Daily Archives: 3 Desember 2009

Pengantar Tafsir

Mengapa Perlu Mengkaji Tafsir ?


Setiap muslim tentu meyakini benar bahwa Al Qur’an yang mulia adalah wahyu Allah Azza wa Jalla yang diturunkan dengan suatu tujuan yang maha penting. Tidak untuk sekedar dibaca atau dijadikan sebagai wirid harian oleh seorang muslim –walaupun itu juga penting-. Namun lebih daripada itu, Al Qur’an diturunkan agar dapat menjadi sumber petunjuk paling benar dan lurus yang akan mengarahkan bahtera kehidupan setiap individu bahkan sebuah masyarakat ke jalan yang semestinya, jalan yang sesuai dengan fitrahnya dan –tentu saja- sesuai dengan kehendak Sang Khaliq Yang begitu mengasihi dan menyayangi mereka. Oleh sebab itu, kita sangat yakin bahwa kebangkitan, kemenangan dan kejayaan setiap individu dan masyarakat tidak akan benar-benar teraih dengat mudah begitu saja kecuali dengan jalan menanamkan sikap Al Istirsyad ( selalu mengambil petunjuk ) dari ajaran dan aturan Al Qur’an yang telah mempertimbangkan dan memperhatikan semua unsur kebahagiaan manusia, sebab bukankah Al Qur’an adalah Kalam Allah Yang Maha mengetahui apa yang tidak diketahui oleh manusia ?? Maka berangkat dari keyakinan tersebut, tentu menjadi sangat logis bila kita menyatakan bahwa tidak ada jalan untuk menanamkan sikap Al Istirsyad terhadap Al Qur’an itu kecuali dengan berusaha memahami dan mentadabburi pesan-pesan Al Qur’an. Dan Tafsir-lah satu-satunya jalan untuk memahami dan mentadabburi kedalaman pesan-pesan Al Qur’an tersebut. Oleh karena itu, menjadi jelaslah betapa pentingnya setiap muslim berusaha menyediakan jeda waktu khusus dalam 24 jam yang ia lewati dalam sehari untuk mempelajari tafsir terhadap kandungan Al Qur’an, agar hidupnya selamat di dunia dan bahagia di akhirat.

Apa Itu Tafsir ?
Kata Tafsir secara bahasa mempunyai makna : penyingkapan dan penjelasan terhadap sesuatu. Adapun secara istilah, maka kita akan menemukan definisi yang beragam dari kalangan para ulama. Namun definisi yang paling banyak digunakan dan dipandang paling mewakili cakupan ilmu ini adalah definisi yang dirumuskan oleh Imam Az Zarkasyiy –rahimahullah- yang mengatakan bahwa Tafsir adalah “ilmu yang dengannya Kitabullah yang diturunkan kepada Muhammad saw dapat dipahami, dijelaskan makna-maknanya dan digali hukum dan hikmahnya.”

Bagaimana Menafsirkan Al Qur’an secara benar ?
Para ulama tafsir telah menyepakati bahwa metode penafsiran Al Qur’an yang benar adalah yang merujuk pada lima hal berikut :

Pertama, Merujuk kepada Al Qur’an itu sendiri. Atau menafsirkan sebuah ayat dengan ayat lain dalam Al Qur’an. Sebab Allah Azza wa Jalla-lah yang mengucapkan dan menurunkannya, sehingga Allah-lah yang paling mengetahui maksud dan makna yang terkandung didalamnya. Sebagai contoh misalnya, Firman Allah Ta’ala :

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” ( Yunus : 64 ) . “Wali-wali Allah” dalam ayat ini kemudian ditafsirkan oleh ayat berikutnya yang menyatakan :

الَّذِينَ ءَامَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.”

Kedua, Merujuk kepada penjelasan / penafsiran Rasulullah saw, sebab beliau-lah yang menerima dan menyampaikan Al Qur’an itu dari Allah kepada manusia, sehingga beliau-lah manusia yang paling memahami makna dan maksud dari ayat-ayat Allah tersebut. Sebagai contoh misalnya, Firman Allah :

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ

“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya.” (Yunus : 26 ) . Apa yang dimaksud “Tambahannya” dalam ayat itu kemudian ditafsirkan dalam hadits Rasulullah saw –yang diriwayatkan oleh Muslim dari sahabat Ka’ab ibn ‘Ujrah radhiallahu ‘anhu- di mana Rasulullah menyatakan : “Lalu (Allah) menyingkapkan hijab, maka mereka ( orang-orang beriman ) itu tidak pernah dikaruniakan sesuatu yang lebih mereka cintai daripada melihat wajah Rabb mereka Azza wa Jalla.” Lalu beliau membaca ayat ini, yang menunjukkan bahwa “tambahannya” dalam ayat ini berarti “melihat wajah Allah di hari kiamat”.

Ketiga, Merujuk kepada penafsiran para sahabat Nabi saw. Khususnya para sahabat yang dikenal memiliki keunggulan dalam hal penafsiran Al Qur’an, seperti Ibn ‘Abbas –radhiallahu ‘anhu-. Mengapa ? Sebab Al Qur’an itu diturunkan dengan bahasa mereka dan di masa mereka, mereka juga adalah manusia paling jujur setelah para Nabi dan Rasul di samping tentu saja kebersihan dan kelurusan hati mereka dari hal-hal yang dapat menghalangi seseorang dari kebenaran. Di antara contoh penafsiran sahabat adalah penafsiran Ibn ‘Abbas terhadap ayat :

وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ

“Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau kembali dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu.”(An Nisa’ : 43 ) Beliau menafsirkan “menyentuh perempuan” dengan jima’ ( hubungan suami istri ).

Keempat, Merujuk kepada penafsiran para Tabi’in yang mengambil penafsiran Al Qur’an dari para sahabat. Syeikhul Islam Ibn Taimiyyah mengatakan : “Bila mereka (para tabi’in) telah berijma’ terhadap suatu masalah maka tidak diragukan lagi keberadaan ( ijma’ ) tersebut sebagai sebuah hujjah. Dan bila mereka berbeda pendapat maka pendapat sebagian mereka tidak dapat dijadikan hujjah terhadap pendapat yang lain, namun harus dirujuk kepada bahasa Al Qur’an, atau As Sunnah atau keumuman bahasa Arab atau pendapat para sahabat dalam masalah itu.” Dan dalam kesempatan yang lain beliau mengatakan : “Barang siapa yang menyelishi pendapat mereka dan menafsirkan Al Qur’an dengan penafsiran yang menyelisihi penafsiran mereka, maka ia telah salah dalam dalil dan madlul.”

Kelima, Merujuk kepada pengertian suatu kata secara syar’i ataupun bahasa (lughawy). Prinsipnya, bila terjadi perbedaan pengertian antara makna bahasa dan syar’i terhadap suatu kata, maka kita harus merujuk kepada pengertian syar’i, sebab Al Qur’an diturunkan untuk menjelaskan Syar’iat dan bukan sebagai penjelasan bahasa. Namun bila kita menemukan ada dalil yang menguatkan makna bahasa suatu kata, maka berarti ayat atau kata tersebut harus ditafsirkan berdasarkan makna bahasanya. Sebagai contoh misalnya kata “shalat”. Kata ini secara bahasa mempunyai makna : do’a. Sedangkan secara syar’i pengertiannya adalah sebuah ibadah yang memiliki kaifiat tertentu yang diawali dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam. Nah, dalam surah At Taubah : 84 yang berbunyi :

وَلَا تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا وَلَا تَقُمْ عَلَى قَبْرِهِ

kata “shalat” ditafsirkan berdasarkan pengertian syar’i-nya, sehingga makna ayat ini adalah : “Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan/menyalatkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka.” Namun dalam surah yang sama ayat 103,

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

kata “shalat” ditafsirkan berdasarkan makna bahasanya yaitu do’a, sehingga makna ayat ini menjadi : “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendo`alah untuk mereka. Sesungguhnya do`a kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Berdasarkan penjelasan di atas, maka seorang muslim yang ingin menafsirkan atau memahami Al Qur’an tidak boleh bersikap “terlalu percaya diri” dengan apa yang ia miliki sehingga menyebabkannya menafsirkan Al Qur’an seenaknya. Ia harus memperhatikan metodologi dan urutan penafsiran tersebut di atas. Sebab kapan saja ia melangkahi atau mengabaikannya maka ia akan sesat dan menyesatkan. Itulah sebabnya, sebagian ulama salaf mengatakan : “Barang siapa yang menafsirkan Al Qur’an dengan ra’yu (pemikiran)-nya sendiri maka ia telah salah walaupun (penafsirannya) benar.” Artinya, walaupun hasil pemikirannya itu benar namun ia tetaplah melakukan kesalahan, karena tidak melewati metodologi yang telah ditetapkan oleh Allah dan RasulNya.

Nah, catatan terakhir tersebut mengingatkan kita betapa pentingnya mengkaji ilmu kaum As Salaf Ash Shaleh yang tertuang dalam berbagai kitab-kitab atsary. Dan kita tentu ingat apa yang dikatakan oleh Imam Malik bahwa generasi akhir ummat ini tidak akan jaya dan menang kecuali dengan apa yang telah menjayakan dan memenangkan generasi pertamanya. Demikianlah, dan Wallahu a’lam bishshawab !

Makassar, 27 Januari ‏2004
Muhammad Ihsan Zainuddin

http://www.wahdah.or.id/wis/index.php?option=com_content&task=view&id=129&Itemid=191

Tafsir Al-Fatihah 1

Seharusnya tidak ada seorang muslim pun yang tidak mengenal surah ini. Setidaknya bila seorang muslim ‘hanya’ menjaga shalat lima waktunya saja, hampir bisa dipastikan ia akan mengulangi surah ini sebanyak 17 kali dalam sehari semalam. Belum lagi bila ia tidak sekedar mengerjakan shalat yang fardhu.
Belum lagi bila ia tidak sekedar mengerjakan shalat yang fardhu. Tentu pengulangan terhadap surah ini akan lebih sering terjadi. Namun ternyata seringnya pengulangan itu tidak serta merta menunjukkan adanya peningkatan pemahaman terhadap surah ini. Berikut ini beberapa penjelasan sederhana sep utar surah ini. Semoga saja dapat memberikan pencerahan baru bagi shalat-shalat kita sehari-hari. Agar shalat-shalat itu tidak berlalu begitu saja, tanpa kita memahami sedikitpun dzikir dan do’a yang kita lantunkan di dalamnya.

Nama-nama Surah Al Fatihah
Ada beberapa nama yang sering digunakan untuk surah ini, diantaranya adalah :

  1. Al Fatihah, yang berarti sang pembuka. Nama ini tentu saja sesuai dengan fungsi surah ini sebagai surah pembuka baik dalam mushhaf Al Qur’an dan juga dalam shalat.
  2. Ummul Kitab. Penamaan ini didasarkan kepada salah satu hadits Nabi saw yang menyatakan : “Alhamdulillahi rabbil ‘alamin adalah ‘ummul Qur’an’, ‘ummul Kitab’…” (HR. At Tirmidzy dengan sanad yang shahih). Mengapa surah Al Fatihah dinamakan ummul Kitab ? Ada beberapa pandangan di kalangan para ulama tentang hal ini. (1) Imam Bukhari misalnya –sebagaimana yang beliau sebutkan dalam awal Kitab Tafsir dalam Shahih Bukhari bahwa penamaan itu dikarenakan surah Al Fatihah yang per tama kali ditulis dalam mushhaf dan yang pertama kali dibaca dalam shalat. (2) Sebagian ulama yang lain memandang bahwa penamaan Al Fatihah dengan ummul Kitab disebabkan karena seluruh makna kandungan Al Qur’an itu kembali kepada makna yang terkandung dalam surah ini. Ibn Jarir Ath Thabary misalnya menguraikan hal ini berdasarkan pengertian kata umm secara bahasa. Beliau menjelaskan bahwa bangsa Arab menyebut setiap sesuatu yang mengumpulk an atau yang dikedepankan dalam suatu perkara dengan sebutan umm. Panji pasukan dalam peperangan disebut umm karena seluruh prajurit bersatu di bawahnya. Begitu pula kulit kepala yang ‘mengumpulkan’ dan menghimpun otak manusia, dalam bahasa Arab disebut dengan istilah umm.
  3. As Sab’u Al Matsany. Artinya “tujuh ayat yang sering diulang-ulang”. Tentu saja ini sangat berkaitan erat dengan seringnya surah Al Fatihah yang berjumlah tujuh ayat ini diulang dalam keseharian seorang muslim. Nama ini sendiri disebutkan dalam beberapa hadits Nabi saw, seperti : “Dia itu adalah ‘ummul Qur’an’, dia itu adalah pembuka AlKitab, dan dia itu adalah ‘as sab’u al matsany’.” (HR. Ath Thabary dari Abu Hurairah –radhiallahu ‘anhu-). Tidak hanya itu, bahkan nama ini disebutkan pula dalam salah satu ayat Al Qur’an : “Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al Qur’an yang agung .” (Al Hijr : 87)
  4. Al Hamd. Yang berarti pujian. Sebabnya jelas karena surah ini diawali dengan pujian (Al Hamd) kepada Allah Azza wa Jalla.
  5. Ash Shalat. Nama ini didasarkan pada sebuah hadits qudsi yang cukup terkenal yang menunjukkan keutamaan surah ini. Dalam hadits itu, Allah Ta’ala berfirman : “Aku telah membagi ‘Ash Shalat’ (yaitu Al Fatihah yang dibaca dalam shalat) menjadi dua bagian antara Aku dengan hambaKu…” (HR. At Tirmidzy). Ibn Katsir menyatakan bahwa surah Al Fatihah dinamakan juga Ash Shalat karena ia menjadi rukun sahnya shalat.
  6. Ar Ruqyah. Hal ini didasarkan pada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al Khudriy –radhiallahu ‘anhu- ketika beliau meruqyah (mengobati dengan membacakan ayat atau do’a yang ma’tsur ) seseorang dengan membaca surah Al Fatihah, maka Nabi saw mengatakan : “Bagaimana engkau tahu bahwa (surah ini) adalah ruqyah ?” (HR. Bukhari).

Itulah beberapa nama dari surah Al Fatihah. Nama-nama itu setidaknya menjelaskan kepada kita beberapa fungsi dan keutamaan dari surah ini.

Keutamaan Surah Al Fatihah
Ibn Katsir –rahimahullah- menyebutkan beberapa hadits yang menunjukkan keutamaan surah ini. Di antaranya adalah sebagai berikut :

  1. Abu Sa’id ibn Al Mu’alla –radhiallahu ‘anhu- pernah bercerita : “Aku pernah mengerjakan shalat, lalu Rasulullah saw memanggilku. Namun aku tidak segera memenuhinya hingga aku selesai mengerjakan shalat. Lalu kemudian aku mendatangi beliau. Beliau berkata : “Apa yang menghalangimu untuk memenuhi panggilanku ?”. Aku menjawab : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya sedang mengerjakan shalat.” Beliau lalu berkata : “Bukankah Allah Ta’ala telah mengatakan : ‘Wahai sekalian orang-orang beriman, penuhilah panggilan Allah dan RasulNya bila ia memanggil kalian untuk sesuatu yang menghidupkan kalian’ ?”, lalu beliau berkata : “Sungguh aku akan mengajarimu sebuah surah yang paling agung dalam Al Qur’an sebelum engkau keluar dari mesjid.” Beliau lalu memegang tanganku. Hingga ketika beliau ingin keluar dari mesjid, aku berkata pada beliau : “Wahai Rasulullah, bukankah engkau telah mengatakan bahwa engkau akan mengajariku sebuah surah yang paling agung dalam Al Qur’an ?” Beliau menjawab : “Iya, (surah itu adalah) Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Ia adalah as sab’u al matsany dan Al Qur’an agung yang diberikan kepadaku.” (HR. Bukhari dan Ahmad).
  2. Ibn ‘Abbad –radhiallahu ‘anhuma- pernah berkisah : “Pada suatu ketika Rasulullah saw bersama dengan Jibril. Lalu tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari langit. Maka Jibril menengadahka pandangannya ke langit, lalu berkata : ‘Itu adalah salah satu pintu langit yang dibuka yang sebelumnya belum pernah dibuka’. Lalu malaikat itu mendatangi Nabi saw, lalu berkata : ‘Bergembiralah dengan dua cahaya yang diberikan kepadamu dan belum pernah diberikan kepada seorang nabi pun sebelummu ; yaitu Fatihah Al Kitab dan ayat-ayat penutup surah Al Baqarah. Tidaklah engkau membaca sau hurufpun dari keduanya melainkan engkau akan diberi.” (HR. Muslim dan An Nasa’iy)
  3. Hadits Abu Hurairah –radhiallahu ‘anhu- dari Rasulullah saw yang bersabda : “Barang siapa yang mengerjakan shalat dan tidak membaca Ummul Qur’an maka shalatnya terputus tidak sempurna –beliau mengulanginya sebanyak tiga kali-.” (HR. Muslim). Setelah menyampaikan hadits ini, Abu Hurairah ditanya : “Tetapi kami berada di belakang imam.” Ia menjawab : “Bacalah dalam hatimu, sebab sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda : “Allah Azza wa Jalla berfirman : ‘Aku telah membagi shalat (maksudnya surah Al Fatihah) menjadi dua bagian antara Aku dan hambaKu. Dan hambaKu akan mendapatkan apa yang ia minta. Maka apabila ia mengucapkan ‘Alhamdulillahi rabbil ‘alamin’, Allah pun berkata : ‘H ambaKu telah memujiKu’. Dan bila sang hamba mengucapkan ‘Ar Rahmanirrahim’ maka Allah pun berkata : ‘HambaKu telah menyanjungKu’. Maka bila sang hamba membaca ‘Maliki yaumiddin’, Allah pun berkata : ‘HambaKu telah mengagungkanKu’. Dan terkadang Ia mengatakan : ‘HambaKu telah menyerahkan urusannya kepadaKu’. Dan tatkala sang hamba mengucapkan : ‘Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in’, Allah berkata : ‘Inilah batas pembagi (surah Al Fatihah) antara Aku dan hambaKu, dan untuk hambaKu apa yang ia minta. Maka bila sang hamba membaca ‘Ihdinashshirathal mustaqim, Shiratalladzina an’amta ‘alaihim ghairil maghdhubi ‘alaihim wala-dhdhallin’ , Allah berkata : ‘Ini adalah untuk hambaKu, dan untuknya apa yang telah ia minta’. (HR. Muslim dan An Nasa’iy).

Kewajiban Membaca Al Fatihah dalam Shalat
Dari beberapa hadits yang telah disebutkan di atas kita dapat menyimpulkan bahwa membaca Al Fatihah dalam shalat adalah sebuah keharusan. Dan para ulama telah menyepakati dan berijma’ terhadap hal itu. Kewajiban ini semakin dipertegas lagi oleh sabda Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh ‘Ubadah ibn Ash Shamit –radhiallahu ‘anhu- : “Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Fatihah Al Kitab.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah –radhiallahu ‘anhu-, Rasulullah saw bersabda : “Tidak sah shalat yang tidak dibacakan di dalamnya Ummul Qur’an.” (HR. Ibn Khuzaimah dan Ibn Hibban).

Itulah sebabnya, Ibn Katsir –rahimahullah- menyimpulkan bahwa membaca Al Fatihah itu hukumnya wajib bagi siapapun yang mengerjakan shalat, baik ia dalam posisi sebagai imam atau ma’mum, ataupun mengerjakannya sendirian. Dan surah ini dibaca di setiap raka’at, jenis apapun shalat yang Anda kerjakan.

http://www.wahdah.or.id/wis/index.php?option=com_content&task=view&id=113&Itemid=191

Tafsir Basmalah

بسم الله الرحمن الرحيم

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”

Basmalah; Bagian Awal Dari Setiap Surah Atau Berdiri Sendiri ?
Para sahabat yang mengumpulkan Al Qur’an dalam satu mushhaf mengawali Kitabullah dengan Bismillahirrahmanirrahim.

Kalimat ini dijadikan sebagai ayat pembuka Al Qur’an. Para ulama juga bersepakat bahwa kalimat ini juga adalah sebagian ayat dari surah An Naml ;

إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

“Sesungguhnya surat itu, dari Sulaiman dan sesungguhnya (isi) nya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (An Naml : 30)

Lalu kemudian mereka berbeda pendapat ; apakah basmalah adalah ayat yang berdiri sendiri di awal setiap surah, atau apakah ia termasuk bagian dari setiap surah ? Pendapat-pendapat itu dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Basmalah adalah merupakan ayat dari setiap surah kecuali surah At Taubah (Bara’ah). Pendapat ini diriwayatkan dari Ibn ‘Abbas, Ibn ‘Umar, Ibn Az Zubair, Abu Hurairah, ‘Ali ibn Abi Thalib, -dan dari kalangan tabi’in- ‘Atha’ ibn Abi Rabah, Thawus, Sa’id ibn Jubair, Makhul dan Az Zuhry. Pendapat yang sama juga dipegangi oleh ‘Abdullah ibn Al Mubarak, Asy Syaf’iy, Ahmad ibn Hanbal dalam salah satu riwayat, Ishaq ibn Rahawaih dan Abu ‘Ubaid Al Qasim ibn Sallam –semoga Allah melimpahkan rahmatNya kepada mereka semua-.
2. Basmalah bukanlah merupakan ayat dari surah Al Fatihah dan bukan pula bagian dari surah yang lainnya. Pendapat ini dikatakan oleh Malik dan Abu Hanifah –semoga Allah merahmati mereka.
3. Basmalah adalah ayat yang berdiri sendiri dan terdapat pada awal setiap surah. Pendapat ini dikatakan oleh Dawud Azh Zhahiry dan diriwayatkan dari Ahmad ibn Hanbal.
Pendapat yang banyak dikuatkan oleh para ulama adalah pendapat yang pertama. Wallahu a’lam.

Membaca Basmalah Dalam Shalat
Para ulama yang berpandangan bahwa basmalah bukanlah merupakan bagian / ayat dari surah Al Fatihah berpendapat bahwa orang yang mengerjakan shalat tidak harus menjahrkan (mengeraskan) bacaan basmalah.
Demikian pula yang berpandangan bahwa basmalah adalah ayat yang berdiri sendiri pada awal surah dan bukan merupakan bagian dari Al Fatihah.
Adapun para ulama yang mengatakan bahwa basmalah adalah merupakan bagian / ayat pertama dari setiap surah –kecuali surah At Taubah-, maka mereka berbeda pendapat tentang apakah basmalah itu dikeraskan atau tidak bacaanya dalam shalat :
1. Basmalah itu dikeraskan bacaannya dalam shalat, baik ketika membaca surah Al Fatihah dan surah yang lainnya. Pendapat ini dikatakan oleh Abu Hurairah, Ibn ‘Umar, Ibn ‘Abbas, Mu’awiyah, ‘Umar dan ‘Ali –seperti yang diriwayatkan oleh Ibn ‘Abdil Barr dan Al Baihaqy-, Sa’id ibn Jubair. ‘Ikrimah, Abu Qilabah, Az Zuhry, ‘Ali ibn Al Hasan, Sa’id ibn Al Musayyib, Atha’, Thawus, Asy Syafi’iy, Ibn Hazm dan yang lainnya. Landasan mereka di antaranya adalah hadits Abu Hurairah –radhiallahu ‘anhu- yang diriwayatkan oleh An Nasa’iy, Ibn Hibban dan Al Hakim, di mana beliau pernah mengerjakan shalat dengan menjaharkan basmalah, dan seusai itu ia mengatakan : “Sesungguhnya aku adalah yang paling mirip di antara kalian dengan shalat Rasulullah saw.”
2. Basmalah itu tidak dikeraskan bacaannya dalam shalat. Pendapat ini adalah pendapat ini adalah pendapat yang tsabit dari para khalifah yang empat ( Al Khulafa’ Ar Rasyidun ) dan sekelompok ulama salaf dan khalaf. Pendapat ini juga merupakan madzhab Abu Hanifah, Sufyan Ats Tsaury dan Ahmad ibn Hanbal. Salah satu pegangan mereka adalah hadits yang diriwayatkan oleh Anas ibn Malik –radhiallahu ‘anhu- yang mengatakan : “Aku telah mengerjakan shalat di belakang Nabi saw, Abu Bakr, ‘Umar dan ‘Utsman, namun mereka mengawalinya dengan (langsung) membaca Alhamdulillahi rabbil ‘alamin.” (HR. Bukhari dan Muslim).
3. Basmalah tidak dibaca sama sekali, baik secara jahar maupun sirr. Pendapat ini dikatakan oleh Imam Malik. Landasannya adalah bahwa –sebagaimana dikatakan oleh ‘Aisyah- Rasulullah saw mengawali shalatnya dengan takbir dan membaca Alhamdulillah rabbil ‘alamin (HR. Muslim). Ibn Katsir –yang lebih menguatkan dan memilih pendapat yang pertama- memberikan pandangan yang menyejukkan seputar perbedaan ini dengan mengatakan : “Inilah pegangan para ulama dalam masalah ini, yang semuanya sesungguhnya berdekatan, sebab mereka semua telah bersepakat bahwa orang yang menjahar ataupun mensirrkan basmalah shalatnya tetap sah, walhamdulillahi wal minnah.”

Keutamaan Basmalah
Pada dasarnya kalimat ini sangat berberkah. Itulah sebabnya, Allah Ta’ala memudahkan setiap muslim untuk mengingatnya. Bukankah tidak ada seorang muslim pun yang tidak bisa mengucapkan bismillah ? Maka bisa dikatakan, basmalah adalah dzikir yang paling mudah diingat. Oleh sebab itu, jangan pernah lupa mengucapkannya setiap kali Anda mengawali dan memulai setiap aktifitas Anda. Ketika mengawali pembicaraan, pada saat masuk ke tempat buang hajat, ketika memulai wudhu’, makan bahkan saat memenuhi kebutuhan biologis Anda. Insya Allah, Allah akan memberi berkah untuk Anda ! Rasulullah saw mengatakan : “Seandainya salah seorang dari kalian bila hendak mendatangi istrinya lalu mengatakan Bismillah Allahumma Jannibna-syaithan, wa jannibi-syaithan ma razaqtana (Dengan menyebut nama Allah –aku mengerjakan ini-, ya Allah jauhkanlah kami dari syaithan dan jauhkanlah syaitan dari apa yang engkau karuniakan kepada kami), maka bila ia ditakdirkan mendapatkan anak maka syaithan tidak akan mendatangkan mudharat kepadanya selamanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Di samping itu, basmalah juga –dengan idzin Allah- dapat membantu Anda menghadapi musuh terberat dalam kehidupan ini ; Syaithan. Dengan membaca basmalah Anda dapat membuatnya kehilangan kekuatan dan menjadi kecil. Suatu ketika, salah seorang sahabat yang menyertai Nabi saw –namanya Usamah ibn ‘Umair- mengatakan : “Celakalah syaithan !”. Maka Rasulullah saw menegurnya dengan mengatakan : “Engkau jangan mengatakan : ‘Celakalah syaithan’, sebab jika engkau mengatakannya maka syaithan akan semakin membesar sembari mengatakan : “Dengan kekuatanku aku akan melawannya”. Namun jika engkau mengatakan ‘Bismillah’, maka ia akan mengecil hingga menjadi seperti seekor lalat.” (HR. Ahmad dan An Nasa’iy). Tentu saja, ini adalah salah satu bentuk keberkahan kalimat yang agung ini.
Oleh sebab itu, jangan pernah lupa mengucapkannya. Latihlah lisan Anda agar menjadi ringan dan mudah melafalkannya.

Makna Lafzhul Jalalah ; ALLAH
Allah adalah nama yang diperuntukkan untuk sang Rabb alam semesta ini. Secara bahasa ia berasal dari kata Al-Ilah yang berarti sesembahan. Dan Allah Azza wa Jalla sendirilah yang menamai DzatNya dengan Allah. Sebagian ulama mengatakan ini adalah nama yang paling agung sebab inilah nama yang disifatkan dengan seluruh sifat kemahasempurnaan. Hal ini seperti yang dinyatakan oleh Allah sendiri dalam Al Qur’an :

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ  .  هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ .   هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala keagungan, Maha Suci, Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al Hasyr : 22-24)

Perhatikanlah bagaimana ayat-ayat ini menunjukkan bahwa
(1) Allah sendirilah yang menamai dan menyebut DzatNya dengan nama Allah,
(2) nama inilah yang menjadi nama Allah yang paling agung dan
(3) kepada nama inilah semua nama dan sifat kemahasempurnaan Allah dinisbatkan.

Makna ‘Ar Rahman’ dan ‘Ar Rahim’
Secara bahasa, kedua kata ini merupakan bentukan kata dari Ar Rahmah (kasih sayang). Dari kata Ar Rahmah inilah kata Ar Rahman dan Ar Rahim dibentuk untuk menunjukkan bentuk kasih sayang yang sangat besar. Walaupun kata Ar Rahman memiliki makna kasih sayang yang lebih tinggi daripada Ar Rahim. Secara tersirat Ibn Jarir Ath Thabary menyebutkan kesepakatan para ulama dalam masalah ini.
Berikut ini beberapa nukilan perkataan para ulama yang menjelaskan perbedaan antara Ar Rahman dan Ar Rahim :
1. Ibn ‘Abbas mengatakan : “Kedua nama ini adalah nama (yang menunjukkan) kelembutan, namun salah satunya lebih lembut dari yang lainnya –artinya lebih menunjukkan kasih sayang yang lebih besar-.”
2. Abu ‘Ali Al Farisy mengatakan : “Ar Rahman adalah nama yang mencakup segala bentuk rahmat yang hanya khusus dimiliki Allah Ta’ala, sedangkan Ar Rahim adalah (untuk menunjukkan) rahmat dari sisi kaum mu’minin.”
3. Ibn Jarir Ath Thabary meriwayatkan perkataan Al ‘Azramy yang menyatakan : “Ar Rahman adalah (menunjukkan kasih) yang ditujukan untuk semua makhluq, sedangkan Ar Rahim adalah khusus untuk orang-orang beriman.”

Nama ‘Ar Rahman’ Hanya Untuk Allah
Dengan melihat cakupan Ar Rahman yang lebih luas, maka tidak mengherankan bila nama dan sifat ini hanya untuk Allah Ta’ala –berbeda dengan Ar Rahim yang terkadang diberikan kepada makhluq seperti ketika Allah menjelaskan bagaimana kasih Rasulullah sw kepada kaum beriman ; wa kaana bil mu’minina rahima.
Itulah sebabnya, Ar Rahman secara khusus disebut dalam perintah berdo’a kepada Allah ;

قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَنَ أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلًا

“Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu” (Al Isra’ :110)

Tidak dibenarkan siapapun menyebut dirinya sebagai Ar Rahman sebab ia adalah kekhususan Allah Ta’ala. Maka ketika si nabi palsu Musailamah menyebut dirinya sebagai rahman al yamamah (sang rahman-nya wilayah Yamamah), Allah Ta’ala memberinya label yang akan terus abadi hingga akhir zaman ; Al Kadzdzab (sang pendusta). Hingga kini, siapapun yang menyebut nama Musailamah hampir tidak pernah lupa menggandengkannya dengan Al Kadzdzab.
Berdasarkan penjelasan ini, maka kita dapat memahami mengapa dalam kalimat basmalah, nama Ar Rahman didahulukan daripada nama Ar Rahim. Sebab nama Ar Rahman lebih mulia dibandingkan dengan nama Ar Rahim.
Wallahu Ta’ala a’lam.

http://www.wahdah.or.id/wis/index.php?option=com_content&task=view&id=103&Itemid=191

KEUTAMAAN MEMBACA AL-QUR’AN


Sesungguhnya Al Qur’an diturunkan tidak lain kecuali untuk suatu tujuan yang agung yaitu sebagai pelajaran dan hukum. Adapun pada saat ini, banyak manusia yang meninggalkan kitab yang agung ini, tidak mengenalnya kecuali hanya pada saat-saat tertentu saja, “Diantara mereka ada yang hanya membaca saat ada kematian, diantara mereka ada yang hanya menjadikannya sebagai jimat dan diantara mereka ada yang hanya mengenalnya pada saat bulan Ramadhan saja.”

Memang benar bahwa bulan Ramadhan adalah bulan Al Qur’an, kita dianjurkan agar memperbanyak membaca Al Qur’an pada bulan ini. Namun tidak sepantasnya seorang muslim berpaling dari kitab yang mulia ini di luar bulan Ramadhan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjanjikan keutamaan yang begitu banyak bagi para pembacanya meskipun di luar bulan Ramadhan, dan diantaranya adalah :

1. Memperoleh kesempurnaan pahala
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

إِنَّ الَّذِينَ يَـتْـلُونَ كِتَابَ اللهِ وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ وَأَنـــْفَقُوا مِمَّـا رَزَقْـنَاهُمْ سِرًّا وَعَلاَ نِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ . لِيُـوَفّـِـيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيـَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ . فاطر : 29-30

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karuniaNya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. (QS. Fathir : 29-30) Berkata Qatadah : “Mutharrif رحمه الله apabila membaca ayat ini beliau berkata : “ini ayat para qari'” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir III: 554)

2. Syafa’at bagi pembaca Al Qur’an
Dari Abu Umamah, ia berkata : “Saya mendengar Rasulullah Radhiyallahu ‘anhu bersabda :

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يـَأْتِي يَوْمَ الْقِـيَامَةِ شَفِيعًا ِلأَصْحَابِهِ . رواه مسلم

“Bacalah Al Qur’an karena sesungguhnya Al qur’an itu akan datang di hari kiamat untuk mmeberi syafa’at bagi yang membacanya” (HR. Muslim)

Dan dari Abdullah bin Amru bin Ash Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

الصّـِيَامُ وَالْقُرْآنُ يـَشْفَعَانِ لِلْـعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ الصّـِيَامُ أَيْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّــهَوَاتِ بِالـنَّــهَارِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ وَيـــَــقُولُ الْقُرْآنُ مَــنَــعْتُهُ الـنَّــوْمَ بِاللَّـيْلِ فَشَــفِّعْنِي فِيهِ قَالَ: فَيُشَفَّعَانِ رواه أحمد

“Puasa dan Al Qur’an akan memberi syafa’at kepada hamba kelak di hari kiamat, puasa berkata : “Ya Rabbku saya telah mencegahnya dari memakan makanan dan menyalurkan syahwatnya di siang hari, maka izinkanlah aku memberi syafa’at kepadanya. Dan berkata Al Qur’an :”Saya telah mencegahnya dari tidur di waktu malam, maka izinkanlah aku memberi syafa’at kepadanya, Nabu bersabda :”Maka keduanya memberikan syafa’at” (HR. Ahmad)

Oleh karena itu dianjurkan untuk memperbanyak membaca Al Qur’an Al Karim terutama di bulan Ramadhan, karena bulan ini merupakan bulan Al Qur’an. Para ulama As salaf Ash Shalih bila menghadapi bulan Ramadhan mereka menyambutnya dengan membaca Al Qur’an lebih banyak dari bulan lainnya. Mereka menyibukkan diri dengan tadarrus Al Qur’an, mempelajarinya, mengajarkannya dan qiyamul lail dengan membaca ayat-ayatnya agar mereka beruntung mendapat syafa’at dari puasa dan Al Qur’an yang mereka baca serta agar mendapatkan ridha dan syurganya dari Ar Rahman.

3. Pahala yang berlipat ganda bagi orang yang membaca Al Qur’an
Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Radhiyallahu ‘anhu bersabda :

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ . رواه الترمذي

“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah (Al Qur’an) maka baginya satu kebaikan dan satu kebaikan itu dilipatgandakan dengan sepuluh (pahala). Aku tidak mengatakan ” الم “Alif Laam Mim adalah satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf dan Mim satu huruf” (HHR. Tirmidzi)

4. Mengangkat derajat di Syurga
Dari Abdullah bin Amru bin Ash Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Radhiyallahu ‘anhu bersabda :

يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا فَإِنَّ مَـنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَأُ بِهَا
رواه الترمذى و أبو داود

“Dikatakan kepada Ahli Al Qur’an : “Bacalah dan keraskanlah dan bacalah (dengan tartil) sebagaimana engkau membacanya di dunia, sesungguhnya kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang kau baca” (HHR. Tirmidzi)

5. Belajar dan mengajarkan Al Qur’an adalah amalan yang terbaik
Dari Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Radhiyallahu ‘anhu bersabda :

خَـيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ . رواه البخاري

“Sebaik-baik orang diantara kalian adalah yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya” (HR. Bukhari)

Al Hafizh Ibnu Hajar berkata : “Tidak diragukan lagi bahwa orang yang menggabungkan dalam dirinya dua perkara yaitu mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya, dia menyempurnakan dirinya dan orang lain, berati dia telah mengumpulkan dua manfa’at yaitu manfa’at yang pendek (kecil) dan manfa’at yang banyak, oleh karena inilah dia lebih utama” (Lihat Fathul Bari 4:76)

6. Empat Keutamaan bagi kaum yang bekumpul untuk membaca Al Qur’an
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu ia berkata Rasulullah Radhiyallahu ‘anhu bersabda :

مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَـيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ يَـتْـلُونَ كِتَابَ اللهِ وَيـَـتَدَارَسُونَهُ بَـيْـنَـهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَـيْهِمْ السَّكِينَةُ وَغَشِيَـتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمْ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمْ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ . روا مسلم

“Tidaklah suatu kaum berkumpul di suatu rumah dari rumah Allah (masjid) mereka membaca kitabullah dan saling belajar diantara mereka, kecuali Allah menurunkan ketenangan kepada mereka, mereka diliputi rahmat, dinaungi malaikat dan Allah menye butnyebut mereka pada (malaikat) yang didekatNya” (HR. Muslim)

Maka berbahagilah ahlul Qur’an dengan karunia yang agung dan kedudukan yang tinggi ini, maka sungguh sangat mengherankan orang yang masih bermalas-malasan bahkan berpaling dari majelis Al Qur’an.

7. Membaca Al Qur’an adalah perhiasan Ahlul Iman
Dari Abu Musa Al Asy’ari Radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah Radhiyallahu ‘anhu bersabda :

مَـثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ اْلأُتْرُجَّةِ رِيحُـهَا طَـيِّبٌ وَطَعْمُـهَا طَـيِّبٌ وَمَـثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَـثَلِ التَّمْرَةِ لاَ رِيحَ لَهَا وَطَعْمُـهَا حُلْوٌ وَمـَـثَلُ الْمُـنَافِقِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَـثَلُ الرَّيْحَانَةِ رِيحُـهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُـهَا مُرٌّ وَمـَـثَلُ الْمُـنَافِقِ الَّذِي لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَـثَلِ الْحَـنْظَلَةِ لَـيْسَ لَهَا رِيحٌ وَطَعْمُـهَا مُرٌّ . رواه البخاري و مسلم

“Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al Qur’an itu bagaikan jeruk limau; harum baunya dan enak rasanya dan perumpamaan orang mu’min yang tidak membaca Al Qur’an itu bagaikan buah kurma; tidak ada baunya namun enak rasanya. Dan perumpamaan orang munafik yang membaca Al Qur’an itu bagaikan buah raihanah; harum baunya tapi pahit rasanya dan orang munafik yang tidak membaca Al Qur’an itu bagaikan buah hanzhalah; tidak ada baunya dan pahit rasanya” (HR. Bukhari dan Muslim)

Orang mu’min yang tidak membaca Al Qur’an berati ia telah menghilangkan salah satu sifat esensinya yaitu baik pada zhahirnya. Ini merupakan kekurangan bagi pribadi seorang muslim, yang seharusnya mampu membaca Al Qur’an, menghafalkannya dan mentadabburinya tapi justru melalaikannya

8. Membaca Al Qur’an tidak sebanding dengan Harta benda dunia.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah Radhiyallahu ‘anhu bersabda :

أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ إِذَا رَجَعَ إِلَى أَهْلِهِ أَنْ يَجِدَ فِيهِ ثَلاَثَ خَلِفَاتٍ عِظَامٍ سِمَانٍ قُلْـنَا : نَعَمْ ، قَالَ : فَثَلاَثُ آيَاتٍ يَقْرَأُ بِهِنَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلاَتِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ ثَلاَثِ خَلِفَاتٍ عِظَامٍ سِمَانٍ رواه مسلم

“Apakah salah seorang diantara kalian senang bila pulang kepada keluarganya dengan mendapatkan tiga ekor unta khalifat yang gemuk-gemuk ?” Kamipun berkata : “Ya” Beliau bersabda : “Maka tiga ayat yang dibaca oleh seseorang diantara kalian dalam shalatnya itu lebih baik dari tiga ekor unta khalifat yang gemuk-gemuk” (HR. Muslim)

Harta yang paling dicintai orang Arab pada waktu itu adalah unta khalifat, apabila unta khalifat yang besar lagi gemuk memiliki nilai kekayaan yang besar yang diperebutkan manusia, maka sesungguhnya belajar atau membaca satu ayat dari kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih baik disisi Allah dari pada unta tersebut.

Bersegera membaca Al Qur’an lebih banyak manfa’atnya dari pada berdesak-desakan memperebutkan harta kekayaan dunia yang akan sirna tidak meninggalkan bekas. Adapun bacaan Al Qur’an maka pahalanya tersimpan untukmu.

9. Keutamaan orang yang mahir membaca Al Qur’an
Dari Aisyah رضي الله عنها ia berkata, Rasululah Radhiyallahu ‘anhu bersabda :

الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيـَـتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَـيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ
رواه مسلم

“Orang yang mahir Al Qur’an bersama para malaikat yang mulia dan baik-baik dan orang yang membaca Al Qur’an dan terbata-bata membacanya dengan mengalami kesulitan melakukan hal itu maka baginya dua pahala” (HR. Muslim)

Setelah anda ketahui wahai saudaraku muslim pahala besar dan kedudukan yang dicapai orang yang membaca Al Qur’an maka tidak ada kewajiban bagi anda kecuali menyingsingkan lengan untuk bersungguh-sungguh, banyak membaca Al Qur’an dan mentadabburinya serta menjaga kontinuitas amal itu, tidak putus atau malas pada bulan Ramadhan atau pun bulan-bulan lainnya -Wallahu Musta’an-
Abu Ubaidillah Syahrul Qur’ani

Maraji’:
1. Warattilil Qur’ana Tartila, Washaya wa Tanbihat fit Tilawah wal Hifdzi wak Muraja’ah (Terj), Dr. Anis Ahmad Karzun
2. Kaifa Na’isyu Ramadhan (Terj), Abdullah Ash Shalih
3. Bida’un Naas Fil Qur’an (Terj), Abu Anas Ali bin Husain Abu Luz

(Al Fikrah Tahun 3 Edisi 10)

Hadits-hadits Keutamaan Membaca Al-Quran

Keutamaan -keutamaan membaca Al-Quran berdasarkan Kitab Riyadhus-Shalihin buku II

988. Dari Abu Umamah r.a., katanya: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Bacalah olehmu semua akan al-Quran itu, sebab al-Quran itu akan datang pada hari kiamat sebagai sesuatu yang dapat memberikan syafaat – yakni pertolongan – kepada orang-orang yang mempunyainya.”
(Riwayat Muslim)

Maksudnya mempunyainya ialah membaca al-Quran yang di-lakukan dengan mengingat-ingat makna dan kandungannya lalu mengamalkan isinya, mana-mana yang merupakan perintah dilaku-kan dan yang merupakan larangan dijauhi.

989. Dari an-Nawwas bin Sam’an r.a., katanya: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Al-Quran itu akan didatangkan pada hari kiamat nanti, demi-kian pula ahli-ahli al-Quran yaitu orang-orang yang mengamalkan al-Quran itu di dunia, didahului oleh surat al-Baqarah dan surat ali-lmran. Kedua surat ini menjadi hujah untuk keselamatan orang yang mempunyainya-yakni membaca, memikirkan dan mengamalkan.
(Riwayat Muslim)

990. Dari Usman bin Affan r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Sebaik-baik engkau semua ialah orang yang mempelajari al-Quran dan mengajarkannya pula.”
(Riwayat Bukhari)

991. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Orang yang membaca al-Quran dan ia sudah mahir dengan bacaannya itu, maka ia adalah beserta para malaikat utusan Allah yang mulia lagi sangat berbakti, sedang orang yang membacanya al-Quran dan ia berbolak-balik dalam bacaannya-yakni tidak lancar – juga merasa kesukaran di waktu membacanya itu, maka ia dapat memperoleh dua pahala.”
(Muttafaq ‘alaih)

992. Dari Abu Musa al-Asy’ari r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Perumpamaan orang mu’min yang suka membaca al-Quran ialah seperti buah jeruk utrujah, baunya enak dan rasanyapun enak dan perumpamaan orang mu’min yang tidak suka membaca al-Quran ialah seperti buah kurma, tidak ada baunya, tetapi rasanya manis. Adapun perumpamaan orang munafik yang suka membaca al-Quran ialah seperti minyak harum, baunya enak sedang rasanya pahit dan perumpamaan orang munafik yang tidak suka membaca al-Quran ialah seperti rumput hanzhalah, tidak ada baunya dan rasanyapun pahit.”
(Muttafaq ‘alaih)


993. Dari Umar bin al-Khaththab r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda:
“Sesungguhnya Allah mengangkat derajat beberapa kaum dengan adanya kitab al-Quran ini – yakni orang-orang yang beriman – serta menurunkan derajatnya kaum yang Iain-Iain dengan sebab al-Quran itu pula – yakni yang menghalang-halangi pesatnya Islam dan tersebarnya ajaran-ajaran al-Quran itu.”
(Riwayat Muslim)

994. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma dari Nabi s.a.w., sabdanya:
“Tidak dihalalkanlah dengki itu, melainkan terhadap dua macam orang, yaitu: Orang yang diberi kepandaian oleh Allah dalam hal al-Quran, lalu ia berdiri dengan al-Quran itu – yakni membaca sambil memikirkan dan juga mengamalkannya – di waktu malam dan waktu siang, juga seorang yang dikaruniai oleh Allah akan harta lalu ia menafkahkannya di waktu malam dan siang – untuk kebaikan.”
(Muttafaq ‘alaih)

995. Dari al-Bara’ bin ‘Azib r.a., katanya: “Ada seorang lelaki membaca surat al-Kahfi dan ia mempunyai seekor kuda yang diikat dengan dua utas tali, kemudian tampaklah awan menutupinya. Awan tadi mendekat dan kuda itu lari dari awan tersebut. Setelah pagi menjelma, orang itu mendatangi Nabi s.a.w. menyebutkan apa yang terjadi atas dirinya itu. Beliau s.a.w. lalu bersabda: “Itu adalah sakinah* – ketenangan yang disertai oleh malaikat – yang turun untuk mendengarkan bacaan al-Quran itu.”
(Muttafaq ‘alaih)

Dalam Hadisnya Zaid bin Tsabit r.a., katanya: “Saya berada di samping Rasulullah s.a.w., lalu beliau dilutupi oleh sakinah.” Yang dimaksudkan ialah ketenangan ketika ada wahyu turun pada beliau. Di antaranya lagi ialah Hadisnya Ibnu Mas’ud r.a.: “Tidak jauh bahwa sakinah itu terucapkan pada lisannya Umar r.a.” Ada yang mengatakan bahwa sakinah ialah kedamaian dan ada yang mengatakan kerahmatan.

996. Dari Ibnu Mas’ud r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Barangsiapa yang membaca sebuah huruf dari kitabullah -yakni al-Quran, maka ia memperoleh suatu kebaikan, sedang satu kebaikan itu akan dibalas dengan sepuluh kali lipat yang seperti itu. Saya tidak mengatakan bahwa alif lam mim itu satu huruf, tetapi alif adalah satu huruf, lam satu huruf dan mim juga satu huruf.”
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.

997. Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya orang yang dalam hatinya tidak ada sesuatu apapun dari al-Quran – yakni tidak ada sedikitpun dari ayat-ayat al-Quran yang dihafalnya, maka ia adalah sebagai rumah yang musnah – sunyi dari perkakas.”
Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.

998. Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiallahu ‘anhuma dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Dikatakanlah – nanti ketika akan masuk syurga – kepada orang yang mempunyai al-Quran – yakni gemar membaca, mengingat-ingat kandungannya serta mengamalkan isinya: “Bacalah dan naiklah derajatmu – dalam syurga – serta tartilkanlah – yakni membaca perlahan-lahan – sebagaimana engkau mentartilkannya dulu ketika di dunia, sebab sesungguhnya tempat kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca,” maksudnya kalau membaca seluruhnya adalah tertinggi kedudukannya dan kalau tidak, tentulah di bawahnya itu menurut kadar banyak sedikitnya bacaan.
Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dan Termidzi mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.

Keutamaan -keutamaan AlQuran pada hadist-hadist lainnya

Allah memperbolehkan seseorang mempunyai hasad apabila melihat atau menemukan seseorang yang rajin membaca al-qur’an di waktu siang dan malamnya.
“Tidak ada hasad kecuali pada dua hal, yaitu seorang laki-laki yang diberikan karunia Al-Qu’ran oleh Allah dan dia membacanya di malam dan siang hari.” ( Hr.Bukhari Muslim)
Allah Swt memberikan pahala yang besar bagi orang yang membaca kitab-Nya. Sebagaimana Sabda Rasulullah saw :
“ Barangsiapa yang membaca satu huruf dalam Al-Qur’an, maka dia akan memperoleh satu kebaikan. Dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan”. (Hr. Turmudzi)
Seorang yang disibukkan dengan membaca Al-Qur’an hingga lupa untuk meminta kebutuhannya pada Allah, maka akan Allah penuhi kebutuhannya dengan Sesuatu yang terbaik yang Allah berikan kepada orang yang meminta
“Allah swt telah berkata:”Barangsiapa yang disibukkan dengan al’Qur’an dan berdzikir kepada-Ku,hingga tidak sempat meminta kepada-Ku, maka aku akan memberikan apa yang terbaik yang Aku berikan kepada orang-orang yang meminta. Dan keutamaan firman Allah atas perkataan makhluk-Nya adalah seperti kautamaan Allah atas semua makhluknya.” (Hr. Turmudzi)

Allah juga akan memberikan syafaat kepada pembaca Al Qur’an.
“ Bacalah al-Qur’an. Sesungguhnya Al-Qur’an itu akan datang memberikan syafa’at kepada pembacanya pada hari Kiamat”. Hr.Muslim)
Rumah yang dimakmurkan dengan dibacakan al-Qur’an di tempat tersebut pun akan diberi keutamaan yang indah,
“ terangilah rumah-rumah kalian dengan sholat dan membaca Al’Qur’an”.
Rumah yang didalamnya di baca Al-Qur’an akan terlihat oleh penduduk langit seperti terlihatnya bintang-bintang oleh penduduk bumi”.(Hr.Baihaqi)

Keutamaan lainnya dari membaca al-Qur’an ini adalah, aktivitas ini merupakan aktivitas yang terbaik dari aktivitas ibadah lainnya. Sebagaimana Hadits dari Nu’man bin Basyir :
“ Sebaik-baik ibadah umatku adalah membaca Al’Qur’an” (Hr.Baihaqi).
Imam Baihaqi juga meriwayatkan dari Samurah bin Jundub :
”Setiap pengajar senang jika ajarannya diamalkan. Dan ajaran Allah adalah al-Qur’an.Maka janganlah kalian berseteru dengannya”.
Juga sebuah hadits dari Ubaidah al-makki secara marfu dan mauquf:
“wahai para pengemban al-Qur’an, janganlah kalian menjadikan Al-Qur’an sebagai bantal. Bacalah Al-Qur’an itu dengan sebenarnya siang dan malam hari dan sebarkanlah serta renungilah apa yang ada didalamnya.Semoaga kalian bahagia”.(Hr.Baihaqi)

Keutamaan-keutamaan AlQuran

“Dan demikianlah kami wahyukan kepadamu wahyu (al-Qur’an) dengan perintah kami, Sebelumnya kamu tidak mengetahui apakah al-Kitab (Al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan al-Qur’an itu cahaya, yang kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya Kami benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (TQS. As-Syu’ara (42) : 52)

Semoga Bermanfaat !!

References :
@ Samudera Ulumil Qur’an (Terjemah Kitab Al-itqan Fii Ulumil Qur’an) Karya Imam Jalaludin As Suyuthi. PT.Bina ilmu.

@ Kitab Riyadhus-Shalihin buku II

http://www.wahdah.or.id/wis/index.php?option=com_content&task=view&id=1192&Itemid=191