coromandel, Selandia Baru utara.

Dari Brasil, Federasi Nelayan di Koloni Parana melaporkan, tidak kurang dari 100 ton ikan sarden, croaker, dan sejenis ikan lele ditemukan mati misterius sejak Kamis pekan lalu.

 

Rahasia Itu Kini Hanya Sementara dan Bukan Rahasia Lagi Berkat Teknologi Informasi

Tampaknya keliru, atau sebuah kenaifan, bila menganggap dengan pecahnya kasus WikiLeaks maka yang guncang adalah sistem kerahasiaan negara. Dalam kasus WikiLeaks, yang terungkap adalah rahasia negara. Namun, di luar itu, yang bisa guncang adalah rahasia dalam level individu atau rahasia pribadi. Hal-hal menyangkut pribadi seseorang, yang disebut sebagai privasi pun, sebenarnya telah guncang di era kemajuan teknologi informasi (TI) dan kemudian TI-komunikasi (TIK).

Tak diragukan lagi, apa yang telah dilakukan oleh Julian Assange dan situs internet (website) revolusioner WikiLeaks telah memaksa pemerintah di dunia bertanya kembali tentang apa sebenarnya yang disebut sebagai ”rahasia”. (Time, 13/12)

Terkait dengan merebaknya kasus ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan, kasus WikiLeaks menjadi pelajaran penting, yaitu agar dokumen rahasia dijaga ketat. (Kompas, 20/12)

Pertanyaannya adalah pada era kemajuan TIK sekarang ini, apakah yang disebut sebagai rahasia tadi benar-benar masih bisa dijaga?

Sebagaimana pesan baru yang pasti telah disampaikan kepada para diplomat untuk lebih saksama dalam berkomunikasi dan mengutarakan pendapat, satu hal yang juga dituntut adalah perubahan perilaku. Ini karena moda komunikasi yang ada sekarang ini memungkinkan komunikasi yang diandaikan bersifat pribadi pun bisa segera tersebar ke seluruh dunia dalam sekejap mata. Sekadar menyebut contoh, apa yang dialami Prita Mulyasari beberapa waktu lalu memperlihatkan hal itu, di mana berbagi keluhan melalui e-mail kepada teman bisa merebak ke khalayak luas.

Dalam lingkup pribadi, perkembangan jejaring sosial memperlihatkan fenomena lain. Dalam situs seperti Facebook, ada banyak hal atau informasi yang dalam konteks konvensional dianggap bersifat pribadi justru disiarluaskan.

Itu boleh jadi disebut sebagai pembocoran privasi secara sukarela.

Sudah diramalkan

Jauh hari sebelum merebaknya pembocoran informasi rahasia oleh WikiLeaks, para ahli informasi telah meramalkan bahwa di era kemajuan pesat TIK akan sulit bagi siapa pun untuk mengamankan informasi.

Dalam edisi khusus tentang masa depan privasi, majalah Scientific American (9/08) telah mengangkat pertanyaan, ”Dapatkan kita mengamankan informasi di dunia yang berteknologi tinggi dan tak aman ini?”

Dalam pengantar edisi itu Pemimpin Redaksi John Rennie menyebutkan, privasi sulit dipertahankan bagi warga masyarakat karena semakin banyak kota memasang kamera untuk memantau aktivitas warga masyarakat.

Dengan realita baru bahwa rahasia dan privasi sulit diamankan, sosok seperti David Brin menyarankan bahwa upaya yang lebih penting dilakukan adalah mencegah penyalahgunaan privasi atau informasi rahasia. Pemerintah dalam hal ini juga diminta sama-sama bersifat terbuka, sebagaimana warga masyarakat yang semakin terbuka, seperti dalam Facebook atau MySpace.

Sebagaimana telah disinggung dalam ”Laporan Iptek” tentang peran dan tanggung jawab baru Chief Informationa Officer (Kompas, 11/10) yang dihadapi pemerintah—dan sebenarnya juga masyarakat—dewasa ini adalah sosok revolusioner militan seperti Julian Assange, yang mengklaim tidak ingin melihat hal-hal yang korup.

Sosok Assange sendiri sebenarnya bisa disebut sebagai pengikut Rev Robert Browne, pimpinan Anglikan yang tahun 1582 pernah mengucapkan kalimat bahwa ”Kita semua harus saling mengawasi satu sama lain”. Ia mengucapkan hal itu karena—seperti dikutip Scientific American—menurut pandangannya, jiwa manusia pada dasarnya adalah lemah dan rawan terhadap godaan berbuat jahat sehingga harus ditopang oleh komunitas mata-mata dan informan.

Pandangan yang amat berpengaruh besar di kalangan kaum puritan Inggris Baru itu, dalam era kemajuan TIK, mendapat dukungan besar dari para pembuat alat-alat pemantau, pengintai, penyadap, yang teknologinya semakin canggih.

Dalam konteks lain tapi dalam semangat senada, majalah The Economist (19/12) mengangkat isu ”Kemajuan dan Kerugiannya” (Progress and Its Perils). Dalam hal pemanfaatan TIK, manusia telah mendapat berbagai manfaat. Kebutuhannya akan informasi mendapat dukungan penuh dari teknologi mutakhir yang dilengkapi mesin pencari dan alat sunting canggih.

Namun, seiring dengan itu, ia juga terikat— dan dengan itu terperangkap—dalam jaringan mahaluas yang bisa membelenggu dan menelikung. Dalam kemudahan itu, virus atau aksi hacker dan cracker dapat menyelinap masuk dalam rahasia kita yang amat dalam.

Meminjam ulasan The Economist tentang gagasan kemajuan, bisa juga dalam kaitan privasi ini kita merujuk pada karya Imre Madach, penulis drama Hongaria, yang berjudul Tragedi Manusia (1861). Dalam buku yang disebut sebagai padanan ”Surga yang Hilang” untuk zaman industri ini dilukiskan, antara lain, Adam setelah turun dari Taman Firdaus turun ke Bumi dan mencoba menegakkan kejayaan. Di Mesir, hal itu ia capai di piramid. Tapi segera ia sadari bahwa itu dibangun di atas kesengsaraan para budak.

Kalau ia tiba di dunia pada abad ke-21, ia juga akan melihat kejayaan di pemanfaatan TIK. Namun, gebyar itu akan dia lihat juga disertai dengan terpaparnya rahasia, dan boleh jadi juga aib, para pengguna fanatiknya. Bukankah itu juga ”Tragedi Manusia”?

 

Otak Lebih Aktif Ketika Hadapi Beban dan Dilema Moral

SATU riset terbaru di Inggris menunjukkan beberapa bagian tertentu otak aktif saat berhadapan dengan dilema moral. Dalam laporan yang dipublikasikan di American Medical Association, para periset berhasil mengidentifikasi beberapa bagian dari otak yang membantu manusia ketika mereka dihadapkan dengan dilema-dilema moral yang sangat sulit.

Dengan menggunakan teknik scanning otak yang canggih, periset menemukan respon manusia pada dilema moral dengan mengaktifkan sejumlah areal otak yang berkaitan dengan pemikiran abstrak dan emosi dasar seperti seks, kekhawatiran dan kemarahan.

“Riset kami menunjukkan kemungkinan andanya basis di dalam neurobiologi untuk sifat-sifat yang cenderung lebih umum,” jelas dr. Dilip Jeste, seorang guru besar saraf dan kejiwaan di University of San Diego.

Dr. Jeste dan kolega Thomas Meeks menyebutkan, saat manusia dihadapkan dengan satu kondisi yang simpel bertalian dengan altruisme atau sifat mengutamakan kepentingan orang lain, mereka akan berhubungan dengan apa yang disebut medial prefrontal cortex, satu areal yang bertalian dengan kemampuan otak dan belajar.

Tapi saat dipaksa untuk membuat keputusan moral yang sulit, areal lain dalam otak diaktifkan yang mencakup wilayah yang berhubungan dengan pemikiran rasio dan emosi dasar. “Beberapa wilayah otak terlihat berkaitan dengan komponen-komponen pengetahuan atau kebijakan yang berbeda. Ini berkaitan dengan satu keseimbangan antara wilayah-wilayah otak lebih primitif seperti apa yang disebut sistem limbik dan yang termodern,” tambah dr. Meeks.

Teknik scannaing otak yang semakin canggih seperti gambaran gaung magnetik atau fMRI yang bisa membuata periset melihat bagian otak yang menjadi aktif ketika manusia menghadapi beban-beban mental. Riset terbaru lainnya mencoba memahami aspek-aspek seperti empati, stabilitas emosi dan rasa iba yang dianggap periset menjadi bagian konsep pengetahuan atau kebijakan yang tidak berwujud.

https://belajarcepatbacaalquranalbayan.wordpress.com