Belajar dari Umar bin Abdul Aziz ra

Ikhwah fillah hafidzakumullah,

Salah satu revolusi pemerintahan paling mengagumkan adalah pada zaman Umar Bin Abdul Aziz. Bagaimana tidak, kezaliman dan kebobrokan yang berkembang selama 60 tahun bisa berubah drastis dalam waktu 2 tahun 5 bulan. Jika wajah kekhilafahan Bani Umayyah memiliki banyak bopeng dan luka, periode Umar bin Abdul Aziz merupakan masa keemasannya. Karenanya ia diabadikan dalam sejarah dengan tinta emas. Karenanya pula, ia dinobatkan sebagai khulafaur rasyidin yang kelima oleh banyak ulama’ dan umat pun mengamininya.

Gerakan dakwah yang memiliki cita-cita menerapkan Islam secara kaffah, mau tidak mau harus belajar mengelola negara. Gerakan dakwah yang tengah menyongsong mihwar daulah perlu menyiapkan pemimpin-pemimpin umat yang ideal. Kemampuan mengelola negara dan kecakapan memimpin, yang kemudian membawa bukti bagi keindahan Islam, akan mendatangkan kepercayaan umat yang semakin besar. Yang terjadi selanjutnya adalah dukungan yang lebih luas, dan pengaruh dakwah pun kian kokoh.

Sebaliknya, meskipun kekuasaan dipercayakan umat kepada sebuah gerakan dakwah –pada awalnya- tetapi saat ia gagap mengemban amanat, tidak profesional dalam mengelola negara, serta tidak menunjukkan kemajuan yang lebih baik dari masa sebelumnya, kepercayaan itu akan tergerus. Bisa sedikit demi sedikit sampai waktu lima tahun dan dukungan menurun signifikan. Atau malah bisa turun seketika dan timbul mosi tidak percaya. Yang lebih parah adalah terjadinya impeachment atau kudeta.

Karenanya sejak awal kita memerlukan pemimpin-pemimpin yang mampu menghadirkan perubahan sebagaimana dikehendaki Islam. Pemimpin yang mampu memimpin perubahan. Pemimpin yang menegakkan keadilan dan mewujudkan kesejahteraan. Pemimpin yang membawa umat kepada Islam. Pemimpin yang juga dicintai oleh umat dan senantiasa didoakan. Model pemimpin yang seperti itu ada pada diri Umar bin Abdul Aziz. Karenanya kita perlu belajar dari Umar bin Abdul Aziz.

Memiliki Visi dan Tanggungjawab Kepemimpinan
Jauh hari sebelum menjadi khalifah, saat masih menjabat sebagai gubernur di Madinah, Umar bin Abdul Aziz selalu risau dengan kondisi yang menimpa umat. Kekhalifahan Bani Umayyah yang dipimpin Al-Walid bin Abdul Malik masih diwarnai dengan kezaliman dan kerusakan.

Saat dipindah menjadi Gubernur Syam, ia lebih risau memikirkan kesalahan-kesalahan negara dan problem-problem masyarakat. Sering ia merasa sedih dan cemas, namun apa yang bisa dilakukannya sedang ia tidak memiliki kekuasaan?

Memang apa yang telah dilakukannya di Madinah dan Syams telah membawa perubahan dan keberkahan bagi masyarakat. Masyarakat mencintainya. Tapi itu baru terbatas di Madinah dan Syam. Belum mampu mengubah kekhilafahan Islam yang demikian luas. Itu hanya bisa dilakukan oleh khalifah. Umar bin Abdul Aziz memahami betul realitas di lapangan dan ia juga memiliki visi seorang khalifah. Inilah yang kemudian menjadikannya mampu berbuat banyak di hari-hari pertama pemerintahan; hari-hari pertama, bukan sekedar seratus hari pertama.

Namun demikian Umar bin Abdul Aziz tidak berambisi pada jabatan kekhilafahan. Ia bahkan sangat takut mengemban amanah itu, sejak akhir-akhir masa jabatannya sebagai gubernur di Syam. Ini juga yang membuatnya meminta tolong kepada gurunya, Raja’ bin Haiwah agar menjamin namanya dicoret dari putra mahkota khalifah. Ini juga yang membuat Umar bin Abdul Aziz mengembalikan jabatan khalifah setelah mengetahui bahwa Sulaiman bin Abdul Malik justru mewasiatkan dia menggantikan jabatan khalifah pasca kematiannya. Tapi toh akhirnya ia tidak bisa menolak tatkala umat Islam memilihnya lalu membaiatnya sebagai khalifah.

Inilah hal pertama yang perlu dimiliki kader-kader dakwah yang telah menjadi pejabat publik dalam level apapun. Mereka yang duduk sebagai Bupati/Walikota, Gubernur, anggota DPR atau DPRD, apalagi Menteri. Sangat disayangkan jika ada pejabat publik dari partai dakwah tetapi tidak memahami kondisi dan realita daerah/kewenangan yang menjadi domain amanahnya, serta tidak tahu mau diapakan itu semua karena tidak adanya visi kepemimpinan. Visi ini juga perlu dipupuk dalam jiwa-jiwa kader dakwah yang diproyeksikan sebagai pemimpin, tanpa terkontaminasi virus ambisi jabatan. Memang sulit, tapi inilah salah satu rahasia keberhasilan Umar bin Abdul Aziz.

Kita perlu belajar untuk memadukan jiwa perindu (النفس التواقة) Umar bin Abdul Aziz:
إن لي نفسا تواقة لاتنال شيئا إلا تاقت إلى ماهو أفضل منه
Sesungguhnya aku mempunyai jiwa yang penuh kerinduan. Setiap kali mendapat sesuatu selalu rindu kepada yang lebih baik daripadanya.

Dan prinsip Umar bin Abdul Aziz dalam memegang hadits :
لاَ تَسْأَلِ الإِمَارَةَ ، فَإِنَّكَ إِنْ أُوتِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا ، وَإِنْ أُوتِيتَهَا مِنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا
Janganlah sekali-kali engkau meminta jabatan. Maka jika engkau memegang jabatan itu tanpa engkau minta, engkau akan diberi pertolongan untuk melaksanakannya. Namun jika jabatan itu diberikan kepadamu karena engkau minta, maka engkau akan terbebani karenanya. (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketegasan dan Keberanian Melakukan Reformasi Birokrasi

Apa yang dilakukan Umar bin Abdul Aziz begitu dibaiat oleh umat untuk menjadi khalifah? Malam itu juga, dengan bekal visi yang telah tertanam kuat, ia mampu berbuat yang terbaik bagi umat. Ia melihat bahwa kekhalifahan tidak akan baik tanpa didukung oleh gubernur-gubernur yang baik. Sementara saat ini gubernur yang ada banyak yang menyalahgunakan kekuasaannya.

Ia pun menulis surat: kepada Maslamah bin Abdul Malik, agar kembali dengan pasukannya dari Konstantinopel. Kepada Usamah At-Tanukh ia mengabari tentang pemecatannya dari tugas mengumpulkan kharaj (pajak tanah) di Mesir dan memanggilnya untuk dimintai pertanggungjawaban. Kepada Yazid bin Abi Muslim, ia mengabari tentang pemecatannya dari Afrika dan memanggilnya untuk dimintai pertanggungjawaban.

Demikianlah, malam pertama menjadi khalifah ia telah mengambil 3 langkah besar. Langkah pertama untuk menyelamatkan militer Islam. Dua langkah terakhir untuk menghentikan kezaliman pejabat-pejabat satu level di bawahnya serta sebagai shock therapy bagi pejabat yang lain agar berbuat adil dan bekerja profesional.

Ikhwah fillah,
Visi saja tidak cukup tanpa misi yang menjabarkan cara pencapaiannya serta aksi dalam memastikan jalannya misi tahap demi tahap. Ini membutuhkan keberanian dan ketegasan! Bisa saja ikhwah menjadi menteri atau kepala daerah dan memiliki visi yang bagus tetapi ia tidak berhasil karena birokrasinya dipenuhi oleh para mafia. Umar bin Abdul Aziz menunjukkan bagaimana keberanian dan ketegasan menjawab itu semua. Kementrian meskipun dipegang kader dakwah namun jika para pejabat eselon I nya orang-orang yang korup, kementrian itu tidak bisa menjadi bebas korupsi. Gubernur atau Bupati, meskipun seorang kader dakwah tetapi jika sekda dan kepala dinas yang mengelilinginya menyalahgunakan jabatan, propinsi atau kota itu juga tidak bisa maju dan berprestasi. Karenanya reformasi birokrasi diperlukan. Untuk jangka panjang diperlukan tarbiyah bagi birokrat, kalau itu belum setidaknya dipilih orang-orang hanif dan profesional untuk berada di pos-pos strategis.

Zuhud dan Keteladanan

Hal lain yang dikerjakan Umar bin Abdul Aziz di pagi hari pertama adalah menyerahkan harta kekayaannya ke Baitul Mal. Pada mulanya istrinya keberatan, toh akhirnya ia mengikuti langkah sang suami. Jadilah kehidupan mereka tiba-tiba berubah. Dari kehidupan yang kaya raya menjadi hidup seperti rakyat jelata. Dari pakaian yang menunjukkan simbol kehormatan menjadi sangat sederhana. Dari perut kenyang menjadi sering lapar dan dahaga. Dari aroma khas parfum bangsawan menjadi tanpa wewangian.

Diantara contoh zuhud dan keteladanannya adalah pada hari-hari pertama saat ia disambut dengan seremoni penyambutan khalifah baru. Saat ia akan bertemu dengan para tokoh masyarakat, datang rombongan megah kuda-kuda yang indah dan di tengahnya ada kuda yang dirias seperti pengantin. “Apa-apaan ini?” Mereka menjawab, “Ini adalah kuda-kuda yng belum pernah ditunggangi dan disiapkan bagi rombongan setiap khalifah baru.” Umar berseru, “Hai Muzahim, masukkan ini ke dalam baitul maal.” Saat menuju kemah, ia terheran dengan indahnya kemah yang sangat mewah, setara atau melebihi tahta Kisra. “Apa-apaan ini?” Mereka menjawab, “Ini adalah kemah yang disiapkan untuk menyambut khalifah baru.” Ia berseru, “Hai Muzahim, masukkan ini ke dalam baitul maal.” Ia pun lebih memilih duduk di tikar biasa. Saat didatangkan surban warna warni dan kopiah mewah, ia pun bertanya, “Apa-apaan ini?” Mereka menjawab, “Ini adalah baju khilafah untuk dipakai setiap khalifah baru.” Ia pun berseru, “Hai Muzahim, masukkan ini ke dalam baitul maal.”

Umar bin Abdul Aziz melihat bahwa rakyat memang sedang susah akibat lama menderita. Tetapi yang dilakukannya bukan sekedar bersimpati kepada rakyat. Lebih dari itu Umar memang akan melakukan revolusi pemerintahan dan itu diawali dari revolusi ruhani dari dalam diri dan keluarganya.

Tapi justru inilah yang membuat ekspektasi umat menemukan pembuktiannya. Inilah yang membuat rakyat semakin mencintainya. Inilah hal yang membuat rakyat secara begitu segan dan hormat padanya, dan mereka pun dengan mudahnya berubah mengikuti Umar bin Abdul Aziz. Taat pada kepemimpinannya, dan bersama-sama mendukung kebijakan yang dicanangkan Umar. Masyarakat bersatu dalam perbaikan, revolusi sosial.

Sungguh benar, bahwa saat pemimpin dari kader dakwah berlaku zuhud dan sederhana di tengah bergelimangnya kemewahan seperti sekarang ini, yang timbul justru kecintaan Allah, kemudian kecintaan rakyat kepadanya.

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِىِّ قَالَ أَتَى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ دُلَّنِى عَلَى عَمَلٍ إِذَا أَنَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِىَ اللَّهُ وَأَحَبَّنِىَ النَّاسُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « ازْهَدْ فِى الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ وَازْهَدْ فِيمَا فِى أَيْدِى النَّاسِ يُحِبُّوكَ »
Dari Sahl bin Sa’d As-Saidy, ia berkata, “Seseorang telah mendatangi Nabi SAW seraya berkata, “Wahai Rasulullah, tunjukakanlah kepadaku amalan yang sekiranya aku mengerjakannya, maka Allah dan manusia mencintaiku” Lalu Rasulullah SAW bersabda, “Zuhudlah kamu kepada dunia, niscaya Allah akan mencintaimu, dan zuhudlah kamu pada apa yang dimiliki manusia, niscaya mereka akan mencintaimu.” (HR. Ibnu Majah)

Kapabilitas Kepemimpinan

Umar bin Abdul Aziz adalah seorang pemimpin yang memiliki kapabilitas kepemimpinan yang luar biasa. Sebelum menjadi khalifah, ia telah membuktikannya di Madinah, Makkah, Hijaz dan sekitarnya serta Syam. Wilayah di bawah kepemimpinannya mengalami kemajuan. Rakyat hidup lebih baik dari sebelumnya baik dalam aspek keamanan, keadilan, maupun kesejahteraan.

Setelah menjadi khalifah, kapabilitas kepemimpinan yang sebenarnya menemukan momentumnya yang tepat. Pertama kali ia mampu mempengaruhi para pemimpin di level bawahnya, baik gubernur maupun yang lain, untuk berubah. Kecintaan dan keseganan kepada Umar bin Abdul Aziz muncul dalam diri setiap bawahannya, juga umat di bawah kepemimpinannya. Sedangkan mereka yang tidak suka dengan kebijakannya yang pro umat, tidak bisa berbuat lain kecuali menaati sistem yang ada. Pelajaran yang telah diberikan khalifah Umar bin Abdul Aziz kepada Usamah At-Tanukh dan Yazid bin Abi Muslim membuat mereka tidak berani berbuat macam-macam.

Selain kemampuan memimpin, Umar bin Abdul Aziz juga memiliki kemampuan manajerial yang sangat baik. Dengannya ia menata birokrasi, mengatur baitul maal, dan memperbaiki pelayanan kepada umat. Ia sadar betul bahwa pemimpin umat adalah pelayan mereka (سيد القوم خادمهم).

Di samping keduanya, Umar bin Abdul Aziz juga terkenal sebagai pemimpin yang pakar dalam banyak bidang keilmuan. Karenanya kita mendapatkan banyak pujian para ulama’ terhadap kepandaiannya.

Kapabilitas kepemimpinan, kemampuan manajerial, dan didukung dengan keilmuan serta kepakaran inilah yang memiliki saham penting dalam keberhasilan pemerintahannya. Dan inilah yang diperlukan bagi kader dakwah yang akan menjadi pemimpin-pemimpin publik pada mihwar daulah. Tiga hal ini bisa diasah dan dikembangkan, dan beruntunglah kader-kader dakwah yang telah memilikinya. Hanya kepada mereka kepemimpinan bisa diberikan, jika ketiga hal itu yang menjadi ukuran keahlian seorang pemimpin seperti dalam hadits Rasulullah SAW:

إِذَا ضُيِّعَتِ الأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ » . قَالَ كَيْفَ إِضَاعَتُهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « إِذَا أُسْنِدَ الأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ ، فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ »
“Apabila amanat itu disia-siakan, maka tunggulah datangnya Kiamat.” Dikatakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, apakah maksud menyia-nyiakan amanat itu?” Rasulullah SAW bersabda, “Apabila perkara itu diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah datangnya Kiamat!” (HR. Bukhari)

Pengaruh kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz juga telah mampu mengubah gaya obrolan masyarakat. Jika sebelumnya masyarakat dipenuhi dengan obrolan sia-sia dan saling menanyakan: “Berapa rumahmu?” “Apakah kau telah mencoba permainan baru itu” “Berapa kekayaan yang telah kau siapkan untuk pestamu?” “Seberapa luas kebunmu?” dan sebagainya. Kini pembincaraan yang beredar di masyarakat adalah tentang agama dan akhirat. Dialog-dialog pun berubah menjadi “Saudaraku, mengapa engkau tidak kelihatan di majlis taklim kemarin malam?” “Subhaanallah, engkau telah mengkhatamkan Al-Qur’an lagi pekan ini?” “Kemarin malam engkau shalat tahajud, Saudaraku?” “Berapa juz yang telah dihafal anakmu?” dan sebagainya.

Maka perubahan yang telah diawali oleh Umar bin Abdul Aziz sejak hari pertama pengangkatannya itu pun bergerak dan membawa efek bola salju. Keluarganya berubah. Pemerintahannya berubah. Masyarakatnya berubah. Kekhilafahan berubah. Dalam waktu sekejap, hanya 2 tahun 5 bulan, wajah dunia Islam menjadi bermandikan cahaya; cahaya keemasan. Keadilan tercipta, kesejahteraan merata. Betapa hebatnya keadilan yang berkembang sehingga penggembala kambing pun merasa aman karena serigala tidak lagi memakan kambingnya selama pemerintahan Umar bin Abdul Aziz itu. Betapa hebatnya kesejahteraan ruhani dan materi sehingga di akhir-akhir pemerintahan Umar bin Abdul Aziz sulit menemukan orang miskin sehingga para ulama’ memeras kemampuan ijtihadnya; hendak dikemanakan zakat kaum muslimin.

Tidakkah kita ingin masa-masa seperti itu ikhwah fillah? Itulah tugas kita bersama untuk belajar dari Umar bin Abdul Aziz. Kita siapkan pemimpin-pemimpin yang meneladani Umar bin Abdul Aziz dan kepada Allah-lah kita berdoa agar mereka yang akan memenuhi kepemimpinan negeri ini pada mihwar dauli nanti. Siapkah antum? . [sumber: E-Book Taujih Pekanan Menuju Mihwar Dauli]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s