Arsip Kategori: Tafsir

Ensiklopedi Hadits 9 Imam Desktop

CD Ensiklopedi Hadits 9 Imam Desktop

Price Rp 389.000
Rp 370.000

Deskripsi Produk

Ensiklopedi Hadis 9 Imam edisi Indonesia merupakan software SPEKTAKULER hasil upaya keras putra bangsa dalam durasi waktu lebih dari 4 tahun dan menghabiskan dana lebih dari 2 Milyar Rupiah.Karya monumental yang sangat luar biasa manfaatnya untuk memudahkan kaum muslimin Indonesia dalam upaya memahami ajaran agamanya.Program yang wajib mendapat apresiasi setinggi-tinggi dari setiap Individu muslim dan selayaknya dimiliki sebagaimana layaknya memiliki mushaf Al Quran disetiap rumah tangga Muslim.

SOLUSI FANTASTIS dan EKONOMIS untuk literatur kaum muslimin, dengan program ini kita hanya butuh menyisihkan dana Rp. 370.000 (Harga asli Rp 389.000) padahal jika kita membeli kitab tersebut dalam bentuk buku yang juga telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia harus mengeluarkan dana jutaan rupian karena terdiri dari berjilid-jilid buku.
Kini lebih hemat. Setiap CD dapat diinstall total 3 kali baik di 1 komputer (3 kali install) ataupun di 3 komputer (masing-masing 1 kali install).

Ensiklopedi Hadits Kitab 9 Imam adalah software hadits digital yang berisi 9 kitab hadits termasyhur lengkap dengan teks arab beserta terjemah dalam bahasa Indonesia. Kesembilan kitab tersebut biasa dikenal dengan nama Kutubut Tis’ah. Berikut ini daftar kesembilan kitab yang terdapat pada aplikasi Ensiklopedi Hadtis:

Shahih Bukhari
Shahih Muslim
Sunan Abu Daud
Sunan Tirmidzi
Sunan Nasa’i
Sunan Ibnu Majah
Musnad Ahmad
Muwatha Malik
Sunan Darimi
Untuk versi yang terbaru ini terdapat banyak perbaikan dan penyempurnaan baik dari sisi content maupun dari sisi tampilan.

Aplikasi Ensiklopedi Hadits 3.0 berjalan di atas Adobe AIR dan dapat digunakan pada sistem operasi yang dapat menjalankan Adobe AIR, yaitu: Windows (Windows 7, Vista, XP), Linux (Ubuntu, Fedora, openSUSE), dan Mac OS. Detil system requirement dari Adobe AIR dapat dilihat pada website Adobe AIR.

Hadits dari 9 Kitab Hadits

ensiklopedi-hadits-kitab-9-imam-versi-desktop
cd ensiklopedi-hadits-kitab-9-imam-versi-desktop

Terdapat 62 ribu hadits lebih dari 9 kitab hadits (kutubut tis’ah) lengkap dengan teks Arab dan terjemah dalam bahasa Indonesia.

Disajikan Dalam Model Buku

ensiklopedi-hadits-kitab-9-imam-versi-desktop
cd ensiklopedi-hadits-kitab-9-imam-versi-desktop

Seluruh hadits disajikan menyerupai buku digital yang nyaman. Setiap hadits dilengkapi diagram sanad, serta informasi dari perawi hadits tersebut.

Mendukung Multi Penomoran

ensiklopedi-hadits-kitab-9-imam-versi-desktop
cd ensiklopedi-hadits-kitab-9-imam-versi-desktop

Mendukung beberapa metode penomoran hadits yang telah dikenal secara luas (Al-Alamiyah, Fathul Bari, Syarah An-Nawawi, dll).

Derajat keshahihan Hadits

cd ensiklopedi-hadits-kitab-9-imam-versi-desktop

Setiap hadits yang ditampilkan (kecuali Musnad Ahmad) dilengkapi dengan derajat keshahihan hadits menurut ulama.

Diagram Sanad Hadits

cd ensiklopedi-hadits-kitab-9-imam-versi-desktop

Berbagai sanad (jalan sampainya hadits) dari suatu hadits ditampilkan dalam bentuk diagram yang informatif.

Informasi Perawi Hadits

cd ensiklopedi-hadits-kitab-9-imam-versi-desktop

Informasi dari perawi suatu hadits ditampilkan sehingga kita dapat lebih mudah mengenal perawi tersebut.

Statistik Seorang Perawi

cd ensiklopedi-hadits-kitab-9-imam-versi-desktop

Statistik keberadaan perawi dalam sanad berbagai hadits dari setiap buku hadits ditampilkan dalam bentuk grafik yang informatif.

Diagram Pohon Sanad

cd ensiklopedi-hadits-kitab-9-imam-versi-desktop

Terdapat pohon jalur sanad dari suatu hadits yang menampilkan “penggabungan” berbagai sanad dari hadits tersebut.

Copy Paste Antar Aplikasi

cd ensiklopedi-hadits-kitab-9-imam-versi-desktop

Teks arab dan latin (terjemah) dari setiap hadits dapat disalin (copy) dan ditempel (paste) ke aplikasi lain dengan mudah.

Penyaringan Hasil Pencarian

cd ensiklopedi-hadits-kitab-9-imam-versi-desktop

Pencarian atas hadits dapat dilakukan dengan mudah baik pada seluruh buku maupun pada buku tertentu. Hasil pencariannya juga dapat disaring.

Borkmark dan Catatan

cd ensiklopedi-hadits-kitab-9-imam-versi-desktop

Fasilitas Bookmark untuk menandai hadits dan memasukkannya ke dalam grup tertentu. Kita juga dapat memberikan catatan atas hadits yang dibuka.

Pengaturan Font Fleksibel

cd ensiklopedi-hadits-kitab-9-imam-versi-desktop

Font yang digunakan pada teks arab dan latin dapat ditampilkan menggunakan berbagai font yang telah di-install pada komputer user sebelumnya.

Pewarnaan Secara Otomatis

ensiklopedi hadis 9 imam desktop 13

Aplikasi akan secara otomatis memberikan pewarnaan untuk membedakan antara sanad, perawi, dan matan suatu hadits.

Keyboard Firtual Arab

ensiklopedi hadis 9 imam desktop

On-screen keyboard untuk mengetik huruf arab sehingga mempermudah user yang tidak menggunakan keyboard arab.

Klasifikasi Perawi

ensiklopedi hadis 9 imam desktop

Perawi pada diagram sanad ditampilkan dengan warna yang berbeda sesuai klasifikasinya. Juga tersedia legend warna yang digunakan.

HARGA Rp. 389.000

Diskon Jadi Rp. 370.000

HUBUNGI:

Rizki Fauzan H
085216777857
02199289242
Atau klik web online kami di www.marketingalitishom.com

Atau email kami di rizan_1982@yahoo.com

Biografi singkat para Mufassir dan metode penafsirannya

1. Al-Thabary
Biografi
Nama lengkap beliau adalah Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Al-Thabary. Beliau lahir di Amil pada tahun 225 H, dan wafat pada 28/10/310 H pada hari Ahad.
Pada usia 7 tahun beliau sudah hafal Al-Qur’an 30 juz, pada usia 9 tahun beliau sudah mulai menulis hadis serta selalu mengadakan perjalanan intelektual ke negeri-negeri ulama. Beliau terkenal dengan kekuatannya dalam menghafal dan selalu faham dengan perkataan gurunya dalam menafsirkan berbagai disiplin ilmu.
Khatib berkata: Ia adalah salah satu imam umat, perkataannya menjadi hukum dan pendapatnya selalu menjadi rujukan. Abu Abbas juga menambahkan: Ia adalah seorang faqih dan alim.
Metode Tafsirnya
Metode beliau dalam menafsirkan Al-Qur’an adalah metode Tafsir bil Ma’tsur. Tafsirnya berisi tentang munasabah dan makna-makna logika dalam ayat,serta mencantumkan hikmah dari kandungan mufradatnya. Beliau juga merujuk pada kaidah 7 ahruf. Selain beliau membubuhkan hadis Nabi, atsar dan aqwal tabi’in, beliau juga menjelaskan nama-nama Al-Qur’an, surah serta ayat-ayatnya.
Beliau terkenal wara’ dalam menafsirkan, rajin dalam persiapannya dan gembira setelah menulisnya.
Salah satu ciri tafsirnya adalah terdapat israilliyat dan ditambahkan opini pribadi di dalamnya, sehingga tafsirnya ada yang berpendapat belum memenuhi hajat kontemporer.
2. Fakh Al-Razy
Biografi
Nama lengkap beliau adalah Abu Abdullah Muhammad bin Umar bin Husein bin Hasan bin Ali Al-Qurasy At-Taimy Al-Bakry, Ath-Thabaratany, Ar-Razy, bergelar Fakhruddin dan dikenal juga dengan sebutan Ibnu Al-Khathib. Beliau lahir pada 15 Ramadhan tahun 544 H dan wafat pada 606 H di Ray, ada yang mengatakan 605 H, tapi yang paling kuat adalah pendapat yang pertama akibat banyaknya buku yang meriwayatkan demikian.
Beliau melakukan perjalanan intelektualnya ke Kharazmi dan Khurasan. Guru pertamanya adalah ayahnya sendiri.
Sebab pemahaman masyarakat pada masanya masih dangkal tentang agama, maka beliau menyusun tafsir yang dapat membuka cakrawala pemikiran masyarakat lebih mengangkasa.
Ibnu Khilkan berkata: sesungguhnya Ar-Razy mengumpulkan segala gharib dan gharibah dalam tafsirnya. Adz-Dzahaby menambahkan keistimewaan tafsir beliau adalah munasabah antara sebagian ayat dengan lainnya, antara surah dengan lainnya secara detail.
Metode Tafsirnya
Metode penafsiran beliau adalah tahlily ataupun ilmy. Menghimpun pendapat beberapa ulama tafsir dari kalangan sahabat maupun setelahnya. Mengutamakan munasabah antara surah dengan yang lainnya berdasarkan hikmah, membahas secara detail tentang ayat-ayat kauniyah yang dihubungkan dengan kalam tauhid aqliyah lainnya.. membubuhkan banyak pendapat filosof kalam setelah beliau menyaringnya serta telah merujuknya pada kitab-kitab hadis.
Bila beliau menyebut ayat tentang hukum, beliau menyebutkan semua pendapat 4 Imam Madzhab, namun lebih cenderung pada madzhab Syafi’i.
Penfsiran beliau dapat dikatakan membahas seluruh aspek keilmuan secara meluas, sehingga hampir melupakan tentang ilmu tafsir di dalamnya.

3. Asy-Syahid Sayyid Quthb
Biografi
Beliau lahir di kampung Musyah, kota Asyuf, Mesir pada tahun 1906. beliau dibesarkan dalam sebuah keluarga yang menitikberatkan pada ajaran Islam dan mencintai Al-Qur’an. Beliau telah bergelar hafizh sebelum berumur 10 tahun.
Metode Tafsirnya
Metode penafsiran beliau adalah memandan Al-Qur’an sebagai satu kesatuan yang komprehensif, dimana masing-masing bagian mempunyai keterkaitan dan kesesuaian, menekankan pesan-pesan pokok Al-Qur’an dalam memahaminya. Beliau berpendapat bahwa salahsatu tujuannya menyusun tafsir adalah untuk merealisasikan pesan-pesan Al-Qur’an dalam kehidupan nyata.
Beliau juga menerangkan korelasi antara surat yang ditafsirkan dengan surat sebelumnya, sangat hati-hati terhadap israiliyat dan meninggalkan masalah ikhtilaf dalam ilmu fiqh dan tidak mau membahasnya lebih jauh,serta tidak membahas masalah kalam atau filsafat.

4. Zamakhsyary
Biografi
Nama lengkapnya adalah Al-Qasim Mahmud bin Umar Al-Zamakhsyary. Lahir pada bulan Rajab 467 H dan wafat pada tahun 538 H.
Beliau melkukan perjalan ilmiahnya ke Baghdad, Khurasan dan Quds.
Metode beliau adalah membawa penafsiran ayat-ayat aqidah ke dalam payung Mu’tazilah. Orientasi linguistik merupakan orientasi utama, melihat dan memperhatikan setiap mufradat suatu ayat untuk mengetahui maknayang diinginkan. Selain beliau menafsirkan secara majazy tentang ayat mutasyabih, beliau mengaitkan ayat dengan realitas.
Keistimewaan tafsirnya adalah memiliki keindahan bahasa, sehingga menjadi rujukan dalam aspek linguistik Al-Qur’an, namun beliau lebih fanatik terhadap madzhabnya-Mu’tazilah-, sehingga mengklaim kitab tafsirnya sebagai kitabyang terbenar dibanding lainnya serta lebih mengutamakan akal dan aqidahnya dari hadis shahih dan qira’at mutawattir.
5. Hamka
Biografi
Nama lengkapnya adalah H. Abdul Malik Karim Amrullah, lahir di tanah Sirah 16 Januari 1908. guru pertama beliau adalah ayah beliau sendiri,yang notabene berdarah orang shaleh mulai dari buyutnya.
Metode Tafsirnya
Metode penafsiran yang beliau gunakan alah tahlily yang di padukan dengan aspek sastra dan sosila budaya. Antara naqly dan aqly, beraliran salafiyah yang bernuansa sufistik.
Lebih terpengaruh dengan metode penafsiran Sayyid Quthb yang mengedepankan munasabah, mencantumkan asbabun nuzul, mufradat dan susunan kalimat.
Sebagai tafsir pribumi yang monumental dalam sejarah, sehingga banyak menjadi rujukan dalam masalah sosial dan tasawwuf, walaupun banyak aspek ilmu yang tidak terbahas di dalamnya.
6.
Biografi
Rasyid Ridha lahir di Qalmun , 27/5/1282 H, dan wafat pada tahun 1935 M.
Setelah tamat di Kuttab beliau melanjutkan studinya pada Madrasah Ibtidaiyyah, satu tahun kemudian beliau pindah ke sekolah Islam Husain Al-Jisr.
Beliau belajar hadis hingga khatam kepada Mahmud Nasyabah hingga bergelar Voltaire, kemudian dilanjutkan ke Abdul Ghani Ar-Rafi di tambah ilmu ushul dan logika.Muhammad Abduh banyak mempengaruhi pola pikirnya. Beliau membagi waktunya untuk belajar dan ibadah, sehingga kurang waktunya untuk tidur ataupun istirahat. Beliau adalah ahli hadis dan memiliki cakrawala akalyang mendalam.
Metode Tafsirnya
Metode tafsirnya adalah menafsirkan ayat-ayat secara adab ijtima’i, meninggalkan ayat-ayat mutasyabihat dan mubhamat. Selain beliau menafsirkan Al-Quran secara kontemporesasi, beliaujuga menafsirkan ayat-ayat menurut logikanya.
Kelebihan tafsirnya adalah mampu merombak kehidupan manusia yang masih banyak mengikuti taqlid, mengajak manusia untuk lebih maju dalam peradaban, membantu menyebarkan ajaran Islam dari segi pemahaman dakwah dan amal.
Namun tafsirnya juga memiliki kekurangan, yaitu hanya berlatar belakang Mesir dan tidak mendunia, diantara hadis yang sudah dianggap shahih secara mutawatir dianggapnya tidak shahih.

Pengantar Tafsir

Mengapa Perlu Mengkaji Tafsir ?


Setiap muslim tentu meyakini benar bahwa Al Qur’an yang mulia adalah wahyu Allah Azza wa Jalla yang diturunkan dengan suatu tujuan yang maha penting. Tidak untuk sekedar dibaca atau dijadikan sebagai wirid harian oleh seorang muslim –walaupun itu juga penting-. Namun lebih daripada itu, Al Qur’an diturunkan agar dapat menjadi sumber petunjuk paling benar dan lurus yang akan mengarahkan bahtera kehidupan setiap individu bahkan sebuah masyarakat ke jalan yang semestinya, jalan yang sesuai dengan fitrahnya dan –tentu saja- sesuai dengan kehendak Sang Khaliq Yang begitu mengasihi dan menyayangi mereka. Oleh sebab itu, kita sangat yakin bahwa kebangkitan, kemenangan dan kejayaan setiap individu dan masyarakat tidak akan benar-benar teraih dengat mudah begitu saja kecuali dengan jalan menanamkan sikap Al Istirsyad ( selalu mengambil petunjuk ) dari ajaran dan aturan Al Qur’an yang telah mempertimbangkan dan memperhatikan semua unsur kebahagiaan manusia, sebab bukankah Al Qur’an adalah Kalam Allah Yang Maha mengetahui apa yang tidak diketahui oleh manusia ?? Maka berangkat dari keyakinan tersebut, tentu menjadi sangat logis bila kita menyatakan bahwa tidak ada jalan untuk menanamkan sikap Al Istirsyad terhadap Al Qur’an itu kecuali dengan berusaha memahami dan mentadabburi pesan-pesan Al Qur’an. Dan Tafsir-lah satu-satunya jalan untuk memahami dan mentadabburi kedalaman pesan-pesan Al Qur’an tersebut. Oleh karena itu, menjadi jelaslah betapa pentingnya setiap muslim berusaha menyediakan jeda waktu khusus dalam 24 jam yang ia lewati dalam sehari untuk mempelajari tafsir terhadap kandungan Al Qur’an, agar hidupnya selamat di dunia dan bahagia di akhirat.

Apa Itu Tafsir ?
Kata Tafsir secara bahasa mempunyai makna : penyingkapan dan penjelasan terhadap sesuatu. Adapun secara istilah, maka kita akan menemukan definisi yang beragam dari kalangan para ulama. Namun definisi yang paling banyak digunakan dan dipandang paling mewakili cakupan ilmu ini adalah definisi yang dirumuskan oleh Imam Az Zarkasyiy –rahimahullah- yang mengatakan bahwa Tafsir adalah “ilmu yang dengannya Kitabullah yang diturunkan kepada Muhammad saw dapat dipahami, dijelaskan makna-maknanya dan digali hukum dan hikmahnya.”

Bagaimana Menafsirkan Al Qur’an secara benar ?
Para ulama tafsir telah menyepakati bahwa metode penafsiran Al Qur’an yang benar adalah yang merujuk pada lima hal berikut :

Pertama, Merujuk kepada Al Qur’an itu sendiri. Atau menafsirkan sebuah ayat dengan ayat lain dalam Al Qur’an. Sebab Allah Azza wa Jalla-lah yang mengucapkan dan menurunkannya, sehingga Allah-lah yang paling mengetahui maksud dan makna yang terkandung didalamnya. Sebagai contoh misalnya, Firman Allah Ta’ala :

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” ( Yunus : 64 ) . “Wali-wali Allah” dalam ayat ini kemudian ditafsirkan oleh ayat berikutnya yang menyatakan :

الَّذِينَ ءَامَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.”

Kedua, Merujuk kepada penjelasan / penafsiran Rasulullah saw, sebab beliau-lah yang menerima dan menyampaikan Al Qur’an itu dari Allah kepada manusia, sehingga beliau-lah manusia yang paling memahami makna dan maksud dari ayat-ayat Allah tersebut. Sebagai contoh misalnya, Firman Allah :

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ

“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya.” (Yunus : 26 ) . Apa yang dimaksud “Tambahannya” dalam ayat itu kemudian ditafsirkan dalam hadits Rasulullah saw –yang diriwayatkan oleh Muslim dari sahabat Ka’ab ibn ‘Ujrah radhiallahu ‘anhu- di mana Rasulullah menyatakan : “Lalu (Allah) menyingkapkan hijab, maka mereka ( orang-orang beriman ) itu tidak pernah dikaruniakan sesuatu yang lebih mereka cintai daripada melihat wajah Rabb mereka Azza wa Jalla.” Lalu beliau membaca ayat ini, yang menunjukkan bahwa “tambahannya” dalam ayat ini berarti “melihat wajah Allah di hari kiamat”.

Ketiga, Merujuk kepada penafsiran para sahabat Nabi saw. Khususnya para sahabat yang dikenal memiliki keunggulan dalam hal penafsiran Al Qur’an, seperti Ibn ‘Abbas –radhiallahu ‘anhu-. Mengapa ? Sebab Al Qur’an itu diturunkan dengan bahasa mereka dan di masa mereka, mereka juga adalah manusia paling jujur setelah para Nabi dan Rasul di samping tentu saja kebersihan dan kelurusan hati mereka dari hal-hal yang dapat menghalangi seseorang dari kebenaran. Di antara contoh penafsiran sahabat adalah penafsiran Ibn ‘Abbas terhadap ayat :

وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ

“Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau kembali dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu.”(An Nisa’ : 43 ) Beliau menafsirkan “menyentuh perempuan” dengan jima’ ( hubungan suami istri ).

Keempat, Merujuk kepada penafsiran para Tabi’in yang mengambil penafsiran Al Qur’an dari para sahabat. Syeikhul Islam Ibn Taimiyyah mengatakan : “Bila mereka (para tabi’in) telah berijma’ terhadap suatu masalah maka tidak diragukan lagi keberadaan ( ijma’ ) tersebut sebagai sebuah hujjah. Dan bila mereka berbeda pendapat maka pendapat sebagian mereka tidak dapat dijadikan hujjah terhadap pendapat yang lain, namun harus dirujuk kepada bahasa Al Qur’an, atau As Sunnah atau keumuman bahasa Arab atau pendapat para sahabat dalam masalah itu.” Dan dalam kesempatan yang lain beliau mengatakan : “Barang siapa yang menyelishi pendapat mereka dan menafsirkan Al Qur’an dengan penafsiran yang menyelisihi penafsiran mereka, maka ia telah salah dalam dalil dan madlul.”

Kelima, Merujuk kepada pengertian suatu kata secara syar’i ataupun bahasa (lughawy). Prinsipnya, bila terjadi perbedaan pengertian antara makna bahasa dan syar’i terhadap suatu kata, maka kita harus merujuk kepada pengertian syar’i, sebab Al Qur’an diturunkan untuk menjelaskan Syar’iat dan bukan sebagai penjelasan bahasa. Namun bila kita menemukan ada dalil yang menguatkan makna bahasa suatu kata, maka berarti ayat atau kata tersebut harus ditafsirkan berdasarkan makna bahasanya. Sebagai contoh misalnya kata “shalat”. Kata ini secara bahasa mempunyai makna : do’a. Sedangkan secara syar’i pengertiannya adalah sebuah ibadah yang memiliki kaifiat tertentu yang diawali dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam. Nah, dalam surah At Taubah : 84 yang berbunyi :

وَلَا تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا وَلَا تَقُمْ عَلَى قَبْرِهِ

kata “shalat” ditafsirkan berdasarkan pengertian syar’i-nya, sehingga makna ayat ini adalah : “Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan/menyalatkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka.” Namun dalam surah yang sama ayat 103,

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

kata “shalat” ditafsirkan berdasarkan makna bahasanya yaitu do’a, sehingga makna ayat ini menjadi : “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendo`alah untuk mereka. Sesungguhnya do`a kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Berdasarkan penjelasan di atas, maka seorang muslim yang ingin menafsirkan atau memahami Al Qur’an tidak boleh bersikap “terlalu percaya diri” dengan apa yang ia miliki sehingga menyebabkannya menafsirkan Al Qur’an seenaknya. Ia harus memperhatikan metodologi dan urutan penafsiran tersebut di atas. Sebab kapan saja ia melangkahi atau mengabaikannya maka ia akan sesat dan menyesatkan. Itulah sebabnya, sebagian ulama salaf mengatakan : “Barang siapa yang menafsirkan Al Qur’an dengan ra’yu (pemikiran)-nya sendiri maka ia telah salah walaupun (penafsirannya) benar.” Artinya, walaupun hasil pemikirannya itu benar namun ia tetaplah melakukan kesalahan, karena tidak melewati metodologi yang telah ditetapkan oleh Allah dan RasulNya.

Nah, catatan terakhir tersebut mengingatkan kita betapa pentingnya mengkaji ilmu kaum As Salaf Ash Shaleh yang tertuang dalam berbagai kitab-kitab atsary. Dan kita tentu ingat apa yang dikatakan oleh Imam Malik bahwa generasi akhir ummat ini tidak akan jaya dan menang kecuali dengan apa yang telah menjayakan dan memenangkan generasi pertamanya. Demikianlah, dan Wallahu a’lam bishshawab !

Makassar, 27 Januari ‏2004
Muhammad Ihsan Zainuddin

http://www.wahdah.or.id/wis/index.php?option=com_content&task=view&id=129&Itemid=191

Tafsir Al-Fatihah 1

Seharusnya tidak ada seorang muslim pun yang tidak mengenal surah ini. Setidaknya bila seorang muslim ‘hanya’ menjaga shalat lima waktunya saja, hampir bisa dipastikan ia akan mengulangi surah ini sebanyak 17 kali dalam sehari semalam. Belum lagi bila ia tidak sekedar mengerjakan shalat yang fardhu.
Belum lagi bila ia tidak sekedar mengerjakan shalat yang fardhu. Tentu pengulangan terhadap surah ini akan lebih sering terjadi. Namun ternyata seringnya pengulangan itu tidak serta merta menunjukkan adanya peningkatan pemahaman terhadap surah ini. Berikut ini beberapa penjelasan sederhana sep utar surah ini. Semoga saja dapat memberikan pencerahan baru bagi shalat-shalat kita sehari-hari. Agar shalat-shalat itu tidak berlalu begitu saja, tanpa kita memahami sedikitpun dzikir dan do’a yang kita lantunkan di dalamnya.

Nama-nama Surah Al Fatihah
Ada beberapa nama yang sering digunakan untuk surah ini, diantaranya adalah :

  1. Al Fatihah, yang berarti sang pembuka. Nama ini tentu saja sesuai dengan fungsi surah ini sebagai surah pembuka baik dalam mushhaf Al Qur’an dan juga dalam shalat.
  2. Ummul Kitab. Penamaan ini didasarkan kepada salah satu hadits Nabi saw yang menyatakan : “Alhamdulillahi rabbil ‘alamin adalah ‘ummul Qur’an’, ‘ummul Kitab’…” (HR. At Tirmidzy dengan sanad yang shahih). Mengapa surah Al Fatihah dinamakan ummul Kitab ? Ada beberapa pandangan di kalangan para ulama tentang hal ini. (1) Imam Bukhari misalnya –sebagaimana yang beliau sebutkan dalam awal Kitab Tafsir dalam Shahih Bukhari bahwa penamaan itu dikarenakan surah Al Fatihah yang per tama kali ditulis dalam mushhaf dan yang pertama kali dibaca dalam shalat. (2) Sebagian ulama yang lain memandang bahwa penamaan Al Fatihah dengan ummul Kitab disebabkan karena seluruh makna kandungan Al Qur’an itu kembali kepada makna yang terkandung dalam surah ini. Ibn Jarir Ath Thabary misalnya menguraikan hal ini berdasarkan pengertian kata umm secara bahasa. Beliau menjelaskan bahwa bangsa Arab menyebut setiap sesuatu yang mengumpulk an atau yang dikedepankan dalam suatu perkara dengan sebutan umm. Panji pasukan dalam peperangan disebut umm karena seluruh prajurit bersatu di bawahnya. Begitu pula kulit kepala yang ‘mengumpulkan’ dan menghimpun otak manusia, dalam bahasa Arab disebut dengan istilah umm.
  3. As Sab’u Al Matsany. Artinya “tujuh ayat yang sering diulang-ulang”. Tentu saja ini sangat berkaitan erat dengan seringnya surah Al Fatihah yang berjumlah tujuh ayat ini diulang dalam keseharian seorang muslim. Nama ini sendiri disebutkan dalam beberapa hadits Nabi saw, seperti : “Dia itu adalah ‘ummul Qur’an’, dia itu adalah pembuka AlKitab, dan dia itu adalah ‘as sab’u al matsany’.” (HR. Ath Thabary dari Abu Hurairah –radhiallahu ‘anhu-). Tidak hanya itu, bahkan nama ini disebutkan pula dalam salah satu ayat Al Qur’an : “Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al Qur’an yang agung .” (Al Hijr : 87)
  4. Al Hamd. Yang berarti pujian. Sebabnya jelas karena surah ini diawali dengan pujian (Al Hamd) kepada Allah Azza wa Jalla.
  5. Ash Shalat. Nama ini didasarkan pada sebuah hadits qudsi yang cukup terkenal yang menunjukkan keutamaan surah ini. Dalam hadits itu, Allah Ta’ala berfirman : “Aku telah membagi ‘Ash Shalat’ (yaitu Al Fatihah yang dibaca dalam shalat) menjadi dua bagian antara Aku dengan hambaKu…” (HR. At Tirmidzy). Ibn Katsir menyatakan bahwa surah Al Fatihah dinamakan juga Ash Shalat karena ia menjadi rukun sahnya shalat.
  6. Ar Ruqyah. Hal ini didasarkan pada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al Khudriy –radhiallahu ‘anhu- ketika beliau meruqyah (mengobati dengan membacakan ayat atau do’a yang ma’tsur ) seseorang dengan membaca surah Al Fatihah, maka Nabi saw mengatakan : “Bagaimana engkau tahu bahwa (surah ini) adalah ruqyah ?” (HR. Bukhari).

Itulah beberapa nama dari surah Al Fatihah. Nama-nama itu setidaknya menjelaskan kepada kita beberapa fungsi dan keutamaan dari surah ini.

Keutamaan Surah Al Fatihah
Ibn Katsir –rahimahullah- menyebutkan beberapa hadits yang menunjukkan keutamaan surah ini. Di antaranya adalah sebagai berikut :

  1. Abu Sa’id ibn Al Mu’alla –radhiallahu ‘anhu- pernah bercerita : “Aku pernah mengerjakan shalat, lalu Rasulullah saw memanggilku. Namun aku tidak segera memenuhinya hingga aku selesai mengerjakan shalat. Lalu kemudian aku mendatangi beliau. Beliau berkata : “Apa yang menghalangimu untuk memenuhi panggilanku ?”. Aku menjawab : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya sedang mengerjakan shalat.” Beliau lalu berkata : “Bukankah Allah Ta’ala telah mengatakan : ‘Wahai sekalian orang-orang beriman, penuhilah panggilan Allah dan RasulNya bila ia memanggil kalian untuk sesuatu yang menghidupkan kalian’ ?”, lalu beliau berkata : “Sungguh aku akan mengajarimu sebuah surah yang paling agung dalam Al Qur’an sebelum engkau keluar dari mesjid.” Beliau lalu memegang tanganku. Hingga ketika beliau ingin keluar dari mesjid, aku berkata pada beliau : “Wahai Rasulullah, bukankah engkau telah mengatakan bahwa engkau akan mengajariku sebuah surah yang paling agung dalam Al Qur’an ?” Beliau menjawab : “Iya, (surah itu adalah) Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Ia adalah as sab’u al matsany dan Al Qur’an agung yang diberikan kepadaku.” (HR. Bukhari dan Ahmad).
  2. Ibn ‘Abbad –radhiallahu ‘anhuma- pernah berkisah : “Pada suatu ketika Rasulullah saw bersama dengan Jibril. Lalu tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari langit. Maka Jibril menengadahka pandangannya ke langit, lalu berkata : ‘Itu adalah salah satu pintu langit yang dibuka yang sebelumnya belum pernah dibuka’. Lalu malaikat itu mendatangi Nabi saw, lalu berkata : ‘Bergembiralah dengan dua cahaya yang diberikan kepadamu dan belum pernah diberikan kepada seorang nabi pun sebelummu ; yaitu Fatihah Al Kitab dan ayat-ayat penutup surah Al Baqarah. Tidaklah engkau membaca sau hurufpun dari keduanya melainkan engkau akan diberi.” (HR. Muslim dan An Nasa’iy)
  3. Hadits Abu Hurairah –radhiallahu ‘anhu- dari Rasulullah saw yang bersabda : “Barang siapa yang mengerjakan shalat dan tidak membaca Ummul Qur’an maka shalatnya terputus tidak sempurna –beliau mengulanginya sebanyak tiga kali-.” (HR. Muslim). Setelah menyampaikan hadits ini, Abu Hurairah ditanya : “Tetapi kami berada di belakang imam.” Ia menjawab : “Bacalah dalam hatimu, sebab sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda : “Allah Azza wa Jalla berfirman : ‘Aku telah membagi shalat (maksudnya surah Al Fatihah) menjadi dua bagian antara Aku dan hambaKu. Dan hambaKu akan mendapatkan apa yang ia minta. Maka apabila ia mengucapkan ‘Alhamdulillahi rabbil ‘alamin’, Allah pun berkata : ‘H ambaKu telah memujiKu’. Dan bila sang hamba mengucapkan ‘Ar Rahmanirrahim’ maka Allah pun berkata : ‘HambaKu telah menyanjungKu’. Maka bila sang hamba membaca ‘Maliki yaumiddin’, Allah pun berkata : ‘HambaKu telah mengagungkanKu’. Dan terkadang Ia mengatakan : ‘HambaKu telah menyerahkan urusannya kepadaKu’. Dan tatkala sang hamba mengucapkan : ‘Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in’, Allah berkata : ‘Inilah batas pembagi (surah Al Fatihah) antara Aku dan hambaKu, dan untuk hambaKu apa yang ia minta. Maka bila sang hamba membaca ‘Ihdinashshirathal mustaqim, Shiratalladzina an’amta ‘alaihim ghairil maghdhubi ‘alaihim wala-dhdhallin’ , Allah berkata : ‘Ini adalah untuk hambaKu, dan untuknya apa yang telah ia minta’. (HR. Muslim dan An Nasa’iy).

Kewajiban Membaca Al Fatihah dalam Shalat
Dari beberapa hadits yang telah disebutkan di atas kita dapat menyimpulkan bahwa membaca Al Fatihah dalam shalat adalah sebuah keharusan. Dan para ulama telah menyepakati dan berijma’ terhadap hal itu. Kewajiban ini semakin dipertegas lagi oleh sabda Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh ‘Ubadah ibn Ash Shamit –radhiallahu ‘anhu- : “Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Fatihah Al Kitab.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah –radhiallahu ‘anhu-, Rasulullah saw bersabda : “Tidak sah shalat yang tidak dibacakan di dalamnya Ummul Qur’an.” (HR. Ibn Khuzaimah dan Ibn Hibban).

Itulah sebabnya, Ibn Katsir –rahimahullah- menyimpulkan bahwa membaca Al Fatihah itu hukumnya wajib bagi siapapun yang mengerjakan shalat, baik ia dalam posisi sebagai imam atau ma’mum, ataupun mengerjakannya sendirian. Dan surah ini dibaca di setiap raka’at, jenis apapun shalat yang Anda kerjakan.

http://www.wahdah.or.id/wis/index.php?option=com_content&task=view&id=113&Itemid=191

Tafsir Basmalah

بسم الله الرحمن الرحيم

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”

Basmalah; Bagian Awal Dari Setiap Surah Atau Berdiri Sendiri ?
Para sahabat yang mengumpulkan Al Qur’an dalam satu mushhaf mengawali Kitabullah dengan Bismillahirrahmanirrahim.

Kalimat ini dijadikan sebagai ayat pembuka Al Qur’an. Para ulama juga bersepakat bahwa kalimat ini juga adalah sebagian ayat dari surah An Naml ;

إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

“Sesungguhnya surat itu, dari Sulaiman dan sesungguhnya (isi) nya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (An Naml : 30)

Lalu kemudian mereka berbeda pendapat ; apakah basmalah adalah ayat yang berdiri sendiri di awal setiap surah, atau apakah ia termasuk bagian dari setiap surah ? Pendapat-pendapat itu dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Basmalah adalah merupakan ayat dari setiap surah kecuali surah At Taubah (Bara’ah). Pendapat ini diriwayatkan dari Ibn ‘Abbas, Ibn ‘Umar, Ibn Az Zubair, Abu Hurairah, ‘Ali ibn Abi Thalib, -dan dari kalangan tabi’in- ‘Atha’ ibn Abi Rabah, Thawus, Sa’id ibn Jubair, Makhul dan Az Zuhry. Pendapat yang sama juga dipegangi oleh ‘Abdullah ibn Al Mubarak, Asy Syaf’iy, Ahmad ibn Hanbal dalam salah satu riwayat, Ishaq ibn Rahawaih dan Abu ‘Ubaid Al Qasim ibn Sallam –semoga Allah melimpahkan rahmatNya kepada mereka semua-.
2. Basmalah bukanlah merupakan ayat dari surah Al Fatihah dan bukan pula bagian dari surah yang lainnya. Pendapat ini dikatakan oleh Malik dan Abu Hanifah –semoga Allah merahmati mereka.
3. Basmalah adalah ayat yang berdiri sendiri dan terdapat pada awal setiap surah. Pendapat ini dikatakan oleh Dawud Azh Zhahiry dan diriwayatkan dari Ahmad ibn Hanbal.
Pendapat yang banyak dikuatkan oleh para ulama adalah pendapat yang pertama. Wallahu a’lam.

Membaca Basmalah Dalam Shalat
Para ulama yang berpandangan bahwa basmalah bukanlah merupakan bagian / ayat dari surah Al Fatihah berpendapat bahwa orang yang mengerjakan shalat tidak harus menjahrkan (mengeraskan) bacaan basmalah.
Demikian pula yang berpandangan bahwa basmalah adalah ayat yang berdiri sendiri pada awal surah dan bukan merupakan bagian dari Al Fatihah.
Adapun para ulama yang mengatakan bahwa basmalah adalah merupakan bagian / ayat pertama dari setiap surah –kecuali surah At Taubah-, maka mereka berbeda pendapat tentang apakah basmalah itu dikeraskan atau tidak bacaanya dalam shalat :
1. Basmalah itu dikeraskan bacaannya dalam shalat, baik ketika membaca surah Al Fatihah dan surah yang lainnya. Pendapat ini dikatakan oleh Abu Hurairah, Ibn ‘Umar, Ibn ‘Abbas, Mu’awiyah, ‘Umar dan ‘Ali –seperti yang diriwayatkan oleh Ibn ‘Abdil Barr dan Al Baihaqy-, Sa’id ibn Jubair. ‘Ikrimah, Abu Qilabah, Az Zuhry, ‘Ali ibn Al Hasan, Sa’id ibn Al Musayyib, Atha’, Thawus, Asy Syafi’iy, Ibn Hazm dan yang lainnya. Landasan mereka di antaranya adalah hadits Abu Hurairah –radhiallahu ‘anhu- yang diriwayatkan oleh An Nasa’iy, Ibn Hibban dan Al Hakim, di mana beliau pernah mengerjakan shalat dengan menjaharkan basmalah, dan seusai itu ia mengatakan : “Sesungguhnya aku adalah yang paling mirip di antara kalian dengan shalat Rasulullah saw.”
2. Basmalah itu tidak dikeraskan bacaannya dalam shalat. Pendapat ini adalah pendapat ini adalah pendapat yang tsabit dari para khalifah yang empat ( Al Khulafa’ Ar Rasyidun ) dan sekelompok ulama salaf dan khalaf. Pendapat ini juga merupakan madzhab Abu Hanifah, Sufyan Ats Tsaury dan Ahmad ibn Hanbal. Salah satu pegangan mereka adalah hadits yang diriwayatkan oleh Anas ibn Malik –radhiallahu ‘anhu- yang mengatakan : “Aku telah mengerjakan shalat di belakang Nabi saw, Abu Bakr, ‘Umar dan ‘Utsman, namun mereka mengawalinya dengan (langsung) membaca Alhamdulillahi rabbil ‘alamin.” (HR. Bukhari dan Muslim).
3. Basmalah tidak dibaca sama sekali, baik secara jahar maupun sirr. Pendapat ini dikatakan oleh Imam Malik. Landasannya adalah bahwa –sebagaimana dikatakan oleh ‘Aisyah- Rasulullah saw mengawali shalatnya dengan takbir dan membaca Alhamdulillah rabbil ‘alamin (HR. Muslim). Ibn Katsir –yang lebih menguatkan dan memilih pendapat yang pertama- memberikan pandangan yang menyejukkan seputar perbedaan ini dengan mengatakan : “Inilah pegangan para ulama dalam masalah ini, yang semuanya sesungguhnya berdekatan, sebab mereka semua telah bersepakat bahwa orang yang menjahar ataupun mensirrkan basmalah shalatnya tetap sah, walhamdulillahi wal minnah.”

Keutamaan Basmalah
Pada dasarnya kalimat ini sangat berberkah. Itulah sebabnya, Allah Ta’ala memudahkan setiap muslim untuk mengingatnya. Bukankah tidak ada seorang muslim pun yang tidak bisa mengucapkan bismillah ? Maka bisa dikatakan, basmalah adalah dzikir yang paling mudah diingat. Oleh sebab itu, jangan pernah lupa mengucapkannya setiap kali Anda mengawali dan memulai setiap aktifitas Anda. Ketika mengawali pembicaraan, pada saat masuk ke tempat buang hajat, ketika memulai wudhu’, makan bahkan saat memenuhi kebutuhan biologis Anda. Insya Allah, Allah akan memberi berkah untuk Anda ! Rasulullah saw mengatakan : “Seandainya salah seorang dari kalian bila hendak mendatangi istrinya lalu mengatakan Bismillah Allahumma Jannibna-syaithan, wa jannibi-syaithan ma razaqtana (Dengan menyebut nama Allah –aku mengerjakan ini-, ya Allah jauhkanlah kami dari syaithan dan jauhkanlah syaitan dari apa yang engkau karuniakan kepada kami), maka bila ia ditakdirkan mendapatkan anak maka syaithan tidak akan mendatangkan mudharat kepadanya selamanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Di samping itu, basmalah juga –dengan idzin Allah- dapat membantu Anda menghadapi musuh terberat dalam kehidupan ini ; Syaithan. Dengan membaca basmalah Anda dapat membuatnya kehilangan kekuatan dan menjadi kecil. Suatu ketika, salah seorang sahabat yang menyertai Nabi saw –namanya Usamah ibn ‘Umair- mengatakan : “Celakalah syaithan !”. Maka Rasulullah saw menegurnya dengan mengatakan : “Engkau jangan mengatakan : ‘Celakalah syaithan’, sebab jika engkau mengatakannya maka syaithan akan semakin membesar sembari mengatakan : “Dengan kekuatanku aku akan melawannya”. Namun jika engkau mengatakan ‘Bismillah’, maka ia akan mengecil hingga menjadi seperti seekor lalat.” (HR. Ahmad dan An Nasa’iy). Tentu saja, ini adalah salah satu bentuk keberkahan kalimat yang agung ini.
Oleh sebab itu, jangan pernah lupa mengucapkannya. Latihlah lisan Anda agar menjadi ringan dan mudah melafalkannya.

Makna Lafzhul Jalalah ; ALLAH
Allah adalah nama yang diperuntukkan untuk sang Rabb alam semesta ini. Secara bahasa ia berasal dari kata Al-Ilah yang berarti sesembahan. Dan Allah Azza wa Jalla sendirilah yang menamai DzatNya dengan Allah. Sebagian ulama mengatakan ini adalah nama yang paling agung sebab inilah nama yang disifatkan dengan seluruh sifat kemahasempurnaan. Hal ini seperti yang dinyatakan oleh Allah sendiri dalam Al Qur’an :

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ  .  هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ .   هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala keagungan, Maha Suci, Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al Hasyr : 22-24)

Perhatikanlah bagaimana ayat-ayat ini menunjukkan bahwa
(1) Allah sendirilah yang menamai dan menyebut DzatNya dengan nama Allah,
(2) nama inilah yang menjadi nama Allah yang paling agung dan
(3) kepada nama inilah semua nama dan sifat kemahasempurnaan Allah dinisbatkan.

Makna ‘Ar Rahman’ dan ‘Ar Rahim’
Secara bahasa, kedua kata ini merupakan bentukan kata dari Ar Rahmah (kasih sayang). Dari kata Ar Rahmah inilah kata Ar Rahman dan Ar Rahim dibentuk untuk menunjukkan bentuk kasih sayang yang sangat besar. Walaupun kata Ar Rahman memiliki makna kasih sayang yang lebih tinggi daripada Ar Rahim. Secara tersirat Ibn Jarir Ath Thabary menyebutkan kesepakatan para ulama dalam masalah ini.
Berikut ini beberapa nukilan perkataan para ulama yang menjelaskan perbedaan antara Ar Rahman dan Ar Rahim :
1. Ibn ‘Abbas mengatakan : “Kedua nama ini adalah nama (yang menunjukkan) kelembutan, namun salah satunya lebih lembut dari yang lainnya –artinya lebih menunjukkan kasih sayang yang lebih besar-.”
2. Abu ‘Ali Al Farisy mengatakan : “Ar Rahman adalah nama yang mencakup segala bentuk rahmat yang hanya khusus dimiliki Allah Ta’ala, sedangkan Ar Rahim adalah (untuk menunjukkan) rahmat dari sisi kaum mu’minin.”
3. Ibn Jarir Ath Thabary meriwayatkan perkataan Al ‘Azramy yang menyatakan : “Ar Rahman adalah (menunjukkan kasih) yang ditujukan untuk semua makhluq, sedangkan Ar Rahim adalah khusus untuk orang-orang beriman.”

Nama ‘Ar Rahman’ Hanya Untuk Allah
Dengan melihat cakupan Ar Rahman yang lebih luas, maka tidak mengherankan bila nama dan sifat ini hanya untuk Allah Ta’ala –berbeda dengan Ar Rahim yang terkadang diberikan kepada makhluq seperti ketika Allah menjelaskan bagaimana kasih Rasulullah sw kepada kaum beriman ; wa kaana bil mu’minina rahima.
Itulah sebabnya, Ar Rahman secara khusus disebut dalam perintah berdo’a kepada Allah ;

قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَنَ أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلًا

“Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu” (Al Isra’ :110)

Tidak dibenarkan siapapun menyebut dirinya sebagai Ar Rahman sebab ia adalah kekhususan Allah Ta’ala. Maka ketika si nabi palsu Musailamah menyebut dirinya sebagai rahman al yamamah (sang rahman-nya wilayah Yamamah), Allah Ta’ala memberinya label yang akan terus abadi hingga akhir zaman ; Al Kadzdzab (sang pendusta). Hingga kini, siapapun yang menyebut nama Musailamah hampir tidak pernah lupa menggandengkannya dengan Al Kadzdzab.
Berdasarkan penjelasan ini, maka kita dapat memahami mengapa dalam kalimat basmalah, nama Ar Rahman didahulukan daripada nama Ar Rahim. Sebab nama Ar Rahman lebih mulia dibandingkan dengan nama Ar Rahim.
Wallahu Ta’ala a’lam.

http://www.wahdah.or.id/wis/index.php?option=com_content&task=view&id=103&Itemid=191