Daily Archives: 1 Desember 2009

Belajar dari Umar bin Abdul Aziz ra

Ikhwah fillah hafidzakumullah,

Salah satu revolusi pemerintahan paling mengagumkan adalah pada zaman Umar Bin Abdul Aziz. Bagaimana tidak, kezaliman dan kebobrokan yang berkembang selama 60 tahun bisa berubah drastis dalam waktu 2 tahun 5 bulan. Jika wajah kekhilafahan Bani Umayyah memiliki banyak bopeng dan luka, periode Umar bin Abdul Aziz merupakan masa keemasannya. Karenanya ia diabadikan dalam sejarah dengan tinta emas. Karenanya pula, ia dinobatkan sebagai khulafaur rasyidin yang kelima oleh banyak ulama’ dan umat pun mengamininya.

Gerakan dakwah yang memiliki cita-cita menerapkan Islam secara kaffah, mau tidak mau harus belajar mengelola negara. Gerakan dakwah yang tengah menyongsong mihwar daulah perlu menyiapkan pemimpin-pemimpin umat yang ideal. Kemampuan mengelola negara dan kecakapan memimpin, yang kemudian membawa bukti bagi keindahan Islam, akan mendatangkan kepercayaan umat yang semakin besar. Yang terjadi selanjutnya adalah dukungan yang lebih luas, dan pengaruh dakwah pun kian kokoh.

Sebaliknya, meskipun kekuasaan dipercayakan umat kepada sebuah gerakan dakwah –pada awalnya- tetapi saat ia gagap mengemban amanat, tidak profesional dalam mengelola negara, serta tidak menunjukkan kemajuan yang lebih baik dari masa sebelumnya, kepercayaan itu akan tergerus. Bisa sedikit demi sedikit sampai waktu lima tahun dan dukungan menurun signifikan. Atau malah bisa turun seketika dan timbul mosi tidak percaya. Yang lebih parah adalah terjadinya impeachment atau kudeta.

Karenanya sejak awal kita memerlukan pemimpin-pemimpin yang mampu menghadirkan perubahan sebagaimana dikehendaki Islam. Pemimpin yang mampu memimpin perubahan. Pemimpin yang menegakkan keadilan dan mewujudkan kesejahteraan. Pemimpin yang membawa umat kepada Islam. Pemimpin yang juga dicintai oleh umat dan senantiasa didoakan. Model pemimpin yang seperti itu ada pada diri Umar bin Abdul Aziz. Karenanya kita perlu belajar dari Umar bin Abdul Aziz.

Memiliki Visi dan Tanggungjawab Kepemimpinan
Jauh hari sebelum menjadi khalifah, saat masih menjabat sebagai gubernur di Madinah, Umar bin Abdul Aziz selalu risau dengan kondisi yang menimpa umat. Kekhalifahan Bani Umayyah yang dipimpin Al-Walid bin Abdul Malik masih diwarnai dengan kezaliman dan kerusakan.

Saat dipindah menjadi Gubernur Syam, ia lebih risau memikirkan kesalahan-kesalahan negara dan problem-problem masyarakat. Sering ia merasa sedih dan cemas, namun apa yang bisa dilakukannya sedang ia tidak memiliki kekuasaan?

Memang apa yang telah dilakukannya di Madinah dan Syams telah membawa perubahan dan keberkahan bagi masyarakat. Masyarakat mencintainya. Tapi itu baru terbatas di Madinah dan Syam. Belum mampu mengubah kekhilafahan Islam yang demikian luas. Itu hanya bisa dilakukan oleh khalifah. Umar bin Abdul Aziz memahami betul realitas di lapangan dan ia juga memiliki visi seorang khalifah. Inilah yang kemudian menjadikannya mampu berbuat banyak di hari-hari pertama pemerintahan; hari-hari pertama, bukan sekedar seratus hari pertama.

Namun demikian Umar bin Abdul Aziz tidak berambisi pada jabatan kekhilafahan. Ia bahkan sangat takut mengemban amanah itu, sejak akhir-akhir masa jabatannya sebagai gubernur di Syam. Ini juga yang membuatnya meminta tolong kepada gurunya, Raja’ bin Haiwah agar menjamin namanya dicoret dari putra mahkota khalifah. Ini juga yang membuat Umar bin Abdul Aziz mengembalikan jabatan khalifah setelah mengetahui bahwa Sulaiman bin Abdul Malik justru mewasiatkan dia menggantikan jabatan khalifah pasca kematiannya. Tapi toh akhirnya ia tidak bisa menolak tatkala umat Islam memilihnya lalu membaiatnya sebagai khalifah.

Inilah hal pertama yang perlu dimiliki kader-kader dakwah yang telah menjadi pejabat publik dalam level apapun. Mereka yang duduk sebagai Bupati/Walikota, Gubernur, anggota DPR atau DPRD, apalagi Menteri. Sangat disayangkan jika ada pejabat publik dari partai dakwah tetapi tidak memahami kondisi dan realita daerah/kewenangan yang menjadi domain amanahnya, serta tidak tahu mau diapakan itu semua karena tidak adanya visi kepemimpinan. Visi ini juga perlu dipupuk dalam jiwa-jiwa kader dakwah yang diproyeksikan sebagai pemimpin, tanpa terkontaminasi virus ambisi jabatan. Memang sulit, tapi inilah salah satu rahasia keberhasilan Umar bin Abdul Aziz.

Kita perlu belajar untuk memadukan jiwa perindu (النفس التواقة) Umar bin Abdul Aziz:
إن لي نفسا تواقة لاتنال شيئا إلا تاقت إلى ماهو أفضل منه
Sesungguhnya aku mempunyai jiwa yang penuh kerinduan. Setiap kali mendapat sesuatu selalu rindu kepada yang lebih baik daripadanya.

Dan prinsip Umar bin Abdul Aziz dalam memegang hadits :
لاَ تَسْأَلِ الإِمَارَةَ ، فَإِنَّكَ إِنْ أُوتِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا ، وَإِنْ أُوتِيتَهَا مِنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا
Janganlah sekali-kali engkau meminta jabatan. Maka jika engkau memegang jabatan itu tanpa engkau minta, engkau akan diberi pertolongan untuk melaksanakannya. Namun jika jabatan itu diberikan kepadamu karena engkau minta, maka engkau akan terbebani karenanya. (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketegasan dan Keberanian Melakukan Reformasi Birokrasi

Apa yang dilakukan Umar bin Abdul Aziz begitu dibaiat oleh umat untuk menjadi khalifah? Malam itu juga, dengan bekal visi yang telah tertanam kuat, ia mampu berbuat yang terbaik bagi umat. Ia melihat bahwa kekhalifahan tidak akan baik tanpa didukung oleh gubernur-gubernur yang baik. Sementara saat ini gubernur yang ada banyak yang menyalahgunakan kekuasaannya.

Ia pun menulis surat: kepada Maslamah bin Abdul Malik, agar kembali dengan pasukannya dari Konstantinopel. Kepada Usamah At-Tanukh ia mengabari tentang pemecatannya dari tugas mengumpulkan kharaj (pajak tanah) di Mesir dan memanggilnya untuk dimintai pertanggungjawaban. Kepada Yazid bin Abi Muslim, ia mengabari tentang pemecatannya dari Afrika dan memanggilnya untuk dimintai pertanggungjawaban.

Demikianlah, malam pertama menjadi khalifah ia telah mengambil 3 langkah besar. Langkah pertama untuk menyelamatkan militer Islam. Dua langkah terakhir untuk menghentikan kezaliman pejabat-pejabat satu level di bawahnya serta sebagai shock therapy bagi pejabat yang lain agar berbuat adil dan bekerja profesional.

Ikhwah fillah,
Visi saja tidak cukup tanpa misi yang menjabarkan cara pencapaiannya serta aksi dalam memastikan jalannya misi tahap demi tahap. Ini membutuhkan keberanian dan ketegasan! Bisa saja ikhwah menjadi menteri atau kepala daerah dan memiliki visi yang bagus tetapi ia tidak berhasil karena birokrasinya dipenuhi oleh para mafia. Umar bin Abdul Aziz menunjukkan bagaimana keberanian dan ketegasan menjawab itu semua. Kementrian meskipun dipegang kader dakwah namun jika para pejabat eselon I nya orang-orang yang korup, kementrian itu tidak bisa menjadi bebas korupsi. Gubernur atau Bupati, meskipun seorang kader dakwah tetapi jika sekda dan kepala dinas yang mengelilinginya menyalahgunakan jabatan, propinsi atau kota itu juga tidak bisa maju dan berprestasi. Karenanya reformasi birokrasi diperlukan. Untuk jangka panjang diperlukan tarbiyah bagi birokrat, kalau itu belum setidaknya dipilih orang-orang hanif dan profesional untuk berada di pos-pos strategis.

Zuhud dan Keteladanan

Hal lain yang dikerjakan Umar bin Abdul Aziz di pagi hari pertama adalah menyerahkan harta kekayaannya ke Baitul Mal. Pada mulanya istrinya keberatan, toh akhirnya ia mengikuti langkah sang suami. Jadilah kehidupan mereka tiba-tiba berubah. Dari kehidupan yang kaya raya menjadi hidup seperti rakyat jelata. Dari pakaian yang menunjukkan simbol kehormatan menjadi sangat sederhana. Dari perut kenyang menjadi sering lapar dan dahaga. Dari aroma khas parfum bangsawan menjadi tanpa wewangian.

Diantara contoh zuhud dan keteladanannya adalah pada hari-hari pertama saat ia disambut dengan seremoni penyambutan khalifah baru. Saat ia akan bertemu dengan para tokoh masyarakat, datang rombongan megah kuda-kuda yang indah dan di tengahnya ada kuda yang dirias seperti pengantin. “Apa-apaan ini?” Mereka menjawab, “Ini adalah kuda-kuda yng belum pernah ditunggangi dan disiapkan bagi rombongan setiap khalifah baru.” Umar berseru, “Hai Muzahim, masukkan ini ke dalam baitul maal.” Saat menuju kemah, ia terheran dengan indahnya kemah yang sangat mewah, setara atau melebihi tahta Kisra. “Apa-apaan ini?” Mereka menjawab, “Ini adalah kemah yang disiapkan untuk menyambut khalifah baru.” Ia berseru, “Hai Muzahim, masukkan ini ke dalam baitul maal.” Ia pun lebih memilih duduk di tikar biasa. Saat didatangkan surban warna warni dan kopiah mewah, ia pun bertanya, “Apa-apaan ini?” Mereka menjawab, “Ini adalah baju khilafah untuk dipakai setiap khalifah baru.” Ia pun berseru, “Hai Muzahim, masukkan ini ke dalam baitul maal.”

Umar bin Abdul Aziz melihat bahwa rakyat memang sedang susah akibat lama menderita. Tetapi yang dilakukannya bukan sekedar bersimpati kepada rakyat. Lebih dari itu Umar memang akan melakukan revolusi pemerintahan dan itu diawali dari revolusi ruhani dari dalam diri dan keluarganya.

Tapi justru inilah yang membuat ekspektasi umat menemukan pembuktiannya. Inilah yang membuat rakyat semakin mencintainya. Inilah hal yang membuat rakyat secara begitu segan dan hormat padanya, dan mereka pun dengan mudahnya berubah mengikuti Umar bin Abdul Aziz. Taat pada kepemimpinannya, dan bersama-sama mendukung kebijakan yang dicanangkan Umar. Masyarakat bersatu dalam perbaikan, revolusi sosial.

Sungguh benar, bahwa saat pemimpin dari kader dakwah berlaku zuhud dan sederhana di tengah bergelimangnya kemewahan seperti sekarang ini, yang timbul justru kecintaan Allah, kemudian kecintaan rakyat kepadanya.

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِىِّ قَالَ أَتَى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ دُلَّنِى عَلَى عَمَلٍ إِذَا أَنَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِىَ اللَّهُ وَأَحَبَّنِىَ النَّاسُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « ازْهَدْ فِى الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ وَازْهَدْ فِيمَا فِى أَيْدِى النَّاسِ يُحِبُّوكَ »
Dari Sahl bin Sa’d As-Saidy, ia berkata, “Seseorang telah mendatangi Nabi SAW seraya berkata, “Wahai Rasulullah, tunjukakanlah kepadaku amalan yang sekiranya aku mengerjakannya, maka Allah dan manusia mencintaiku” Lalu Rasulullah SAW bersabda, “Zuhudlah kamu kepada dunia, niscaya Allah akan mencintaimu, dan zuhudlah kamu pada apa yang dimiliki manusia, niscaya mereka akan mencintaimu.” (HR. Ibnu Majah)

Kapabilitas Kepemimpinan

Umar bin Abdul Aziz adalah seorang pemimpin yang memiliki kapabilitas kepemimpinan yang luar biasa. Sebelum menjadi khalifah, ia telah membuktikannya di Madinah, Makkah, Hijaz dan sekitarnya serta Syam. Wilayah di bawah kepemimpinannya mengalami kemajuan. Rakyat hidup lebih baik dari sebelumnya baik dalam aspek keamanan, keadilan, maupun kesejahteraan.

Setelah menjadi khalifah, kapabilitas kepemimpinan yang sebenarnya menemukan momentumnya yang tepat. Pertama kali ia mampu mempengaruhi para pemimpin di level bawahnya, baik gubernur maupun yang lain, untuk berubah. Kecintaan dan keseganan kepada Umar bin Abdul Aziz muncul dalam diri setiap bawahannya, juga umat di bawah kepemimpinannya. Sedangkan mereka yang tidak suka dengan kebijakannya yang pro umat, tidak bisa berbuat lain kecuali menaati sistem yang ada. Pelajaran yang telah diberikan khalifah Umar bin Abdul Aziz kepada Usamah At-Tanukh dan Yazid bin Abi Muslim membuat mereka tidak berani berbuat macam-macam.

Selain kemampuan memimpin, Umar bin Abdul Aziz juga memiliki kemampuan manajerial yang sangat baik. Dengannya ia menata birokrasi, mengatur baitul maal, dan memperbaiki pelayanan kepada umat. Ia sadar betul bahwa pemimpin umat adalah pelayan mereka (سيد القوم خادمهم).

Di samping keduanya, Umar bin Abdul Aziz juga terkenal sebagai pemimpin yang pakar dalam banyak bidang keilmuan. Karenanya kita mendapatkan banyak pujian para ulama’ terhadap kepandaiannya.

Kapabilitas kepemimpinan, kemampuan manajerial, dan didukung dengan keilmuan serta kepakaran inilah yang memiliki saham penting dalam keberhasilan pemerintahannya. Dan inilah yang diperlukan bagi kader dakwah yang akan menjadi pemimpin-pemimpin publik pada mihwar daulah. Tiga hal ini bisa diasah dan dikembangkan, dan beruntunglah kader-kader dakwah yang telah memilikinya. Hanya kepada mereka kepemimpinan bisa diberikan, jika ketiga hal itu yang menjadi ukuran keahlian seorang pemimpin seperti dalam hadits Rasulullah SAW:

إِذَا ضُيِّعَتِ الأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ » . قَالَ كَيْفَ إِضَاعَتُهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « إِذَا أُسْنِدَ الأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ ، فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ »
“Apabila amanat itu disia-siakan, maka tunggulah datangnya Kiamat.” Dikatakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, apakah maksud menyia-nyiakan amanat itu?” Rasulullah SAW bersabda, “Apabila perkara itu diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah datangnya Kiamat!” (HR. Bukhari)

Pengaruh kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz juga telah mampu mengubah gaya obrolan masyarakat. Jika sebelumnya masyarakat dipenuhi dengan obrolan sia-sia dan saling menanyakan: “Berapa rumahmu?” “Apakah kau telah mencoba permainan baru itu” “Berapa kekayaan yang telah kau siapkan untuk pestamu?” “Seberapa luas kebunmu?” dan sebagainya. Kini pembincaraan yang beredar di masyarakat adalah tentang agama dan akhirat. Dialog-dialog pun berubah menjadi “Saudaraku, mengapa engkau tidak kelihatan di majlis taklim kemarin malam?” “Subhaanallah, engkau telah mengkhatamkan Al-Qur’an lagi pekan ini?” “Kemarin malam engkau shalat tahajud, Saudaraku?” “Berapa juz yang telah dihafal anakmu?” dan sebagainya.

Maka perubahan yang telah diawali oleh Umar bin Abdul Aziz sejak hari pertama pengangkatannya itu pun bergerak dan membawa efek bola salju. Keluarganya berubah. Pemerintahannya berubah. Masyarakatnya berubah. Kekhilafahan berubah. Dalam waktu sekejap, hanya 2 tahun 5 bulan, wajah dunia Islam menjadi bermandikan cahaya; cahaya keemasan. Keadilan tercipta, kesejahteraan merata. Betapa hebatnya keadilan yang berkembang sehingga penggembala kambing pun merasa aman karena serigala tidak lagi memakan kambingnya selama pemerintahan Umar bin Abdul Aziz itu. Betapa hebatnya kesejahteraan ruhani dan materi sehingga di akhir-akhir pemerintahan Umar bin Abdul Aziz sulit menemukan orang miskin sehingga para ulama’ memeras kemampuan ijtihadnya; hendak dikemanakan zakat kaum muslimin.

Tidakkah kita ingin masa-masa seperti itu ikhwah fillah? Itulah tugas kita bersama untuk belajar dari Umar bin Abdul Aziz. Kita siapkan pemimpin-pemimpin yang meneladani Umar bin Abdul Aziz dan kepada Allah-lah kita berdoa agar mereka yang akan memenuhi kepemimpinan negeri ini pada mihwar dauli nanti. Siapkah antum? . [sumber: E-Book Taujih Pekanan Menuju Mihwar Dauli]

Khalid bin Walid ra

“ORANG seperti dia, tidak dapat tanpa diketahui dibiarkan begitu saja. Dia harus diincar sebagai calon pemimpin Islam. Jika dia menggabungkan diri dengan kaum Muslimin dalam peperangan melawan orang-orang kafir, kita harus mengangkatnya kedalam golongan pemimpin” demikian keterangan Nabi ketika berbicara tentang Khalid sebelum calon pahlawan ini masuk Islam.


Khalid dilahirkan kira-kira 17 tahun sebelum masa pembangunan Islam. Dia anggota suku Banu Makhzum, suatu cabang dari suku Quraisy. Ayahnya bernama Walid dan ibunya Lababah. Khalid termasuk diantara keluarga Nabi yang sangat dekat. Maimunah, bibi dari Khalid, adalah isteri Nabi. Dengan Umar sendiri pun Khalid ada hubungan keluarga, yakni saudara sepupunya. Suatu hari pada masa kanak-kanaknya kedua saudara sepupu ini main adu gulat. Khalid dapat mematahkan kaki Umar. Untunglah dengan melalui suatu perawatan kaki Umar dapat diluruskan kembali dengan baik.

Ayah Khalid yang bernama Walid, adalah salah seorang pemimpin yang paling berkuasa diantara orang-orang Quraisy. Dia sangat kaya. Dia menghormati Ka’bah dengan perasaan yang sangat mendalam. Sekali dua tahun dialah yang menyediakan kain penutup Ka’bah. Pada masa ibadah Haji dia memberi makan dengan cuma-cuma bagi semua orang yang datang berkumpul di Mina.

Ketika orang Quraisy memperbaiki Ka’bah tidak seorang pun yang berani meruntuhkan dinding-dindingnya yang tua itu. Semua orang takut kalau-kalau jatuh dan mati. Melihat suasana begini Walid maju kedepan dengan bersenjatakan sekop sambil berteriak, “O, Tuhan jangan marah kepada kami. Kami berniat baik terhadap rumahMu”.

Nabi mengharap-harap dengan sepenuh hati, agar Walid masuk Islam. Harapan ini timbul karena Walid seorang kesatria yang berani dimata rakyat. Karena itu dia dikagumi dan dihormati oleh orang banyak. Jika dia telah masuk Islam ratusan orang akan mengikutinya.

Dalam hati kecilnya Walid merasa, bahwa Al Qur-’an itu adalah kalimat-kalimat Allah. Dia pernah mengatakan secara jujur dan terang-terangan, bahwa dia tidak bisa berpisah dari keindahan dan kekuatan ayat-ayat suci itu.

Ucapan yang terus terang ini memberikan harapan bagi Nabi, bahwa Walid akan segera masuk Islam. Tetapi impian dan harapan ini tak pernah menjadi kenyataan. Kebanggaan atas diri sendiri membendung bisikan-bisikan hati nuraninya. Dia takut kehilangan kedudukannya sebagai pemimpin bangsa Quraisy. Kesangsian ini menghalanginya untuk menurutkan rayuan-rayuan hati nuraninya. Sayang sekali orang yang begini baik, akhirnya mati sebagai orang yang bukan Islam. Suku Banu Makhzum mempunyai tugas-tugas penting. Jika terjadi peperangan, Banu Muhzum lah yang mengurus gudang senjata dan gudang tenaga tempur. Suku inilah yang mengumpulkan kuda dan senjata bagi prajurit-prajurit.

Tidak ada cabang suku Quraisy lain yang bisa lebih dibanggakan seperti Banu Makhzum. Ketika diadakan kepungan maut terhadap orang-orang Islam dilembah Abu Thalib, orang-orang Banu Makhzumlah yang pertama kali mengangkat suaranya menentang pengepungan itu.

Latihan Pertama
Kita tidak banyak mengetahui mengenai Khalid pada masa kanak-kanaknya. Tetapi satu hal kita tahu dengan pasti, ayah Khalid orang berada. Dia mempunyai kebun buah-buahan yang membentang dari kota Mekah sampai ke Taif. Kekayaan ayahnya ini membuat Khalid bebas dari kewajiban-kewajibannya.

Dia lebih leluasa dan tidak usah belajar berdagang. Dia tidak usah bekerja untuk menambah pencaharian orang tuanya. Kehidupan tanpa suatu ikatan memberi kesempatan kepada Khalid mengikuti kegemarannya. Kegemarannya ialah adu tinju dan berkelahi. Saat itu pekerjaan dalam seni peperangan dianggap sebagai tanda seorang Satria. Panglima perang berarti pemimpin besar. Kepahlawanan adalah satu hal terhormat di mata rakyat.

Ayah Khalid dan beberapa orang pamannya adalah orang-orang yang terpandang dimata rakyat. Hal ini memberikan dorongan keras kepada Khalid untuk mendapatkan kedudukan terhormat, seperti ayah dan paman-pamanya. Satu-satunya permintaan Khalid ialah agar menjadi orang yang dapat mengatasi teman-temannya didalam hal adu tenaga. Sebab itulah dia menceburkan dirinya kedalam seni peperangan dan seni bela diri. Malah mempelajari keahlian mengendarai kuda, memainkan pedang dan memanah. Dia juga mencurahkan perhatiannya kedalam hal memimpin angkatan perang. Bakat-bakatnya yang asli, ditambah dengan latihan yang keras, telah membina Khalid menjadi seorang yang luar biasa. Kemahiran dan keberaniannya mengagumkan setiap orang.

Pandangan yang ditunjukkannya mengenai taktik perang menakjubkan setiap orang. Dengan gamblang orang dapat melihat, bahwa dia akan menjadi ahli dalam seni kemiliteran. Dari masa kanak-kanaknya dia memberikan harapan untuk menjadi ahli militer yang luar biasa.

Menentang Islam
Pada masa kanak-kanaknya Khalid telah kelihatan menonjol diantara teman-temannya. Dia telah sanggup merebut tempat istimewa dalam hati rakyat. Lama kelamaan Khalid menanjak menjadi pemimpin suku Quraisy. Pada waktu itu orang-orang Quraisy sedang memusuhi Islam. Mereka sangat anti dan memusuhi agama Islam dan penganut-penganut Islam. Kepercayaan baru itu menjadi bahaya bagi kepercayaan dan adat istiadat orang-orang Quraisy. Orang-orang Quraisy sangat mencintai adat kebiasaannya. Sebab itu mereka mengangkat senjata untuk menggempur orang-orang Islam. Tunas Islam harus dihancurkan sebelum tumbuh berurat ber-berakar. Khalid sebagai pemuda Quraisy yang berani dan bersemangat berdiri digaris paling depan dalam penggempuran terhadap kepercayaan baru ini. Hal ini sudah wajardan seirama dengan kehendak alam.

Sejak kecil pemuda Khalid bertekad menjadi pahlawan Quraisy. Kesempatan ini diperolehnya dalam pertentangan-pertentangan dengan orang-orang Islam. Untuk membuktikan bakat dan kecakapannya ini, dia harus menonjolkan dirinya dalam segala pertempuran. Dia harus memperlihatkan kepada sukunya kwalitasnya sebagai pekelahi.


Peristiwa Uhud
Kekalahan kaum Quraisy didalam perang Badar membuat mereka jadi kegila-gilaan, karena penyesalan dan panas hati. Mereka merasa terhina. Rasa sombong dan kebanggaan mereka sebagai suku Quraisy telah meluncur masuk lumpur kehinaan Arang telah tercoreng dimuka orang-orang Quraisy. Mereka seolah-olah tidak bisa lagi mengangkat dirinya dari lumpur kehinaan ini. Dengan segera mereka membuat persiapan-persiapan untuk membalas pengalaman pahit yang terjadi di Badar.

Sebagai pemuda Quraisy, Khalid bin Walid pun ikut merasakan pahit getirnya kekalahan itu. Sebab itu dia ingin membalas dendam sukunya dalam peperangan Uhud. Khalid dengan pasukannya bergerak ke Uhud dengan satu tekad menang atau mati. Orang-orang Islam dalam pertempuran Uhud ini mengambil posisi dengan membelakangi bukit Uhud. Sungguhpun kedudukan pertahanan baik, masih terdapat suatu kekhawatiran. Dibukit Uhud masih ada suatu tanah genting, dimana tentara Quraisy dapat menyerbu masuk pertahanan Islam. Untuk menjaga tanah genting ini, Nabi menempatkan 50 orang pemanah terbaik. Nabi memerintahkan kepada mereka agar bertahan mati-matian. Dalam keadaan bagaimana jua pun jangan sampai meninggalkan pos masing-masing.

Khalid bin Walid memimpin sayap kanan tentara Quraisy empat kali lebih besar jumlahnya dari pasukan Islam. Tetapi mereka jadi ragu-ragu mengingat kekalahant-kekalahan yang telah mereka alami di Badar. Karena kekalahan ini hati mereka menjadi kecil menghadapi keberanian orang-orang Islam. Sungguh pun begitu pasukan-pasukan Quraisy memulai pertempuran dengan baik. Tetapi setelah orang-orang Islam mulai mendobrak pertahanan mereka, mereka telah gagal untuk mempertahankan tanah yang mereka injak.

Kekuatannya menjadi terpecah-pecah. Mereka lari cerai-berai. Peristiwa Badar berulang kembali di Uhud. Saat-saat kritis sedang mengancam orang-orang Quraisy. Tetapi Khalid bin Walid tidak goncang dan sarafnya tetap membaja. Dia mengumpulkan kembali anak buahnya dan mencari kesempatan baik guna melakukan pukulan yang menentukan.

Melihat orang-orang Quraisy cerai-berai, pemanah-pemanah yang bertugas ditanah genting tidak tahan hati. Pasukan Islam tertarik oleh harta perang, harta yang ada pada mayat-mayat orang-orang Quraisy. Tanpa pikir panjang akan akibatnya, sebagian besar pemanah-pemanah, penjaga tanah genting meninggalkan posnya dan menyerbu kelapangan.

Pertahanan tanah genting menjadi kosong. Khalid bin Walid dengan segera melihat kesempatan baik ini. Dia menyerbu ketanah genting dan mendesak masuk. Beberapa orang pemanah yang masih tinggal dikeroyok bersama-sama. Tanah genting dikuasai oleh pasukan Khalid dan mereka menjadi leluasa untuk menggempur pasukan Islam dari belakang. Dengan kecepatan yang tak ada taranya Khalid masuk dari garis belakang dan menggempur orang Islam dipusat pertahanannya. Melihat Khalid telah masuk melalui tanah genting, orang-orang Quraisy yang telah lari cerai-berai berkumpul kembali dan mengikuti jejak Khalid menyerbu dari belakang. Pemenang-pemenang antara beberapa menit yang lalu, sekarang telah terkepung lagi dari segenap penjuru, dan situasi mereka menjadi gawat.

Khalid bin Walid telah merobah kemenangan orang Islam di Uhud menjadi suatu kehancuran. Mestinya orang-orang Quraisylah yang kalah dan cerai-berai. Tetapi karena gemilangnya Khalid sebagai ahli siasat perang, kekalahan-kekalahan telah disunglapnya menjadi satu kemenangan. Dia menemukan lobang-lobang kelemahan pertahanan orang Islam.

Hanya pahlawan Khalidlah yang dapat mencari saat-saat kelemahan lawannya. Dan dia pula yang sanggup menarik kembali tentara yang telah cerai-berai dan memaksanya untuk bertempur lagi. Seni perangnya yang luar biasa inilah yang mengungkap kekalahan Uhud menjadi suatu kemenangan bagi orang Quraisy.

Ketika Khalid bin Walid memeluk Islam Rasulullah sangat bahagia, karena Khalid mempunyai kemampuan berperang yang dapat digunakan untuk membela Islam dan meninggikan kalimatullah dengan perjuangan jihad. Dalam banyak kesempatan peperangan Islam Khalid bin Walid diangkat menjadi komandan perang dan menunjukan hasil gemilang atas segala upaya jihadnya. Betapapun hebatnya Khalid bin Walid di dalam medan pertempuran, dengan berbagai luka yang menyayat badannya, namun ternyata kematianya diatas ranjang. Betapa menyesalnya Khalid harapan untuk mati sahid dimedan perang ternyata tidak tercapai dan Allah menghendakinya mati di atas tempat tidur, sesudah perjuangan membela Islam yang luar biasa itu. Demikianlah kekuasaan Allah. Manusia berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya sesuai dengan kemaua-Nya.

sumber : Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Urgensi Belajar Sirah Nabawiyah

Saat itu Syaikh Dr. Yusuf Qardhawi masih duduk sebagai mahasiswa di Fakultas Ushuluddin. Beliau diundang ke sebuah desa untuk menyampaikan ceramah Ramadhan. Kebetulan malam itu adalah malam ke-27 Ramadhan, sebuah malam yang saat menjelang paginya terjadi Perang Badar. Maka, Yusuf Qardhawi pun menyampaikan ceramah dengan tema Perang Badar.

 

Jamaah masjid desa itu sangat antusias karena selama ini mereka tidak mendapatkan materi-materi seperti itu. Mereka memperoleh sesuatu yang baru, yang selama ini tertutupi bagi mereka. Namun, ternyata ada satu orang yang tidak suka dengan tema ceramah itu. Dan orang itu adalah Syaikh di desa itu; imam masjid tempat Yusuf Qardhawi berceramah.

Selama ini, Syaikh tersebut menyampaikan ceramah di bulan Ramadhan dengan pembahasan thaharah saja; utamanya wudhu. Di satu hari ia membahas adab beristinja’. Di hari berikutnya fardhu wudhu. Di hari yang lain sunnah wudhu, mustahabnya, yang membatalkannya, yang harus dihindari, air yang boleh digunakan untuk bersuci, yang tidak boleh digunakan, dan sebagainya. Maka, habislah ramadhan di desa itu untuk membahas masalah-masalah demikian.

Setelah ceramah selesai, Syaikh tersebut menemui Yusuf Qardhawi dan menyampaikan keberatannya: “Ustadz! Pembicaraanmu sangat mengagumkan, tetapi akan lebih bermanfaat jika mereka pada malam ini diajarkan tentang urusan agama mereka?”

Yusuf Qardhawi balik bertanya, “Apakah sirah Rasulullah dan peperangan beliau bukanlah merupakan urusan agama mereka? Sa’ad bin Abi Waqash berkata, “Kami menceritakan anak-anak kami tentang peperangan Rasulullah sebagaimana kami mengajarkan mereka surat Al-Qur’an!”

Ia berkata, “Maksud kami, mereka belajar bagaimana tata cara wudhu dan mandi, mereka juga mengetahui beberapa syarat, kewajiban, dan sunnahnya, dan sebagainya, di mana shalat tidak akan sah tanpa mengetahui hal tersebut.”

Yusuf Qardhawi kembali bertanya, “Wahai Tuan Syaikh! Tuan hafal Al-Qur’an. Adakah Tuan dapat menjawab pertanyaan kami: dalam berapa ayat Allah menyebutkan urusan wudhu, mandi, dan lainnya seputar urusan bersuci?” Syaikh tersebut diam. Lalu Yusuf Qardhawi melanjutkan, “Sesungguhnya hanya satu ayat yang semua berkumpul di situ. Allah berfirman,
‘Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai pada siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai pada kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Ia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.’ (QS. Al-Maidah : 6)

Lalu Yusuf Qardhawi bertanya lagi, “Dan dalam berapa surat Allah menyebutkan urusan jihad dan berperang di jalan Allah?”

Syaikh tadi diam, lalu dijawab sendiri oleh Yusuf Qardhawi, “Sesungguhnya kita mempunyai kumpulan-kumpulan surat Al-Qur’an yang diwahyukan beberapa nama dan lingkup temanya –yaitu jihad- diantaranya adalah: Al-Anfal, At-Taubah, Al-Ahzab, Al-Qital, Al-Fath, Ash-Shaf, Al-Hasyr, Al-Hadid, Al-‘Adiyat, dan An-Nashr. Dan ini bukan termasuk surat yang sangat banyak yang telah kami sampaikan beberapa ayatnya tentang peperangan seperti surat Al-Baqarah, Ali Imran, An-Nisa, dan sebagainya. Bagaimana kita membiarkan sesuatu yang menjadi perhatian Al-Qur’an dalam beberapa surat ini dan beberapa ayat yang sangat banyak. Sedangkan, kita hidup sebulan atau lebih hanya berputar dengan satu ayat.”
***

Apa yang terjadi di Mesir yang dijumpai Syaikh Dr. Yusuf Qardhawi di atas juga masih terjadi di lingkungan kita. Betapa banyaknya kajian, tulisan, dan sebagainya yang mengkonsentrasikan pada masalah fiqih. Bukan semua pembahasan tentang fiqih, tetapi hanya sebagian (biasanya juga tentang thaharah) dan diulang-ulang. Sementara dianggap aneh jika ada pengajian yang menjelaskan tentang sirah nabawiyah dan jihad-jihad yang dilakukan Rasulullah.

Seorang kawan pernah menyampaikan protesnya karena di masyarakatnya pengajian hanya berkutat soal thaharah. Awalnya kajian dimulai, dan mengikuti banyak sistematika kitab fiqih, tema pertamanya adalah thaharah. Sekian lama kajian itu berlangsung, tetapi tidak juga beranjak ke pembahasan yang lain. Dan hasilnya, dalam rentang waktu bertahun-tahun, masyarakat tidak memahami Islam kecuali pada masalah thaharah saja. Kawan tadi juga mempertanyakan efektifitas dakwah seperti itu yang tidak pernah berbuah takwin as-syakhsiyah islamiyah; pembentukan pribadi muslim.

Al-Qur’an sebenarnya sudah menunjukkan manhaj dakwah kepada kita. Ia diturunkan selama 13-an tahun di Makkah, berbicara tentang Aqidah. Maka, inilah hal pertama yang harus menjadi konsentrasi dalam pembinaan umat, khususnya oleh gerakan Islam.

Selain melihat bagaimana sistematikan wahyu, hal lain yang harus diambil dari manhaj Al-Qur’an adalah bagaimana perhatian Al-Qur’an terhadap masalah tertentu. Proporsi pembahasan Al-Qur’an seharusnya juga menjadi proporsi kita dalam berdakwah. Kadar perhatian Al-Qur’an yang besar terhadap suatu hal harus menjadikan kita juga memiliki perhatian besar terhadap hal tersebut.

Menutup renungan ini, sudahkan kita mengawali penerapan manhaj Al-Qur’an dalam mendidik anak-anak kita? Pertanyaan yang lebih praktis menyusul kisah nyata Syaikh Dr. Yusuf Qardhawi di atas: Sudahkah kita menceritakan sejarah nabi dan jihad beliau kepada anak-anak kita? [Muchlisin]

http://muchlisin.blogspot.com/2009/11/antara-jihad-dan-thaharah.html

Sirah Shahabat: Zubair bin Awwam ra

Kali ini kita akan membicarakan seorang sahabat assabiquunal awwaluun. Dia masuk Islam pada usianya yang masih muda, 15 tahun. Ya, sahabat itu bernama Zubair bin Awwam. Mari kita ikuti sirah sahabat yang satu ini

***

Setiap kali nama Thalhah disebut, nama Zubair juga disebut. Dan setiap kali disebut nama Zubair, nama Thalhah pun pasti disebut.

 

Sewaktu Rasulullah SAW mempersaudarakan para sahabatnya di Makkah sebelum hijrah, beliau mempersaudarakan Thalhah dengan Zubair. Sudah sejak lama Nabi SAW bersabda tentang keduanya secara bersamaan, seperti sabda beliau, “Thalhah dan Zubair adalah tetanggaku di surga.”

Keduanya masih kerabat Rasulullah. Thalhah masih keturunan kakek buyut Rasulullah yang bernama Murrah bin Ka’ab, sedangkan Zubair masih keturunan kakek buyut Rasulullah yang bernama Qusai bin Kilab. Shafiyah, ibu Zaubair, juga bibi Rasulullah.

Thalhah dan Zubair mempunyai banyak kesamaan dalam menjalani roda kehidupan. Masa remaja, kekayaan, kedermawanan, keteguhan dalam beragama dan keberanian mereka hampir sama. Keduanya termasuk orang-orang yang masuk Islam di masa-masa awal, dan termasuk sepuluh orang yang dikabarkan oleh Rasul masuk surga, termasuk enam orang yang diamanahi Khalifah Umar untuk memilih khalifah pengganti. Bahkan, hingga saat kematian keduanya sama persis.

Seperti yang telah kita sebutkan, Zubair termasuk orang-orang yang masuk Islam di masa-masa awal, karena ia termasuk tujuh orang pertama yang masuk Islam, dan sebagai perintis perjuangan di rumah Arqam. Usianya waktu itu baru 15 tahun. Ia telah diebri petunjuk, cahaya, dan kebaikan saat remaja.

Ia ahli menunggang kuda dan memiliki keberanian, sejak kecil. Bahkan, ahli sejarah menyebutkan bahwa pedang pertama yang dihunuskan untuk membela Islam adalah pedang Zubair bin Awwam.

Di masa-masa awal, saat jumlah kaum muslimin masih sedikit dan masih bermarkas di rumah Arqam, terdengar berita bahwa Rasulullah terbunuh. Zubair langsung menghunus pedang lalu berkeliling kota Makkah laksana tiupan angin kencang, padahal usianya masih muda belia.

Yang pertama kali dilakukannya adalah mengecek kebenaran berita tersebut. Seandainya berita itu benar, ia bertekad menggunakan pedangnya untuk memenggal semua kepala orang-orang kafir Quraisy atau ia sendiri yang gugur.

Di satu tempat, di bagian kota Makkah yang agak tinggi, ia bertemu Rasulullah. Rasulullah menanyakan maksudnya. Ia menceritakan berita yang ia dengar dan menceritakan tekadnya. Maka, beliau berdoa agar Zubair selalu diberi kebaikan dan pedangnya selalu diberi kemenangan.

Sekalipun Zubair seorang bangsawan terpandang, namun ia juga merasakan penyiksaan Quraisy. Orang yang disuruh menyiksanya adalah pamannya sendiri. Ia pernah diikat dan dibungkus tikar lalu diasapi hingga kesulitan bernapas. Di saat itulah sang paman berkata, “Larilah dari Tuhan Muhammad, akan kubebaskan kamu dari siksa ini.”

Meskipun masih muda belia, Zubair menjawab dengan tegas, “Tidak! Demi Allah, aku tidak akan kembali kepada kekafiran untuk selama-lamanya.”

Zubair ikut dalam perjalanan hijrah ke Habasyah dua kali. Kemudian ia kembali, untuk mengikuti semua peperangan bersama Rasulullah, hingga tidak satu pun peperangan yang tidak ia ikuti.

Banyaknya bekas luka pedang dan tombak di tubuhnya adalah bukti keberanian dan kepahlawanannya.

Marilah kita dengarkan cerita seorang rekannya yang melihat bekas luka yang hampir memenuhi sekujur tubuhnya.

“Aku pernah bersama Zubair bin Awwam dalam satu perjalanan dan aku melihat tubuhnya. Ada banyak bekas sabetan pedang. Di dadanya ada beberapa lubang bekas tusukan tombak dan anak panah. Aku berkata kepadanya, ‘Demi Allah, yang kulihat ditubuhmu belum pernah kulihat di tubuh orang lain.’ Ia menjawab, “Demi Allah, semua luka-luka ini kudapat bersama Rasulullah dalam peperangan membela agama Allah.”

Seusai Perang Uhud, dan pasukan Quraisy sedang dalam perjalanan pulang ke Makkah, Zubair dan Abu Bakar diperintahkan Rasulullah memimpin kaum muslimin mengejar mereka agar mereka menganggap kaum muslimin masih mempunyai kekuatan, sehingga mereka tidak berpikir untuk menyerbu Madinah.

Abu Bakar dan Zubair membawa 70 tentara muslim. Sekalipun Abu Bakar dan Zubair sebenarnya sedang mengikuti satu pasukan yang menang perang dan berjumlah jauh lebih besar, namun kecerdikan dan siasat yang dipergunakan keduanya berhasil mengecoh mereka. Mereka menyangka bahwa pasukan yang dipimpin Abu Bakar dan Zubair adalah pasukan perintis dan di belakang pasukan ini masih ada pasukan yang jauh lebih besar. Tentu saja ini membuat mereka takut. Mereka pun mempercepat langkah menuju Makkah.

Di perang Yarmuk, Zubair memerankan satu pasukan tersendiri. Ketika banyak prajuritnya yang lari ketakutan melihat jumlah pasukan Romawi yang begitu banyak, ia berteriak, “Allaahu Akbar”, lalu menyerbu pasukan Romawi sendirian dengan pedangnya.

Ia sangat rindu untuk syahid. Ia berkata, “Thalhah bin Ubaidillah memberi nama anak-anaknya dengan nama nabi-nabi padahal tidak ada nabi setelah Muhammad SAW. Karena itu, aku memberi nama anak-anakku dengan nama para syuhada dengan harapan mereka syahid.”

Ada yang diberi nama Abdullah dari nama Abdullah bin Jahsy. Ada yang diberi nama Mundzir dari nama Mundzir bin Amru. Ada yang diberi nama Urwah dari nama Urwah bin Amru. Ada yang diberi nama Hamzah dari nama Hamzah bin Abdul Muthalib. Ada yang diberi nama Ja’far dari nama Ja’far bin Abi Thalib. Ada yang diberi nama Mushab dari nama Mushab bin Umair. Ada yang diberi nama Khalid dari nama Khalid bin Sa’id. Seperti itulah, semua anaknya diberi nama dengan nama-nama para syuhada dengan harapan bisa syahid seperti mereka.

Disebutkan dalam buku sejarah, “Zubair tidak pernah menjadi bupati atau gubernur. Tidak pernah menjadi petugas penarik pajak atau cukai. Ia tidak pernah menduduki jabatan kecuali sebagai pejuang perang membela agama Allah.”

Ia sangat percaya dengan kemampuannya di medan perang dan itulah kelebihannya. Meskipun pasukannya berjumlah 100 ribu prajurit, namun ia seakan-akan sendirian di arena pertempuran. Seakan-akan dia sendiri yang memikul tanggung jawab perang.

Keteguhan hati di medan perang dan kecerdasannya dalam mengatur siasat perang adalah keistimewaannya.

Ia melihat gugurnya sang paman, yaitu Hamzah, di Perang Uhud, di Perang Uhud. Ia juga melihat bagaimana tubuh pamannya dicabik-cabik oleh pasukan kafir. Ia berdiri dekat jenazah sang paman. Gigi-giginya terdengar gemeretak dan genggaman pedangnya semakin erat. Hanya satu yang dipikirkannya, yaitu balas dendam. Akan tetapi, wahyu segera turun melarang kaum muslimin melakukan balas dendam.
***

Ketika pengepungan terhadap bani Quraidzah sudah berjalan lama tanpa membawa hasil, Rasulullah menugaskan Zubair dan Ali bin Abi Thalib. Keduanya berdiri di depan benteng musuh yang kuat dan berkata, “Demi Allah, mari kita rasakan apa yang dirasakan hamzah. Atau, akan kita buka benteng mereka.” Keduanya melompat ke dalam benteng. Dengan kecerdasannya, ia berhasil membuat takut orang-orang yang berada dalam benteng dan berhasil membuka pintu benteng sehingga pasukan Islam berhamburan menyerbu ke dalam benteng.
***

Di perang hunain, suku Hawazin yang dipimpin Malik bin Auf menderita kekalahan yang memalukan. Tidak bisa menerima kekalahan yang diderita, Malik beserta beberapa prajuritnya bersembunyi di sebuah tempat, mengintai pasukan Islam, dan bermaksud membunuh para panglima Islam. Ketika Zubair mengetahui kelicikan Malik, ia langsung menyerang mereka seorang diri dan berhasil mengobrak-abrik mereka.

Rasulullah sangat sayang kepada Zubair. Beliau bahkan pernah menyatakan kebanggaannya atas perjuangan Zubair. “Setiap nabi mempunyai pembela dan pembelaku adalah Zubair bin Awwam.”

Bukan karena sebagai saudara sepupu dan suami dari Asma binti Abu Bakar yang bergelar “Dzatun Niqatain” (memiliki dua selendang), melainkan karena pengabdiannya yang luar biasa, keberaniannya yang tiada dua, kepemurahannya yang tidak terkira, dan pengorbanan diri serta hartanya untuk Allah, Tuhan alam semesta.

Sungguh tepat apa yang dikatakan Hasan bin Tsabit ketika melukiskan sifat-sifatnya.
Janjinya kepada Nabi selalu ia tepati
Atas petunjuk Nabi ia berbakti
Dialah sang pembela sejati
Kata dan perbuatannya bagai merpati

Di jalan Nabi, ia berjalan
Bela kebenaran sebagai tujuan

Jika api peperangan sudah menyala
Dialah penunggang kuda tiada dua
Dialah pejuang tak kenal menyerah

Dengan Rasul, masih keluarga
Terhadap Islam, selalu membela

Pedangnya selalu siaga
Kala Rasul dihadang bahaya
Dan Allah tidak ingkar pada janji-Nya
Memberi pahala tiada terkira
***

Ia seorang yang bebrudi tinggi dan berakhlak mulia. Keberanian dan kepemurahannya bagai dua kuda yang digadaikan.

Ia seorang pebisnis sukses. Harta kekayaannya melimpah ruah. Semuanya ia dermakan untuk kepentingan Islam hingga saat mati mempunyai utang.

Kedermawanan, keberanian, dan pengorbanannya bersumber dari sikap tawakalnya yang sempurna kepada Allah. Karena dermawannya, sampai-sampai ia rela mendermakan nyawanya u. Islam.

Sebelum meninggal, ia berpesan kepada anaknya untuk melunasi utang-utangnya, “Jika kamu tidak mampu melunasinya, mintalah kepada pelindungku.”
Sang anak bertanya, “Siapa pelindung yang ayah maksud?”
Zubair menajwab, “Allah! Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.”

Di kemudian hari, sang anak bercerita, “Demi Allah, setiap kali aku kesulitan membayar utangnya, aku berkata, ‘Wahai Pelindung Zubair, lunasilah utangnya.’ Maka Allah melunasi utangnya.”

Di perang Jamal, seperti yang tersebut dalam kisah Thalhah, perjalanan hidup Zubair berakhir.

Setelah ia mengetahui duduk permasalahannya, lalu meninggalkan peperangan, ia dikuntit oleh sejumlah orang yang menginginkan perang tetap berkecamuk. Ketika Zubair sedang melaksanakan shalat, mereka menikam Zubair.

Setelah itu, si pembunuh pergi menghadap Khalifah Ali, mengabarkan bahwa ia telah membunuh Zubair. Ia berharap kabar itu menyenangkan hati Ali karena yang ia tahu, Ali memusuhi Zubair.

Ketika Ali mengetahui ada pembunuh Zubair yang hendak menemuinya, ia langsung berseru, “Katakanlah kepada pembunuh Zubair putra Shafiah bahwa orang yang membunuh Zubair tempatnya di neraka.”

Ketika pedang Zubair ditunjukkan kepada Ali, ia menciumnya. Lalu ia menangis dan berkata, “Demi Allah, sekian lama pedang ini melindungi Nabi dari marabahaya.”
***

Adakah kata yang lebih indah dari kata-kata Khalifah Ali untuk melepas kepergian Zubair?
Salam sejahtera untukmu, wahai Zubair, di alam kematian.
Beribu salam sejahtera untukmu, wahai pembela Rasulullah. [sumber : 60 Sirah Sahabat Rasulullah SAW]